Syariat Dan Harta Haram

Beliau dalam Shahih al-Bukhori dari hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘Anhu yang berbunyi:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ؛ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ ؟!

“Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!” (HR. al-Bukhâri 2059)
 
Disamping itu ketidaktahuan kaum muslimin terhadap harta haram dan usaha haram membuat keadaan semakin parah. Pada saat demikian sangat diperlukan sekali penjelasan mengenai hakekat usaha dan harta yang haram.

Lebih lengkap Silahkan KLIK :
http://m.klikuk.com/syariat-dan-harta-haram/ 

Baca juga kisah menarik dari sahabat Shuhaib KLIK :
http://m.klikuk.com/kisah-sahabat-nabi-shuhaib/ 

Semoga bermanfaat

Sikap Wara dalam Mencari Rezeki

 ┃Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Sikap wara’dalam mencari rezeki dan kehidupan sudah jarang disebut dan diperhatikan kaum muslimin. Kita lihat kaum muslimin sangat menggampangkan masalah ini sehingga terjerumus dalam perbuatan tercela dalam memenuhi kebutuhannya. Riba, dusta, menipu dan perbuatan haram lainnya di lakukan tanpa merasa berdosa hanya untuk dalih memenuhi kebutuhan hidup.

Apa itu sikap wara’

Syeikhul islam ibnu Taimiyah menggambarkan sikap wara’ ini dengan ungkapan: “sikap hati-hati dari terjerumus dalam perkara yang bwerakibat bahaya yaitu yang jelas pengharoman dan yang masih diragukan keharomannya. Dalam meninggalkan perkara tersebut tidak ada mafsadat yang kebih besar dari mengerjakannya”. (majmu’ Fatawa 10/511)

Hal ini disimpulkan secara ringkas oleh murid beliau imam Ibnu al-Qayim dengan ungkapan: Wara’ adalah meninggalkan semua yang dikhawatirkan merugikan akheratnya. (al-Fawaaid hlm 118).

Jelaslah sikap wara’ adalah sikap meninggalkan semua yang meragukan dirimu dan menghilangkan semua yang membuat jelek dirimu. Hal ini dengan meninggalkan perkara syubuhat dan berhati-hati berjaga dari semua larangan Allah. Seorang tidak dikatakan memiliki wara’ sampai menjauhi perkara syubuhat (samar hukumnya) karena takut terjerumus dalam keharoman dan meninggalkan semua yang dikhawatirkan merugikan akheratnya. )

Baca lebih lengkap KLIK :
http://m.klikuk.com/untaian-nasehat-sikap-wara-dalam-mencari-rezeki/ 

Jadilah Orang Asing Di Dunia

Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula.
 
Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak.

Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:  

نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى

مَـا اْلحُـبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الأَوَّلِ

Palingkan hatimu sesuka hatimu dari hawa nafsumu. Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu (yaitu Allah). Dan pernyataan:
 
كَمْ مَنْزِلٍ فِيْ الأَرْضِ يَأْلِفُهُ الْفَتَى

وَحَنِيْنُـــهُ أَبَــدًا لأَوَّلِ مَــنْزِلٍ
 
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang. Dan selamanya kerinduannya hanya pada kampung halamannya (Syurga).  

Demikianlah, hal ini hendaknya menjadikan hati kita senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Menjadi orang yang hatinya senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan.

Hati kita harus senantiasa terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Kita meyakini dan mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata tidak jauh.

Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya.

Lebih lengkap silahkan KLIK :
http://m.klikuk.com/untaian-nasehat-jadilah-orang-asing-di-dunia/

Awas…Janganlah Engkau Mengintip !

Sobat, coba anda ingat-ingat kebiasaan anda bila hendak bertamu ke rumah teman atau orang lain.

Apakah yang Pertama kali anda lakukan setiba di depan rumah orang yang hendak anda kunjungi?

Mengucapkan salam, lalu menunggu jawaban? Atau terlebih dahulu meyakinkan keberadaan tuan rumah dengan cara mengintip dari balik kaca jendela atau lubang pintu?

Bila jawabannya adalah yang kedua, maka saya sarankan agar anda mengubah kebiasan buruk ini.

Perilaku semacam ini, selain tidak etis, juga haram dan beresiko besar.

Ingin tahu, seberapa besar resikonya? Simak hadits berikut:
«لَوِ اطَّلَعَ فِي بَيْتِكَ أَحَدٌ، وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، خَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ»
Andai ada seseorang yang mengintip di rumahmu tanpa seizinmu, lalu engkau melemparnya dengan bebatuan dan mengenai matanya hingga ia buta, maka engkau tidak bersalah.( Muttafaqun alaih)

By: Ust.DR. Muhammad Arifin Badri MA

Tawakkal Pada Allah Yang Memberi Kecukupan

Tawakkal dibalas dengan kecukupan dan pertolongan dari Allah Yang Maha Mencukupi. Dialah yang mencukupi hamba-Nya di saat mereka butuh dan dalam keadaan sangat berharap. Kecukupan khusus yang Allah berikan adalah untuk orang beriman dan yang bertawakkal pada-Nya. Kecukupan yang dimaksud meliputi kecukupan dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya­.” (QS. Az Zumar: 36).

وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)” (QS. An Nisa’: 6).

Selengkapnya di rumaysho.com:
http://­rumaysho.com/­belajar-islam/­aqidah/­4351-tawakkal-pa­da-allah-yang-m­emberi-kecukupa­n.html

Istighfar

Saudaraku…
Tahukan Anda Bahwa Istighfar memiliki beberapa Faedah Istighfar, yakni :

1.Mendapat ampunan dosa
2.Mendapat keridhoan dan kecintaan Allah
3.Mendapatkan rahmat Allah dengan dalil firman Allah,

لَوْلاَ تَسْتَغْفِرُونَ اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Naml: 46).

4. Menghilangkan adzab. Istighfar salah satu faktor penting hilangnya adzab sebagaimana firman Allah,

وَمَاكَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَاكَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengajak mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengajak mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfaal: 33).

5. Mendapatkan barokah dan kebaikan yang banyak dengan dalil firman Allah,

وَيَاقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَتَتَوَلُّوا مُجْرِمِين

“Dan (dia berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’” (QS. Huud: 52).

6. Kebersihan hati.

Demikianlah sekelumit faidah istighfar, lebih lengkap Silahkan KLIK !

http://m.klikuk.com/istighfar/

Bagimana cara bertaubat ?
Baca jawaban Ustadz Kholid Syamhudi Lc, KLIK !

http://m.klikuk.com/bagaimanakah-cara-bertaubat/

BODOH TENTANG AGAMA ISLAM MERUPAKAN PENGHALANG UTAMA DARI MENGIKUTI KEBENARAN

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Sesungguhnya kebenaran yg wajib diterima n diikuti oleh setiap hamba sangatlah jelas n terang benderang. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

(Wa Laqod Yassarnal Qur’aana Lidz-Dzikri Fa Hal Min Muddakir)

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Qur’an itu mudah untuk dipelajari, maka adakah orang yg mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qomar: 17).

Maksudnya, Allah ta’ala menjadikan mudah lafazh Al-Qur’an untuk dibaca, n maknanya untuk dipahami.

Oleh karenanya, kebatilan itu sangat laris n cepat tersebar di tengah orang-orang yg bodoh tentang agama Islam, dan tidak peduli terhadap dalil-dalil Al-Quran n As-Sunnah serta perkataan para sahabat n tabi’in rahimahumullah.

» Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Sesungguhnya terjadinya penyimpangan pada sebagian orang disebabkan sedikitnya ilmu pengetahuan mereka tentang tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.”. (Lihat I’laamu Al-Muwaqqi’iin, karya Ibnul Qoyyim, I/44).

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Sebab-sebab yg menghalangi seorang hamba dari menerima (dan mengikuti) kebenaran itu banyak sekali, diantaranya; BODOH tentang Kebenaran. Dan ini merupakan sebab yg paling dominan menimpa mayoritas manusia. Karena barangsiapa tidak mengetahui (hakekat) sesuatu, niscaya ia akan memusuhinya n memusuhi para pengikutnya.” (Lihat Hidaayatu Al-Hiyaaroo Fi Ajwibati Al-Yahuudi wa An-nashooroo, hal.18).

» Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang terjerumus dalam perbuatan bid’ah melainkan sebabnya karena ia kurang sempurna dlm mengikuti tuntunan (Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam), baik secara ilmu maupun pengamalan. Adapun orang yg mengetahui dan mengikuti As-Sunnah, maka tidak ada pada dirinya faktor yg mendorongnya untuk berbuat bid’ah. Sedangkan orang2 yg bodoh tentang As-Sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam), mereka (mudah) terjerumus ke dalam perbuatan bid’ah.” (Lihat Syarhu Hadiits La Yazni az-Zaani, hal.35).

Maka dari itu, wajib bagi kita semua menghilangkan kebodohan dari diri kita masing2. Dan tiada cara yg paling tepat n benar utk mengobati n menghilangkan kebodohan kecuali dengan meniti jalan menuntut ilmu syar’i, baik dengan menghadiri majlis ta’lim, bertanya kpd para ulama, membaca, mendengarkan kajian Islam (Live atau rekaman) dsb.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

(Fas-aluu Ahladz-Dzikri in Kuntum Laa Ta’lamuun)

Artinya: “Bertanyalah kpd ahludz-Dzikri (yakni para ulama), jika memang kamu benar2 tidak mengetahui.”

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(Alaa Sa-aluu idzaa Lam Ya’lamuu, innamaa Syifaa-ul ‘Ayyi As-Su-aalu)

Artinya: “Tidakkah mereka bertanya ketika mereka tidak tahu. Karena sesungguhnya obat kebodohan itu adalah dengan bertanya.”

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. Dan smg Allah memberikan taufiq n pertolongan-Nya kpd kita utk istiqomah n semangat dlm mempelajari n mengikuti kebenaran hingga akhir hayat. (Klaten, 17 Mei 2013).

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, chat room Faedah & Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

Jangan Berdusta

“Tetaplah berlaku Jujur dalam setiap ucapanmu dan jangan sekali-kali engkau berbohong dalam Ucapanmu!”

Saudaraku!

Berbohong adalah kebiasaan orang munafik. Orang munafik akan selalu menampakkan sesuatu yang menyelisihi apa
yang ada dalam hatinya, di antaranya adalah dengan berbohong/ berdusta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Tanda orang munafik ada tiga:
Apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya dia khianat.”

(HR. Bukhari no. 6095).

Renungilah dengan benar kisah yg sangat berharga  dalam hadits berikut ini yang menunjukkan  bahwa berbohong bukan sekedar dosa yang ringan!

Dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada suatu malam aku  bermimpi didatangi dua orang, kemudian keduanya
membawaku ke sebuah tempat/ bumi yang suci. Di tempat itu aku melihat seorang lelaki yg tidur terlentang pada tengkuknya, dan tiba-tiba disitu ada orang yg berdiri diatasnya dgn membawa sebuah pengait dari besi. Yang kemudian ia mendatangi org yg tidur terlentang tadi menuju kesalah satu bagian wajahnya, kemudian merobek-robek dari ujung mulut sampai tengkuknya, dari hidung ke tengkuknya, dan juga dari mata sampai tengkuknya, kemudian pindah lagi kesebelah wajahnya yg lain dan dilakukan sebagaimana yg dikerjakan pada muka/ wajah yg sebelumnya. dan terus diulang yg demikian pada wajahnya/mukanya. Akhirnya Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam bertanya:
“Kalian telah mengajakku berkeliling, sekarang kabarkan  kepadaku peristiwa demi peristiwa yang telah aku lihat
Keduanya berkata: iya…
“Adapun orang yang engkau lihat , ia sedang dirobek-robek ujung mulut sampai ketengkuk, dari lobang hidung sampai ke ketengkuk, dan juga mata sampai ketengkuknya, dia adalah seorang  PENDUSTA, berkata bohong  hingga dosanya itu memenuhi penjuru langit, maka dia akan disiksa dengan siksaan tersebut sampai hari kiamat.”
(HR. Bukhari no. 1386)

Semoga manfaat

Alhaakumut Takaatsur

By ust. Badrusalam Lc

Ibnu Qayyim rahimahullah ketika menafsirkan makna ayat: alhaakumuttakaatsur,, beliau berkata:
Takaatsur (memperbanyak sesuatu) itu berlaku pada segala sesuatu..
Siapa saja yang dilalaikan oleh memperbanyak sesuatu dari Allah dan kehidupan akhirat..
Maka ia masuk dalam ayat tersebut..
Diantara manusia ada yang berbangga dengan banyaknya harta..
Ada yang berbangga dengan kedudukan..
Dan adapula yang berbangga dengan banyaknya ilmu..
Ia kumpulkan ilmu hanya untuk kebanggaan saja..
Ini lebih buruk di sisi Allah dari orang yang berbangga dengan harta dan kedudukan..
Karena orang itu telah menjadikan amalan akhirat untuk dunia..
Sedangkan pemilik harta dan kedudukan menjadikan amalan dunia untuk dunia..

(Uddatu shobirin hal. 172).

Ilmu bukan untuk dibanggakan akhi..
Tapi untuk diamalkan..
Lalu menimbulkan kekhusyu’an dan tawadlu’..
Ya Rabb.. Beri kami ilmu yang bermanfaat..

Hukum Khitan

# Hukum Khitan #
Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Khitan hukumnya wajib atas laki-laki dan kemuliaan untuk wanita. Ini adalah pendapat banyak ulama. (Al Mughni 1/85).

An Nawawi berkata, “Khitan adalah wajib menurut imam Syafi’I dan banyak ulama. Dan sunnah menurut Malik dan kebanyakan ulama. Asy Syafii mewajibkannya atas laki laki dan wanita.” (Syarah Muslim 1/543).
Penulis membawakan hadits :

الفطرة خمس الختان والإستحداد وقص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الاباط
Fitrah ada lima: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR Muslim).

Menurut penulis hadits ttg khitannya wanita semuanya lemah. Yaitu hadits:

أشمي ولا تنهكي فإنه أبهى للوجه وأحظى لها عند الزوج
“Khitanlah, jangan terlalu dalam karena itu lebih mempercantik wajah dan lebih disukai oleh suami.”
Namun menurut syaikh Al Bani hadits ini shahih karena banyaknya jalan. Lihat silsilah shahihah no 722.

Menurut saya (abu yahya) hadits tersebut hasan atau shahih, karena walaupun semua jalannya tidak lepas dari kelemahan namun ia saling menguatkan satu sama lainnya.
Adapun hukumnya. Yang rajih adalah wajib atas laki-laki karena itu berhubungan dengan kesucian dari najis.

Adapun wanita maka hendaklah berkhitan, karena lebih menetralkan syahwat.

Syaikhul islam ibnu taimiyah berkata, “oleh karena itu kamu dapatkan perbuatan zina pada wanita tartar dan prancis (barat) lebih dahsyat dan itu tidak terdapat pada wanita kaum muslimin.” (Majmu fatawa 21/114).

Ref.
Kitab: jami’ ahkaaminnisaa. Penulis : Syaikh Mushtofa Al ‘Adawi. Jilid 1/19-23

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Menebar Cahaya Sunnah