MUTIARA SALAF : Sesungguhnya Kapal Itu Tak Mungkin Berlayar Diatas Daratan

Suatu hari Abul Atahiyah sang pujangga masuk kepada Khalifah Harun Ar Rasyid.. lalu sang Khalifah meminta nasehat berupa bait bait syair..

Abul Atahiyah berkata:

لَا تأمن الْمَوْت فِي طرف وَلَا نفس … وَإِن تسترت بالحجاب والحرس)
(وَاعْلَم بِأَن سِهَام الْمَوْت قاصدة … لكل مدرع منا ومترس)
(مَا بَال دينك ترْضى أَن تدنسه … وثوبك الدَّهْر مغسول من الدنس)
(ترجو النجَاة وَلم تسلك مسالكها … إِن السَّفِينَة لَا تجْرِي على اليبس

Engkau tidak aman dari kematian.. walaupun berlindung di balik hijab..

Panah kematian pastilah datang.. kepada semua yang memakai perisai..

Akankah engkau ridho mengotori agamamu.. sementara bajumu senantiasa dibersihkan..

Kamu berharap keselamatan.. tapi tak mau menempuh jalannya..

Sesungguhnya kapal itu tak mungkin berlayar di atas daratan…

[Bustanul Wa’idzin 1/282 karya Ibnul Jauzi]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Karena Dunia Itu Hina

Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata,

“Adalah unta Rosulullah tak terkalahkan. Lalu ada seorang arab badui datang dengan untanya dan berhasil mengalahkan unta Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka para shahabat merasa kecewa hingga diketahui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda,

حق على الله أن لا يرتفع شيء من الدنيا إلا وضعهُ

“Sudah kepastian dari Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang tinggi dari dunia kecuali akan Dia rendahkan” [HR Al Bukhari]

Demikianlah dunia…
Sehebat apapun seseorang..
Pasti suatu ketika akan ada yang mengalahkannya..
Karena dunia itu hina..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Lelah Itu Terasa Ringan Saat Kita Menikmati dan Merasakan Manfaatnya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Orang yang kurang jauh pikirannya hanya akan melihat beratnya suatu amal. Ketika hendak berhaji misalnya ia melihatnya melelahkan dan berat.. sehingga ia malas untuk pergi dan kurang keinginannya”

[Attafsir Al Qoyyim hal. 119]

Maka janganlah sebatas melihat beratnya sebuah amal..
Tapi lihatlah manfaatnya dan pahalanya yang besar untuk kehidupan hati..

Untuk meraih kenikmatan dunia pun kita harus lelah..
Apalagi untuk meraih kenikmatan surga-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jika Bukan Karena Tiga Perkara Ini

Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata,

لَوْلَا ثَلَاثٌ لَصَلُحَ النَّاسُ، لَوْلَا هَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِي رَأَى بِرَأْيِهِ

“Jika bukan karena tiga perkara ini, manusia akan menjadi baik,
🔸 kekikiran yang diikuti,
🔸 hawa nafsu yang ditaati, dan
🔸 setiap orang berbangga dengan pendapatnya sendiri.”

[Kitab Azzuhdu karya Imam Ahmad]

Islam tidaklah berdasarkan pendapat akal semata..
Namun berdasarkan wahyu..
Dan apa yang difahami oleh para sahabat dan para ulama setelahnya..
Siapapun yang berbicara dalam agama ini, wajib ia berdasarkan wahyu..
Adapun merasa diri intelek lalu berbicara seenaknya dalam agama..
Maka ini sumber munculnya berbagai macam keburukan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Terbiasa Menentang Syariat Dengan Akalnya

قال ابن تيمية رحمه الله : . من تعود معارضة الشرع بالرأي لا يستقر في قلبه الإيمان .
– درء التعارض

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Siapa yang terbiasa menentang syariat dengan akalnya, keimanannya tidak akan kokoh di hatinya”

[Dar’u al-Ta’arudh]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(https://twitter.com/UB_CintaSunnah)

Jagalah Pandangan

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

رُبَّ نَظْرة نَقشتْ في القلب صورة فَبَعُد مَحْوها فإنَّ الإنسان ليمشي في الأسواق فيتغيَّر قلبُه فالبدَار البدَار إلى حفظ القلوب بالعزلة عن كل ما يؤذي

“Berapa banyak pandangan mata mengukir di hati sosok yang sulit dihapus. Seseorang berjalan di pasar lalu hatinya berubah. Maka segeralah ! Segeralah menjaga hati dari segala perkara yang merusaknya.” (Attabshiroh 2/650)

Bila itu di pasar pada zaman beliau..
Bagaimana dengan pasar di zaman ini..
Mall dan plaza dan sebagainya..

Maka waspadalah bagi yang ingin ke tempat tempat seperti itu..
Untuk banyak menundukkan pandangan..
Karena keselamatan hati dari fitnah syahwat dan syubuhat..
Adalah keselamatan terbesar.. di dunia dan akherat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Demi Masa Depan

Bekerjalah banting tulang demi masa depanmu !
Belajarlah bersungguh-sungguh demi masa depanmu !
Bersusah payahlah, bersakit-sakit demi masa depanmu !
Sekolah yang tinggi dan raih prestasi demi masa depanmu !

Masa depan apa yang ada di benak kebanyakan manusia ? Jawabnya adalah masa depan dunia manakala seseorang berhasil meraih pangkat dan jabatan, harta dan tahta, dielu-elukan banyak pengikut dan pengagum.

Lantas, setelah harta ditangan, jabatan dipundak, kedudukan dipandang, apakah berarti kau telah mencapai garis finish mu meraih masa depan yang dulu kau impi-impikan ?

Bukankah setelah itu, tubuhmu bongkok tak lagi lentur, pandanganmu tak jeli karena mulai kabur, kulitmu tak kencang berubah mengendur, rambut hitammu pun telah tertutup oleh ubanmu yang mulai bertabur, secara perlahan jasadmu mendekat ke pintu kubur, untuk kemudian dipendam tanah menjadi hancur lebur, sanak keluarga, handai tolan, pengikut dan pengagummu pun pada kabur.

Jangan pernah tertipu berletih-letih menyiapkan masa depan, karena masa depan yang hakiki bukanlah di dunia fana yang sempit ini, tetapi masa depan mukmin adalah ketika dengan dua kakinya menginjak taman-taman surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Orang bijak adalah orang yang bersusah payah untuk menpersiapkan masa depannya setelah kematian, bersabar-sabar dengan menjalankan ketentuan syariat, menjauhi dosa-dosa dan bertahan dengan segala derita.

Dunia memang harus dipersiapkan, diraih dan dikejar, tetapi bukanlah tujuan hidup, dan bukanlah hakikat hidup, karena hakikat hidup itu kan diraih nanti setelah ruh berpisah dari badan.Tiada indah masa depan yang diraih di dunia, namun hancur binasa terluput di akhirat kelak.

Batam, 18 Rabiul Akhir 1441/ 15 Des 2019

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Hakikat Hijrah Adalah Hijrah Hati

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hijrah hati adalah hakikat dari hijrah..
sedangkan hijrah badan mengikuti hijrah hati..

ia berhijrah dari mencintai selain Allah kepada mencintai Allah..

Dari menghambakan diri kepada selain Allah menuju menghambakan diri kepada-Nya saja..

dari takut, berharap dan tawakkal kepada selain Allah, menuju takut, berharap dan tawakkal kepada-Nya saja..

Dari berdo’a, tunduk dan menghinakan diri kepada selain Allah, menuju berdo’a, tunduk dan menghinakan diri kepada-Nya saja..

Inilah makna lari kepada Allah dalam firman-Nya,

“Larilah kepada Allah.” (Adz Dzariyat: 50)

[Risalah Tabukiyah hal 16]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Murji’ah

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #2) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Murji’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab At Takfiir wa Dhowabithhu..

⚉ Kata Beliau (penulis kitab), “dan diantara mahzab Ahlussunnah tentang masalah iman yaitu boleh memberikan pengecualian padanya. Itu dengan mengatakan (ana) “saya mukmin in-syaa Allah”

apabila ada orang yang bertanya tentang itu, apakah kamu mukmin ? Kemudian kita katakan, “saya mukmin in-syaa Allah”
Maksudnya “in-syaa Allah” disini bukan karena ragu, tapi karena kita tidak mengaku-ngaku bahwa iman kita sudah sempurna.

⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

‎وأما مذهب السلف أصحاب الحديث ، كابن مسعو دوأصحابه ، والثوري ، وابن عيينة ، وأكثر علما ء الكوفة ، ويحيى بن سعيد القطان فيما ير و يه عن علماء أهل البصرة ، وأحمد بن حنبل ، وغيره من أئمة أهل السنة ، فكانوا يستثنو ن في اﻹيما ن وهذا متوا تر عنهم

“Keyakinan as-salaf ashhaabul hadits, seperti Ibnu Mas’ud dan para muridnya, juga keyakinan Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin Uyaynah dan kebanyakan Ulama Kuffah, Yahya bin Said Alkhoththon juga dari Ulama Bashroh Ahmad bin Hambal dan yang lainnya dari para Ulama Ahlussunnah, mereka memberikan istitsnaa’ (ucapan in-syaa Allah)
dalam iman, dan ini mutawatir dari mereka.

‎لكن ليس في هؤلا ء من قال : أنا أستثني لأ جل الموا فاة ، وأن اﻹيمان هو اسم لما يوا في به العبد ربه ، بل صرح أئمة هؤ لا ء بأ ن الا ستثنا ء إنما هو لأن اﻹيما ن يتضمن فعل الوا جبات فلا يثهدون لأ نفسهم بذلك

Akan tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengatakan, bahwa “saya mukmin in-syaa Allah” karena merasa ragu, akan tetapi, “saya mengatakan mukmin in-syaa Allah” karena iman itu mengandung kewajiban-kewajiban dan saya tidak menyaksikan terhadap diri saya bahwa saya sudah melaksanakan semuanya, saya sudah sempurna imannya” (dalam Majmu Fatawa jilid 7/hal 439).

➡️ Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah secara global tentang iman.

⚉ Kita bahas keyakinan murji’ah tentang iman.

Orang-orang murji’ah mempunyai keyakinan bahwa amal tidak termasuk iman, dan bahwasanya iman itu tidak terbagi-bagi, iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, akan tetapi ia sesuatu yang satu, tidak terbagi-bagi dan tidak bertambah dan tidak berkurang.

Ini adalah merupakan pokok daripada mahzab mereka.
Karena mereka disebut murji’ah dari kata,

أرجأ – ير جئ

Artinya, “mengakhirkan amal dari iman”

Kemudian orang-orang murji’ah itu terbagi menjadi 3 kelompok.

1⃣ Kelompok Jahmiyyah
Mereka mengatakan bahwa iman itu sebatas pengetahuan atau keyakinan dengan hati saja. Adapun ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan tidak termasuk iman.

Mereka menganggap yang penting YAKIN walaupun tidak bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD ROSUULULLAH, walaupun tidak beramal, tidak sholat dan yang lainnya.. dianggap mukmin yang sempurna… na’uudzubillah.

2⃣ Kelompok al-Karromiyyah
Mereka mengatakan iman itu ucapan lisan saja, bukan pembenaran dengan hati.. yang penting seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat walaupun hatinya kafir tetap disebut sebagai iman, mukmin yang sempurna.

Sehingga konsekuensinya tentunya orang munafik menurut mereka mukmin… na’uudzubillah.

3️⃣ Kelompok Murji’atul Fuqoha
Yang mengatakan iman itu pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan.

Dan mereka mengingkari iman itu berderajat bertingkat-tingkat dan mereka mengingkari juga bahwa amal itu termasuk iman, mereka juga mengharamkan mengucapkan “saya mukmin in-syaa Allah”.
Ini adalah pendapat Abu Hanifa, demikian pula Ahmad bin Abi Sulaiman daripada Fuqoha Kuffah, dan semua ini adalah pendapat yang bathil.

➡️ Maka inilah keyakinan kaum murji’ah didalam masalah iman secara global.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Menebar Cahaya Sunnah