Hadits Mutawatir… part 1

Ketahuilah saudaraku, bahwa hadits dilihat dari banyaknya jalan terbagi menjadi dua yaitu hadits Mutawatir dan hadits ahad.
Kita akan membahas hadits mutawatir terlebih dahulu.

Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Nuzhatunnazhor berkata: “Apabila terkumpul empat syarat berikut ini, yaitu:
1. Jumlah yang banyak yang secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
2. Mereka (jumlah yang banyak) meriwayatkan dari yang sama dengan mereka dari awal sampai akhir sanad.
3. Sandaran periwayatan mereka adalah panca indera.
4. kabar mereka menghasilkan ilmu (keyakinan) bagi pendengarnya.
Maka ini disebut mutawatir. Bila tidak menghasilkan ilmu, maka disebut masyhur saja. (An Nukat Ala Nuzhatinnadzor hal 56)

Inilah syarat syarat hadits untuk disebut mutawatir. Kita perjelas satu persatu.

Syarat yang pertama adalah jumlah yang banyak.

Terjadi perselisihan para ulama berapa jumlah banyak yang dapat disebut mutawatir; sebagian ulama berpendapat lima ke atas, ada yang berpendapat sepuluh, ada lagi dua puluh dan sebagainya.

Yang paling kuat adalah bahwa mutawatir tidak dibatasi oleh jumlah tertentu. Inilah yang dirojihkan oleh banyak ulama muhaqiq seperti syaikhul islam ibnu Taimiyah, Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani, Assuyuthi dan lainnya.

Terlebih bila kita melihat syarat yang keempat yaitu menghasilkan keyakinan. Suatu kabar menghasilkan keyakinan atau tidak, tidak ditentukan oleh sebatas jumlah tapi terkadang karena indikasi indikasi lainnya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Pendapat yang sahih yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa mutawatir tidak terbatas dengan jumlah tertentu. dan ilmu yang terhasilkan dari suatu kabar, akan terhasilkan di hati. sebagaimana terhasilkannya kenyang setelah makan, puas setelah minum. Tetapi sesuatu yang mengenyangkan seseorang atau memuaskannya tidak memiliki batasan tertentu.

Sesuatu yang mengenyangkan itu bisa jadi karena kwantitas makanan atau kwalitasnya… (Majmu Fatawa 18/50)

Perkataan Al Hafidz: Secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
Maksudnya karena melihat ketaqwaan dan kejujurannya yang luar biasa. Dimana jumlah mereka banyak dan negeri mereka berjauhan, namun kabar mereka serupa.

Sebuah contoh: Bila kita pergi ke sumatera lalu kita bertemu dengan orang yang kita ketahui amat taqwa dan jujur memberitakan sebuah kabar.
Kemudian kita pergi ke Irian jaya, dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang memberitakan kabar yang mirip dengan yang pertama.
Kemudian kita pergi ke sumbawa dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang juga memberitakan kabar yang serupa.
Tentu hal ini akan menghasilkan keyakinan akan kebenaran berita tersebut setelah melihat sifat pembawa beritanya yang taqwa dan jujur, daerah mereka yang berjauhan, dan mungkin tidak saling mengenal satu sama lainnya, sehingga secara nalar tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta.

Bersambung…

Badru Salam,  حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 18 : Mengembalikan Makna Ayat Mutasyabih Kepada Ayat Muhkam…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 18 :

Mengembalikan makna ayat mutasyabih kepada ayat muhkam.

Ayat mutasyabih artinya ayat yang maknanya mengandung kesamaran. Dalam menghadapi ayat seperti ini kewajiban kita adalah menafsirkannya dengan dalil dalil yang muhkam yaitu jelas dan tidak samar.

Contohnya ayat yang seakan mendukung kaum jabariyah bahwa perbuatan hamba telah ditentukan ditafsirkan dengan ayat bahwa Manusia pun punya kehendak dan bahwa Allah tidak memaksa mereka.

Ayat-ayat yang seakan mendukung kaum khowarij bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka wajib ditafsirkan dengan ayat bahwa dosa selain syirik di bawah kehendak Allah.

Allah menyebutkan bahwa diantara sebab kesesatan adalah mengikuti ayat ayat mutasyabihat dan meninggalkan ayat ayat muhkamat.

Allah berfirman:

فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة

“Adapun orang orang yang di hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan selalu mengikuti mutasyabihat karena menginginkan fitnah.” (3:7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila kamu melihat orang yang memperdebatkan al Qur’an maka merekalah yang dimaksud oleh Allah.” (HR Ahmad)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 19 : Adat Istiadat Sebagai Rujukan Dalam Sebagian Hukumnya…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

TIGA Tanda Kebahagiaan

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah berkata:

وأن يجعلك ممّن إذ أعطى شكر , وإذ ابتلي صبر , وإذ أذنب الستغفر . فإنّ هؤلاء الثّلاث عنوان السّعادة

Semoga Allah menjadikanmu termasuk orang-orang yang :

– apabila diberi kenikmatan, bersyukur,
– pabila di timpa musibah, bersabar,
– apabila terjatuh dalam perbuatan dosa, beristighfar (taubat).

Sebab ketiga perkara itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.

(Muqoddimah Qowa’idul Arba’)

Sudah Penuhi Ini Pada Orangtua Kita..?

Ada beberapa bentuk berbuat baik pada orang tua mungkin di antara kita belum memenuhinya dan patut untuk diingatkan:

1. Berbuat baik dan mengabdi pada keduanya dengan JIWA DAN HARTA selama mereka masih hidup.

2. Memenuhi janji mereka yang belum dipenuhi setelah meninggal dunia.

3. Mendo’akan mereka berdua di SETIAP WAKTU.

4. Memuliakan teman-teman dekat dari orang tua. Dalam hadits disebutkan, bentuk berbakti yang paling baik adalah menyambung hubungan dengan teman baik dari bapaknya.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

#

Bentuk durhaka yang sederhana saja yang disebutkan oleh para ulama, coba perhatikan ungkapan di bawah ini.

bentuk durhaka pada orang tua,

“Ketika orang tuamu memandangmu, engkau malah menoleh pada lainnya.”

Disarikan dari kitab ‘Adab Al-‘Isyrah wa Dzikru Ash-Shuhbah wa Al-Ukhuwah karya Abul Barakat Badaruddin Muhammad Al-Ghazi (904 – 984 H), hlm. 73.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى 

Ref : muslimah.or.id

Hari Baik Untuk Sebuah Pernikahan…

Pernikahan adalah acara besar nan sakral, tidak heran sering kita mendengar istilah “mencari hari baik” untuk sebuah pernikahan.

Saudaraku,
Ketahuilah bahwa semua hari itu baik, hanya saja memang ulama kita menyampaikan ada hari-hari yang diutamakan jika anda ingin memilih hari pernikahan anda.

Mari kita simak testimoni ‘Aisyah berikut ini:
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menikahiku di bulan syawwal, dan beliau melakukan “malam pertama” denganku di bulan syawwal, maka siapakah istri Nabi yang paling bahagia dan yang paling beliau cintai melebihi diriku?”
Dan Aisyah menyukai jika seseorang melakukan “malam pertama” dengan istrinya di bulan syawwal.
(HR. Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa diantara kandungan hadits diatas adalah disunnahkah menikah dan melakukan malam pertama di bulan syawwal.

Dan ini adalah pandangan madzhab Syafi’i, Maliki, dan salah satu pandangan madzhab Hanbali.

Bagi anda yang sudah punya calon dan sedang mencari “hari baik”, ingatlah kita masih di bulan syawwal, masih ada waktu.

Dan bagi yang tidak memungkinkan, anda tidak harus menunggu tahun depan, masih ada 11 bulan yang dapat anda pilih. Semua hari baik, maka ikhlaskan niat dan melangkahlah di atas sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, niscaya rumah tangga anda akan meraih sakinah mawaddah warahmah.

Referensi:
Syarh Misykah litthiiby hadits 3142.
Al Minhaj 9/209.
Mawahibul Jalil 3/408.
Roudhatut Thalibin 7/19.
Al Inshaf 8/38.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Tak Sesuai Harapan…

Kisah seorang ikhwah..
Yang amat mencintai istrinya..
Namun istrinya tak mencintainya..
Ia mengharapkan lelaki lain..
Yang lebih darinya..

Wanita itu telah pandai bahasa arab..
Sementara suaminya..
Hanya memahami bahasa Indonesia..
Wanita itu telah lama mengaji..
Sementara suaminya..
Sibuk membanting tulang mencari nafkah..
Tuk membahagiakan kekasihnya..
Wanita itu telah banyak menghafal Al Qur’an..
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal..

Mungkin..
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya..
Mungkin..
Kini cintanya telah pudar di hatinya..
Karena tak sesuai harapannya..

Demikianlah..
Kisah cinta yang bertepuk sebelah..
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya..
Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada suaminya..
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada suaminya..
Ilmu membuatnya angkuh..
Tak ada lagi cinta dihatiku kilahnya..

Saudariku..
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu..
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allah darimu..
Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas suamimu..
Tapi suamimu..
Mungkin lebih dicintai oleh Rabbmu karena ketawadlu’annya..

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata..
Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal riwayat..
Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allah..

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal, “Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu..

Ya Rabb..
Berilah kami ilmu yang bermanfaat..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Makna Dari Senyuman…

Senyuman adalah tanda kebahagian, tapi terkadang senyuman adalah tirai yang menutupi kesedihan.

Jika engkau melihat orang yang engkau cintai maka tersenyumlah agar ia merasakan cintamu

Jika engkau melihat musuhmu maka tersenyumlah agar ia merasakan kekuatan dan kewibawaanmu

Jika engkau melihat orang yang meninggalkanmu maka tersenyumlah agar ia merasakan penyesalan ketika pergi darimu

Jika engkau melihat ke cermin maka tersenyumlah karena Allah telah memberikan kepadamu begitu banyak kenikmatan yang ada pada jasadmu.

Jika engkau melihat orang yang tidak engkau kenali maka tersenyumlah agar Allah memberi pahala kepadamu.

Bukankah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

“Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At Tirmidz 1956)

Surabaya menuju Bojonegoro
18 Syawal 1437 H

Fadlan Fahamsyah,  حفظه الله تعالى 

Mari Muhasabah Diri Kita

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Intinya: hendaknya seseorang melakukan muhasabah terhadap dirinya,

●  Pertama: (muhasabah) pada hal-hal yang diwajibkan (dalam syariat), apabila dia tahu ada yang kurang; maka harusnya dia tutup kekurangan itu, dengan meng-qodhonya atau memperbaikinya.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada hal-hal yang dilarang (dalam syariat), jika dia tahu pernah melakukan sebagian dari larangan itu, maka harusnya dia perbaiki dengan :
– taubat,
– istighfar, dan
– amal-amal kebaikan yang bisa menghapusnya.

●  Kemudian melakukan muhasabah atas kelalaiannya. Bila dia telah lalai dengan tujuan dia diciptakan, maka harusnya dia memperbaikinya dengan berdzikir dan menghadapkan dirinya kepada Allah ta’ala.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada perkataannya, atau langkah kakinya, atau gerakan tangannya, atau apa yang didengarkan telinganya.
– apa yang dia inginkan darinya..?
– mengapa dia melakukannya..?, dan
– bagaimana dia melakukannya..?

Hendaknya dia tahu, bahwa dalam semua gerakan dan ucapan harus dibentangkan DUA aturan:
* mengapa kamu melakukannya..?, dan
* bagaimana kamu melakukannya..?

(Aturan) yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan, dan (aturan) yang kedua adalah pertanyaan tentang mutaba’ah, (yakni pengikutan kita kepada cara Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam).

[Kitab: Ighotsatul Lahafan 1/83].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah