Apakah NERAKA Itu Hanya SATU atau Ada DUA…?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Surga dan Neraka itu KEKAL dan Ini Wajib Kita Imani…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Hadits SHAHIH… part 4

Hadits shahih adalah yang terpenuhi padanya lima syarat:

Syarat pertama: Bersambung sanadnya. (baca part 1)
Syarat kedua: Perawinya adil. (baca part 2)
Syarat ketiga: Dlobith (baca part 3)

Syarat keempat: Tidak syadz

Syadz adalah periwayatan perawi yang maqbul (diterima) yang menyelisihi periwayatan perawi yang lebih tsiqoh darinya.

Perawi maqbul maksudnya adalah perawi yang diterima baik ia berstatus tsiqoh yang haditsnya shahih atau shoduq yang haditsnya hasan.

Tatacara mengetahui syadz:

Ada dua cara untuk mengetahui apakah suatu hadits itu syadz atau tidak, yaitu:

1. Mengumpulkan semua jalan jalan hadits dan lafadz lafadznya dari kitab kitab hadits untuk melihat apakah ada perselisihan para perawi hadits tersebut pada sanad dan matannya atau tidak. Bila terjadi perselisihan, maka kita gunakan cara kedua:

2. Memperhatikan derajat derajat ketsiqohan perawi dan membandingkannya, mana yang lebih tsiqoh dan mana yang tidak. Periwayatan yang lebih tsiqoh tentu lebih didahulukan.
Untuk mengetahui derajat ketsiqohannya tentu harus merujuk kitab kitab aljarh watta’dil.

Derajat perawi hadits.

Perawi perawi hadits itu berderajat:

1. Perawi yang amat tsiqoh, dimana periwayatannya tetap diterima walaupun diselisihi oleh perawi lain yang tsiqoh seperti para imam masyhur seperti imam Ahmad, Ali bin AlMadini, Ak Bukhari, dan sebagainya.

2. Perawi yang tsiqoh dan diterima periwayatannya bila bersendirian dan ditolak bila menyelisihi. Ini adalah keadaan mayoritas perawi shahih dan hasan.

3. Perawi yang diterima bila ada mutab’ah, dan ditolak bila bersendirian. Ini adalah perawi perawi yang memliki kelemahan yang tidak berat.

4. Perawi perawi yang tetap tidak diterima walaupun ada mutaba’ah. Apalagi bila sendirian. Ini adalah perawi perawi yang berat kelemahannya.

Bersambung… part 5

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Dampak Penyakit Buta Warna…

Orang yang mengalami buta warna akan kesusahan bahkan tidak mampu membedakan warna, baginya semua warna sama, hitam atau putih saja. Apapun warna yang anda suguhkan kepadanya, maka baginya sama, hitam atau putih. Bila dalam kondisi semacam ini, mungkinkah anda dapat mempercayakan pilihan warna baju anda kepadanya?

Kondisi serupa juga terjadi dengan orang orang yang buta agama, baginya semua agama sama, yang ada hanya beragama atau tidak beragama. Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Buda baginya sama yaitu sama sama agama, walaupun bagi orang yang melek mata hati dan mata kepalanya maka jelas berbeda antara Islam dengan lainnya. Karena itu, mungkinkah bagi anda yang masih memiliki mata hati alias iman dan mata kepala ilias nalar sehat untuk mempercayai orang yang ditimpa penyakit buta agama yang percaya bahwa semua agama sama?

Di zaman ini, banyak orang yang tidak sadar telah ditimpa penyakit buta agama, nyata nyata kufur kepada Allah dan menyembah kayu atau batu atau benda lainnya masih saja dianggap sama dengan orang Mukmin yang hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Sebagaimana penyakit buta warna bisa saja berlarut larut hingga menjadi akut dan berlanjut menjadi buta mata, maka buta agama juga demikian, bisa saja orang yang buta agama meyakini bahwa penyembah batu atau kayu lebih baik daripada orang Islam yang hanya rela mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dalam kondisi seperti ini, sudah sepatutnya kita membaca firman Allah Ta’ala:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sejatinya tidaklah mata mereka yang buta namun hati yang ada dalam dada merekalah yang buta.” (Al Haj 46)

Jadi tidak perlu heran dengan orang orang yang buta agama yang kini banyak berkomentar lantang seakan mereka ahli agama atau tokoh agama padahal mereka itu buta mata bahkan buta agama.Yang mengherankan adalah adanya orang-orang yang mampu membedakan anatara Islam dari lainnya, namun masih saja terperdaya oleh orang-orang buta agama yang telah menjual agamanya demi mendapatkan secuil harta.

Ya Allah, selamatkan negri dan kaum muslimin di negri tercinta ini dari para begundal begundal buta agama.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

1396. Soal Operasi Bibir Sumbing…

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz … ada seorang dokter yang menanyakan apa hukumnya operasi bibir sumbing. Syukron Ustadz

Jawaban :
Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Boleh, karena itu masuk bab pengobatan, bukan kecantikan.

Untuk membedakan mana yang masuk bab pengobatan, dan mana yang masuk bab kecantikan, maka harus dilihat, apakah itu untuk mengubah sesuatu yang normal atau tidak.

Jika untuk mengubah sesuatu yang dikategorikan tidak normal, maka itu masuk pengobatan, misalnya: operasi untuk meratakan gigi, operasi untuk mata juling, operasi untuk bibir sumbing, dst.

Bila untuk mengubah sesuatu yang dikategorikan normal, maka ini masuk bab kecantikan, sehingga diharamkan… Misalnya: operasi wajah menjadi tirus, operasi mata menjadi lebar, bibir menjadi tebal atau tipis, dst.

Wallahu a’lam

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 21 : Bimbingan Al Qur’an Ada Dua Macam…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 21 :

Bimbingan Alqur’an ada dua macam:
1. Bimbingan berupa perintah, larangan dan pengabaran tentang perkara yang ma’ruf secara syariat atau secara uruf (kebiasaan).

2. Bimbingan berupa mengeluarkan perkara yang bermanfaat dari pokok pokok yang ma’ruf dan menggunakan pikiran untuk dapat mengambil manfaat darinya.

Adapun yang pertama, maka kebanyakan bimbingan alqur’an adalah bersifat pengabaran dan masuk padanya masalah hukum.

Adapun yang kedua, maka alquran memerintahkan untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi untuk menghasilkan dua ilmu yang agung:

Pertama: Mengenal Allah dengan sifat sifatNya yang agung dan mulia. Mengenal nikmat nikmatNya dan kekuasaanNya. Ini adalah ilmu yang paling agung.

Kedua: Mengambil manfaat manfaat dari ilmu dunia untuk kemashlahatannya dunia dan akherat. Menghasilkan produk produk di berbagai macam bidang baik tekhnologi ataupun lainnya yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 22 : Membimbing Sikap Tawasuth (Pertengahan) dan Mencela Sikap Meremehkan dan Ghuluw…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Beberapa Adab sebelum Tidur…

👆dalilnya sbb :

Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017).

👆dalilnya sbb :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

👆dalilnya sbb :

Dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Ustadz Tidak Harus Jadi Mudir/Pimpinan…

عن أبي ذرٍّ، قال: قال لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم -:«يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ»

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku : “Sesungguhnya aku melihatmu lemah, dan menginginkan kebaikan bagimu kebaikan yang aku sukai untuk diriku. Janganlah engkau memimpin dua orang, dan janganlah engkau mengurusi harta anak yatim.” (HR Muslim)

Tidak diragukan lagi akan kuatnya iman Abu Dzar dan betapa zuhudnya beliau. Akan tetapi beliau lemah dalam “kepemimpinan” dan idaroh.

Karenanya kepemimpinan butuh ilmu dan kekuatan dalam memimpin. Ada sabagian ustadz yang masya Allah hebat dalam ilmu dan kepemimpinan. Namun ada juga ustadz yang kuat ilmu namun lemah dalam idaroh/managemen. 

Meski banyak ustadz punya jiwa kepemimpinan, akan tetapi jiwa dan semangat memimpin saja tidak cukup, perlu juga jago dalam pengaturan. Banyak orang jago dalam teori tapi praktik belum tentu bisa.

Wallahu a’lam.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Bahagiakan IBU Sebelum Terlambat…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إلى الله عز وجل سُرورٌ يُدخِلُه على مُسلِمٍ

“Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang kau masukan pada (hati) seorang muslim.”
(HR At-Thobroni dan dihasankan oleh Al-Albani)

Ini berlaku jika membahagiakan muslim mana saja, bahkan yang jauh, bahkan yang tidak ada hubungan kekerabatan.

Bagaimana lagi jika membahagiakan orang yang terdekat dan yang paling berjasa atas kehidupan kita …..ibu kita…

Maka jangan terlalu perhitungan dengan ibu… jangan sok sibuk kalau untuk ketemu ibu…
Akan datang waktu dimana harta kita dan waktu kita tidak bisa lagi kita sisihkan untuk membahagiakan ibu kita…

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Menebar Cahaya Sunnah