Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan..” [Qs Al Anbiya’: 35]
Ibnu Katsir rohimahullah berkata, “Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa..”
“Jika terbetik di hatimu prasangka buruk terhadap seorang muslim, maka hendaklah kamu memberikan perhatian yang lebih kepadanya dan juga mendo’akan kebaikan untuknya..
karena hal itu akan menjadikan setan marah dan menjauh dari anda, sehingga dia tidak melemparkan kepada anda prasangka buruk karena kawatir anda malah akan sibuk mendo’akan kebaikan untuknya dan lebih memperhatikannya..”
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang hadits-hadits anjuran dan hadits-hadits ancaman : Bab Ikhlas : Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu ibadah
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang hadits-hadits anjuran dan hadits-hadits ancaman : Bab Ikhlas : Ikhlas sebab turunnya pertolongan Allah
Dari pembahasan kitab FIQIH Ad Da’wah ‘inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Batasan 6 – Amar Ma’ruf Nahi Munkar Itu Sesuai Kemampuan – bisa di baca di SINI
. =======
Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya.. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya.. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman..” [HR. Muslim, no. 49]
Ini menunjukan bahwa mengingkari kemungkaran itu ketika kita melihatnya. Berarti kemungkaran itu sifatnya terlihat dan tampak..
➡️ Adapun kalau kemungkaran itu tidak tampak dimata kita maka kita tidak perlu untuk mengorek-ngorek dan mencari-cari..
⚉ Oleh karena itu Syaikhul Islam rohimahullah berkata : “Bahwa siapa yang memperlihatkan kemungkaran dinegeri Islam maka tidak boleh didiamkan..” (Majmu Fatawa jilid 28 halaman 205)
Dikecualikan dari kaidah ini kata beliau : “Kalau kita mengingkarinya ternyata malah menimbulkan mudhorot yang lebih besar.. Maka pada waktu itu kita tidak ingkari, namun kita ingkari dengan hati saja..”
➡️ Jadi ini kalau ternyata menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Karena tujuan mengingkari kemungkaran, sebagaimana pernah kita bahas, dalam rangka menghilangkan kemungkaran atau mengurangi.. adapun kemudian malah timbul kemungkaran yang lebih dahsyat, maka ini tidak diperbolehkan..
⚉ Praktek dalam kehidupan kita :
➡️ Seorang da’i wajib mengingkari kebid’ahan yang tampak dimatanya. Sesuai dengan kemampuannya.. dan menjelaskan akan kebid’ahan. Walaupun tentunya ketika ada pada diri seseorang beberapa kemungkaran, tentu kita harus ingkari yang paling besar dahulu.
Contoh : Jika si A melakukan syirik, juga melakukan bid’ah, juga melakukan maksiat. Maka yang harus kita perbaiki dahulu adalah masalah syiriknya.. kita ingkari. Kita pahamkan. Jika dia sudah paham masalah syirik dan dia tinggalkan kesyirikan, baru kemudian kita pahamkan masalah bid’ah. Kalau sudah paham itu baru kita pahamkan masalah maksiat..
➡️ Demikian pula dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak boleh kita membiarkan kemungkaran. Bagi orang yang punya kekuasaan dan kemampuan.
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang ber-sholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam