Lihatlah kaum saba yang diberikan kesenangan.. Kesenangan itu membuat mereka merasa aman dari makar Allah…
Lihat kaum fir’aun.. Mereka diberikan kesenangan dan kekuatan… Namun membuat mereka merasa aman dari makar Allah…
Lihat si qorun yang kekayaannya melimpah ruah… Mereka semua memaksiati Allah dan tertipu dengan knikmatan yang banyak…
Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang orang yang merugi.. Makar Allah itu berupa adzab dan sanksi.. Sanksi berupa bencana dan musibah..
Dan yang berat adalah sanksi yang tak terlihat.. Dijadikan hatinya berpaling dari Allah dan kehidupan akherat..
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dan apakah dengan membangun sekolah-sekolah syariat demikian rumah sakit-rumah sakit untuk membantu kaum dhu’afa demikian pula mempersiapkan para da’i itu termasuk dalam “Fii Sabiilillah..”?
⚉ Syaikh Al Bani rohimahullah dalam kitab Tamamul Minnah berkata, “Bahwa penafsiran ayat dengan makna yang mencakup semua amalan-amalan kebaikan yang disebutkan tadi, tidak pernah ada satupun salaf yang memahami demikian.. Sebab kalaulah semua kebaikan-kebaikan tadi masuk, tentu Allah tidak akan mengkhususkan makna “Fii Sabiilillah..” dengan ucapan kata “Fii Sabiilillah..”
⚉ Oleh karena itu Abu ‘Ubaid dalam kitab Al Amwal berkata, “Adapun membayarkan hutang untuk mayat demikian pula membeli kain kafannya, membangun mesjid, demikian pula menggali sumur untuk pengairan dan yang lainnya dari kebaikan-kebaikan, maka Sufyan Ats Tsauri demikian pula penduduk Irak dan ulama-ulama yang lainnya bersepakat bahwa itu tidak boleh diambil dari harta zakat. Karena tidak termasuk dalam asnaf yang 8 tadi..”
Kemudian orang yang berhak mendapatkan zakat yaitu..
8️⃣ Ibnu Sabiil
⚉ Siapa itu Ibnu Sabiil..?
Yaitu, orang yang kehabisan bekal didalam safarnya, dimana didalam perjalanan safarnya ia kehabisan bekal maka diberikan harta zakat, sesuatu yang mencukupinya untuk bisa sampai pulang kerumah atau ke negrinya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir.
⚉ Kemudian kata beliau, “Apakah 8 orang mustahiq ini harus diberikan semuanya ketika kita membayar zakat..?
Jawabnya : TIDAK HARUS Kalau diberikan kepada salah satu mustahiqnya saja seperti misalnya Fuqoro dan orang-orang miskin, maka itu sudah mencukupi.
Sebagaimana dalam hadist Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi Shollallahu ‘alayhi wa Sallam menyebutkan :
“Yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan di bagikan kepada orang miskin mereka..”
Nabi Shollallahu ‘alayhi wa Sallam hanya menyebutkan orang fakir saja.. padahal ada 8 asnaf (8 orang yang berhak mendapatkan zakat). Itu menunjukkan bahwa kalau kita memberikan kepada salah satu dari 8 saja, maka itu sudah mencukupi.
. Wallahu a’lam 🌻
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
. Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
. ARTIKEL TERKAIT Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
. WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah
Allah tidak serupa dengan apapun..
Maka jangan samakan Dia dengan makhluk-Nya..
Dan Dia Maha Melihat..
Padahal makhlukpun melihat..
Tapi penglihatan Allah tidak serupa dengan penglihatan makhkuk-Nya..
Dia Maha mendengar..
Padahal makhlukpun mendengar..
Tapi pendengaran Allah tidak serupa dengan pendengaran makhluk-Nya..
Demikianlah seluruh sifat Allah..
Tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya..
Dia beristiwa di atas Arasy-Nya..
Namun istiwa yang tidak sama dengan istwa makhluk-Nya..
Tidak berkonsekwensi membutuhkan tempat atau arah..
Karena istiwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya..
Dan tidak boleh memahami dengan akal kita bahwa yang namanya istiwa berkonsekwensi kepada tempat dan arah..
Karena itu adalah konsekwensi makhluk..
Allah kuasa untuk beristiwa di atas arasy tanpa membutuhkan tempat dan arah..
Bagi Allah itu mudah..
Tapi akal kita lah yang rusak..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Aku bertemu dengan banyak ulama..
tingkatan keilmuan mereka berbeda-beda…
namun yang paling bermanfaat dari mereka bagiku adalah yang mengamalkan ilmunya…
walaupun yang lain lebih berilmu darinya…
Aku bertemu dengan ulama yang bernama Abdul Wahab Al Anmathi..
ia berjalan di atas manhaj salaf..
tak pernah terdengar ghibah di majelisnya..
tidak pula menerima upah dari menyampaikan hadits..
apabila dibacakan kepada beliau hadits-hadits yang menyentuh hati..
beliau menangis dan terus menangis..
saat itu usiaku masih amat muda..
namun tangisannya membangun kaidah dalam hatiku..
Aku juga bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliqi..
ia lebih banyak diam dan amat hati-hati dalam berbicara…
amat menguasai ilmu dan ahli tahqiq..
pernah ia ditanya tentang suatu masalah yang enteng…
namun ia baru menjawabnya setelah benar-benar yakin..
ia selalu berpuasa dan banyak diam..
aku lebih banyak mengambil manfaat dari dua ulama ini dibandingkan ulama lainnya..
dan akupun faham bahwa dalil yang dipraktekkan lebih mengena di hati dibandingkan yang hanya diucapkan..
maka berusahalah mengamalkan ilmu..
karena itulah pokok yang paling besar…
dan yang paling kasihan itu adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dengan ilmu yang tidak diamalkan..
sehingga ia terluput dari kenikmatan dunia dan kebaikan akherat..”
(Kitab Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi)
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang mendo’akan muslim lainnya dari kejauhan
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya yang ia cintai karena Allah
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan ilmu
Imam ibnu Katsir dalam kitabnya alBidayah Wannihayah 13/147 menyebutkan sebuah kisah.. dengarkanlah..
Al Asyraf Musa bin Adil berkata..
“Suatu hari aku berada di sebuah tempat di negeri kholat.. tiba-tiba masuklah pelayan dan berkata.. di pintu, ada seorang wanita meminta izin.. ia pun kuizinkan masuk.. ternyata.. ia wanita yang amat cantik jelita, tak pernah aku melihat wanita yang lebih cantik darinya.. ternyata ia adalah anak raja yang dahulu pernah berkuasa di kholat..
ia mengatakan bahwa pasukanku telah menguasai desanya.. sementara ia amat membutuhkan rumah kontrakan.. karena ia makan dari hasil memahat untuk para wanita.. maka aku menyuruh orangku untuk mengembalikan harta miliknya dan menyediakan rumah untuk tempat tinggalnya..
ketika ia masuk, aku berdiri untuk menghormatinya.. dan mempersilahkannya duduk dan memintanya agar menutup wajahnya.. ia bersama wanita tua.. setelah selesai urusannya.. aku berkata, “Silahkan berdiri dengan menyebut nama Allah..”
wanita tua itu berkata, “Tuan, ia ingin melayanimu malam ini..” aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tak layak seperti itu..” aku bergumam pada diriku bagaimana bila ini terjadi pada anak wanitaku..
lalu wanita tua itu berdiri dan berkata, “Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupi kami..” aku berkata, “Apabila ada keperluan lagi sampaikan saja kepadaku, aku akan memenuhinya untukmu..” ia pun mendoakanku dengan kebaikan dan pergi..
aku bergumam pada diriku, “Yang halal bisa mencegahmu dari yang haram, nikahi saja dia..” aku berkata, “Tidak demi Allah.. dimanakah rasa malu, kemuliaan dan kehormatan..??”
Subhanallah.. kisah yang mengagumkan.. wanita yang amat jelita itu telah menyerahkan dirinya.. tapi ia segera ingat.. bagaimana bila itu terjadi pada anak wanitanya..
ia pun tak ingin mengambil kesempatan untuk menikahinya.. karena khawatir merusak kemuliaannya.. merusak keikhlasannya.. atau mengharapkan balasan dari pemberiannya.. ia tak ingin menikahinya karena menggunakan kesempatan..
itulah kemuliaan jiwa… ya Rabb..
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى