Kekawatiran Sahabat Menjelang Kematian

Salah seorang sahabat menangis ketika menjelang kematiannya dan ketika ditanyakan kepadanya tentang hal itu, maka ia menjawab,

سمعت رسول الله ﷺ يقول : إن الله تعالى قبض خلقه قبضتين فقال : هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في اي قبضتين كنت.

Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘sesungguhnya Allah Ta’ala menggenggam makhluk-Nya menjadi dua genggam, kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘yang ini di surga dan yang ini di neraka..’

Sementara aku tidak mengetahui ada di genggaman yang mana diriku.

(Jaami’ul Uluum wal Hikaam – 56)

Jangan Menunda Perbuatan Baik

Al Hasan Al Bashri rohimahullahu Ta’ala berkata,

اِبْنَ آدَمَ إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيْفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكَ وَلَسْتَ بِغَدٍّ فَإِنْ يَكُنْ غَدٌّ لَكَ فَكُنْ فِي غَدٍّ كَمَا كُنْتَ فِيْ الْيَوْمَ وَإِلَّا يَكُنْ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِيْ الْيَوْمِ

Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini,

Adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.

(Taqrib Zuhd Ibnul Mubarok 1/28)

Balasan Sesuai Dengan Perbuatan #1

Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullahu Ta’ala berkata,

ﻳﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻥَّ ﺑﻴﻨﻚ ﻭﺑﻴﻦ الله ﺧﻄﺎﻳﺎ ﻻ ﻳﻌﻠﻤُﻬﺎ ﺇﻻ الله ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺒﺒﺖَ ﺃﻥ ﻳﻐﻔِﺮَﻫﺎ ﻟﻚ ﻓﺎﺻﻔﺢ ﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻋِﺒﺎﺩﻩ، ﻭﺇﻥ ﺃﺣﺒﺒﺖَ ﺃﻥ ﻳﻌﻔﻮﻫﺎ ﻟﻚ ﻓﺎﻋﻒُ ﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻋِﺒﺎﺩﻩ؛ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀُ ﻣﻦ ﺟِﻨﺲِ ﺍﻟﻌﻤﻞ.

Wahai anak Adam, sesungguhnya antara engkau dan Allah terdapat kesalahan kesalahan yang mana tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– jika engkau ingin agar Allah mengampuninya maka hendaknya engkau berlapang dada kepada hamba-hamba-Nya, dan

– jika engkau ingin agar Allah memaafkan dirimu maka maafkanlah kesalahan hamba-hamba-Nya, karena sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan.

(Bada-i’ul Fawaid, jilid 2 hlm. 648)

Besarnya Fitnah Wanita Yang Memakai Parfum Ketika Keluar Rumah

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”أيُّما امرأةٍ استعطرتْ ثُمَّ خَرَجَتْ ، فمرَّتْ علَى قومٍ ليجِدُوا ريَحها فهِيَ زانيةٌ ، وكُلُّ عينٍ زانيةٌ.“

“Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu ia keluar dan melewati para lelaki sehingga tercium sebagian dari wanginya tersebut, maka ia seorang pezina. Dan setiap mata yang melihatnya juga pezina..”

(HR. Abu Daud no. 4173 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Shohih al-Jaami’ no. 2701).

● Al-Munawi rohimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat (فهي زانية) “maka ia seorang wanita pezina” adalah,

هي بسبب ذلك متعرِّضةٌ للزنا.

“Keluarnya dia dengan aroma minyak wangi membuka peluang terjadinya zina..”

(Faidhul Qodir 1/355)

Tauhid Dan Hawa Nafsu Saling Bertentangan

Allah berfirman,

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ (٢٣)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya..? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran..? (Qs. Al-Jasiyah ayat 23)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

التوحيد والهوى متضادان، فإن الهوى صنم ولكل عبد صنم في قلبه بحسب هواه، وإنما بعث رسله لكسر الأصنام وعبادة الله وحده لاشريك له، وليس مراد الله سبحانه كسر الأصنام المجسدة وترك الأصنام التي في القلب، بل المراد كسرها من القلب أولاً

Tauhid dan hawa nafsu itu saling bertentangan. Karena hawa nafsu adalah berhala yang ada di hati. Setiap hamba memiliki berhala di hatinya sesuai dengan kekuatan hawa nafsunya. Allah mengutus para rosul untuk menghancurkan berhala dan agar beribadah kepada Allah saja.

Yang diinginkan oleh Allah bukan semata menghancurkan berhala yang nyata dan meninggalkan berhala yang ada di hati. Namun yang pertama kali dihancurkan adalah berhala yang ada di hati.

(Raudhotul Muhibbin hal 643)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Meremehkan Dosa

Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

بِقَدْرِ مَا يَصْغَرُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ يَعْظُمُ عِنْدَ اللَّهِ، وَبِقَدْرِ مَا يَعْظُمُ عِنْدَكَ يَصْغَرُ عِنْدَ ال

“Semakin remeh dosa di matamu semakin besar (dosa tsb) di sisi Allah .. dan semakin besar dosa di matamu, semakin kecil (dosa tsb) di sisi Allah..”

(Siyar A’lam Nubala 8/427)

Janganlah meremehkan dosa sekecil apapun..
Karena jika kita meremehkannya, menjadi besar di sisi Allah..

Seorang mukmin tak pernah meremehkan dosa..
Ia khawatir bila Allah menghinakan dirinya disebabkan dosa yang ia pandang remeh..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tersenyum Dan Berwajah Ceria

Adz-Dzahaby rohimahullahu Ta’ala berkata,

Tertawa ringan dan tersenyum lebih utama. Adapun sebagian orang-orang yang berilmu yang meninggalkannya maka hal itu terbagi menjadi dua :

Pertama: menjadi sesuatu yang utama apabila ia meninggalkannya karena menjaga adab, takut kepada Allah, dan sedih terhadap keadaan dirinya.

Kedua: tercela bagi yang meninggalkannya karena ia orang yang pemarah, sombong dan dibuat-buat.

Namun orang yang banyak tertawa ia akan diremehkan oleh manusia .. dan tidak diragukan lagi bahwa tertawa pada pemuda lebih ringan urusannya dan lebih dimaklumi dibandingkan pada orang yang sudah tua.

Adapun tersenyum dan berwajah ceria maka jelas lebih mulia dibandingkan itu semua. Karena Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ.

“Senyumanmu di hadapan saudaramu merupakan shodaqoh..” (Shohih Al-Adab Al-Mufrod no. 353)

Jarir (bin Abdillah Al-Bajaly) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melihat diriku kecuali beliau selalu tersenyum..” (Al-Bukhari no. 6089 dan Muslim no. 2475)

Inilah akhlak Islam .. jadi yang paling utama adalah orang yang banyak menangis di malam hari, namun banyak tersenyum di siang hari.

Tinggal di sini ada sedikit yang perlu diperhatikan :

– bagi siapa yang terlalu banyak tertawa dan tersenyum, hendaknya ia menguranginya dan mencela dirinya agar manusia tidak muak kepadanya.

– sedangkan bagi yang suka cemberut dan bermuka masam, hendaknya ia tersenyum, memperbaiki akhlaknya serta mencela dirinya atas keburukan akhlaknya.

Segala sesuatu yang menyimpang dari sikap pertengahan maka hal itu tercela. Dan jiwa membutuhkan perjuangan dan latihan.

(Siyar A’lamin Nubalaa’ – 10/140-141)

Bersegera Untuk Melakukan Amal Sholeh

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullahu Ta’ala berkata,

كم من إنسان أصبح نشيطا صحيحا وأمسى ضعيفا مريضا، أو بالعكس أمسى صحيحا نشيطا وأصبح مريضا ضعيفا. فالإنسان يجب عليه أن يبادر إلى الأعمال الصالحة حذرا من هذه الأمور.

Berapa banyak orang yang bersemangat dan sehat di pagi hari, namun berkurang semangatnya dan jatuh sakit di sore harinya ataupun sebaliknya, ada berapa banyak orang yang bersemangat dan sehat di sore hari, namun berkurang semangatnya dan jatuh sakit di pagi harinya.

Oleh karena itu, sudah semestinya seseorang bersegera untuk melakukan amal sholeh agar terhindar dari perkara tersebut.

(Syarah Riyadhus Sholihin – 1/hal. 324)

Diantara Hukuman Bagi Pemakan Riba

Suatu pagi, seusai sholat shubuh, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menceritakan perjalanan mimpi beliau bersama Malaikat Jibril dan Mikail ‘alayhimas salam. Kisah ini diceritakan oleh sahabat Samurah bin Jundub rodhiyallahu ‘anhu.

Dalam perjalanan itu beliau menyaksikan berbagai adzab yang menimpa ahli maksiat, di antaranya para pemakan riba.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda tentang apa yang menimpa mereka,

فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهْرٍ مِنْ دَمٍ فِيْهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسْطِ النَّهْرِ وَعَلَى شَطِّ النَّهْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهْرِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِالْحِجَارَةِ فِي فِيْهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيْهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ

Kami pun pergi hingga menjumpai sebuah sungai darah. Di tengahnya ada orang yang berdiri (di dalam sungai). Di pinggir sungai ada orang yang di hadapannya batu. Lelaki yang berada di tengah sungai darah mendekat. Saat dia hampir keluar darinya, lelaki (yang di pinggir sungai) melemparkan batu ke mulutnya hingga dia kembali ke tengah sungai.

Demikian seterusnya, setiap kali hendak keluar dari sungai, batu dilemparkan ke mulutnya hingga kembali (tersiksa di tengah sungai darah).

(HR. Al-Bukhari dalam ash-Shohiih no. 1386)

Pentingnya Akhlak Mulia

Al-Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busty rohimahullahu Ta’ala berkata,

‏الواجب على العاقل أن يتحبب إلى الناس بلزوم حسن الخلق وترك سوء الخلق؛ لأن الخلق الحسن يذيب الخطايا كما تذيب الشمس الجليد، وإن الخلق السيئ ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل، وقد تكون في الرجل أخلاق كثيرة صالحة كلها وخلق سيئ، فيفسد الخلق السيء الأخلاق الصالحة كلها.

Yang wajib atas seorang yang berakal adalah selalu berusaha untuk menunjukkan cinta kepada orang lain dengan berakhlak mulia dan meninggalkan akhlak buruk.

Karena akhlak mulia akan melelehkan kesalahan-kesalahan sebagaimana matahari melelehkan es, sedangkan akhlak buruk benar-benar dapat merusak amal sebagaimana cuka dapat merusak madu, dan bisa saja seseorang memiliki sekian banyak akhlak yang baik namun dia memiliki satu akhlak buruk, lalu akhlak buruk tersebut merusak akhlak-akhlak yang baik semuanya.

(Raudhotul Uqola’ hlm. 55)

Menebar Cahaya Sunnah