1345. Hukum Dipijat Wanita

1345. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, apa hukum dipijat wanita yang bukan mahram ?

Jawab :
Pertanyaan ini pernah ditanyakan ke Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rohimahullah.

Berikut jawabannya :
“…Ia tidak boleh memijat wanita itu dan wanita itu tidak boleh pula memijatnya. Sebab pasti menimbulkan sesuatu yang negatif, lebih-lebih jika tukang pijat itu seorang gadis remaja sementara ia seorang pemuda. Wahai saudaraku, syariat telah menutup seluruh jalan menuju perbuatan dosa dan seluruh perkara yang dapat menimbulkan pengaruh negatif dari hubungan dua insan berlainan jenis. Praktek memijat tentunya akan menyingkap sebagian anggota badan dan persentuhan langsung. Hal itu merupakan perkara yang sangat sensitif mendatangkan perbuatan dosa dan membangkitkan gejolak syahwat. Jika memang sangat butuh dipijat, hendaknya Anda mencari tukang pijat pria. Atau hendaknya beberapa anggota keluarga Anda belajar ilmu pijat agar bisa memijat Anda. Semoga Allah memberi taufik kepada kita kepada perkara yang diridhai dan dicintai-Nya….”

Ref : 
http://islamqa.info/id/6358

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

15 NASEHAT UNTUK IBU… Demi Masa Depan Putrinya…

Ustadz Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى

(dari kitab kaifa takun ahsan murobbi fil ‘alam,  h 44-45)

1. Hormatilah suamimu ketika dia di rumah atau di luar rumah dan bersegeralah memenuhi kebutuhannya, khususnya di depan putri-putrinya.

2. Jangan bertikai dengan suami di depan anak-anak, never..!! perselisihan yang terjadi tidak boleh melewati pintu kamar tidur.

3. Sengajalah meminta izin suami di depan putri-putrinya, bila ingin masuk atau keluar atau apa saja.

4. Jangan pernah menampakkan pembangkangan atas perkataan suami di depan putri-putri.

5. Bagi istri-istri penguasa terhadap suaminya, yang ikut campur dalam segala urusan suaminya bahkan mengintrogasi suami (Kenapa jendelanya dibuka? Bagaimana kamu keluar sendirian kemarin? Kenapa beli roti ini? dll), seakan dialah komandan di rumah, menyuruh, memerintah dan melarang di rumah. Yakinlah bahwa putri-putrinya kelak akan menjadi fotocopy dirinya, secara otomatis dia akan menguasai suaminya seperti yang dia lihat pada ibundanya dan bila ternyata dia mendapatkan suami yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan ayahnya, maka tiada solusi kecuali CERAI.

6. Seorang istri tidak boleh memberikan izin bagi lelaki untuk memasuki rumahnya dikala suaminya tidak di rumah, walaupun dia itu adalah teman dekat keluarga ataupun tetangga.

7. Seorang ibu yang mulia akan bersolek dan berdandan hanya untuk suaminya dengan sengaja dia menunjukkan hal itu di depan putri-putrinya seraya menjelaskan bahwa itu adalah hak suami dan dia juga tidak bersolek ketika keluar rumah atau di depan orang yang bukan suami, untuk memberi contoh nyata pada putri-putrinya

8. Istri yang sholehah tidaklah pelit dan tidak pula boros untuk urusan rumah, dia berada di tengah.

9. Sangat indah sekali, bila anak-anak meminta sesuatu pada ibunya dan sang ibu berkata pada mereka: “Kita akan menanyakannya pada ayah dan kita tidak akan melakukan sesuatu kecuali bila direstui olehnya”. dengan sering kalinya melakukan hal ini maka akan tertancap di dalam diri putri-putri penyerahan tongkat kepemimpinan pada lelaki dan tidak boleh seorang wanita menelanjangi suaminya dari pakaian kepemimpinan dengan dalih gender dan kebebasan.

10. Istri yang sholehah akan menyambut kedatangan suaminya dengan wajah yang ceria dan tak langsung mengadukan tingkah anak-anak yang menyebalkan\ tetangga atau apa saja. Namun ia kan mencari waktu yang tepat.

11. Tidaklah elok seorang istri mengadukan kehamilannya, urusan menyusui atau pekerjaan rumah di depan putri-putrinya karena hal itu kan terekam di memorinya.

12. Tatkala ada tetangga\temen wanitanya meminta untuk turut berkunjung ke rumah fulanah, hendaklah sang ibu berkata pada mereka dan diperdengarkan pada putri-putrinya, “Aku kan memberitahu suamiku, bila dia setuju maka aku ikut”, dan tatkala suaminya datang, ia memberitahu suaminya tanpa nada paksaan, ”Apakah ia diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah fulanah”, bila suaminya diam saja, maka ia tidak memaksa dan langsung memberi tahu temannya bahwa ia tidak bisa ikut, di depan putri-putrinya.

13. Bila sang ayah memerintahkan kepada anggota keluarga suatu perintah maka hendaklah sang ibu bersegera melaksanakannya dan menyuruh anak-anak bersegera dan mengajarkan pada mereka pentingnya patuhi perintah suami/ayah, tatkala anak-anak merasakan hal itu maka ia kan tumbuh besar menghormati nahkoda yang kelak mengemudikan bahteranya agar tidak pecah dan karam di samudra.

14. Tatkala istri meminta pada suaminya berbagai macam permintaan yang memberatkan suaminya karena ketidak mampuannya, maka kelak putrinya kan menirunya tatkala mereka menjadi istri.

15. Seorang istri yang duduk ngobrol bersama tetangga\temannya menceritakan rahasia-rahasia rumahnya, maka kelak putrinya dengan mudah menyingkap rahasia suaminya, tatkala ia jadi istri.

Tiga Hal Penyebab Murka Allah…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

قال سفيان الثوري رحمه الله:
احذر سخط الله في ثلاث:
» احذر أن تقصر فيما أمرك،
» احذر أن يراك وأنت لا ترضى بما قسم لك،
» احذر أن تطلب شيئاً من الدنيا فلا تجده ان تسخط على ربك.

» Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah berkata: “Waspadalah engkau terhadap (datangnya) kemurkaan Allah dalam tiga perkara (yaitu):

1. Waspadalah engkau dari melalaikan perintah-perintah-Nya kepadamu.

2. Waspadalah engkau dari merasa tidak ridho (dan tidak puas) dengan rezeki yang Dia berikan kepadamu, sedangkan Dia selalu melihatmu.

3. Waspadalah engkau dari (sikap ambisi) mengejar harta benda dunia, lalu tatkala engkau tidak mendapatkannya, engkau merasa benci dan marah terhadap Robbmu (Allah Ta’ala).”

(Sumber: Siyar A’laam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi VII/244).

1343. Derajat Hadits Tentang ‘KELUARNYA NYAWA’

1343. BBG Al Ilmu – 125

Tanya :
Ustadz, apakah hadis berikut ini Sahih?

Tentang Keluarnya Nyawa ~

Dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perhatikanlah tiga hal pada mayat saat kematiannya:

Jika keningnya berpeluh, kedua matanya mengeluarkan air mata, dan aroma wanginya menyebar, maka itu adalah rahmat Allah yang turun kepadanya.

Jika ia mendengkur seperti dengkuran anak unta yang tercekik, warna kulitnya padam, dan kedua sudut bibirnya berbusa, maka itu adalah adzab dari Allah yang ditimpakan kepadanya’.”

(HR. Abu Abdillah At-Tirmidzi Al-Hakim dalam Nawadir Al-Ushul)

Jawab :
Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Itu hadits DUSTA !

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1342. Sholat Wajib Di Jam Kerja = Korupsi Waktu ?

1342. BBG Al Ilmu – 127

Tanya :
Assalamu’alaikum ustadz..mau tanya, sholat tepat waktu itu kan lebih utama daripada kesibukan pekerjaan. Sebagai buruh pabrik, waktu sholat saat istirahat saja. Terkadang saya bimbang mana yang harus didahulukan. Kalau sholat tepat waktu apakah sama dengan korupsi waktu dari perusahaan ? kalau sholat jam istirahat bagaimana ustadz..? mohon penjelasannya.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa ‘alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tatkala di tanyakan tentang amalan yang paling utama maka menjawab (yang artinya), “Sholat tepat waktunya.”

Jika ia dapat meminta waktu untuk mengerjakan sholat kepada pihak yang terkait dari perusahaan tersebut, ini adalah kebaikan. Jika tidak memungkinkan, dan terpaksa mencuri waktu untuk sholat, maka ini tidak termasuk korupsi waktu. Sekiranya mendapatkan hukuman jika menjalankan ibadah, maka sebaik nya ia mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Jika antar waktu istirahat tidak terpaut jauh hingga keluar waktunya, maka boleh mengerjakan nya. Akan tetapi tidak di jadikan rutinitas terlambat.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Seputar ‘SYAFAA’AT’…

Ustadz Abdullah Roy, حفظه الله تعالى

Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.

Allâh & Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat.

Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

Syafa’at akhirat ini harus kita imani & kita berusaha untuk meraihnya.

Dan modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid & bersihnya seseorang dari kesyirikan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.”
(Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka dimiliki.

Allâh berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”.
(Al-Anbiyaa’ 28)

Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā (yang artinya) :

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh Ta’ālā kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqarah 255)

Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya.

Seperti seseorang mengatakan dalam yang do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu .”

Ini adalah cara untuk mendapatkan syafā’at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti mengatakan, “Ya Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.”

Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya.

Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman (yang artinya) :

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka & tidak pula memberikan manfaat & mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (Yunus 18)

Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ref : BIAS

Dipanggil Setan…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Pernahkah anda mendengar seseorang memanggil namamu, namun setelah anda mencari ke arah sumber suara, anda tidak melihat seorangpun di sana?

Sekejap bulu tengkuk anda berdiri, jantung anda berdebar dengan kencang dan bisa jadi anda terkencing kencing di tempat.

Tahukah anda, siapakah sebenarnya yang memanggil anda? Kemungkinan besar yang memanggil anda adalah setan. Hiiii, mengerikan bukan?

Sobat! Sebenarnya pada kondisi seperti ini, tiada perlu anda takut apalagi sampai terkencing kencing di tempat. Pada kondisi semacam ini sebenarnya anda bisa membalas ulah setan dengan menjadikannya ketakutan hingga lari terbirit birit. Tidak percaya? Silahkan simak kisah berikut:

Suatu hari, Az Zakwan Abu Shaleh mengutus putranya yang bernama Suhail untuk pergi ke kabilah Bani Haritsah. Dengan ditemani seorang anak kecil, Suhailpun segera. Pergi ke perkampungan Kabilah Bani Haristah. Di tengah jalan, anak kecil tersebut mendengar seseorang dari balik ladang memanggil namanya dengan keras. Merasa dipanggil, anak kecil itu segera menghampiri sumber suara di balik kebun. Namun betapa terkejutnya anak itu, karena ia tidak melihat seorangpun di dalam kebun tersebut.

Sepulang dari Perkampungan Bani Haritsah, Suhail menceritakan kejadian itu kepada ayahnya Az Zakwan. Mengetahui kejadian yang dialami oleh putranya, Az Zakwan berkata: kalaulah aku menyadari bahwa engkau akan mengalami kejadian semacam ini, niscaya aku tidak akan mengutusmu . Lain kali bila engkau mengalami kejadian serupa, maka segera kumandangkan Azan, karena aku pernah mendengar sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الشيطان اذا نودي بالصلاة ولى وله خصاص

Sesungguhnya setan bila mendengar suara seruan menuju shalat (azan) maka ia akan lari terbirit birit hingga terkentut kentut. ( Muslim dll )

Bagaimana sobat, sederhana bukan? Daripada anda takut kepada setan lebih baik anda menakut-nakuti setan agar ia larit terbirit birit.

Menebar Cahaya Sunnah