Pilar Kebaikan

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

Pilar segala kebaikan adalah engkau memahami bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi.

(Al Fawaid – hlm. 96)

Tidak Ternilai Harganya

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

الوقت ثمين الوقت أثمن من المال وأثمن من كل شيء كل وقت يمضي عليك في غير طاعة الله فهو خسارة

Waktu itu sangat berharga, lebih berharga dari harta dan bahkan lebih bernilai daripada segala sesuatu.

Setiap waktu yang engkau jalani untuk selain ketaatan kepada Allah, maka itulah kerugian (yang nyata).

( Al-Liqoo asy-Syahri, hlm. 19 )

Diantara Keutamaan Memiliki Teman Teman Yang Sholeh

Ubaidullah bin al-Hasan rohimahullah pernah berpesan kepada seseorang,

يَا فُلانُ اسْتَكْثِرْ مِنَ الصَّدِيقِ فَإنَّ أيْسَرَ ما تُصِيبُ أنْ يَبْلُغَهُ مَوْتُكَ فَيَدْعُوَ لَكَ

Wahai fulan, perbanyaklah teman-teman (yang baik). Karena setidaknya, pada saat kabar kematianmu sampai ke telinganya, ia akan mendo’akan kebaikan untukmu.

(Al-Ikhwan, karya Ibnu Abid Dunya – 78)

Menjadi Pedagang Akherat

Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

وإذا كان التجار لا ينامون حتى يراجعوا دفاتر تجارتهم، ماذا صرفوا، وماذا أنفقوا، وماذا كسبوا، فإن تجار الآخرة ينبغي أن يكونوا أشد اهتماماً، لأن تجارتهم أعظم.

Apabila para pedagang dunia tidak akan tidur sampai mengulang kembali pembukuan keuangan mereka,
– apa yang sudah dibelanjakan
– apa yang sudah dikeluarkan
– apa yang sudah didapatkan

Maka bagi para pedagang akherat, sudah seharusnya mereka memberikan perhatian yang lebih lagi (dengan introspeksi terhadap amalannya), karena sesungguhnya dagangan mereka lebih jauh besar dan mulia.

(Tafsir Qs As-Syarh:2)

Tawadhu Yang Benar

Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah ditanya tentang tawadhu (yang benar), maka beliau menjawab,

هو أن تخرح من بيتك، فلا تلقى أحدا إلا رأيت له الفضل عليك

Tawadhu (rendah hati) yang benar adalah ketika engkau keluar rumah, tidaklah engkau bertemu seseorang melainkan engkau memandang bahwa dia memiliki kelebihan atasmu.

( Mawaizh lil imam al-Hasan al-Bashri – hlm. 115 )

Manusia Yang Paling Keras Jeritannya Pada Hari Kiamat

Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) rohimahullah berkata,

إن أشد الناس صراخا يوم القيامة رجل سن سنة ضلالة، فاتبع عليها، ورجل مكفى قد استعان بنعم الله على معاصيه

Sesungguhnya manusia yang paling keras jeritannya pada hari Kiamat adalah :

– seseorang yang mengajarkan kesesatan, lalu dia diikuti, dan

– seorang hartawan yang menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.

( At-Tadzkirah al-Hamduniyah, 8/102 )

Diantara Sifat Manusia Terbaik

Al Imam Ibnu Rojab al-Hanbali (w. 795 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

وفي الجملة فخير الناس ، أنفعهم للناس، وأصبرهم عـلى أذى الناس. كما وصف الله المتقين بذلك في قوله تعالى :

Secara umum, manusia terbaik itu ialah :
– yang paling besar manfaatnya bagi orang lain, dan
– paling mampu bersabar dalam menghadapi gangguan orang lain.

Sebagaimana yang telah Allah sebutkan akan sifat orang-orang bertakwa,

﴿الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“(Yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan..” (Qs. Aali Imron : 134)

( Lathoiful Ma’arif – 231 )

Tanda Tanda Tertutupnya Hati

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

Kapan saja engkau melihat hati seorang hamba :

– sudah tidak memiliki kecintaan kepada Allah dan persiapan bekal untuk bertemu dengan-Nya, dan

– hatinya sudah dipenuhi dengan kecintaan kepada makhluk, bukan kepada Allah Sang Pencipta,

– ridho dan merasa puas dengan kehidupan dunia,

– merasa tenteram dan tenang dengan dunia,

maka ketahuilah dengan yakin bahwa hatinya telah tertutup.

( Bada’i al-Fawaid – 3/743 )

Akibat Menganggap Ringan Sebuah Dosa

Ka’ab al-Ahbar rodhiyallahu ‘anhu berkata,

إن العبد ليعمل الذنب الصغير فيحقرهُ ولا يندم عليه، ولا يستغفر الله منه، فيعظم عند الله حتى يكون مثل الطود، ويعمل الذنب العظيم فيندم عليه، ويستغفر الله منه،فيصغر عند الله حتى يغفره له.

Sesungguhnya seorang hamba ketika melakukan dosa kecil, namun ia menyepelekan dosa tersebut, tidak menyesalinya dan tidak juga memohon ampunan kepada Allah, maka dosa tersebut akan menjadi besar di sisi Allah layaknya gunung yang tinggi.

Namun bila ia melakukan dosa besar, kemudian ia menyesalinya dan memohon ampunan kepada Allah, maka dosa tersebut akan menjadi kecil di sisi Allah, sehingga ia diampuni.

(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab – 1/392)

Diantara Sebab Seseorang Dimasukkan Kedalam Neraka Meskipun Banyak Melakukan Kebaikan

Al Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H) rohimahullahu ta’ala berkata,

“وقال بعض السلف : إنَّ العبد ليعمل الخطيئة فيدخل بها الجنَّة، ويعمل الحسنة فيدخل بها النار قالوا كيف؟

Ada sebagian ulama salaf yang mengatakan .. sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan dosa, namun ia masuk Surga, dan ada juga hamba yang melakukan kebaikan, namun malah masuk neraka. Bagaimanakah hal itu dapat terjadi..?

قال: يعمل الخطيئة، فلا تزال نصب عينيه : إذا ذكرها ندم واستقال، وتضرع إلى الله، وبادر إلى محوها، وانكسر وذلَّ لربه وزال عنه عُجبه وكبره.

Adapun hamba yang berbuat dosa, maka ia senantiasa mengingat-ngingat dosanya tersebut .. sehingga ketika diingatkan, ia pun menyesalinya, merasa rapuh di hadapan Allah dan segera kembali untuk taat dan berupaya untuk menggugurkan dosanya, sehingga hilanglah darinya sifat bangga diri dan sombong.

ويعمل الحسنة فلا تزال نصب عينيه : يراها ويمنّ بها ويعتد بها ، ويتكبر بها ، حتّى تدخله النار. “

Adapun hamba yang melakukan kebaikan, senantiasa ia menjadikan kebaikan berada di hadapan kedua matanya, sehingga ia menganggap amalannya banyak, merasa berjasa serta menyombongkan kebaikannya tersebut .. maka perbuatan tersebut akan mendorongnya sampai ia masuk ke dalam neraka.

( Thoriqul Hijrotain – 369 )

Menebar Cahaya Sunnah