Percakapan Allah Dengan Penduduk Neraka

اَلَمْ تَكُنْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ (١٠٥)

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 105)

قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَاۤلِّيْنَ (١٠٦)

“Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 106)

رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ (١٠٧)

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zholim..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 107)

قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ (١٠٨)

“Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 108)

اِنَّهٗ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْ عِبَادِيْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَۚ (١٠٩)

“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 109)

فَاتَّخَذْتُمُوْهُمْ سِخْرِيًّا حَتّٰٓى اَنْسَوْكُمْ ذِكْرِيْ وَكُنْتُمْ مِّنْهُمْ تَضْحَكُوْنَ (١١٠)

“Lalu kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat Aku, dan kamu (selalu) menertawakan mereka..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 110)

اِنِّيْ جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْٓاۙ اَنَّهُمْ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ (١١١)

“sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 111)

قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ (١١٢)

“Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 112)

قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ (١١٣)

“Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 113)

قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (١١٤)

“Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 114)

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ (١١٥)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami..?”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 115)

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ (١١٦)

“Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 116)

وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهٗ بِهٖۙ فَاِنَّمَا حِسَابُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ (١١٧)

“Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 117)

Di akhir surat Allah menyuruh rosul-Nya untuk senantiasa memohon ampunan dan rahmat-Nya..

وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ (١١٨)

“Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik..”
(Q.S. Al-Mu’minun ayat 118)

Demikian pula kita hendaknya memperbanyak istighfar dan memohon rahmat-Nya…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Merutinkan Mengucapkan Sholawat Dan Salam Setiap Hari

Dalam Qs al ahzab/56, Allah memerintahkan kita untuk SENANTIASA bersholawat dan memberikan salam kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, maka mari kita biasakan untuk sholawat dan salam SETIAP HARI dari pagi hingga malam..

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak ber-sholawat kepadaku..”

[ HR. at-Tirmidzi ]

selain itu, untuk SETIAP SATU sholawat yang kita ucapkan, maka Allah Ta’ala akan memberikan balasan berupa 10 kali sholawat, yaitu pujian dan sanjungan kepada kita di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya, menghapus 10 dosa kita dan meninggikan 10 derajat/tingkatan kita di surga kelak, berdasarkan hadits berikut:

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali maka Allah akan bersholawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)..”

[ HR. an-Nasa’i no. 1297 ]

Maka dengan demikian bila kita mengucapkan :

10 kali sholawat =
100 kali pujian dan sanjungan Allah
100 kesalahan (dosa) digugurkan
100 tingkatan surga ditinggikan

50 kali sholawat =
500 kali pujian dan sanjungan Allah
500 kesalahan (dosa) digugurkan
500 tingkatan surga ditinggikan

100 kali sholawat =
1,000 kali pujian dan sanjungan Allah
1,000 kesalahan (dosa) digugurkan
1,000 tingkatan surga ditinggikan

dan demikianlah seterusnya, subhaanallah.. 

Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad..

MUTIARA SALAF : Saat Keluar Dari Dunia

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

طالب الله والدار الآخره لا يستقيم له سيره وطلبه الا بحبسين:
✳️ حبس قلبه فى طلبه ومطلوبه وحبسه عن الالتفات الى غيره
✳️ وحبس لسانه عما لا يفيد وحبسه علي ذكر الله وما يزيد فى ايمانه ومعرفته وحبس جوارحه عن المعاصي والشهوات وحبسها على الواجبات والمندوبات
🔺 فلا يفارق الحبس حتى يلقى ربه فيخلصه من السجن الى أوسع فضاء وأطيبه
🔺 ومتى لم يصبر على هذين الحبسين وفر منهما الى فضاء الشهوات أعقبه ذلك الحبس الفظيع عند خروجه من الدنيا
🔸 فكل خارج من الدنيا اما متخلص من الحبس واما ذاهب الي الحبس

“Orang yang mencari ridho Allah dan negeri akhirat tidak akan lurus perjalanan dan pencariannya kecuali dengan memenjara dua hal (yaitu) :

Memenjara kalbunya dalam pencarian dan tujuannya, menjaga agar tidak berpaling pada yang selainnya.

Memenjara lisannya dari apa yang tak bermanfaat, menjaga agar senantiasa berdzikir kepada Allah dan yang menambah iman serta ilmunya. Demikian pula memenjara anggota badannya dari maksiat dan syahwat, juga menjaganya melaksanakan kewajiban dan amalan sunnah.

Dia selalu memenjaranya hingga bertemu Robbnya, lalu dia pun bebas dari penjara menuju tanah lapang yang terluas lagi terbaik..

Namun, ketika dia tidak sabar dalam memenjara dua hal ini, dan melarikan diri ke kelapangan syahwat, maka setelahnya dia akan mendapatkan penjara yang mengerikan saat keluar dari dunia..

Maka, siapa saja yang keluar dari dunia ini, dia antara terbebas dari penjara, atau justru menuju penjara..”

[ Al Fawaid – 54 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Semangatlah Berbagi Ilmu Agama

● Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-:
“Siapa yang menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya..” [HR. Muslim]

● Ibnul Mubarok -rohimahulloh-:
“Aku tidak tahu derajat setelah kenabian yang lebih mulia daripada menyebarkan ilmu (agama)..” [Tahdzibul Kamal 16/20]

● Ibnul jauzi -rohimahulloh-:
“Siapa yang tidak ingin terputus amalnya setelah matinya, maka sebarkanlah ilmu (agama)..” [At-Tadzkiroh 55].

● Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-:
“Mendermakan ilmu (agama) dan memberikannya kepada orang lain, termasuk diantara kedermawanan yang paling tinggi tingkatannya.
Dermawan dengan ilmu (agama) lebih afdhol daripada dermawan dengan harta, karena ilmu (agama) lebih mulia daripada harta..” [Madarijus Salikin 2/281]

● Syeikh Binbaz -rohimahulloh-:
“Harusnya engkau berusaha untuk menyebarkan ilmu dengan seluruh semangat dan kekuatanmu. Jangan sampai para pengikut kebatilan lebih giat dalam kebatilannya..” [Majmu’ul Fatawa 6/67].

● “Yang disyariatkan bagi seorang muslim ketika mendengar faidah (ilmu) adalah menyampaikannya kepada orang lain.
Begitu pula seorang muslimah, hendaknya menyampaikan ilmu yang dia dengar kepada yang lainnya. Sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ‘sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat’, dan dahulu saat berkhutbah, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam biasa mengatakan: ‘hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang ghoib (tidak hadir)’..” [Majmu’ul Fatawa 4/54].

● Syeikh ‘Utsaimin rohimahulloh:
“Aku pernah diwasiati oleh seorang awam, dia mengatakan kepadaku: ‘wahai anakku, berusahalah untuk menyebarkan ilmu, walaupun di majlis-majlis umum, seperti: kopdaran, atau makan bersama, atau yang semisalnya..

Jangan tinggalkan -satu majlis pun- kecuali engkau telah menghadiahkan kepada orang-orang duduk di situ, meski hanya satu masalah..

Orang itu telah mewasiatkan hal ini kepadaku, dan aku juga mewasiatkan hal yang sama kepada kalian, karena itu wasiat yang bermanfaat..”
[Atta’liq ala shohih muslim, hadits no: 1147, 1152,1154].

● Syeikh Shalih Alu Syeikh -hafizhohulloh-:
“Perjuangan (jihad) yang paling besar untuk melawan musuh Allah jalla wa’ala dan setan adalah menyebarkan ilmu, maka sebarkanlah ilmu di semua tempat, sesuai kemampuanmu..” [Al-Washoyal Jaliyyah: 46]

——-

Maka hendaklah kita bersemangat dalam menyebarkan ilmu agama, terutama ilmu tentang Allah dan ilmu tentang Rosul-Nya.

Karena ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah (tauhid), karena ia berhubungan dengan Allah ta’ala, dzat yang paling mulia.. Kemudian ilmu tentang Nabi dan sunnahnya, karena beliau adalah makhluk yang paling mulia, dan sunnahnya merupakan ajaran yqng paling tinggi derajatnya.

Dan ingatlah bahwa berbagi ilmu agama, tidak harus dengan membuat status sendiri, tapi bisa juga dengan menyebarkan status yang ditulis orang lain.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

SELESAI – Buk-Ber ‘Asyuro 1444 Hijriyah

JUM’AT SORE  – 29 DZULHIJJAH 1443 /  29 JULI 2022
.
Alhamdulillah alladzii bini’matihi tatimmush shoolihaat, dengan pertolongan Allah, kami akiri program buk-ber puasa ‘Arofah dan ‘Asyuro, jazaakumulahu khoyron atas partisipasinya semoga Allah memberikan balasan puasa ribuan jama’ah dan santri ma’had yang berpuasa ‘Arofah dan ‘Asyuro dan buka bersama pada kedua hari tsb.

Untuk program buk-ber berikutnya di bulan Muharrom 1444 Hijryah, insyaa Allah akan dimulai kembali program buk-ber puasa Senin Kamis (KLIK : DI SINI ) 

puasa ‘Asyuro – 10 Muharrom 1444
TAHAP 1 dan 2 : sebanyak 2,100 porsi insyaa Allah bagi sekitar 1,700 santri putra dan putri ma’had, berikut para pengajar dan asaatidz ma’had, plus 400 jama’ah yang tersebar di beberapa masjid/musholla.

Per porsi : Rp. 25,000, namun silahkan berapa saja partisipasinya dan tidak ada batas minimal, semoga Allah menerimanya dan memberikan kemudahan pelaksanaannya..

puasa ‘Arofah – 09 Dzulhijjah 1443SELESAI
dengan izin Allah, alhamdulillah telah terlaksana buk-ber puasa ‘Arofah, sebanyak 4,100 porsi bagi 4,100 jama’ah di 44 masjid dan lokasi buk-ber di beberapa kecamatan di Lombok Timur. Dokumentasi video buk-ber puasa ‘arofah 1443 h, klik : https://t.me/bbg_alilmu/16934

Dalam program ini, kami bekerjasama dengan Assunnah Peduli, Lombok Timur.

================

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

1. “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah), aku harapkan dari Allah, bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya, dan Puasa Asyuro (10 Muharram), aku harapkan dari Allah, bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu..” [HR. Muslim no. 1162 dan Abu Dawud no. 2425]
.
2. “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga..” [HR. at-Tirmidzi no. 807]

3.  “Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia..”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya..” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]

================

➡ untuk berpartisipasi, silahkan transfer ke :
BANK SYARIAH INDONESIA  (451)
no. rekening : 748 000 4447
an. AL ILMU TA’AWUN
.
konfirmasi (tidak wajib) :
0838-0662-4622

Daftar partisipasi s/d JUM’AT SORE pkl. 16.00 WIB

AA – 29 Juli – 1

Untuk laporan buk-ber periode sebelumnya bisa dilihat DI SINI

FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?
================
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidangkan ifthor bagi ratusan santri/santriwati dan ribuan jama’ah masjid yang melaksanakan ibadah puasa sunnah senin-kamis, ‘Arofah dan ‘Asyuro, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

Do’a Yang Mengumpulkan Seluruh Perkara Kebaikan

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullahu ta’ala mengatakan,

ومن دعاء النبي صلى الله عليه وسلم: “اللهم إني أسألك الهدى والتقى، والعفاف والغنى” فجمع الخير كله في هذا الدعاء.
فالهدى: هو العلم النافع. والتقى: العمل الصالح، وترك المحرمات كلها. وهذا صلاح الدين.
وتمام ذلك بصلاح القلب، وطمأنينته بالعفاف عن الخلق، والغنى بالله. ومن كان غنيا بالله فهو الغني حقا، وإن قلت حواصله. فليس الغني عن كثرة العرض، إنما الغنى غنى القلب. وبالعفاف والغنى يتم للعبد الحياة الطيبة، والنعيم الدنيوي، والقناعة بما آتاه الله.

“Di antara do’a yang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAAHUMMA INNII
AS ALUKAL-HUDAA
WAT-TUQOO WAL ‘AFAAFA
WAL-GHINAA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu al-Hudaa (petunjuk), at-Tuqoo (ketakwaan), al-‘Afaaf (terjaganya kehormatan), dan al-Ghinaa (rasa cukup)..”

Sungguh, Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam telah menghimpun seluruh perkara kebaikan dalam do’a ini :

al-Hudaa adalah ilmu yang bermanfaat.

at-Tuqoo adalah beramal saleh dan meninggalkan seluruh perkara yang haram.

Dua hal tersebut adalah kebaikan bagi agama seseorang.

Kebaikan agama akan sempurna jika dilengkapi dengan kebaikan dan ketentraman kalbu yang diraih dengan :

Al-‘Afaaf (menjaga kehormatan) dari bergantung kepada makhluk), dan

Al-Ghinaa (merasa cukup dengan pemberian Allah).

Barang siapa merasa cukup dengan pemberian Allah, dia adalah orang kaya secara hakiki, walaupun pemasukannya sedikit..

Tidaklah kekayaan itu dinilai dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah rasa cukup dalam kalbu..

Dengan sifat al-‘Afaaf dan al-Ghinaa seorang hamba akan sempurna kebahagiaan hidupnya, kenikmatan duniawinya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah..

[ Bahjah Quluub al-Abror wa Qurrotu ‘Uyuun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar – 116 ]

NB :

jangan lupa salah satu adab sebelum berdo’a adalah :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh): yaa Hayyu yaa Qoyyuum

● lalu membaca sholawat (contoh): Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a..

MUTIARA SALAF : Menggapai Cita-Cita Dunia Dan Akhirat

Salah seorang shahabat, yaitu Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu, berkata,

ثلاث يدرك بهن العبد رغائب الدنيا والآخرة ، الصبر عند البلاء ، والرضا بالقضاء ، والدعاء في الرخاء

Tiga hal, hamba akan bisa mencapai cita-cita dunia dan akhirat dengannya:

1. Sabar ketika musibah
2. Rela dengan takdir
3. Berdo’a saat lapang

[ Az Zuhd – Imam Abu Dawud ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Antara Sabar, Ridho Dan Bersyukur

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

“Sabar (menghadapi musibah) hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan para ulama..

Derajat yang lebih tinggi dari sabar adalah ridho terhadap ketetapan Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ridho saat menghadapi musibah adalah wajib. Sementara itu, ulama yang lain berpendapat hukumnya sunnah, dan inilah pendapat yang benar..

Berikutnya, tingkatan di atas ridho adalah bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.

Dia justru menilai bahwa musibah tersebut termasuk bagian dari nikmat Allah atasnya. Sebab, Allah menjadikan musibah tersebut sebagai sebab terhapusnya kesalahan-kesalahannya, terangkatnya kedudukannya, kembalinya kepada Allah, ketundukkannya serta kepasrahannya kepada Allah, dan sebab keikhlasannya dalam tawakalnya kepada Allah semata, juga berharapnya hanya kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya..”

[ al-Furqon Bayna Auliya ar-Rohmana wa Auliya asy-Syaithon hlm. 143 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Ujian Harta

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

لو شاءَ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لجعلَكُمْ أغنياءَ لا فقيرَ فيكم، ولو شاءَ لجعلَكُمُ فقراءَ ولا غَنِيَّ فيكم، ولكنِ ابْتَلَى بعضَكُمْ ببعضٍ لِيَنْظُرَ كيفَ تَعْمَلُونَ.

“Jika Allah ‘azza wa jalla berkehendak, tentu Dia akan menjadikan kalian semua kaya, tidak ada yang fakir di antara kalian..

Jika Dia berkehendak pula, Dia akan menjadikan kalian semua fakir, tidak ada yang kaya di antara kalian..

Akan tetapi, (Dia menjadikan di antara kalian ada yang kaya dan ada yang fakir) untuk menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat..”

[ Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawa’izhuhu – 36 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Kisah Seorang Pencuri

Seorang pencuri memasuki rumah Malik bin Dinar rohimahullah, kemudian dia mencari sesuatu yang bisa dia curi, akan tetapi dia tidak mendapatkan apapun.

Akhirnya dia melihat Malik bin Dinar yang sedang sholat.

Ketika Malik telah selesai dari salam dia berkata kepada pencuri tersebut, “Kamu mencari harta dunia (di tempat ini), namun kamu tidak mendapatkannya..? Apakah kamu sudah memiliki perbekalan akhirat..?”

Akhirnya pencuri tersebut mengikuti nasihat Malik bin Dinar dan duduk sejenak mendengarkan nasihat beliau hingga dia mencucurkan air matanya.

Setelah itu mereka berdua berangkat bersama ke masjid untuk sholat (berjama’ah).

Setiba di masjid, orang-orang merasa heran melihat keduanya sembari berkata, “Seorang alim besar bersama seorang gembong pencuri..? Ini tidak masuk akal..!”

Mereka kemudian bertanya kepada Malik bin Dinar kemudian beliau menjawab, “Dia datang dengan niat mencuri harta kami akan tetapi justru kami berhasil mencuri hatinya..”

[ Thoriiq Islami 2/144 – Karya Imam adz-Dzahabi rohimahullah ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah