Meninggalkan Perkara Yang Diragukan Kehalalannya

Waro’ adalah meninggalkan semua yang dikhawatirkan dapat merusak akherat…

Meninggalkan perkara yang diragukan kehalalannya adalah sikap waro’ yang terpuji…

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

إني لأنقلب إلى أهلي؛ فأجد التمرة ساقطة على فراشي، ثم أرفعها لآكلها ثم أخشى أن تكون صدقة فألقيها

“Sesungguhnya aku pulang ke rumahku, lalu aku menemukan sebutir kurma yang jatuh di atas kasurku. Kemudian aku ambil untuk dimakan tapi aku khawatir ia adalah kurma sedekah maka aku lemparkan..”
(HR Bukhari dan Muslim)

Imam Al Baghawi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah dalil sikap waro’. Yaitu sesuatu yang diragukan kehalalannya hendaknya ditinggalkan..”

[Syarhussunnah 6/100]

#Selfreminder
#Selfreminder
#Selfreminder

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Konsisten Dalam Amal Ma’ruf Nahi Munkar

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Jika anda memerintahkan hal yang ma’ruf, jadilah orang yang paling konsisten melaksanakannya.. apabila tidak demikian, anda akan celaka.. Jika anda melarang suatu kemungkaran, jadilah orang yang paling konsisten menjauhinya.. kalau tidak demikian, anda akan celaka..”

[ Az-Zuhd Lil Imam Ahmad – 444 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Perbarui Niat Karena Allah dan Lanjutkan

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

“Meninggalkan amal karena manusia termasuk riya’.. dan beramal karena manusia termasuk syirik..”

[ Majmu’ al-Fatawa – 23:174 ]

note: Jika hendak mengerjakan sesuatu, namun khawatir riya’, maka hendaknya istighfar, ta’awudz (berlindung kepada Allah), perbaharui niat, dan tetaplah lanjutkan amal tersebut.. Allahu a’lam

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Ghibtoh Kecuali Kepada 2 Orang

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya…”

[ HR. Bukhari – 73, Muslim – 816 ]

note: Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang..

Akibat Tolong Menolong Dalam Dosa dan Permusuhan

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

النَّاس إذا تعاونوا على الإثم و العدوان أبغض بعضهم بعضاً

“Manusia bila saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan mereka pasti akan saling membenci satu sama lainnya..” (Majmu Fatawa 15/128)

Karena dosa menimbulkan permusuhan..
Dan meretakkan persaudaraan…
Maka Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa…
Agar menutup celah setan…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Memaki Siapapun

Dari Jabir bin Sulaim Al Hujaimi rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

يا رسول الله ، أنا من أهل البادية ، وفي جفاؤهم ، فأوصني . فقال : ” لا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تلقى أخاك ووجهك منبسط ، ولو أن تفرغ من دلوك في إناء المستقي ، وإن امرؤ شتمك بما يعلم فيك فلا تشتمه بما تعلم فيه ، فإنه يكون لك أجره وعليه وزره . وإياك وإسبال الإزار ، فإن إسبال الإزار من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة ، ولا تسبن أحدا ” . قال : فما سببت بعده أحدا ، ولا شاة ولا بعيرا

“Wahai Rosulullah aku berasal dari pedesaan, beri aku wasiat..”

Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda..

● jangan meremehkan kebaikan sedikitpun walaupun dengan tersenyum di wajah saudaramu.. Walaupun dengan menuangkan air ke bejana orang yang meminta air..

● jika ada yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada pada dirimu, janganlah membalas mencacinya dengan aib yang kamu tahu ada pada dirinya.. karena pahalanya untukmu dan dosanya untuk dia..

● jangan memakai kain melebihi mata kaki karena itu termasuk kesombongan dan Allah tidak menyukai kesombongan.., dan

● jangan memaki siapapun..”

Jabir berkata, “Semenjak itu aku tidak pernah memaki siapapun walaupun kepada kambing dan unta..”

(HR Abu Dawud dan An Nasai)

Wasiat-wasiat yang agung…
Maka camkanlah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah