simak penjelasannya oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
Do’a Berlindung Dari Hilangnya Nikmat

Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,
“Di antara do’a yang pernah dipanjatkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasalllam,
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
MIN ZAWAALI NI’ MATIKA,
WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA,
WA FUJAA ATI NIQMATIKA,
WA JAMII’I SAKHOTHIKA
“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari :
– hilangnya kenikmatan yang telah Engkau limpahkan,
– berubahnya al-‘aafiyah yang telah Engkau karuniakan,
– hukuman-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan
– dari segala hal yang bisa menyebabkan kemurkaan-Mu..”
(HR. Muslim no. 2739)
KETERANGAN
Makna berlindung dari
تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ
TAHAWWULI ‘AAFIYATIKA
Maksudnya adalah berlindung dari bergantinya kondisi :
– sehat menjadi sakit, dan
– kaya (kecukupan) menjadi fakir/miskin.
Oleh karena itu, seseorang yang memanjatkan do’a ini, maka dia telah meminta kelanggengan al-‘aafiyah, yakni keselamatan dari setiap keburukan dan semua penyakit.
(Lihat al-Bahru al-Muhiith ats-Tsajjaaj fii Syarhi Shohiihi al-Imam Muslim bin al-Hajjaj jilid 42 halaman 482-489)
Menghidupkan Kembali Sunnah Di Hari Hari Awal Bulan Dzulhijjah
Ibnu ‘Abbas -rodhiyallahu ‘anhumaa- berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari tasyriq..”
Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah -rodhiyallahu ‘anhumaa- pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.
(Dikeluarkan oleh imam Al Bukhari rohimahullah tanpa sanad -mu’allaq-, pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”)
● Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari (Imam Al Bukhari) rohimahullah berkata,
“Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)..”
(al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawi – 1/168)
Takbir Di Awal Bulan Dzulhijjah
Jadwal Puasa – Dzulhijjah 1446 Hijriyah
RABU – 01 DZULHIJJAH 1446 / 28 MEI 2025

Hukum Niat Qurban Setelah Beberapa Hari Dari 10 Hari Pertama Dzulhijjah Sedangkan Sebelum Niat Ia Sudah Memotong Rambut Dan Kukunya
APA HUKUMNYA KALAU NIAT AKAN BERKURBAN BARU DILAKUKAN SESUDAH BEBERAPA HARI DARI SEPULUH HARI PERTAMA DZULHIJJAH, SEDANGKAN SEBELUM BERNIAT IA SUDAH MEMOTONG RAMBUT DAN KUKUNYA..?
baca penjelasannya berikut ini :
https://almanhaj.or.id/2300-hukum-memotong-rambut-atau-kuku-bagi-yang-akan-berkurban.html
Kebanyakan Manusia Melalaikannya
Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,
“Amal sholih di 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah -diantaranya puasa- lebih Allah cintai dibandingkan amal sholih di 10 terakhir bulan Ramadhan..
Walaupun demikian, terhadap 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah ini manusia melalaikannya..
Hari-hari tersebut berlalu sementara manusia seperti kebiasaan mereka, engkau tidak menjumpai ada peningkatan dalam membaca al-Qur’an maupun ibadah-ibadah yang lainnya, bahkan untuk sekedar bertakbir saja sebagian mereka ada yang kikir untuk melakukannya..”
[ Asy-Syarhul Mumti’ – 6/470 ]
Orang Yang Panjang Penderitaannya
Asy Syathibi rohimahullah berkata,
“Orang yang penderitaannya panjang adalah orang yang wafat namun dosa dosanya terus mengalir selama seratus, dua ratus tahun, dan ia terus diadzab di kuburnya sebab dosa tersebut..”
(Al Muwafaqot 1/361)
Akibat dosa yang diwariskan..
Merasa suka jika manusia mencontoh perbuatannya yang nista..
Sehingga ia menanggung dosa dosa mereka..
dan terus diadzab di kuburnya selama dosa itu masih diikuti manusia..
Nabi shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Dan siapa yang mecontohkan perbuatan yang buruk dalam islam lalu diamalkan (oleh manusia) setelah wafatnya maka ditulis untuknya dosa semua orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun..” (HR. Muslim no 1017)
✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Keutamaan Tauhid Dan Menjauhi Kesyirikan
Sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,
يا ابنَ آدمَ إنَّكَ ما دعوتَني ورجوتَني غفَرتُ لَكَ على ما كانَ فيكَ ولا أبالي، يا ابنَ آدمَ لو بلغت ذنوبُكَ عَنانَ السَّماءِ ثمَّ استغفرتَني غفرتُ لَكَ، ولا أبالي، يا ابنَ آدمَ إنَّكَ لو أتيتَني بقرابِ الأرضِ خطايا ثمَّ لقيتَني لا تشرِكُ بي شيئًا لأتيتُكَ بقرابِها مغفرةً
Wahai anak Adam .. selagi engkau terus berdo’a dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dosamu).
Wahai anak Adam .. walaupun dosamu setinggi langit, apabila engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepadamu.
Wahai anak Adam .. jika engkau menemui-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, namun engkau tiada menyekutukan-Ku dengan suatu apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula.
(HR. At-Tirmidzi no. 3540, dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan At-Tirmidzi no. 3540)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,
ليغفرن الله يوم القيامة مغفرة لم تخطر على قلب بشر
Sungguh pada hari kiamat kelak, Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan memberikan ampunan yang tidak pernah terbersit di dalam hati seorang pun.
(Mausuah Ibnu Abid Dunya 1/87)
Diantara Tanda Tanda Kebahagiaan Dan Keberuntungan Seorang Hamba
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,
Termasuk tanda tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba adalah :
– ketika bertambah ilmunya, maka bertambah pula tawadhu’ dan kasih sayangnya,
– ketika bertambah amalannya, maka bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya,
– semakin bertambah umurnya, maka semakin berkurang ambisinya,
– ketika bertambah hartanya, maka semakin bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya,
– semakin bertambah kedudukannya dan kekuasaannya, maka semakin bertambah pula kedekatannya dengan manusia dan menunaikan kebutuhan mereka dan tawadhu’ (merendahkan diri dan berlemah lembut) terhadap mereka.
( Al Fawaid – 148/149 )