Penyejuk Pandangan

Ada seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah, tentang firman Allah Ta’ala,

{رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ}

“Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan..” (QS al-Furqon/25:74)

Beliau rohimahullah berkata,

« بـل فـي الدنــيا هـي والله أن يـرى الـعبد مـن ولـده طاعــة الله، وما شـيء أقــر لعيـن المؤمـن مـن أن يـرى حبيـبه فـي طاعـة الله».

Bahkan itu di dunia, demi Allah yaitu seorang hamba melihat anaknya menjalankan ketaatan kepada Allah .. dan, tidaklah ada yang lebih menyejukkan pandangan seorang mukmin dari ia melihat orang yang dicintainya dalam ketaatan kepada Allah.

(Fathul Baari – 8/491)

Sunnah Yang Hilang Saat Sholat Maghrib

SUNNAH YANG HILANG : TERKADANG MEMBACA AYAT SETELAH SURAT AL FATIHAH DI ROKA’AT KE 3 SHOLAT MAGHRIB

Asy Syaikh Bin Baz rohimahullah mengatakan,

“.. untuk sholat maghrib, di roka’at ketiga dianjurkan untuk TERKADANG membaca ayat sebagaimana yang dibaca Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu ..”

(Fatawa Nur ‘alaa ad-Darb, 2/788)

Tabiat Kebiasaan Yang Paling Agung

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

« ومن كانت شيمته : التوبة والاستغفار فقد هُدي لأعظم الشيّم »

“Barangsiapa yang tabiatnya adalah bertaubat dan memohon ampun, sungguh dia telah diberi hidayah kepada tabiat yang paling agung..”

(Ighotsatul Lahafan – 2/945)

Memperbanyak Saksi Di Hari Kiamat

Allah Ta’ala berfiman (yang artinya),

“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya..” (Qs 99/4-5)

● Al Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

إنَّ في دوام الذِّكر في الطريق ، والبيت ، والحضر ، والسفر ، والبقاع :
تكثيرًا لشهود العبد يوم القيامة ؛ فإنَّ البقعة والدار ، والجبل والأرض : تشهد للذاكر يوم القيامة ” يومئذ تحدث أخبارها “

Sesungguhnya dalam keterbiasaan seseorang berdzikir :
– di jalan,
– di rumah,
– di saat mukim dan safar
adalah upaya untuk memperbanyak saksi bagi seorang hamba di hari kiamat kelak.

Sebab suatu tempat, hamparan tanah, gunung  juga bumi, mereka akan bersaksi terhadap orang-orang yang selalu dzikir mengingat Allah, “yaitu pada hari dimana bumi menyampaikan beritanya..” 

(Alwabilush Shoyyib, hlm. 81)

● Asy Syaikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafizhohullah berkata,

Hari itu pada hari kiamat.. bumi mengabarkan tentang segala apa yang terjadi di atas muka bumi. Di sini kita mengetahui bahwa bumi menjadi saksi atas apa yang terjadi di atasnya dari perbuatan manusia, dari ucapan-ucapan yang mereka lakukan.. dan ini adalah persaksian dari bumi terhadap apa yang dikerjakan oleh manusia dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(Tafsir Qs Az Zalzalah)

====
Beberapa dzikir yang bisa kita amalkan setiap saat, setiap hari, klik :

1. https://t.me/bbg_alilmu/16705
2. https://bbg-alilmu.com/archives/54812
3. https://t.me/bbg_alilmu/24279

Rasa Harap Yang Akan Membimbing Seseorang Untuk Rajin Beramal

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahu ta’ala mengatakan,

“Siapa saja yang rasa harapnya mengajaknya untuk berbuat ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan, maka ini adalah bentuk rasa harap yang benar.

Namun barangsiapa yang kemaksiatannya menjadi suatu harapan dan rasa harapnya itu menyebabkannya berani untuk berbuat maksiat dan menyia-nyiakan kesempatan beramal, maka dia adalah orang yang tertipu.

Termasuk perkara yang semestinya disadari, bahwa siapa yang mengharap sesuatu, pasti ada di dalamnya tiga perkara :

● mencintai yang dia harapkan.
● kawatir akan hilangnya sesuatu yang dia harapkan.
● berusaha untuk menggapai yang diharapkan semaksimal mungkin.

Adapun rasa harap yang tidak diiringi oleh salah satu dari (tiga) perkara ini, maka itu hanyalah bentuk angan-angan belaka.

Rasa harap adalah sesuatu sedangkan angan-angan adalah sesuatu yang lain .. dan setiap orang yang berharap; pasti dia akan kawatir..”

(Al Jawabul Kafi – 63/64)

Penuhilah Kotak Perbendaharaanmu

Al Imam Al Baihaqy rohimahullah menukilkan ucapan dari As-Sary rohimahullah,

اجْعَلْ قَبْرَكَ خِزَانَتَكَ احْشُوهَا مِنْ كُلِّ عَمَلٍ يُمْكِنُكَ، فَإِنْ وَرَدْتَ عَلَى قَبْرِكَ سَرَّكَ مَا تَرَى فِيهِ

Jadikanlah kuburmu itu laksana kotak perbendaharaanmu.

Penuhilah ia dengan setiap perbuatan baik yang dapat engkau lakukan, sehingga bila nantinya engkau mendatangi kuburmu (wafat), niscaya apa yang engkau lihat di dalamnya akan membuatmu bahagia.

(Az Zuhd Al Kabiir – 199)

Sedekah Darimu Untuk Dirimu

● Dari Abu Dzar rodhiyallahu ’anhu beliau berkata,

يا رسول الله! أرأيت إن ضعفت عن بعض العمل ؟
قال : (تكف شرك عن الناس، فإنها صدقة منك على نفسك).

“Wahai Rosulullah, bagaimana menurut pandangan anda jika aku lemah (tidak mampu) untuk melakukan sebagian amal..?”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pun bersabda,

“Engkau menahan diri (untuk tidak) melakukan keburukan terhadap manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri..”

(HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata,

“Siapa yang tidak dapat membantu manusia dengan harta, makanan dan minuman, maka setidaknya ia tersenyum kepada mereka dan berakhlak mulia..”

(Hilyah Auliyaa – 7/389)


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Lebih Dekat Dengan Rasa Malu

As Syaikh Muhammad Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Seorang wanita semakin lebar dan longgar pakaiannya maka hal itu lebih tertutup baginya dan lebih dekat dengan rasa malu serta lebih jauh dari fitnah..”

(Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin – 12/272)

Diantara Cara Meraih Do’anya Para Malaikat

Orang orang yang gigih dalam mendapatkan do’a para Malaikat akan bersemangat dalam mendo’akan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya.

Seperti saat melihat status WA/media sosial saudaranya yang berjualan, maka ia langsung mendo’akan keberkahan dan kemudahan rezeki serta ampunan bagi saudaranya tsb.

📌 bagaimana bila orang yang kita mau do’akan ada di hadapan kita..?

tidak masalah .. meskipun orang yang dido’akan itu berada di hadapan orang yang mendo’akannya, seperti berdo’a dengan hatinya atau dengan lisan tetapi tidak terdengar oleh orang yang dido’akan. (‘Aunul Ma’buud IV/275-276)

Al-Qadhi ‘Iyadh rohimahullah berkata,

Jika generasi Salaf hendak berdo’a untuk dirinya sendiri, mereka juga berdo’a untuk saudaranya sesama muslim dengan do’a tersebut, karena do’a tersebut adalah do’a yang mustajab, dan dia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim.

(Syarh an-Nawawi – XVII/49)

===
ADAB SEBELUM BERDO’A ⬇️

https://t.me/bbg_alilmu/26627

Menebar Cahaya Sunnah