Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
Umar bin khathab radhiallahu ‘anhu berkata:
لكل شيء رأس، ورأس المعروف تعجيله.
“Segala sesuatu itu mempunyai kepala.. dan kepala kebaikan adalah bersegera melakukannya..”
(mawa’idz shohabah)
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
Umar bin khathab radhiallahu ‘anhu berkata:
لكل شيء رأس، ورأس المعروف تعجيله.
“Segala sesuatu itu mempunyai kepala.. dan kepala kebaikan adalah bersegera melakukannya..”
(mawa’idz shohabah)
Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى
Islam adalah agama akhlak
Sehingga diturunkan ke bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Tahukah anda apa itu akhlak yang dimaksud oleh Islam ?
Akhlak menurut Islam adalah Ilmu & amal.
Yaitu ilmu tentang Allah & tentang segala hal yang dicintai Allah & mengamalkannya.
Aisyah berkata tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.
Tahukah anda akhlak luhur dapat menyelamatkanmu dari kejahatan?
Simak pernyataan Khadijah kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi Allah, Dia tidak akan meninggalkanmu, sebab engkau adalah orang yang selalu menjaga silaturahmi, menolong orang kesulitan, membantu orang yang lemah & menjamu tamu..”
Saudaraku! Ibu kita khadijah memberi pemahaman bahwa orang baik & berakhlak akan selalu dijaga oleh Allah dari segala hal yang membahayakannya..
Berkata Imam Nawawi,
“Pernyataan Khadijah memberi pelajaran penting bahwa akhlak & perangai yang baik adalah sebab keselamatan dari segala kejahatan.” (Syarh sahih Muslim (2/202)
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Sesungguhnya orang yang riyaa’ terus dalam penderitaan…
(1). Ia menderita sebelum beramal, hatinya gelisah mencari-cari pujian orang lain, gelisah mencari-cari kesempatan kapan bisa dipuji.
(2). Ia juga menderita tatkala sedang beramal…, karena Ia harus beramal dengan sebaik-baiknya dan seindah-indahnya karena Ia ingin dipuji. Jika Ia merasakan amalannya/sholatnya/ceramahnya kurang baik maka Ia menderita karena Ia sadar bahwa pujian yang Ia harapkan tidak akan pernah terwujud.
(3). Ia juga menderita setelah beramal, karena hatinya gelisah menanti-nanti kapan pujian dan sanjungan tersebut datang…!!
(4). Jika Ia telah dipuji… terkadang Iapun masih menderita dengan kekecewaan, karena pujian yang Ia raih tidak seperti yang Ia harapkan… tidak sebanding pengorbanan dan persiapan amalan yang telah Ia lakukan.
(5). Kalaulah ia dipuji dengan pujian yang ia harapkan maka ia hanya bahagia sementara, setelah itu hatinyapun akan gelisah lagi menanti-nanti kapan datang pujian berikutnya.
(6). Dan yang paling mengenaskan.. penderitaannya diakhirat kelak…,ia akan dipermalukan oleh Allah dihadapan khalayak. Allah membeberkan kedustaannya/riya’nya..selama ini orang terdekatnya menyangkanya sholeh atau ikhlas ternyata…????
Allah juga menghinakannya dengan memerintahkannya untuk mencari ganjaran dari orang-orang yang dahulu ia harapkan pujian mereka..Dan bisa jadi akhirnya Allah memasukkannya kedalam neraka..
Wal’iyaadzu billah..
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Kerongkongan terasa kering keronta, perut terasa lapar, akibatnya badan terasa lemas, konsentrasi berkurang, dan produksi turun. Mood andapun berantakan; emosional, mudah tersinggung, dan empati kepada orang sekitarpun tak menentu.
Coba anda berdiri di depan kaca, amatilah raut wajah anda. Lesu, muram dan mungkin ketampanan atau kecantikan yang selama ini melekat di wajah anda terkikis atau bahkan telah sirna.
Mungkin demikianlah gambaran tentang diri anda pada setiap siang hari di bulan Ramadhan, terlebih-lebih bila pada pagi harinya anda tertidur sehingga tidak sempat menyantap makan sahur.
Apa gerangan yang menjadikan diri anda demikian adanya? Bukankah selama ini anda dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa,cerdas, cakap, sigap dan berpenampilan menawan?
Mengapa semua ini terjadi pada diri anda? Apa yang menjadikan diri anda berubah total sedemikian rupa, padahal anda tidak sedang menderita sakit, atau didera masalah berat, juga tidak sedang dililit hutang?
Selanjutnya, coba bandingkan diri anda setelah anda meneguk seteguk air dan menyantap sesuap nasi. Semuanya jadi berubah, anda kembali ceria, raut wajah anda kembali menawan, mood andapun kembali normal, ketangkasan dan kecerdasan andapun kembali seperti sedia kala.
Subhanallah! Ketampanan, kecerdasan, ketangkasan, kegagahan, yang selama ini anda sandang ternyata tergantung dengan sesuap nasi dan seteguk air.
Sedemikian besarkah peranan sesuap nasi dan seteguk air dalam hidup anda, sampai-sampai kehidupan anda menjadi berubah hanya karena telat makan dan minum?
Mungkinkah kepandaian anda, kegagahan, dan ketampanan anda selama ini sebenarnya terletak pada nasi sesuap dan air seteguk?
Bila demikian adanya, mengapa selama ini ada keangkuhan dan kesombongan dalam kehidupan anda? Mengapa kecongkakan senantiasa menghiasi lembaran sejarah hidup anda?
Bila demikian, mengapa anda seakan tidak butuh kepada kasih sayang dan pertolongan Allah, sehingga anda jarang mengangkat tangan untuk berdoa kepada-Nya?
Saudaraku! Simaklah petuah Luqman Al Hakim kepada putranya:
وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al Isra’ 37)
Apa yang dapat anda lakukan bila ternyata segala kehebatan anda tergantung kepada sesuap nasi dan seteguk air? Mungkinkah dengan kesombongan dan keangkuhan anda mampu menembus bumi dan mengalahkan ketinggian gunung
Saudaraku! Apalah artinya kesombongan dan keangkuhan, bila ternyata nilai kegagahan, kecakapan, dan kecerdasan anda hanya seberat sesuap nasi dan seteguk air, sehingga sekedar anda telat makan dan minum sejenak saja, semuanya mulai meredup.
Coba anda bayangkan, andai rasa lapar dan haus yang anda rasakan sekarang ini berkepanjangan sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang, akankah kegagahan, ketampanan dan ketangkasan masih melekat pada diri anda?
Subhanallah! Ternyata semua yang anda miliki tidak lagi berguna, di saat anda terhalang dari seteguk air dan sesuap nasi. Betapa hinanya kehidupan dunia yang anda perjuangkan selama ini.
Pada suatu hari Ibnu As Simaak manemui Harun Ar Rasyid. Tak berapa lama, Harun Ar Rasyid merasa haus, sehingga iapun segera memerintahkan agar diambilkan air minum. Tanpa pikir panjang seorang pelayan segera membawa bejana yang berisi air dingin. Sebelum Harun Ar Rasyid meminum air itu, ia berkata kepada Ibnu As Simaak: Berilah aku petuah! Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Ibnu As Simaakpun segera berkata kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Berapakah engkau akan menebus air minum itu bila engkau sedang kehausan dan ternyata aku kuasa menghalangimu darinya? Harunpun menjawab: Dengan separoh kerajaanku. Selanjutnya Ibnu As Simaak berkata: Silahkan engkau menikmati air minummu.
Seusai Harun Ar Rasyid minum air itu, Ibnu As Simaak kembali bertanya: Bayangkan, andai aku kuasa menghalang-halangi air minum yang telah engkau minum untuk keluar dari tubuhmu (menyumbat saluran air senimu), berapakah biaya yang akan engkau keluarkan agar air senimu dapat keluar? Harun Ar Rasyidpun kembali menjawab: Sebesar sisa kerajaanku.
Mendengar jawaban ini, Ibnu As Simakpun menimpalinya dengan berkata: “Suatu kerajaan yang separohnya dihargai dengan seteguk air, dan sisanya dihargai dengan air seni, tidaklah pantas untuk diperebutkan.” Mendengar petuah ini, spontan Harun Ar Rasyidpun menangis tersedu-sedu. (Tarikh At Thobary 6/538 & Al Bidayah wa An Nihayah 10234)
Demikianlah fakta diri anda, masihkah anda tergoda untuk bersikap angkuh, sombong dan merasa hebat?
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya kesempurnaan diri anda terletak pada kerendahan hati anda, semakin anda rendah hati, maka semakin tinggi derajat anda disisi Allah dan di sisi masyarakat.
Akan tetapi semakin anda merasa angkuh dan merasa tinggi, maka semakin rendah kedudukan anda di sisi Allah dan juga di sisi masyarakat.
(مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ) رواه أحمد وغيره وحسنه الألباني
“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya.” (Riwayat Ahmad dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani).
Dan sebagian ulama’ terdahulu berkata:
مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيرٌ ، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيمٌ ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ، فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيرٌ ، وَفِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ ، حَتىَّ لَهُوَ أَهْوَنَ عَلَيهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ
“Barang siapa merendah diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya. Dengan demikian ia merasa dirinya kecil tidak berarti, akan tetapi masyarakat memandangnya sebagai orang yang mulia nan terhormat. Dan barang siapa yang berlaku sombong, niscaya Allah menghinakannya, sehingga masyarakat memandangnya sebagai orang hina, walaupun ia merasa sebagai orang besar, sampai-sampai di mata masyarakat ia lebih hina dibanding anjing atau babi.”
Demikianlah saudaraku! Ibadah puasa telah menyingkap siapa sebenarnya jati diri anda. Bersyukurlah kepada Allah Yang masih memberi kesempatan kepada anda untuk mengenal siapa sebenarnya diri anda. Dengan demikian anda tidak hanyut oleh kenikmatan Allah sehingga lupa daratan dan bersikap angkuh lagi sombong.
Apa yang saya paparkan di atas, bukan berarti larangan anda menikmati makanan yang lezat, mengenakan pakaian yang bagus dan menikmati kehidupan dunia lainnya. Nikmatilah karunia Allah, akan tetapi pada waktu yang sama, ketahuilah bahwa kekayaan dunia bukanlah standar kemuliaan seseorang.
(إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللهَ لَيُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ أَحَبَّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الدِّينَ إِلاَّ مَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ) رواه الحاكم وغيره وصححه الألباني
“Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlaq/perangai kalian, sebagaimana Allah telah membagi-bagi rizqi kalian. Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan kekayaan dunia kepada orang yang Ia cintai dan juga kepada orang yang tidak Ia cintai. Sedangkan Ia tidak pernah memberi kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) kecuali kepada orang yang Ia cintai. Dengan demikian, orang yang telah dikaruniai kedudukan dalam agama (akhlaq mulia) berarti Allah telah mencintainya.” (Riwayat Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)
Jelaslah, bahwa apa yang selama ini didoktrinkan oleh sebagian orang tua: “harga diri seseorang dipandang dari penampilannya”, tidak pada tempatnya.
Sesungguhnya kemuliaan dan kehormatan seseorang dinilai dari kesucian jiwa dan keluhuran akhlaqnya.
(رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ) رواه مسلم
“Mungkin saja orang yang berpenampilan kusut, senantiasa diusir dari pintu rumah orang, akan tetapi bila bersumpah memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (Riwayat Muslim).
Bila anda berjiwa luhur dan berakhlaq mulia, maka dimata anda segala gemerlap dunia menjadi remeh.
Semoga ibadah puasa anda dapat meninggikan derajat jiwa anda dan merubah akhlaq anda menjadi semakin mulia.
Wallahu a’alam bisshowab.
Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى
Membantu saudara sangatlah baik, akan tetapi jika terkadang kita tidak bisa membantunya maka lebih baik sejak awal kita terus terang “tanpa sungkan-sungkan” untuk berkata kepadanya “Maaf akhi/ukthi saya tidak bisa membantu anda kali ini”. Daripada kita memberikan harapan kepadanya dengan mengatakan “INSYAA ALLAH SAYA USAHAKAN” padahal dalam hati sebenarnya kita tidak mau atau tidak mampu membantunya.
Akhirnya diapun terus berharap dan terus menagih “INSYAA ALLAH” yang telah kita ucapkan. Sehingga kitapun membohonginya dengan memberi harapan palsu dan kitapun terganggu dengan tagihan-tagihannya.
Seandainya sejak awal kita menyatakan ketidaksiapan kita maka dia akan mencari bantuan orang lain dan tidak berharap dengan janji kosong kita belaka.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى
Sebagian manusia hancur karena ambisinya.. jika ia tidak hancur didunia maka ia akan hancur di akhirat..
Ambisi tersebut adalah ambisi ke AKUan pada dirinya..
Waspadalah waspadalah..
Kejahatan terkadang bukan karena kurang ilmu.. namun karena hati masih memiliki penyakit yang parah.. diantaranya, kurang ikhlas, kurang ridho pada pembagian Allah, kurang takut akhirat, hasad dan dengki, ingin pamer amalan, kesombongan dan merasa diri adalah yang terbaik..
Waspadalah penyakit-penyakit tersebut.. karena hal tersebut akan menghancurkan anda..
Leburlah penyakit itu dengan pembersihan hati dan merasa butuh kepada ampunan Allah ta’ala niscaya anda akan menjadi lebih baik dari sekarang,.
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
(1) untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi dalam doa ziarah qubur (Dan Kami insyaa Allah akan menyusul kalian wahai penghuni kuburan). Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah ((Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki masjidil haram insyaa Allah dalam keadaan aman) QS Al-Fath : 27
(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita, “Bulan depan saya akan umroh insyaa Allah”
(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.
(4) Yaitu salah penggunaan fungsi : Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka iapun berkata, “Insyaa Allah”
Atau tatkala diminta bantuan lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”
Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan malah digunakan untuk menolak.
Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى
Khutbah Jum’at Masjid Nabawi tanggal 01-08-1435 H / 30-05-2014 M
oleh : Syeikh Abdul Bari Al-Tsubaiti -hafidhzahullah- Imam dan Khatib Masjid Nabawi
Khutbah pertama
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah,,,amma ba’du :
Allah ta’ala berfirman :
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.Al-Muthaffifin :26).
Seorang muslim sejati selalu berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan, karena umur itu pendek dan ajal itu terbatas, seorang yang pandai dan berakal selalu bersegera sebelum datangnya halangan dan rintangan ; sungguh tidaklah sama antara yang bersegera menuju kebaikan dan yang berlambat-lambat, juga antara yang berlomba-lomba kepada keutamaan dan yang memberatkan diri kepadanya.
Berlomba-lomba yang terpuji memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk mengangkat dirinya dan menanjak dengan ilmu dan amalnya agar berusaha menuju kesempurnaan.
Mengalir ruh saling berlomba-lomba dalam jiwa orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi, dan yang paling tinggi diantara mereka adalah para Nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis ketika dilampaui oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena iri, dikatakan kepadanya : apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab : (saya menangis karena seorang anak laki-laki diutus setelahku, -akan tetapi- pent. masuk surga dari ummatnya lebih banyak dari ummatku) (HR.Bukhari). Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia pernah bersabda : (saya berharap menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya pada hari kiamat).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa membangkitkan semangat saling berlomba-lomba kepada para sahabatnya, agar mereka menaiki tangga yang menyampaikan mereka kepada tujuan, serta menggambarkan kepada mereka tujuan-tujuan yang tinggi dalam hadits-hadits yang tak terhitung jumlahnya ; diantaranya : sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Tidak ada saling berlomba diantara kalian kecuali pada dua perkara : Seorang laki-laki yang Allah Azza wa Jalla karuniakan kepadanya hafalan Al-Qur’an dan ia membacanya dalam shalat siang dan malam, serta mengikuti isinya, kemudian seorang laki-laki lain berkata : jika Allah mengaruniakan kepadaku seperti apa yang ia karuniakan kepada Fulan, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang dikerjakan oleh Fulan, dan seorang laki-laki yang Allah karuniakan kepadanya harta dan ia berinfak dan bersedekah, kemudian berkata laki-laki lain seperti apa yang diucapkan yang tadi).
…
Baca selengkapnya disini:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/khutbah-jum-at-masjid-nabawi-terjemahan/718-berlomba-lombalah-dalam-kebaikan
Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى
Membayar Zakat dan mengeluarkan infaq dan shodaqoh merupakan ibadah agung yang memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat banyak bagi pelakunya di dunia dan di akhirat, di antaranya:
(*) KEUTAMAAN PERTAMA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang baik yang akan menjadi penghuni Surga.
» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak
mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19).
(*) KEUTAMAAN KEDUA:
Membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rahmat (kasih sayang dan kebaikan) oleh Allah Ta’ala.
» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (QS. At-Taubah: 71).
(*) KEUTAMAAN KETIGA:
Orang yang membayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta (zakat)nya akan ditumbuh kembangkan oleh Allah.
» Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276).
» Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) –dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal)-, maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Al-Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).
(*) KEUTAMAAN KEEMPAT:
Membayar Zakat merupakan salah satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa.
» Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
Artinya: “Dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi V/11 no.2616, dan Ahmad V/231 no.22069).
(*) KEUTAMAAN KELIMA:
Membayar Zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta (Zakat)nya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki. Dan yang jelas berkahnya akan melimpah.
» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103).
» Dan diriwayatkan dari Abu Gharzah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada para pedagang dengan sabdanya:
يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ الْحَلِفُ وَاللَّغْوُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ
Artinya: “Wahai para pedagang sesungguhnya jual beli ini dicampuri dengan perbuatan sia-sia dan sumpah oleh karena bersihkanlah ia dengan shadaqah.” (HR. Ahmad IV/6 no.16179, Nasai VII/14 no.3797, dan Ibnu Majah II/726 no.2145. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani).
» Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Artinya: “Sedekah (atau Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” (HR. Muslim IV/2001 no. 2588).
(*) KEUTAMAAN KEENAM:
Membayar Zakat merupakan sebab datangnya segala kebaikan. Sedangkan meninggalkan kewajiban Zakat akan mendatangkan keburukan dan menyebabkan terhalangnya kebaikan-kebaikan.
» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:
وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ
السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا
Artinya: “Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. Kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan, pent).” (HR. Ibnu Majah II/1332 no.4019, dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.105).
(*) KEUTAMAAN KETUJUH:
Orang yang membayar Zakat (atau mengeluarkan infaq dan sedekah) dengan niat ikhlas karena Allah akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy Allah Ta’ala di hari
kiamat kelak.
» Hal ini berdasarkan hadits berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وذكر فيه :… وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ …
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari (Kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari I/234 no.629, dan Muslim II/715 no.1031)
Maksudnya bersedekah dan berinfaq secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga lebih mudah utk ikhlas dan jauh dari riya’.
(*) KEUTAMAAN KEDELAPAN:
Membayar Zakat, infak atau sedekah dapat mencegah (atau mengobati) berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.
» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shodaqoh.” (Shohih At-Targhib wa At-TarhiB-).
» Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada orang yang mengeluhkan tentang kekerasan hatinya:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
“Jika engkau ingin melunakkan hatimu maka berilah makan pada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad II/263 no.7566, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, namun hadits ini dinyatakan Dho’if (lemah) oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang majhul (tidak jelas identitasnya).
(*) KEUTAMAAN KESEMBILAN:
Orang yang berinfaq atau bersedekah akan didoakan kebaikan oleh malaikat setiap hari.
» Hal ini bedasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Artinya: “Tidaklah seorang hamba berada pada suatu hari melainkan akan turun dua malaikat yang salah satunya mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah orang-orang yang berinfaq itu balasan”, dan malaikat yang lain mengucapkan (doa), “Ya, Allah berilah pada orang yang bakhil/kikir kebinasaan (pada hartanya).”. (HR. Bukhari II/522 no.1374, dan Muslim II/700 no.1010, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).
(*) KEUTAMAAN KESEPULUH:
Membayar Zakat, Shodaqoh atau infaq merupakan indikasi kebenaran iman seseorang hamba.
» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
Artinya: “Shodaqoh merupakan bukti (keimanan).” (HR. Muslim I/203 no.223).
(BM 5. Bersambung dengan KEUTAMAAN KESEBELAS, إِنْ شَاءَ اللّهُ )
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu berkata:
الحق ثقيل مريء، والباطل خفيف وبيء، ورُبَّ شهوة تورث حزنًا طويلاً.
“Al haq itu berat dan nikmat, kebatilan itu ringan membawa derita, berapa banyak syahwat yang mewariskan kesedihan yang panjang.”
(mawa’idz shohabah)
– – – – – •(*)•- – – – –