Waspadailah “AKU”…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Harusnya seseorang benar-benar waspada dari keburukan perkataan “aku…”, “aku punya…”, dan “di sisiku…”.

Karena, tiga kata ini telah menjadi musibah bagi Iblis, Fir’aun, dan Qorun.

“Aku lebih baik darinya”, adalah perkataan Iblis (kepada Adam).

“Aku punya kerajaan Mesir”, adalah perkataan Fir’aun.

Dan “harta yang kumiliki adalah dari ilmu yang ada di sisiku”, adalah perkataan Qorun.

Adapun tempat yang paling baik untuk menempatkan kata “Aku”, adalah pada perkataan seorang hamba: “akulah seorang hamba yang pendosa, yang bersalah, yang beristighfar, yang mengakui kesalahan, dan semisalnya.

(Tempat yang paling baik untuk menempatkan) kata “aku punya” adalah pada perkataan seorang hamba: “aku punya dosa”, “aku punya keburukan”, “aku punya kekurangan”, “aku punya ketergantungan dan kehinaan”.

Dan (tempat yang paling baik untuk perkataan) “di sisiku” adalah pada perkataan seorang hamba: “ampunilah kesalahanku, baik dalam keadaan aku serius, bercanda, tidak sengaja, maupun sengaja. Dan semuanya ada di sisiku.”

[Kitab: Zadul Ma’ad 2/434]

Dangkel Telo & Gelas Koco ( Batang Singkong & Gelas Koco )…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Demikian kira-kira ucapan ayah saya yang sering beliau tanamkan kepada saya dan saudara saudara saya. Beliau menggambarkan bahwa anak laki laki itu bagaikan sebatang pohon singkong, sedangkan anak wanita itu bagaikan gelas kaca.

Sebatang dahan singkong walau dibanting dan dibanting bahkan dicampakkan begitu saja, maka batang singkong dapat tumbuh dan menghasilkan buahnya.

Berbeda dengan gelas kaca, alih-alih dibanting, salah mengisinya saja bisa menyebabkannya pecah, apalagi dibanting atau dijatuhkan. Dan bila pecah maka sangat sulit atau bahkan rasa rasanya mustahil bisa menyatukannya kembali

Kala itu saya acuh tak acuh dengan petuah beliau, namun demikian karena petuah itu sering diulang ulang, maka tanpa sadar tertanam juga dalam pikiran saya.

Sekarang, setelah saya merasakan sedikit dari apa yang dahulu dirasakan oleh kedua orang tua, saya baru bisa menangkap maksud dari pesan beliau. Karena itu saya ingin berbagi, semoga dengan demikian, saya turut menebarkan ilmu yang beliau tanamkan pada diri saya.

Kini rasa kawatir dan was-was mulai menggelayuti pikiran setiap kali memikirkan bagaimana dan seperti apa harus mendidik anak-anak perempuan saya. Berbeda halnya ketika saya memikirkan pendidikan anak lelaki saya, perasaan lebih terasa sejuk dan pikiran jauh lebih tenang.

Mungkin ini salah satu hikmah yang dapat kita petik dari besarnya pahala yang Allah siapkan untuk orang orang tua yang berhasil mengantarkan putri-putrinya ke surga.

من عال جاريتين حتى تبلغا، جاء يوم القيامة أنا وهو» وضم أصابعه

“Siapapun yang menafkahi dan mendidik dua orang anak wanita hingga mereka dewasa, maka kelak pada hari qiyamat aku akan bersandingan dengannya seperti ini, selanjutnya beliau menyandingkan kedua jarinya.” ( Muslim )

Ya Allah jadikanlah putra-putriku orang-orang sholeh dan jadikanlah petuah di atas sebagai bagian dari ilmu yang diwariskan oleh kedua orang tuaku, dan terus mengalirkan pahala untuk keduanya hingga akhir zaman. Amiin.

Demo Buruh…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat!
Hari buruh telah berlalu, dan demo buruhpun telah berlalu. Namun saya merasa saat inilah yang tepat untuk mengajak saudara-saudaraku kaum buruh untuk duduk dan berpikir sejenak? Untuk apa saudara demo? Menuntut kenaikan gaji? Pelayanan? Hak? Dan apa lagi yang saudara tuntut dengan demo saudara?

Sobat!
Sederhana solusinya: tinggalkan profesi sebagai buruh maka sekejap seluruh hak saudara kembali berada di tangan saudara . Jadilah juragan alias jadilah wirausahawan niscaya anda tidak akan pernah merasa perlu untuk memperingati hari buruh apalagi bersusah payah turut turun ke jalan berdemo.

Saudaraku! Sadarkah saudara bahwa “kaum juragan” tempat saudara bekerja, sebenarnya sangat diuntungkan dari demo saudara? Bagi mereka semua masalah terasa sederhana:
Pemerintah menaikkan UMR, maka mereka menaikkan harga jual produksi. Pemerintah memutuskan agar perusahaan memberi insentif ini dan itu, maka “kaum juragan” dengan mudah memaksa anda untuk memungut tuntutan saudara dari masyarakat bahkan dari anda sendiri, harga produk dinaikkan, target produksi dan pendapatan mereka tingkatkan, dan ujung-ujungnya anda pula yang puyeng dan pusing tujuh keliling.

Bahkan rasa rasanya “kaum juragan” lah yang selama ini mendanai dan mendorong “kaum buruh” untuk berserikat dan berdemo. Karena mereka akan lebih mudah mengatur dan menggiring kaum buruh yang berada dalam satu wadah dibanding masing-masing buruh beridiri sendiri . Kaum juragan lebih mudah bersekongkol alias menyusun konspirasi bersama dedengkot “wadah kaum buruh” dibanding bila kaum buruh terpencar pencar tanpa ada wadah yang menyatukan mereka.

Saudaraku! Coba pikirkan, adakah kaum buruh yang berhasil menguasi atau memenangkan emilu suatu negara? Manakah yang lebih baik bagi anta meneruskan status sebagai “kaum buruh” atau segera menyingsingkan lengan baju untuk keluar dari status “buruh” menjadi Juragan?

Sadarilah sahabatku sekalian, “kaum juragan” sejatinya senang dan terus bermimpi bila kita semua menjadi buruh, karena kaum buruh pastilah berstatus sebagai komsumen.

Ingatlah baik-baik bahwa sistem perekonomian yang saat ini berkuasa di dunia termasuk negara kita adalah perekonomian kapitalis, yang kaya harus tetap kaya dan semakin kaya dan sebaliknya yang miskin harus miskin dan kalau bisa semakin miskin.

Camkanlah baik-baik, bahwa satu-satunya hal yang sangat dibenci oleh “kaum juragan” ialah bila kaum buruh mulai bermimpi menjadi wirausahawan atau pengusaha. Karena mimpi-mimpi semacam inilah yang mengancam eksistensi mereka. Adapun demo-demo kaum buruh dan berbagai “wadah kaum buruh” sejatinya semakin mengukuhkan mereka sebagai “kaum juragan” dan mengabadikan saudara sebagai “kaum buruh”. Dengan kekuatan finansial, mereka bisa memesan undang undang dan peraturan. Dan dengan kekuatan finansial, mereka bisa menaikan dan menurunkan target pemasaran, pendapatan dan nilai jual produk mereka.

Sobat! Segera pikirkan baik-baik bagaimana caranya agar pada hari buruh yang akan datang saudara menjadi kompetitor “kaum juragan” jangan terus hanyut memikirkan apa tuntutan yang akan anda ajukan pada hari buruh yang akan datang. Renungkan baik-baik pesan dan inspirasi yangdisampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits berikut

عن رافع بن خديج قال: قيل يا رسول الله! أي الكسب أطيب؟ قال: (عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور) رواه أحمد والطبراني والحاكم وصححه الألباني

“Sahabat Rafi’ bin Khadij menuturkan: “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:Wahai Rasulullah! Penghasilan apakah yang paling baik? Beliau menjawab: “Hasil pekerjaan seseorang dangan tangannya sendiri, dan setiap perniagaan yang baik.” (Riwayat Ahmad, At Thabrany, Al Hakim, dan oleh Syeikh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih).

Selamat berjuang menjadi kaum juragan, semoga Allah segera mewujudkan mimpi indah saudara sebagai juragan dan bukan lagi buruh atau karyawan. Amiin

1331. Sholat Yang Dilakukan Sesaat Sebelum Adzan Zhuhur

1331. BBG Al Ilmu

Tanya :
Bolehkah sholat tahiyyatul masjid sesaat sebelum adzan zhuhur ?

Jawab :
Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Ada waktu Terlarang dan ada waktu Sangat Terlarang.

Waktu Terlarang ada Dua :
1. Setelah sholat ‘ashar hingga matahari menguning

2. Setelah sholat shubuh hingga matahari terbit.

Waktu Sangat Terlarang ada Tiga
1. Ketika bulatan matahari di cakrawala akan tenggelam hingga tenggelam.

2. Ketika bulatan matahari di cakrawala akan terbit hingga terbit.

3. Ketika matahari berada di tengah langit (antara 5 – 10 menit sebelum adzan zhuhur).

Maka jika kita masuk masjid antara 5 – 10 menit sebelum adzan zhuhur, TIDAK USAH SHOLAT TAHIYYATUL MASJID, TUNGGU HINGGA ADZAN SHOLAT ZHUHUR DIKUMANDANGKAN.

Ref : https://bbg-alilmu.com/archives/12894

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1330. Ketika Mu-adzin mengucapkan “HAYYAA ‘ALASH-SHOLAAH”, Apa Yang Harus Kita Ucapkan ?

1330. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaykum Ustadz, mau tanya soal jawaban atas adzan ketika mu-adzin mengucapkan ‘hayyaa ‘alash-sholaah dan ‘hayya ‘alal-falaah”. Ada sebagian riwayat yang mengatakan bahwa yang mendengarnya, disunnahkan mengucapkan “hayyaa ‘alash-sholaah dan hayya ‘alal-falaah” juga, dan ada pula riwayat yang mengatakan “Laa hawla wa Laa quwwata ILLA billah”. Yang mana yang benar Ustadz ? apa diucapkan ke-duanya berbarengan ? Syukran ustadz

Jawab :
Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى

Ahsan (lebih baik) digabung* membacanya.

والله أعلم بالصواب

*Penjelasan: digabung disini maksudnya adalah ketika mu-adzin membaca “HAYYAA ‘ALASH-SHOLAAH” maka yang mendengarnya mengucapkan :

HAYYAA ‘ALASH-SHOLAAH, LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

Dan ketika mu’adzin membaca “HAYYAA ‘ALAL-FALAAH” maka yang mendengarnya mengucapkan :

HAYYAA ‘ALAL-FALAAH, LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

والله أعلم بالصواب

 

1329. Bolehkah Membersihkan Noda Hitam Bekas Sujud Di Dahi ?

1329. BBG Al Ilmu

Tanya :
Dalam rangka menghindari riya’, apakah boleh seorang pria membersihkan noda hitam di dahi bekas sujud dengan memakai sabun/cream khusus pembersih muka secara berkala ? Apakah ini tindakan berlebih-lebihan ?

Jawab :
Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Boleh dibersihkan dan lain kali kalau sujud JANGAN TERLALU DITEKAN dahinya agar tidak hitam, menjadikan wajah nampak buruk.

والله أعلم بالصواب

Alangkah Beruntungnya Ahlussunnah…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

Mereka banyak mendapatkan pahala, tanpa harus lelah dan bersusah payah.

Terutama di zaman ini…  seringkali sebagian kaum muslimin menjalankan amalan-amalan yang dianggap ibadah, tapi tidak ada tuntutannya dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Mereka mengorbankan banyak harta, tenaga, waktu, dll untuk melakukanya, tapi itu semua menjadi sia-sia, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Barangsiapa melakukan amalan (ibadah) yang tidak sesuai dengan tuntunan kami, maka ia ditolak”.

Sebaliknya Ahlussunnah… mereka akan mendapatkan banyak pahala dengan meninggalkan amalan-amalan itu, karena mereka meninggalkannya untuk menjauhi larangan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

“Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama)”.

Jadi, janganlah merasa RUGI ketika Anda tidak melakukan amalan mereka, karena justeru dengan begitu Anda mendapatkan pahala, sedang amal mereka menjadi sia-sia, bahkan bisa jadi mereka menuai dosa.

Ingatlah bahwa KETAATAN itu bisa dalam melakukan sesuatu, bisa juga dalam meninggalkan sesuatu… Allah telah mengaskan hal ini dalam firmanNya (yang artinya):

“Apapun yang diberikan Rosul kepada kalian, maka AMBILLAH. Sebaliknya apapun yang dia larang, maka BERHENTILAH darinya”. [QS. Alhasyr:7].

Apakah Allah Boleh Disifati Dengan Sifat Makar, Khianat dan Menipu…?

IslamQA

Tanya:

Apakah Allah boleh disifati dengan sifat makar, menipu, khianat, sebagaimana firman-Nya,
(وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ (سورة الأنفال: 30
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)
(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ (سورة النساء: 142
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

 

 Jawab:

Alhamdulillah

Sifat-sifat Allah Ta’ala seluruhnya merupakan sifat sempurna, menunjukkan makna yang paling indah dan sempurna. Allah Ta’ala berfirman,

(وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  (سورة النحل: 60

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl: 60)

(وَلَهُ الْمَثَلُ الأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (سورة الروم: 27

“Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar-Rum: 27)

Makna dari (المثل الأعلى) adalah sifat sempurna.

As-Sa’dy berkata dalam tafsirnya (hal. 718, 1065), berkata,

“(المثل الأعلى) adalah sifat sempurna.”

Sifat-sifat itu ada 3 macam;

Pertama: Sifat sempurna, tidak ada kekurangan padanya dari berbagai sisi. Sifat-sifat ini boleh disematkan kepada Allah Ta’ala secara mutlak tanpa dikaitkan dengan sesuatu. Seperti sifat ilmu, kuasa, mendengar, melihat, kasih sayang, dll.

Kedua: Sifat yang menunjukkan kekurangan, tidak ada kesempurnaan padanya. Sifat seperti ini sama sekali tidak boleh disematkan pada Allah Ta’ala. Seperti tidur, lemah, zalim, khianat, dll.

Ketiga: Sifat yang mungkin mengandung kesempurnaan dan mungkin juga mengandung kekurangan, sesuai kondisi bagaimana hal tersebut disebutkan.

Sifat seperti ini tidak disematkan kepada Allah secara mutlak, tapi juga tidak dinafikan secara mutlak. Akan tetapi wajib diperinci. Pada kondisi yang menunjukkan kesempurnaan bagi Allah, maka Dia boleh disifati dengannya, namun pada kondisi yang menunjukkan kekurangan bagi Allah, maka Dia tidak boleh disifati dengannya. Misalnya sifat ‘makar’, ‘menipu’ atau ‘menghina’

‘Makar, ‘Menipu’ atau ‘Menghina’ jika diarahkan kepada musuh, maka dia merupakan sifat sempurna, karena semua itu menunjukkan kesempurnaan ilmu, kekuasaan dan kekuatan-Nya. Dan semacamnya.

Adapun ‘makar’ terhadap orang mukmin yang jujur, maka dia merupakan sifat kekurangan.

Karena itu tidak terdapat pensifatan Allah dengan sifat-sifat ini secara mutlak, akan ditetapi disebutkan dengan mengaitkan sesuatu yang menunjukkan kesempurnaan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

(إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ  (سورة النساء: 142

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

Maksudnya adalah menipu orang-orang munafik.

Dia berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ((سورة الأنفال: 30)

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)

Itu merupakan makar terhadap musuh-musuh Allah yang telah melakukan makar terhadap Raslullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kemudian Dia berfirman tentang orang-orang munafik;

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ * اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (سورة البقرة: 14-15)

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al-Baqarah: 14-15)

Ini merupakan bentuk penghinaan terhadap orang-orang munafik.

Maka, sifat-sifat tersebut dianggap sempurna dalam susunan redaksi demikian. Karena itu dapat dikatakan bahwa Allah menghina orang-orang munafik, memperdayi mereka serta berbuat makar terhadap musuh-musuh-Nya… dan semacamnya. Akan tetapi, tidak boleh Allah disifati dengan sifat; makar, penipu secara mutlak, karena ketika itu sifat tersebut tidak dianggap sempurna.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, apakah Allah dapat disifati dengan sifat makar, atau diberi nama dengan sifat tersebut?

Beliau menjawab;

“Allah tidak disifati dengan sifat makar kecuali jika dikaitkan. Allah tidak boleh disifati dengan sifat itu secara mutlak. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ  (سورة الأعراف: 99)

“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)

Dalam ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki makar. Yang dimaksud makar adalah menimpakan sesuatu kepada lawan dengan cara yang tidak dia ketahui. Di antaranya adalah seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Perang itu adalah tipudaya.”

Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana Alalh disifati dengan sifat makar padahal secara zahir sifat ini tercela.”

Maka dikatakan, “Makar yang dimaksud di sini adalah terpuji, yaitu kekuatan untuk melakukan tipu daya dan bahwa Dia pasti dapat mengalahkan musuhnya. Karena itu Allah tidak disifati dengan sifat tersebut secara mutlak. Maka tidak boleh anda mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala suka menipu.” Akan tetapi anda hanya boleh menyebutkan sifat ini dalam posisi memuji. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ   (سورة الأنفال: 30)

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.” (QS. Al-Anfal: 30)

وَمَكَرُوا مَكْراً وَمَكَرْنَا مَكْراً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (سورة النمل: 50)

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50)

Akan tetapi, sifat ini juga tidak boleh dinafikan dari Allah secara mutlak. Akan tetapi disebutkan sifat tersebut dalam posisi pujian. Akan tetapi pada posisi yang didalamnya tidak mengandung pujian, maka Dia tidak disifati dengan sifat tersebut. Demikian pula halnya, Allah tidak diberi nama dengan nama-nama seperti itu. Maka tidak boleh dikatakan, “Sesungguhnya di antara nama-nama Allah adalah Al-Makir (penipu). Maka makar, merupakan sifat perbuatan Allah, karena terkait dengan kehendak Allah Ta’ala.” (Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/170)

Beliau juga ditanya, “Apakah Allah disifati dengan sifat khianat dan penipu seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Mereka menipu Allah dan Dia yang menipu mereka.”

Beliau menjawab, “Adapun khianat, maka Allah tidak boleh sama sekali disifati dengan sifat seperti itu. Karena sifat ini sama sekali tercela. Karena itu artinya adalah makar saat diberi amanah. Itu tercela. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ  (سورة الأنفال: 71)

“Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, Maka Sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 71)

Dia tidak mengatakan, “Kemudian dia berbuat khianat kepada mereka.”

Adapun tipu daya, itu seperti makar. Allah disifati demikian dalam posisi terpuji, namun tidak disifati dengannya secara mutlak.

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ   (سورة النساء: 142)

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (QS. An-Nisa: 142)

Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, 1/171

Wallahua’lam .

Menebar Cahaya Sunnah