Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 08
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 08
Semua manusia menginginkan kegembiraan dan kebahagiaan..
Kegembiraan yang hakiki adalah gembira dengan ketaatan kepada Allah, dan gembira dengan pahala besar saat bertemu dengan Allah ‘Azza wajalla..
Adapun gembira dengan dunia bukanlah gembira yang terpuji, karena dunia hakekatnya adalah ujian yang akan dimintai pertanggung jawabannya..
Orang yang berpuasa diberikan dua kegembiraan yang hakiki.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
للصائم فرحتانِ يفرحهما: إذا أفطر
فرِح، وإذا لقي ربه فرح بصومه
“Orang berpuasa memiliki dua kegembiraan: apabila berbuka ia bergembira, dan apabila bertemu dengan Robbnya ia bergembira dengan pahala puasanya..” (HR. Muslim)
Gembira saat berbuka bukan sebatas gembira karena dapat makan dan minum, namun gembira karena dapat melaksanakan ketaatan.
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَن سرَّتهُ حسنتُهُ وساءتْهُ سَيِّئتُهُ فذلِكم المؤمنُ
“Siapa yang bergembira dengan hasanahnya dan merasa susah dengan dosanya maka itulah mukmin..” (HR At Tirmidzi)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 07
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan (sedekah) dengan hati yang dipenuhi dengan rasa takut, (karena mereka tahu) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robbnya..” (Qs. Al-Mu’minuun 23:60)
‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata,
“Ya Rosulullah, apa maksud firman Allah (Qs 23:60 di atas)..? Apakah karena orang itu telah mencuri, berzina dan meminum khomr, lalu dia pun takut bila bertemu Allah kelak..?”
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam menjawab,
“Bukan begitu wahai putri ash-Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang senantiasa sholat, berpuasa serta bersedekah, tetapi mereka selalu khawatir kalau amalan mereka tidak diterima oleh Allah..”
(HR. Ahmad VI/159, 205 no. 25263, at-Tirmidzi no. 3175, dan Ibnu Majah no. 4198 serta al-Hakim II/293-294)
Memperbanyak amal di bulan Ramadhan adalah perkara yang dianjurkan..
Namun besarnya pahala bukan dilihat dari banyaknya, tapi dipengaruhi oleh keadaan hati..
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:
تفاضل الأعمال عند الله تعالى بتفاضل ما فى القلوب من الإيمان والإخلاص والمحبة وتوابعها
“Perbedaan tingkat amal di sisi Allah Ta’ala ditentukan oleh perbedaan tingkat apa yang ada di hati berupa keimanan, keikhlasan, cinta dan hal-hal yang mengikutinya..” (Shohih Al Wabil Ash Shoyyib hal. 22)
Oleh karena itu ibadah yang paling utama adalah ibadah yang benar-benar memperbaiki hati.. karena tujuan ibadah adalah untuk menimbulkan ketaqwaan di hati..
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (٢١)
“Wahai manusia ! Beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa..”
(Q.S. Al-Baqarah ayat 21)
Ya… agar kamu bertakwa.
Maka ibadah yang tidak menimbulkan takwa di hati adalah ibadah yang tak bernilai di sisi Allah Ta’ala..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
ARTIKEL TERKAIT
Hukum Seputar Ramadhan – 06
Bulan ramadhan adalah bulan yang dilipat-gandakan amal..
Namun sebagian orang merasa berat untuk melaksanakan amal sholeh berupa puasa, sholat taraweh, membaca al qur’an dan lainnya..
Lalu apa penyebabnya..?
Allah Ta’ala berfirman:
۞ وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ (٤٦)
“Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu..”
(Q.S. At-Taubah ayat 46)
Allah lemahkan keinginan mereka untuk keluar di jalan Allah akibat penyakit kemunafikan yang ada di hati mereka..
Demikianlah.. ketika hati diberatkan dengan dosa, maka ia akan berjalan tertatih-tatih menuju Allah.. bahkan terhenti akibat beratnya dosa yang ia tanggung..
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :
وإذا ثقل الظهر بالأوزار منع القلب من السير إلى الله، والجوارح من النهوض في طاعته، وكيف يقطع مسافة السفر مثقلٌ بالحمل على ظهره؟
وكيف ينهض إلى الله قلب قد ثقلته الأوزار؟
“Apabila punggung diberatkan oleh dosa, akan mencegah hati untuk berjalan menuju Allah, dan mencegah badan untuk melakukan ketaatan..
Mungkinkah orang membawa beban yang amat berat dapat menyelesaikan perjalanannya..? Bagaimana akan kuat berjalan kepada Allah hati yang diberatkan oleh dosa-dosa..?”
(Bada’i Tafsir 3/223)
Maka apabila kita merasakan berat untuk melaksanakan ketaatan hendaklah memperbanyak taubat dan istighfar.. Agar hati kembali bersih dan ringan dalam perjalanannya menuju Allah..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL