Antara 10 Hari Pertama Dzulhijjah Dan 10 Hari Terakhir Ramadhan — Manakah Yang Lebih Utama..?

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah ditanya sbb :

أيهما أفضل العشر الأواخر من رمضان، أم عشر ذو الحجة؟

Manakah yang paling utama, 10 hari terakhir Ramadhan ataukah 10 hari pertama Dzulhijjah..?

JAWABAN

العشر الأواخر من رمضان أفضل من جهة الليل؛ لأن فيها ليلة القدر،

10 hari terakhir dari bulan Ramadhan itu lebih utama dari sisi malam hari .. karena padanya ada (malam) laylatul qodar.

والعشر الأول من ذي الحجة أفضل من جهة النهار؛ لأن فيها يوم عرفة، وفيها يوم النحر وهما أفضل أيام الدنيا،

Sedangkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah itu lebih utama dari sisi siang hari .. karena padanya ada hari ‘Arofah dan hari raya qurban (idul adha) dan keduanya merupakan hari-hari dunia yang paling utama.

هذا هو المعتمد عند المحققين من أهل العلم،

Dan inilah pendapat yang dipegang oleh para pakar dan peneliti dari kalangan ulama.

فعشر ذي الحجة أفضل من جهة النهار، وعشر رمضان أفضل من جهة الليل؛ لأن فيها ليلة القدر وهي أفضل الليالي، والله المستعان

Sehingga :
– 10 pertama Dzulhijjah itu lebih utama dari sisi siang hari, dan

– 10 terakhir Ramadhan itu lebih utama dari sisi malam hari karena padanya ada (malam) laylatul qodar yang merupakan malam-malam terbaik.

Wallahul Musta‘aan

(Fatawa Nuur ‘Alad Darb)

ref : http://www.binbaz.org.sa/node/17753

Do’a Berlindung Dari Hilangnya Nikmat

Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Di antara do’a yang pernah dipanjatkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasalllam,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
MIN ZAWAALI NI’ MATIKA,
WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA,
WA FUJAA ATI NIQMATIKA,
WA JAMII’I SAKHOTHIKA

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari :
– hilangnya kenikmatan yang telah Engkau limpahkan,
– berubahnya al-‘aafiyah yang telah Engkau karuniakan,
– hukuman-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan
– dari segala hal yang bisa menyebabkan kemurkaan-Mu..”

(HR. Muslim no. 2739)

KETERANGAN
Makna berlindung dari

تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ

TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA

Maksudnya adalah berlindung dari bergantinya kondisi :
– sehat menjadi sakit, dan
– kaya (kecukupan) menjadi fakir/miskin.

Oleh karena itu, seseorang yang memanjatkan do’a ini, maka dia telah meminta kelanggengan al-‘aafiyah, yakni keselamatan dari setiap keburukan dan semua penyakit.

(Lihat al-Bahru al-Muhiith ats-Tsajjaaj fii Syarhi Shohiihi al-Imam Muslim bin al-Hajjaj jilid 42 halaman 482-489)

Menghidupkan Kembali Sunnah Di Hari Hari Awal Bulan Dzulhijjah

Ibnu ‘Abbas -rodhiyallahu ‘anhumaa- berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari tasyriq..”

Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah -rodhiyallahu ‘anhumaa- pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.

(Dikeluarkan oleh imam Al Bukhari rohimahullah tanpa sanad -mu’allaq-, pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”)

● Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari (Imam Al Bukhari) rohimahullah berkata,

“Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)..”

(al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi – 1/168)

Kebanyakan Manusia Melalaikannya

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Amal sholih di 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah -diantaranya puasa- lebih Allah cintai dibandingkan amal sholih di 10 terakhir bulan Ramadhan..

Walaupun demikian, terhadap 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah ini manusia melalaikannya..

Hari-hari tersebut berlalu sementara manusia seperti kebiasaan mereka, engkau tidak menjumpai ada peningkatan dalam membaca al-Qur’an maupun ibadah-ibadah yang lainnya, bahkan untuk sekedar bertakbir saja sebagian mereka ada yang kikir untuk melakukannya..”

[ Asy-Syarhul Mumti’ – 6/470 ]

Orang Yang Panjang Penderitaannya

Asy Syathibi rohimahullah berkata,

“Orang yang penderitaannya panjang adalah orang yang wafat namun dosa dosanya terus mengalir selama seratus, dua ratus tahun, dan ia terus diadzab di kuburnya sebab dosa tersebut..”

(Al Muwafaqot 1/361)

Akibat dosa yang diwariskan..
Merasa suka jika manusia mencontoh perbuatannya yang nista..

Sehingga ia menanggung dosa dosa mereka..
dan terus diadzab di kuburnya selama dosa itu masih diikuti manusia..

Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Dan siapa yang mecontohkan perbuatan yang buruk dalam islam lalu diamalkan (oleh manusia) setelah wafatnya maka ditulis untuknya dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun..” (HR. Muslim no 1017)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keutamaan Tauhid Dan Menjauhi Kesyirikan

Sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

يا ابنَ آدمَ إنَّكَ ما دعوتَني ورجوتَني غفَرتُ لَكَ على ما كانَ فيكَ ولا أبالي، يا ابنَ آدمَ لو بلغت ذنوبُكَ عَنانَ السَّماءِ ثمَّ استغفرتَني غفرتُ لَكَ، ولا أبالي، يا ابنَ آدمَ إنَّكَ لو أتيتَني بقرابِ الأرضِ خطايا ثمَّ لقيتَني لا تشرِكُ بي شيئًا لأتيتُكَ بقرابِها مغفرةً

Wahai anak Adam .. selagi engkau terus berdo’a dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dosamu).

Wahai anak Adam .. walaupun dosamu setinggi langit, apabila engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepadamu.

Wahai anak Adam .. jika engkau menemui-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, namun engkau tiada menyekutukan-Ku dengan suatu apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula.

(HR. At-Tirmidzi no. 3540, dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan At-Tirmidzi no. 3540)

Sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

ليغفرن الله يوم القيامة مغفرة لم تخطر على قلب بشر

Sungguh pada hari kiamat kelak, Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan memberikan ampunan yang tidak pernah terbersit di dalam hati seorang pun.

(Mausuah Ibnu Abid Dunya 1/87)

Menebar Cahaya Sunnah