Sudahkan Anda Mempersiapkan Ilmu Sebelum Ramadhan?

Puasa punya keutamaan yang besar. Bulan Ramadhan pun demikian adalah bulan yang penuh kemuliaan. Maka tentu saja untuk memasuki bulan yang mulia ini dan ingin menjalani kewajiban puasa, hendaklah kita punya persiapan yang matang. Persiapan yang utama yang mesti ada adalah persiapan ilmu. Karena orang yang beribadah pada Allah tanpa didasari ilmu, maka tentu ibadahnya bisa jadi sia-sia. Sebagaimana ketika ada yang mau bersafar ke Jakarta lalu tak tahu arah yang mesti ditempuh, tentu ia bisa ‘nyasar’ dan  tersesat. Ujuk-ujuk sampai di tujuan, bisa jadi malah ia menghilang tak tahu ke mana. Demikian pula dalam beramal, seorang muslim mestilah mempersiapkan ilmu terlebih dahulu sebelum bertindak.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

العامل بلا علم كالسائر بلا دليل ومعلوم ان عطب مثل هذا اقرب من سلامته وان قدر سلامته اتفاقا نادرا فهو غير محمود بل مذموم عند العقلاء

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Guru dari Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

من فارق الدليل ضل السبيل ولا دليل إلا بما جاء به الرسول

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah berkata,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuatan lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 282)

Juga amalan yang bisa diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah: 27). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafsiran yang paling bagus mengenai ayat ini bahwasanya amalan yang diterima hanyalah dari orang yang bertakwa. Yang disebut bertakwa adalah bila beramal karena mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja ini perlu didasari dengan ilmu.” (Miftah Daris Sa’adah, 1: 299)

Ulama hadits terkemuka, yakni Imam Bukhari membuat bab dalam kitab shahihnya “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1: 108)

Mengapa kita mesti belajar sebelum beramal? Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik. Hadits ini hasan karena berbagai penguatnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat di antaranya Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al Khudri, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Ali bin Abi Tholib, dan Jabir. Lihat catatan kaki Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1: 69)

Ilmu apa saja yang mesti disiapkan sebelum puasa? Yang utama adalah ilmu yang bisa membuat puasa kita sah, yang bila tidak dipahami bisa jadi ada kewajiban yang kita tinggalkan atau larangan yang kita terjang. Lalu dilengkapi dengan ilmu yang membuat puasa kita semakin sempurna. Juga bisa ditambahkan dengan ilmu mengenai amalan-amalan utama di bulan Ramadhan, ilmu tentang zakat, juga mengenai aktifitas sebagian kaum muslimin menjelang dan saat Idul Fithri, juga setelahnya. Semoga dengan mempelajarinya, bulan Ramadhan kita menjadi lebih berkah.

Semoga Allah memudahkan kita dalam meraih ilmu sebelum memasuki Ramadhan. Hanya Allah yang memberi taufik.

Pesantren Darush Sholihin, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, Malam Sabtu, 20 Sya’ban 1434 H

Artikel Rumaysho.Com

Manusia Terlalu Tergesa-gesa

Kita sering kali melihat sebagian orang tua mendo’akan jelek pada anaknya. Juga ada yang berdo’a jelek untuk diri dan hartanya. Semua ini dikatakan sebagai bentuk tergesa-gesa. Karena bila ia berdo’a dan Allah perkenankan do’a jeleknya, maka tentu ia akan binasa. Itulah manusia yang punya sifat tergesa-gesa dalam do’a.

Renungan kita di pagi hari ini adalah firman Allah Ta’ala,

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia berdo’a untuk kejelekan sebagaimana ia berdo’auntuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al Isra’: 11).

Abul Fida’ Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan, “Ayat ini menjelaskan bahwa manusia bersifat tergesa-gesa. Kadangkala ia berdo’a untuk kejelekan diri, anak atau hartanya. Ia meminta kejelekan berupa kematian, kebinasaan, kehancuran, laknat atau semacamnya. Seandainya Allah mengabulkan do’a jelek tersebut, maka tentu ia akan hancur dengan do’anya.”

Dalam hadits disebutkan,

وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Janganlah berdo’a jelek untuk anak dan harta kalian. Janganlah sampai engkau meminta pada Allah pada waktu terkabulnya do’a, lantas do’a tersebut pun terijabahi.” (HR. Muslim no. 3009).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Inilah kebodohan manusia dan ketergesa-gesaannya di mana ia berdoa jelek untuk diri, anak, hartanya ketika ia dalam keadaan marah. Ia tergesa-gesa berdo’a seperti itu sebagaimana ia tergesa-gesa berdo’a untuk kebaikan. Akan tetapi dengan kelembutan Allah, Dia mengabulkan do’anya yang baik saja dan tidak mengabulkan do’anya yang jelek. Dalam ayat lainnya Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.” (QS. Yunus: 11). Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di pada ayat yang kita kaji.

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, “Manusia itu berdo’a kejelekan untuk dirinya dan keluarganya ketika berkeluh kesah. Ia berdo’a seperti halnya ketika ia meminta kebaikan. Sesungguhnya manusia itu tergesa-gesa. Ia terburu-buru dalam berdo’a  untuk dirinya dan tidak memandang akibat akhirnya.”

Intinya, yang dimaksud tergesa-gesa dalam ayat yang kita kaji di pagi ini adalah tergesa-gesa dalam do’a dengan berdo’a kejelekan saat marah atau berkeluh kesah sama halnya ketika berdo’a untuk kebaikan. Ini pun menunjukkan perlunya berpikir sebelum bertindak dan berdo’a.

Demikian renungan ayat di pagi ini. Moga bermanfaat dan semakin mencerahkan hati kita.

@ Jl. Imam Bonjol 115, Karawaci, Tangerang, setelah shalat Shubuh, 18 Sya’ban 1434 H

Artikel Rumaysho.Com

Jika Mau Sabar, Bagimu Surga

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i berkata bahwa yang dimaksud adalah orang yang sabar pahalanya tidak bisa ditimbang atau ditakar. As Sudi mengatakan bahwa balasan orang yang sabar adalah surga. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah.

Ada hadits yang muttafaqun ‘alaih,

عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا

Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.”  Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Sabar di dunia menyebabkan seseorang meraih surga.

2- Menyembuhkan penyakit bisa dengan cara berdo’a dan mengharap pada Allah, ditambah dengan mengkonsumsi obat.

3- Bertekad kuat untuk bisa menahan penyakit lebih utama daripada mengambil keringanan untuk disembuhkan sebagaimana yang dialami oleh wanita yang disebutkan dalam hadits ini. Namun hal ini dilakukan jika memang merasa mampu untuk menahan. Seperti ini pun akan semakin menambah pahala.

4- Wajibnya menutup aurat.

5- Boleh meminta do’a pada orang sholih yang masih hidup, bukan pada orang mati.

Semoga faedah-faedah di atas semakin mendorong kita untuk memiliki sifat sabar.

@ Karawaci, Tangerang, 18 Sya’ban 1434 H, malam Kamis

Artikel Rumaysho.Com

Heraklius (Kaisar Romawi) Bertanya Tentang Ajaran Nabi

Sang Kaisar Romawi, Heraklius pernah bertanya tentang beberapa hal mengenai sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Sufyan yang punya kedekatan nasab dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa saja cerita Abu Sufyan mengenai Rasul kita pada Kaisar Romawi, Heraklius? Berikut di antaranya.

Dari Abu Sufyan bin Shakr bin Harb radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata, “Apa saja yang diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Abu Sufyan berkata, “Aku lalu menjawab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ

Sembahlah Allah semata dan jangan berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah perkara jahiliyah yang dikatakan nenek moyang kalian.” Beliau juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, benar-benar menjaga kesucian diri (dari zina) dan menjalin hubungan silaturahim (menjaga hubungan dengan kerabat.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 7 dan Muslim).

Hadits di atas diambil dari pembahasan Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin pada “Bab 4 – Tentang Kejujuran (Sifat Shidiq)”. Kita bisa ambil beberapa pelajaran dari hadits tersebut:

1- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berhias dengan sifat jujur sampai beliau tersohor dengan sifat mulia tersebut, bahkan hal ini diakui atau dikatakan pula oleh musuhnya, Abu Sufyan.

2- Pokok agama ini adalah tauhid. Pokok ajaran yang diperingatkan adalah kesyirikan.

3- Setiap Rasul diutus untuk menjelaskan tauhid dan memberantas kesyirikan. Sehingga setiap pendakwah Islam hendaknya menjadikan dakwah ini sebagai prioritas utama.

4- Allah memerintahkan segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi manusia di dunia dan akhiratnya.

5- Hendaklah meninggalkan taklid atau fanatik buta pada nenek moyang, terkhusus dalam masalah agama. Adapun ajaran nenek moyang yang menunjukkan akhlak mulia, maka tetap boleh ditiru bahkan Islam kembali menyempurnakannya.

6- Islam mengajarkan untuk jujur, menjaga diri dari zina, menjalin hubungan kerabat, juga yang utama memperhatikan hak Allah yaitu mentauhidkan-Nya dan mendirikan shalat.

Semoga kita bisa meraih pelajaran berharga dari hadits di atas. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah bagi pembaca atau pengunjung Rumaysho.Com dan kaum muslimin secara keseluruhan.

 

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 107-108.

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, di pagi hari, Ahad, 24 Sya’ban (sebelum meluncur ke Jakarta)

www.rumaysho.com

Tj Bacaan Masbuq

183. BBG Al Ilmu – 359

Pertanyaan:
1. Apa yang dibaca oleh Masbuq ketika imam tahiyat akhir?
2. Apakah masbuq tetap disunnahkan melakukan takbir mengangkat tangan setelah tasyahud awal jika tertinggal rokaat?
3. Apa yang dibaca masbuq saat imam sholat dg jahr maupun siir ketika imam alfatihah dan membaca surat

Jawaban:
1. Dalam fatwa mengenai perkara yang sama, Syaikh Al Utsaimin mengatakan: “…Jika dia (makmum) mendapati imam dalam keadaan Tasyahhud Akhir maka makmum mengikutinya sambil membaca Tasyahhud dan meneruskannya sampai selesai (seperti tasyahhud akhir biasa) karena dia duduk kala itu hanya untuk mengikuti imamnya. Fatawa Islamiah 1/300

2. Masbuq, bila dia berdiri tidak angkat tangan.

3. Ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah memilih pendapat yang hati-hati dalam masalah ini. Dalam Al Mulakhosh Al Fiqhi, beliau mengatakan, “Apakah membaca Al Fatihah itu wajib bagi setiap yang shalat (termasuk makmum ketika imam membaca Al Fatihah secara jahr), ataukah hanya bagi imam dan orang yang shalat sendiri?” Kemudian jawab beliau hafizhohullah, “Masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang hati-hati, makmum tetap membaca Al Fatihah pada shalat yang imam tidak menjahrkan bacaannya, begitu pula pada shalat jahriyah ketika imam diam setelah baca Al Fatihah.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
* Ust.Rochmad Supriyadi Lc

* http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3306-makmum-membaca-al-fatihah-di-belakang-imam.html

*http://salamdakwah.com/baca-pertanyaan/posisi-duduk-saat-masbuk.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Siang Puasa, Malam Maksiat

182. BBG Al Ilmu – 357

Pertanyaan:
Bagaimana puasa seseorang yang pada malam hari dia melakukan maksiat (berzina,,minum miras bahkan sampai menyabu ) tetapi subuh dia makan untuk sahur dan menjalankan puasa seperti umat muslim lainnya dan perbuatannya itu dilakukan hampir tiap malam?

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Dia berdosa karena maksiatnya, dan puasanya jika terpenuhi syarat dan rukunnya, maka sah.
Adapun pahala itu kembali pada ketentuan Allah Ta’ala.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Dalil Shalat Hadiah

181. BBG Al Ilmu – 23

Pertanyaan:
Ana mau tanya, tadi ana shalat jum’at, khatib sebut2 shalat hadiah, apakah ada dalil shalat hadiah,? mohon pencerahannya, karena bapak saya rahimahullah sering melaksanakan shalat hadiah tsb.

Jawaban:
Tidak ada dalil yang shahih mengenai shalat ini. Dalil yang dipakai adalah hadits dusta sbb:

Nabi bersabda : “ Akan datang  suatu saat yang benar-benar menakutkan si mayit (jenazah) yaitu pada malam hari pertama setelah penguburannya. Maka kasihanilah dan bantulah orang yang meninggal diantara kalian dengan membagi sedekah, apabila tidak ada sesuatu yang disedekahkan maka shalatlah diantara kalian sebanyak dua rakaat.” (Al-Bihar juz 91, hal 219)‬.

Menurut keterangan Ust. Badrusalam Lc, kitab Al Bihar adalah kitab yang penuh dusta. Kitab ini adalah rujukan bagi kaum Syi’ah.

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Dalil Bila Terjadi Perselisihan

180. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Afwan mau tanya, hadits istafti qalbak “tanyakan pada hati sanubarimu”. Shahih kah hadits tsbt? Tlg beri penjelasan.

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Ini Hadits Hasan. Maksud hadits ini bila terjadi perselisihan dan kita bingung mana yang benar, setelah melihat dalil tentunya.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Syarat Wali Nikah

Ust. Abu Riyadl Lc

Syarat seorang boleh menjadi wali nikah adalah:
1. Laki laki
2. Berakal
3. baligh.
4. Islam
5. Tercantum dalam daftar wali nikah
6. Wali terkuat sesuai urutannya, dan jika berhalangan boleh diberikan ke wali bawahnya.
7. Hakim bagi yg tidak ada wali

Www.abu-riyadl.blogspot.com

Tj Patung Plastik Untuk Pajangan Toko Baju

179. BBG Al Ilmu – 255

Pertanyaan:
Afwan ustad ana mau tanya, istri ana jualan abaya tetapi untuk memajang di toko menggunakan patung plastik agar bisa dilihat pembeli, bagaimana hukumnya menggunakan patung plastik untuk display pakaian, syukron jazaakalloh khoir.
Tambahan:
Untuk patung memajang baju yg ana tanyakan ada kepala tetapi dibuat polos tanpa mata.  Atau yg diperbolehkan seperti apa ustad sukran jazaakalloh khoir.

Jawaban:
Ust. Ali Basuki Lc

Hendaknya seorang muslim menghindarkan diri dari sesuatu yang meragukan, dan melangkah kepada yang menenangkan. Lebih baik patung/manekin yang tanpa kepala, dan ini yang biasa dilakukan di arab saudi.

Mengingat beberapa riwayat, diantaranya : “Jibril alaihissalam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (An-Nasai)

Dan juga sabdanya : Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar.” (Shahih Muslim).

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Menebar Cahaya Sunnah