قال ابن القيم: “لا تصح لك درجة التواضع حتى تقبل الحق ممن تحب وممن تبغض
فَتَقْبَلُهُ مِنْ عَدُوِّكَ كَمَا تَقْبَلُهُ مِنْ وَلِيِّكَ
بل حقيقة التواضع:
أنه إذا جاءك قبلته منه وإذا كان له عليك حق أديته إليه
فلا تمنعك عداوته من قبول حقه ولا من إيتائه إياه”
مدارج 2/ 321
Ibnu Qayyim berkata:
“Tidak sah derajat tawadlu’mu sampai kamu menerima dari orang yang kamu cintai dan orang yang kamu benci. Kamu menerima kebenaran yang datang dari musuhmu sebagaimana kamu menerimanya dari teman setiamu. Bahkan hakikat tawadlu adalah: Apabila musuhmu datang kepadamu (membawa kebenaran) kamu menerimanya dan jika ia memiliki hak yang wajib kamu laksanakan, maka kamupun tetap melaksanakannya. Sehingga permusuhanmu dengannya tidak mencegahmu untuk menerima kebenaran darinya dan tidak juga untuk melaksanakan haknya.”
FAEDAH DO’A :
. 1. Meminta perlindungan dari sifat al jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah
. 2. Meminta perlindungan dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan.
. 3. Meminta perlindungan dari fitnah dunia. Seluruh kelezatan di dunia dan pemandangan nan indah, Allâh Azza wa Jalla jadikan sebagai cobaan dan ujian dari-Nya. Allâh Azza wa Jalla juga memberikan kemampuan kepada para hamba-Nya untuk mengelola isi dunia, lalu Allâh melihat bagaimana mereka berbuat! Barangsiapa mengambilnya dari yang halal, meletakkannya sesuai dengan haknya, memanfaatkannya agar ia bisa beribadah kepada Allâh, maka itu semua menjadi bekal baginya untuk pergi ke tempat yang lebih mulia dan kekal.
. Dengan demikian, sempurnalah baginya kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi sebaliknya, barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya dan tujuan ilmu serta keinginannya, maka ia akan mendapat dunia sesuai dengan yang telah ditetapkan baginya oleh Allâh Azza wa Jalla. Lalu akhirnya, hidupnya sengsara, dia tidak merasakan kelezatan dan syahwatnya kecuali hanya sebentar saja. Kelezatannya sedikit, tetapi kesedihannya berkepanjangan.
. 4. Meminta perlindungan dari azab kubur. Azab kubur merupakan kehidupan akhirat yang pertama kali. Azab kubur adalah penentuan bagi seorang hamba. Jika ia selamat di dalam kuburnya, maka ia akan lebih selamat lagi di hari akhirat kelak. Dan sebaliknya, apabila ia tidak selamat didalam kuburnya, lebih-lebih dia tidak akan selamat di dalam kehidupan akhirat kelak.
. Wallahu a’lam
. Beberapa Do’a Sebelum Salam Lainnya :
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-52) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 53 🌼
⚉ Orang-orang kafir itu tidak satu derajat dalam bermuamalah dengan mereka.
. Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Imran : 75]
“Diantara ahli kitab ada yang apabila kamu berikan amanah ia dengan harta yang banyak ia tetap melaksanakan amanahnya. Ada juga diantara mereka kalau kamu berikan amanah dengan satu dinar, ia tidak melaksanakan amanah tersebut, kecuali kalau kamu terus menerus memintanya (menagihnya).”
. Artinya bahwa ahli kitab (yang merupakan kafir dzimmi) pun juga berbeda.
. Allah juga berfirman [QS Al Mumtahanah : 8]
“Allah tidak melarang kalian dari orang-orang kafir yang tidak memerangi kalian dalam agama tidak pula mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik kepada mereka dan bersikap adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil.“
. Disini kata Ibnu Katsir rohimahullah: “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melarang berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi umat Islam dalam agama mereka. Tidak pula mereka saling tolong menolong untuk mengusir umat Islam.”
. Berarti ini orang-orang kafir yang boleh kita berbuat baik kepadanya. Lalu Allah mengatakan setelahnya di ayat ke sembilan
“Yang Allah larang itu terhadap orang-orang kafir yang memerangi kamu dalam agama Allah“
. Dan mereka berusaha untuk saling tolong menolong untuk mengusir kamu, maka itu Allah larang berbuat baik kepada mereka.
. Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Asma’ bintu Abu Bakar, ia berkata: “Ibuku (yang masih musyrik *) datang di zaman perdamaian Hudaibiyah, lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku datang, apakah aku boleh menyambung silaturahim dengannya ?” Kata Rasulullah: “iya, sambunglah dengan ibumu.” (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim)
. Dan dalam riwayat Imam Ahmad juga disebutkan bahwa ibu dari pada Asma’ ini datang membawa hadiah-hadiah yang banyak. Namun Asma’ tidak menerimanya, karena di khawatirkan tentunya sesuatu yang masuk di dalam hati kita, sehingga hati kita menjadi luruh dan memberikan loyalitas… na’uzubillah.
. Maka yang seperti ini akan dikhawatirkan malah berdampak tidak baik, maka kita tidak boleh melakukannya.
. 👉🏼 Disini ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu tidak sama. Disana ada orang-orang kafir yang boleh kita berbuat baik kepada mereka, yaitu orang- orang yang tidak memerangi kita dan tidak saling tolong menolong mengusir kita. Disana juga ada orang-orang kafir harbi yang memerangi kita, maka kita tidak boleh berbuat baik kepada kita, dan apabila orang harbi itu meminta perdamaian dengan kaum muslimin, wajib kita penuhi dan tidak boleh kita membatalkan perdamaian mereka, tidak boleh menghianatinya sebab Rasulullah menjelaskan bahwa kalau kita menghianati perdamaian itu sebab mereka bisa menguasai kaum muslimin.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Tambahan dari Admin: (*) Di dalam audio, tersebutkan “Ayahku (yang musyrik)…” yang benar adalah “Ibuku (yang musyrik)…”
Hadits no. 5521 : Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin ‘Urwah] telah mengabarkan kepadaku [Ayahku] telah mengabarkan kepadaku [Asma` bintu Abu Bakr] radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; “Ibuku (yang musyrik) datang pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dalam keadaan mengharapkan baktiku, lalu saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah saya boleh berhubungan dengannya ?” beliau menjawab: “Ya.” Ibnu ‘Uyainah lalu berkata; “Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangi agama kalian (QS Al Mumtahanah; 8).”
(**) Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu pernah menikah dengan Qutaylah bintu Abd al-Uzza bin Abd bin As’ad pada masa Jahiliyyah dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Abdullah dan Asma’. Qutaylah bintu Abd-al-Uzza tidak menerima agama Islam lalu Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu menceraikannya. Dalam hadits, Asma’ bintu Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhumaa sedang bercerita tentang kedatangan ibunya yang masih musyrik yaitu Qutaylah bintu Abd-al-Uzza. Wallahu a’lam
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
*( الله يجعل لأوليائه عند ابتلائهم مخارج ، وإنما يتأخر ذلك عن بعضهم في بعض الأوقات : تهذيبًا ، وزيادةً لهم في الثواب ! )* .
📒 فتح الباري : ٦/٤٨٣)
Ibnu Hajar Rohimahullah berkata:
“Setiap kali Allah menguji para walinya maka akan pasti ada jalan keluarnya, namun terkadang jalan keluar tersebut lambat datangnya pada sebagian waktu sebagai bentuk pembersih dosa dan penambah pahala mereka…“
أوشك قائل من الناس يقول قد قرأت القران ولا أرى الناس يتبعوني ما هم بمتبعي حتى أبتدع لهم غيره. فإياكم وما ابتدع فإن كل ما ابتدع ضلالة
“Hampir hampir akan ada orang yang berkata, “Aku sudah hafal alqur’an tapi aku tidak melihat orang orang mengikutiku. Mereka akan mengikutiku jika aku membuat sesuatu yang baru (bid’ah)”. Jauhilah perkara baru yang ia buat, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.”
(Al Bida’ wannahyu ‘anha Karya ibnu Wadloh hal. 58-59 no 62 dan sanadnya shahih).
Demikianlah memang, bila tujuan seorang da’i adalah mencari pengikut dan menjadi tenar, maka ia akan membuat sesuatu yang disukai manusia dan sesuai dengan selera mereka dalam perkara agama ini.
Faedah dari hadits Do’a (di gambar) :
. 1. Dianjurkan untuk membiasakan do’a tersebut.
. 2. Do’a tersebut berisi permintaan agar kita diberi keselamatan terhindar dari sifat-sifat jelek yang disebutkan di dalamnya.
. 3. Do’a tersebut berisi permintaan agar kita tidak terjerumus dalam sifat-sifat jelek tersebut.
. 4. Meminta perlindungan dari sifat ‘ajz, yaitu tidak adanya kemampuan untuk melakukan kebaikan. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah. [ Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/28 ]
. 5. Meminta perlindungan dari sifat kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh An Nawawi rahimahullah. Jadi ‘ajzitu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.
. 6. Meminta perlindungan dari sifat al jubn,artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah.
. 7. Meminta perlindungan dari al harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan. [ Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/28-29 ]
. 8. Meminta perlindungan dari fitnah (cobaan) ketika hidup dan mati. Ibnu Daqi Al ‘Ied mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah fitnah yang dihadapi manusia semasa ia hidup yaitu berupa fitnah-fitnah dunia (harta), fitnah syahwat, kebodohan dan yang paling besar dari itu semua –semoga Allah melindungi kita darinya- yaitu cobaan di ujung akhir menjelang kematian. Sedangkan fitnah kematian yang dimaksud adalah fitnah ketika mati. Fitnah kehidupan bisa kita maksudkan pada segala fitnah yang ada sebelum kematian. Boleh jadi fitnah kematian juga bermakna fitnah (cobaan) di kubur.”
. 9. Menunjukkan adanya siksa dan fitnah kubur, karena bagaimana mungkin sesuatu yang dimintai perlindungan, namun hal itu tidak ada. Sungguh mustahil!!! Ibnu Hajar Al Makki mengatakan, “Dalam doa perlindungan terhadap siksa kubur ini terdapat bantahan telak terhadap Mu’tzilah yang mengingkari adanya siksa kubur.”
. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى .
Sekuat apapun senjata anda, maka tidak akan kuasa melukai air. Dan kalaupun anda berhasil membelahnya, niscaya air akan segera kembali pulih, akhirnya anda sendiri yang akan lelah membelahnya dan bahkan bisa jadi terluka oleh senjata anda sendiri.
Sekuat apapun bangunan anda, maka air bisa saja menjebol atau minimal mencari jalan keluar untuk dirinya, hingga akhirnya mengalir ke daerah yang lebih rendah.
Dan sebanyak apapun samudra yang anda miliki, maka angin bisa memutar atau menjadikannya bergerak menjadi ombak yang menuruti ke mana arah angin berhembus.
Namun dibalik kekuatan air dan angin, ada kekuatan lain yang tak kan dapat terkalahkan yaitu kekuatan Sang Pencipta air dan angin.
Karena itu, sandarkan semua urusan anda kepada Allah Al Khaliq Azza wa Jalla, karena tiada kekuatan yang dapat mengalahkan-Nya.
Salah satu inspirasi hidup yang harus selalu anda camkan dan menjadi senjata pamungkas anda dalam segala urusan adalah bacaan:
لا حول ولا قوة إلا بالله
“Tiada daya dan kekuatan selain daya dan kekuatan dari Allah Azza wa Jalla.“
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى