1145. Bolehkah Dana Riba Untuk Membangun Toilet Di Pesantren..?

1145. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah uang bunga bank digunakan untuk membantu pembuatan WC/kamar mandi pondok pesantren ?

Jawab:

Bismillah. Hukumnya BOLEH karena untuk kepentingan kaum muslimin secara umum. Namun ketika menyalurkan dana riba, niat dan tujuannya bukan untuk mencari pahala dan ridho Allah, tetapi hanya ingin membebaskan diri dan harta kita dari kotoran harta yang haram.

والله أعلم بالصواب

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

 

Antara Penjual Emas, Intan Berlian Dan Penjual Sayuran

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Salah satu keunikan di negri kita ialah adanya pedagang keliling, dari rumah ke rumah. Kehadiran mereka sangat memudahkan urusan anda, bukankah demikian?

Mereka berhenti di setiap gang, bahkan di depan setiap rumah menawarkan dagangannya. Sayur, sayur, bumbu bumbu, daging daging, atau belanja buk? Bahkan dagangannya digelayutkan di kendaraan mereka, seakan tanpa rasa kawatir ada yang mencuri atau paling kurang terjatuh.

Demikian teriak para pedagang sayuran keliling. Mereka optimis setiap rumah yang mereka lalui berpotensi untuk membeli dagangannya, karena itu mereka menawarkan dagangannya kepada semua orang.

Kondisi yang sangat berbeda dengan penjual emas atau bahkan intan berlian. Sebatas yang saya ketahui belum ada pedagang emas atau berlian keliling yang menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Biasanya mereka memasarkan dagangannya dengan cara membuka toko yang didesain mewah dan penuh dengan fasilitas pengamanan yang ketat, CC TV, teralis besi, satpam dan lainnya.

Saudaraku, saya yakin anda memaklumi dan dapat menerima perbedaan antara penjual sayuran dari penjual emas dan intan berlian, walaupun tujuan mereka sama yaitu mencari keuntungan.

Barang kali anda akan berkata: nilai barang dagangannya yang membedakan, dan tentunya juga konsumennya. Emas dan intan berlian bernilai super mahal, dan konsumennya juga terbatas.

Saya yakin anda akan curiga dan was was bila diminta membeli emas atau intan berlian dari pedagang keliling. Namun sebaliknya anda ketakutan untuk belanja sayuran di toko yang didesain mewah dengan pengaman maksimal seperti yang ada di toko emas.

Kemurnian emas menjadi salah satu hal yang anda perhatikan, karena anda pasti enggan untuk tertipu atau merugi gara gara membeli emas SEKARAT dengan harga emas 24 karat.

Saudaraku! Perbedaan semacam di atas sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi kita bahwa sikap atau metode dapat dan bahkan sepatutnya dibedakan selaras dengan perbedaan jenis amalan dan obyek amalan kita.

Bila perbedaan obyek jual beli anda mengharuskan anda menerima perbedaan seperti tergambar di atas, tentu sikap serupa sepatutnya anda lakukan pada urusan agama dan dunia anda.

Betapa banyak ummat Islam yang menyikapi urusan agama seperti sikapnya terhadap urusan dunianya. Betapa sering kita menjadikan logika, budaya dan perasaan ( kepuasan pribadinya ) menjadi standar kebenaran dalam urusan agama sebagaimana halnya dalam urusan dunia.

Seharusnya dalam urusan agama, kita memiliki kehati hatian melebihi kehati hatian kita ketika membeli emas atau intan berlian. Kemurnian agama seperti yang diajarkan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjadi salah satu pertimbangan utama sebagaimana halnya yang anda lakukan ketika membeli emas atau intan berlian.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa mengamalkan satu amalan yang tiada contohnya dari kami niscaya amalannya itu tertolak. ( Bukhary)

Sahabatku! Betapa meruginya diri anda bila beramal dengan semangat besar ternyata amalan anda telah tercampuri oleh hal hal yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana anda merugi bila membeli emas SEKARAT seharga emas 24 Karat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hobi Kaum Yahudi

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Jangan Heran…

Kaum yahudi, hobi mereka adalah membunuh nabi-nabi mereka yang tidak sesuai dengan selera mereka…

وَقَتْلَهُمُ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”. (Ali Imron : 181)

Dan Allah menyebutkan hobi keji mereka ini berulang-ulang…

Jika para nabi saja mereka bunuh maka bagimana lagi hanya sekedar anak-anak Palestina, orang tua renta, para ibu…dengan biadab!!!

Maka janganlah heran akan kebiadaban mereka !!!

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1144. Benarkah Syaithan Dirantai Di Bulan Ramadhan ?

1144. BBG Al Ilmu

Tanya:
Pada bulan ramadhan syaiton di belenggu, apakah memang pada bulan ramadhan tidak ada syaiton untuk menggoda kita ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله تعالى

Sebagaimana yang di kabarkan dalam hadist, bahwasanya dedengkot syaitan dibelenggu, walaupun demikian, masih tersisa musuh yang kuat yaitu hawa nafsu yang melekat di dalam hati manusia, sehingga jika godaan luar tidak ada, masih ada godaan dari dalam jiwa manusia.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1143. Bila Ingin Memberikan Zakat Atau Fidyah, Perlukah Memberitahu Penerima Bahwa Itu Adalah Zakat Atau Fidyah ?

1143. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah kalau ingin memberikan fidyah kepada fakir-miskin harus diberitahukan bahwa itu sebagai pembayaran fidyah ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Bagi siapa saja yang akan membayar Fidyah atau zakat maal, tidak diharuskan agar memberitahukan kepada orang-orang faqir dan miskin yang menerimanya bahwa apa yang ia berikan adalah Fidyah atau Zakat. Akan tetapi, Disyaratkan baginya agar menetapkan niat bayar fidyah atau zakat maal di dalam hatinya saja.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Innamal a’maalu bin-niyyaati wa innamaa likullimri-in maa nawaa)

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan (dengan amalannya tersebut).” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dari jalan Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa diantara hikmah tidak memberitahukan kepada penerima bahwa itu fidyah atau zakat ialah agar ia tidak merasa malu atau perasaan tidak enak di dalam hatinya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1142. Bagaimana Mendapatkan Pahala Do’a Anak Yang Shalih Bila Tidak Mempunyai Anak ?

1142. BBG Al Ilmu – 463

Tanya:
Salah satu syarat yang bisa menyelamatkan kita di akhirat adalah doa anak yang sholeh. Pertanyaannya, jika kita tidak punya anak, terus bagaimana ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Memang benar, anak adalah anugerah Allah kepada siapa saja dari para hamba yang dikehendaki-Nya.
Jika anak itu beriman dan sholih, maka pahala seluruh amal ibadahnya akan mengalir secara otomatis kepada kedua orangtuanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(Wa inna aulaadakum min kasbikum)

Artinya: “Dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian sendiri.”

Dan beliau juga bersabda (yang artinya): “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali 3 hal (yaitu): shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang selalu mendoakan (kebaikan bagi kedua orangtuanya).”

Adapun orang yang belum atau tidak dikaruniai anak oleh Allah, maka ia bisa mendapatkan kiriman pahala yang semisalnya dengan cara menanggung biaya pendidikan anak yang tidak mampu di sekolah atau pesantren yang mengajarkan agama Islam dengan baik dan benar, jika ia tidak mampu secara finansial, namun punya ilmu agama, maka sepantasnya ia mengajarkan ilmunya yang bermanfaat kepada anak-anak atau orang dewasa, atau jika tidak punya ilmu, maka berupaya menunjukkan anak-anak kaum muslimin kepada kebaikan.

Nabi bersabda:
(Ad-Daalu ‘Alal Khoiri Kafaa’ilihi)
“Orang yang menunjukkan (orang lain) kepada kebaikan, maka (pahalanya) seperti orang yang mengamalkannya.”

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ya Akhi, Saya Ikhlas Kok !

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! siapa yang tidak tahu pentingnya keikhlasan dalam amal ibadah anda. Betapa banyak atau betapa sering kita mendengar bahkan kita mengucapkan: saya ikhlas melakukan hal ini, atau itu, saya ikhlas memberi ini dan itu, atau saya tulus melakukan ini dan itu untuk anda. Dan masih banyak ucapan senada yang terucap dari lisan kita.

Sobat! Pernahkah anda merenungkan makna ucapan “saya ikhlas” atau “saya tulus” ?

Terdengarnya menyejukkan dan meyakinkan, namun sejatinya sangat mencurigakan dan meragukan. Andai benar-benar tulus dan ikhlas, buat apa ketulusan dan keikhlasan diucapkan dan bahkan diceritakan ke sana dan kemari ?

Andai benar-benar ikhlas, mengapa ada rasa gembira di saat dipuji dan sebaliknya tersinggung ketika ditolak atau bahkan dimaki ?

Sobat! Ketahuilah, sejatinya Orang yang benar-benar ikhlas adalah orang yang tidak berubah sikap atau perasaan ketika dipuji atau dimaki. Pujian dan makian sesama manusia bagi orang yang ikhlas tiada bedanya, karena itu mereka lebih suka menyembunyikan amalannya dibanding menampakkannya.

Demikianlah paling kurang gambaran tentang keihlasan yang dapat kita simpulkan dari hadits berikut:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ “وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Diantara orang yang mendapat jaminan akan dinaungi di bawah Aresy Allah kelak di hari qiyamah ialah : lelaki yang menyedekahkan sebagian hartanya, lalu ia merahasiakan sedekahnya sampai sampai tangan kirinya tiada mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang yang berdzikir mengingat Allah di tempat sunyi, lalu kedua air matanya berlinang menangis.”
( Muttafaqun ‘alaih)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Apakah Allah Mencintaiku

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Pertanyaan yang merayuku untuk intropeksi..
kucoba membuka al qur’an..
kudapati Allah mencintai orang orang yang sabar..
kulihat diriku.. ah betapa sedikitnya kesabaranku..
kudapati Allah mencintai orang orang yang berjihad..
ku lihat diriku.. amat lemah untuk melawan nafsuku..
kurang kesungguhanku untuk selalu menaatiNya..

Kudapati Allah mencintai orang orang yang berbuat ihsan..
apalagi ini.. teramat jauh diriku dari derajat ihsan..
hatiku gundah..
tak ada tanda pada diriku bahwa Allah mencintaiku..
kucoba kembali membaca al quran..
kudapati Allah mencintai orang orang yang suka bertaubat..
aku segera merenung..
mungkin ayat ini untukku dan yang sepertiku..
segera lisanku berucap..
astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
astaghfirullah wa atuubu ilaihi..
semoga ini membuat Allah mencintai diriku..
ya Rabb.. ampuni dosaku..

Rahmat Allah Bagi Kita Pelaku Dosa…!

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Allah masih sayang kepada kita, tatkala kita bermaksiat…

1. Allah masih menutup aib kita…,seandainya Allah membongkar satu saja dosa/aib kita maka betapa malunya kita…

2. Allah tidak langsung mengadzab kita…, seandainya Allah langsung mengadzab setiap dosa yang kita lakukan tentu kita tidak akan bisa hidup diatas muka bumi ini..tentu kita akan segera binasa sebelum sempat bertaubat.

3. Bahkan Allah masih terus memberikan rezki kepada kita…bahkan terkadang ditambah rizki kita, apakah kita tidak malu..? Bermaksiat tapi terus dibaiki oleh Allah…??

4. Allah selalu memberi kesempatan bertaubat bagi kita…bahkan hingga nafas terakhir kita.

5. Bahkan Allah sangat gembira pada hambanya yang bertaubat…(padahal baru saja sang hamba tenggelam dalam kemaksiatan).

6. Allah juga memberi ganjaran besar bagi kita yang bertaubat… lantas.. kenapa kita masih menunda taubat?, kenapa masih beristigfar tapi dengan hati lalai? Apakah kita terus demikian hingga Allah cabut rahmatNya sehingga kita meninggal dalam berlumuran dosa…?

Memahami Al Qur’an

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Dalam bahasan yang terdahulu telah kita uraikan Tilawah secara harfiah, yaitu dengan membaca surat surat nya, dan ayat-ayat nya.
Dibagian kedua ini akan kita bahas tentang Tilawah secara makna dan hukum yang berupa mengimani dan membenarkan berita berita didalam nya, mengikuti hukum hukum nya, menjalankan perintah perintah nya serta menjauhi larangan larangan nya.
Bahasan ini merupakan sangat penting dikarenakan tujuan yang utama dari diturunkannya Al Qur`an.

Allah Ta`ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS sad 29).

Oleh karena itu para salaf ridwanallahu alaihim senantiasa mempelajari Al Qur`an, memahami kandungan nya serta mempraktekkan hukum hukum yang ada didalamnya.
Abu Abdurrahman As Sulamy berkata, “Para sahabat yang dahulu mengajarkan Al Qur`an seperti Utsman ibnu Affan, Abdullah ibnu Mas`ud dan selain mereka telah bercerita kepada kami, bahwasanya dahulu mereka apa bila mempelajari sepuluh ayat dari Al Qur`an maka mereka tidak menambah nya hingga selesai mempelajari ilmu dan mengamalkan nya, dan mereka berkata: “Kami mempelajari Al Qur`an secara ilmu dan mengamalkan nya.”

Tilawah jenis ini adalah yang akan memberikan keselamatan dan kebahagiaan serta menjaga dari kebiasaan dan kesengsaraan.
Allah Ta`ala berfirman, “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.”. (QS TaHa 123~127)

Semoga Allah Ta`ala memberikan taufik kepada kita, sehingga diberikan kekuatan untuk membaca dan Tilawah Al Qur`an dengan sebenarnya, dan kita dapat meraih keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Menebar Cahaya Sunnah