Eeeuh, Banyak Sekali Musuhku..!

Sobat,
barang kali itulah gumaman anda ketika menyadari betapa banyak orang yang mengganggu, menyakiti, memusuhi dan membenci anda. Orang kafir dengan berbagai modelnya membenci anda , ahlul bid’ah dengan berbagai produk bid’ahnya juga membenci anda, pelaku maksiat juga membenci anda, bahkan banyak pula orang yang berbeda pendapat dengan anda juga turut membenci anda.

Sobat!
sepatutnya sebagai orang yang beriman anda tidak bersikap cengeng, namun sebaliknya, tumbuhkan keteguhan dan ketegaran dalam diri anda, karena anda pasti yakin bahwa menjadi baik itu bukan karena mengikuti banyaknya orang, sebagaimana kebenaran tidak diukur dengan sedikit atau banyaknya orang, Kebenaran diukur dengan dalil dan bukti.

Seiring dengan keyakinan anda bahwa kebanyakan orang jauh dari kebenaran atau bahkan menyimpang maka anda sepatutnya sadar bahwa setiap yang menyimpang besar kemungkinan membenci anda, karena setiap manusia senang bila orang lain mengikuti jejaknya, agar hidupnya terasa gayeng nan semarak.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Al An’am 116)

Karena itu, tidak perlu risau dengan kebencian orang, pusatkan pikiran, tenaga dan perhatian anda untuk mengasihani dan menyayangi orang-orang yang terjerumus dalam kesalahan agar mereka selamat dari kesesatannya dan mengikuti langkah anda menjadi orang baik.

Sebagaimana ketahuilah bahwa menjadi orang bak itu adalah satu keberhasilan, namun sadarkah anda bahwa keberhasilan yang lebih besar adalah tatkala anda bersabar, tabah menghadapi, mengajari, membimbing, mendakwahi orang yang tersesat hingga berhasil menjadikannya menjadi baik seperti diri anda ? Bukanlah satu keberhasilan bila anda mentertawakan apalagi memperolok-olok orang yang terjerumus dalam kesesatan.

Kesesatan bukan untuk dijadikan bahan perolok-olokan. namun untuk dikikis dan dihapuskan. Sebaliknya kebenaran bukan untuk dibangga-banggakan, namun untuk diamalkan, diajarkan dan ditularkan.

Karenanya jangan puas dengan menjadi orang baik, kerahkan segala kemampuan anda untuk menjadikan orang lain baik seperti anda atau bahkan lebih baik dari diri anda.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapapun yang menyeru kepada kebaikan, niscaya ia mendapatkan pahala seperti yang didapatkan oleh setiap orang yang mengikuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan sebaliknya siapapun yang menyeru kepada kesesatan, niscaya ia menanggung dosa seperti yang dipikul oleh setiap orang yang mengiuti seruannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka. (Muslim)

Sebaliknya, bersedihlah tatkala anda menemukan saudara anda tersesat dan menyimpang, sebagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih karena menyadari betapa banyak dari ummatnya yang menyimpang dan menolak ajakannya untuk masuk Islam.

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (Al Kahfi 6)

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 17 : Orang-Orang Yang Mendapat Hidayah dan Yang Tersesat…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 17:

Al Qur’an menyebutkan tentang orang orang yang mendapat hidayah dan orang orang yang tersesat. Dan menyebutkan sebab sebab hidayah dan sebab sebab kesesatan.

Allah berfirman:

يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام

“Allah memberi hidayah orang yang mengikuti keridloanNya kepada jalan jalan keselamatan.”  (Almaidah:16)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebab mendapatkan hidayah adalah mengikuti keridloan Allah.

Allah juga berfirman:

وما يضل به إلا الفاسقين

“Tidaklah Dia menyesatkan dengannya kecuali orang orang yang fasiq.” (Albaqoroh: 26)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa sebab sebab kesesatan adalah berbuat fasiq yaitu dosa dosa besar atau terus menerus berbuat dosa kecil.

Al Qur’an juga menyebutkan sebab sebab mendapat ampunan dan rahmatNya. Allah berfirman:

وإني لغفار لمن تاب وءامن وعمل صالحا ثم اهتدى

“Sesungguhnya Aku Maha pengampun untuk orang taubat dan beramal shalih kemudian ia mendapat hidayah.” (Thaha: 82)

Al Qur’an juga menyebutkan sebab sebab datangnya adzab, sebab sebab datangnya rezeki dan sebagainya. Semua ini memberi faidah bahwa Allah tak akan menyesatkan orang yang bersungguh sungguh menginginkan hidayah dan mencarinya. Segala sesuatu pasti ada sebabnya. Tak mungkin Allah menzalimi hamba hambaNya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 18 : Mengembalikan Makna Ayat Mutasyabih Kepada Ayat Muhkam…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Istri Sholehah Adalah Sahabat Hidup

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Istri sholihah menjadi sahabat hidup suaminya yang sholeh dalam mengarungi tahun-tahun yang panjang. Dialah perhiasan yang telah disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, ‘Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita sholihah..’

‘Ketika kaupandang, ia membuatmu bahagia..
Ketika kauperintah, ia menaatimu..
Ketika engkau tiada di sisinya, ia berjuang keras menjaga diri dan harta yang bersamanya..’

Dia pula wanita yang dimaksudkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya ketika sebagian Muhajirin bertanya, ‘Harta apa yang harus kami bawa..?’ Beliau menjawab, ‘Lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri sholihah yang akan membantu menjaga keimanan kalian..’

Di dalam jiwa suami yang sholih dan istri yang sholihah terpatri rasa kasih dan sayang, sebagai anugerah dari Allah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Kitabullah. Oleh karena itulah, rasa sakit nan perih datang menghampiri ketika mereka ‘berpisah’, seakan-akan melebihi rasa sakit ketika ajal menjemput. Hati serasa tersayat, pedih, melebihi kepedihan ketika kehilangan harta benda atau kepergian dari negeri tercinta. Lebih-lebih ketika rasa cinta telah kuat melekat dalam sanubari keduanya. Atau karena kehadiran buah hati di tengah mereka, entah bagaimana nasibnya apabila keduanya harus ‘berpisah’.”

( Majmu’ al-Fatawa 35/299 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى

100% Atau Tidak Usah Saja…

Diantara pekerjaan besar yang harus dilakukan oleh para kiyai, ustadz, atau dai ialah bercokolnya pemikiran : 100% kawan, bila tidak maka 100 % musuh.

Ketika ada kawan berbuat jujur sekali, buru buru dibongkar sepuluh kebohongannya, bukannya diapresiasi kejujurannya agar esok ia kembali jujur.

Ketika ada kawan berbuat kebaikan, buru buru sebagian kita mengekspos kesalahan kawan tersebut, bukannya didorong agar semakin baik.

Izinkan saya bertanya: adakah dari Anda yang saat ini telah menjadi orang baik 100%.? Atau adakah dari Anda yang sekali berbuat baik tiada lagi pernah melakukan kesalahan lagi.?

Sadarilah sobat! Mencari musuh tuh mudah, menjadikan kawan berubah menjadi musuh juga ringan, namun menjaga persahabatan dan merubah musuh menjadi kawan, itulah pekerjaan besar yang harus Anda upayakan dan perjuangkan. Allah Taala berfirman:

ادفع بالتي هي احسن فاذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم وما يلقاها الا الذي صبروا وما يلقاها الا ذو حظ عظيم

Balaslah dengan cara cara yang lebih baik, niscaya orang yang memusuhimu segera berubah menjadi pembelamu yang setia. Dan tiada yang kuasa melakukan hal itu kecuali orang orang yang bersabar dan tiada yang kuasa melakukannya kecuali orang yang mendapatkan bagian besar (dari karunia Allah) .( Fusshilat 34-35)

Ya Allah, satukanlah hati ummat ISLAM di atas iman dan akidah yang benar, bersihkan jiwa kami dari kedengkian kepada sesama muslim. Amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله

Soal Sholat Setelah ‘Ashar…

Pertanyaan:
Ustadz ana pernah dengar antum mengatakan ada sholat setelah ashar. Bukankah Nabi melarang sholat setelah ashar ?

Jawab:
Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Dalam shahih Bukhari, ‘Aisyah mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dua roka’at setelah ‘ashar di rumahnya. 

Adapun hadits yang melarang sholat setelah ‘ashar itu tidak bersifat mutlak. dalam riwayat imam Ahmad ada pengecualian:

لا تصلوا بعد العصر إلا والشمس مرتفعة

“Jangan sholat setelah ‘ashar kecuali apabila matahari masih tinggi.”

Hadits ini menunjukkan bahwa larangan sholat ‘ashar itu apabila matahari telah menguning. Adapun apabila masih tinggi maka diperbolehkan.

wallahu a’lam

Kapan Waktunya Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud..?

Pertanyaan :
Bismillaah, Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh,
Kaifa haaluk ya Ustadz ? Ana ada pertanyaan seputar masalah fiqh dalam sholat, mohon penjelasannya:

Penjelasan tentang menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud?

Mohon penjelasan & beserta pendapat yang rajih.
Semoga bisa menambah khazanah/referensi seputar permasalahan fiqih.
Wassalamu’alaikum. Jazaakallaahu khairan katsiro.

Jawaban:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Alhamdulillah khair.
Disunnahkan menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahhud pada saat berdoa, karena datang di dalam hadits Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْته يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا

“Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jari beliau, maka aku melihat beliau menggerakkannya, seraya berdoa dengannya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’I, Ahmad dan dishahihkan Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa’ no: 367))

Ini menunjukkan bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan jari telunjuk beliau ketika berdoa saja bukan dari awal tasyahhud, dan gerakan yang dimaksud di sini adalah gerakan yang ringan.

Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu:

السنة للمصلي حال التشهد أن يقبض أصابعه كلها أعني أصابع اليمنى ويشير بالسبابة ويحركها عند الدعاء تحريكا خفيفا إشارة للتوحيد وإن شاء قبض الخنصر والبنصر وحلق الإبهام مع الوسطى وأشار بالسبابة كلتا الصفتين صحتا عن النبي صلى الله عليه وسلم

“Yang sesuai dengan sunnah bagi orang yang shalat ketika tasyahhud adalah menggenggam semua jari kanannya dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya dan menggerakkannya ketika berdoa dengan gerakan yang ringan sebagai isyarat kepada tauhid, dan kalau dia mau maka bisa menggenggamkan jari kecil dan jari manis kemudian membuat lingkaran antara jempol dengan jari tengah, dan memberi isyarat dengan jari telunjuk, kedua cara ini telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Maj’mu Fatawa Syeikh Bin Baz 11/185)

Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad:

لا أعلم شيئاً يدل على أن الإنسان يحركها باستمرار، وإنما يحركها ويدعو بها، أي: عندما يأتي الدعاء: اللهم.. اللهم.. يحركها.

“Saya tidak tahu dalil yang menunjukkan bahwa seseorang menggerakkan jari telunjuk secara terus menerus, akan tetapi menggerakannya dan berdoa dengannya, yaitu: ketika melewati doa (Allahumma…Allahumma) menggerakkannya”
(Jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada beliau ketika mensyarh Sunan Abi Dawud, setelah Bab fil Hadab dari Kitab Al-Libas)

Adapun isyarat dengan jari dan mengangkatnya serta mengarahkannya ke arah qiblat, maka pendapat yang kuat ini dilakukan dari awal tasyahhud karena dhahir hadist-hadist menunjukkan demikian.

Diantara hadist yang menunjukkan disyari’atkannya isyarat dari awal tasyahhud adalah hadist Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma:

… وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas paha kanan, dan memberi isyarat dengan jari telunjuknya.” (HR. Muslim)

Dari Nafi’ beliau berkata:

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ وَأَتْبَعَهَا بَصَرَهُ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَهِىَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيدِ ». يَعْنِى السَّبَّابَةَ

“Abdullah bin ‘Umar apabila duduk di dalam shalat meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan memberi isyarat dengan jarinya, dan menjadikan pandangannya mengikuti jari tersebut, kemudian beliau berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ini lebih keras bagi syetan dari pada besi, yaitu jari telunjuk.’” (HR. Ahmad, dan dihasankan Syeikh Al-Albany)

Dan dalam hadist yang lain:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يُحَرِّكُ الْحَصَى بِيَدِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا تُحَرِّكْ الْحَصَى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَكِنْ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ وَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا أَوْ نَحْوِهَا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya beliau melihat seorang laki-laki menggerakan kerikil ketika shalat, ketika dia selesai shalat maka Abdullah berkata: Jangan engkau menggerakkan kerikil sedangakan engkau shalat, karena itu dari syetan. Akan tetapi lakukan sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan mengisyaratkan dengan jari di samping jempol (yaitu jari telunjuk) ke arah qiblat, kemudian memandangnya, seraya berkata: Demikianlah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan. (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Berkata Al-Mubarakfury:

ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ

“Dhahir hadist-hadist menunjukkan bahwa isyarat dilakukan semenjak awal duduk” (Tuhfatul Ahwadzy 2/185, Darul Fikr).

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy,  حفظه الله تعالى 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/744-kapan-waktunya-menggerakkan-jari-telunjuk-ketika-tasyahud.html

Mengenal Istilah Ilmu Hadits…

Ilmu mushtholah hadits adalah ilmu tentang pokok pokok dan kaidah kaidah yang dengannya diketahui sanad dan matan dari sisi diterima atau ditolak.

Tema ilmu ini adalah tentang sanad dan matan untuk diketahui apakah bisa diterima atau ditolak.

Buahnya adalah membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang tidak shahih.

Makna Hadits:
Hadits adalah setiap yang disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam berupa ucapan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifat. Maknanya sama dengan khobar.

Makna Atsar
Atsar adalah yang disandarkan kepada para shahabat dan tabiin berupa ucapan atau perbuatan. Dan terkadang digunakan juga untuk makna hadits.

Sanad atau isnad.
Adalah rantai perawi yang menyampaikan kepada matan.

Adapun isnad juga mempunyai makna menyandarkan hadits kepada yang mengucapkannya secara musnad.
Matan adalah penghujung sanad berupa ucapan, baik ucapan nabi ataupun yang lainnya.

Musnad
Ada beberapa makna:

1. Kitab yang mengumpulkan hadits sesuai nama shahabat yang meriwayatkannya. seperti musnad Ahmad dll.

2. Hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Semakna dengan sanad.   
Muhadits

Adalah orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara riwayat dan pemahaman. Ia memiliki pengetahuan yang luas tentang riwayat dan keadaan perawi.

Al Hafidz
Derajat yang lebih tinggi dari muhaddits. Sebagian ulama mengatakan bahwa syarat di sebut Al Hafidz adalah apabila hafal 100 ribu hadits.

Badru Salam,  حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an ke 16 : Apabila Disendirikan Mempunyai Makna Yang Bersifat Umum…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah yang ke 16

Sebagian lafadz dalam al qur’an apabila disendirikan, mempunyai makna yang bersifat umum. Apabila disandingkan dengan yang lainnya, maka ia menunjukkan kepada sebagian makna dan sandingannya menunjukkan kepada makna sebagiannya lagi.

Contoh kaidah ini adalah lafadz iman dan amal shalih. Lafadz iman apabila disendirikan mempunyai makna umum yang mencakup padanya amal shalih. Tetapi bila disandingkan seperti dalam firman Allah:

إن الذين ءامنوا وعملوا الصالحات

“Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal shalih.”

Makna iman dalam ayat ini adalah tashdiq (pembenaran), keyakinan dan aqidah. Sedangkan amal shalih maksudnya adalah syariat yang bersifat ucapan dan perbuatan.

Contoh lainnya adalah lafadz birr dan taqwa. Lafadz birr bila bersendirian bermakna menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Tetapi ketika disandingkan dengan lafadz taqwa, bermakna semua ibadah yang dicintai oleh Allah baik berupa ucapan ataupun perbuatan, dan lafadz taqwa bermakna menjauhi larangan larangan Allah Ta’ala.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 17 : Orang-Orang Yang Mendapat Hidayah dan Yang Tersesat…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

 

Menebar Cahaya Sunnah