1141. Seputar Hadits Penggugur Dosa, Perokok Yang Sholat Tanpa Bersiwak Dan Da’i Yang berceramah Di Gereja

1141. BBG Al Ilmu – 349

Tanya:
1. Ada hadits sakit sebagai penggugur dosa dan Allah menurunkan 4 malaikat kepada orang yang sakit apakah hadits ini shahih?

2. Bagaimana hukum seorang perokok yang tidak bersiwak dan melaksanakan shalat, apakah shalatnya sah atau tidak ?

3. Bagaimana hukumnya seorang dai yang berceramah di gereja atas nama kerukunan beragama dengan mengucapkan salam di luar islam. Adakah hadist yang menjelaskan tentang masalah tersebut ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

1. Derajat Hadits tersebut Tidak Shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan Tidak Jelas Asal-usulnya.

2. Hukum sholat seorang perokok yang tidak bersiwak atau gosok gigi setelah merokok dan sebelum datang ke masjid untuk sholat adalah SAH, tetapi ia telah melanggar larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan kepada siapa saja yang makan bawang merah, atau bawang putih atau daun bawang agar tidak mendatangi masjid kecuali setelah bersiwak atau gosok gigi agar bau tidak sedapnya hilang. Dan bau rokok lebih buruk daripada bau bawang merah dan bawang putih, apalagi hukum rokok adalah Haram.

3. Hukum berceramah di Gereja atau tempat-tempat ibadah orang kafir dan musyrik adalah TIDAK BOLEH, bahkan itu termasuk bentuk loyalitas kepada orang kafir yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keluar masuk Gereja untuk ceramah atau selainnya adalah bentuk keridhoan dan kecintaan terhadap kekafiran dan kemusyrikan mereka kepada Allah Ta’ala.

Agama Islam adalah agama yang paling toleransi antara sesama manusia, akan tetapi toleransi n kerukunan antara umat beragama itu ada batas-batasnya, tidak secara bebas dan mutlak.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1140. Anak-Anak Lalu Lalang Dihadapan Orang Shalat, Sahkah Shalatnya ?

1140. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apabila kita sholat di masjid dan disaat sholat selalu anak-anak kecil lalu lalang menginjak sajadah kita, apakah sholatnya sah atau tidak ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jikalau kita sholat di masjid berjamaah bersama imam, maka yang menjadi sutrah/pembatas sholat adalah sutrah nya imam, adapun makmum tidak memiliki sutrah, sehingga kalau ada anak kecil lalu lalang maka tidak membatalkan sholat.
Yang membatalkan jikalau lewat sutrah imam nya. Ini kaitannya dengan sholat wajib.

Adapun sholat sunnah, maka di anjurkan mendekat dengan sutrah agar anak kecil tidak lewat.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1139. Terus Menimba Ilmu

1139. BBG Al Ilmu

Tanya:
Saya baru belajar mengenal sunnah.. Perubahan yang saya lakukan adalah mengganti cara berpakaian saya yang dulu memakai celana panjang dan jilbab kecil sekarang memakai gamis dan kerudung besar, tapi atasan saya mengatakan bahwa memakai jilbab panjang seperti itu harus diimbangi dengan ilmu yang tinggi sedangkan saya belum memiliki pengetahuan yang luas tentang agama. Kadang kalau ada acara keagamaan saya sering ditunjuk untuk ceramah ke depan, padahal saya belum tau banyak bagaimana ya saya harus bersikap ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Tentu kita bercita-cita hari ini lebih baik dari pada kemarin, dan hari esok tentunya lebih sempurna dari pada hari ini. Ini lah yang di namakan iman, semakin hari semakin bertambah banyak. Allah Ta`ala berfirman dalam surat (Al-`Aşr):2 – 3, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Maka jika kita memahami ayat diatas maka agar bisa selamat dari kerugian adalah memberikan nasihat kepada kebenaran. Tentu ini menuntut kita agar belajar dan mencari ilmu sebanyak mungkin untuk menjadi bekal. Bisa lewat mendengarkan kajian-kajian lewat berbagai media yang sekarang sudah di berikan kemudahan. Maka hendaknya bersemangat mencari ilmu, mengamalkan, mendakwahkan. Bulan ramadhan merupakan momen yang tepat untuk mendulang ilmu agama.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Infaq Kemanusiaan Untuk Saudara Muslim Di Gaza Palestina

Radio Rodja 756 AM

Yahudi kembali menyerang Gaza Palestina…

Mari bantu saudara kita disana !!

Sebagai upaya membantu mereka dan mewujudkan ukhuwah Islamiyyah serta pengamalan dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِن
ْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim).

Di bulan yang penuh kemuliaan ini kami mengajak antum untuk membantu Kaum Muslimin di Gaza Palestina Salurkan bantuan antum melalui:

Rekening Bank Syariah Mandiri
No. rekening: 756 1616 005
Atas nama: Yayasan Cahaya Sunnah
Cabang: Cibubur, Jakarta
Kode ATM Bersama: 451

Jika ingin konfirmasi transfer, silakan kirim Via SMS ke 081 989 6543 dengan format :

Peduli Palestina_Nama_Alamat_Jumlah transfer_tanggal transfer

informasi : (021) 8233661

#‎PrayForPalestina‬
#‎PrayForGaza‬

Renungan Bagi Saudaraku Golput

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

1) Para ulama yang menyuruh nyoblos sangat banyak dan lebih senior (syaikh bin Baz, syaikh albani, syaikh utsaimin, al-lajnah Ad-daaimah, syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, syaikh sholeh al-luhaidan, Mufti arab saudi syaikh Abdul Aziz alu syaikh, syaikh Nasir Asy-syatsri, syaikh ali hasan, syaikh masyhur hasan, syaikh musa nashr, syaikh Ibrahim ar-ruhaili, syaikh Abdul Malik romadoni al-Jazaairi, dan masih banyak yang lainnya)

Maka mengikuti ulama senior para orang tua yang tinggi ilmu dan ketakwaan mereka lebih utama daripada mengikuti pendapat para ustadz seperti kami

2) jika ada yang berkata : para ulama tidak tahu kondisi Indonesia, kita katakan :
– ini adalah tuduhan yang tidak beralasan dan terlalu dipaksa-paksakan. Karena masalah pemilu dan demokrasi adalah permaslahan yang umum menimpa banyak negeri kaum muslimin, seperti Yaman, Kuwait, iraq, al-jazaair dll
– sebagian ulama tersebut sering ke Indonesia, seperti syaikh Ali Hasan yang sudah 17 kali ke Indonesia, syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili dan syaikh Abdurrozzaq yang sudah berulang-ulang ke Indonesia
– diantara para ulama tersebut adalah syaikh Abdul Malik romadoni al-Jazaairi yang telah menulis buku khusus tentang politik (madaarikun nadzor) beliapun menyuruh untuk memilih.

3) jika ada yang berkata : para ulama juga bisa salah berfatwa. Maka kita katakan hal ini memang benar, namun jika para ulama saja bisa salah apalagi para ustadz yang berseberangan tentu bisa lebih salah lagi.

4) kaidah yang dipakai oleh para ulama adalah irtikaab akhoffu Ad-dororoin yaitu menempuh kemudorotan yang lebih ringan dalam rangka menjauhi kemudorotan yang lebih besar.

Dalil akan kaidah ini sangatlah banyak, diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih membiarkan orang arab Badui kencing di mesjid nabawi dan melarang para sahabat yang hendak mencegah orang arab Badui tersebut karena pilihan para sahabat akan lebih fatal akibatnya. Hal ini bukanlah berarti nabi mendukung adanya kencing di mesjid !!

Kaidah ini berbeda dengan kaidah dorurot tubihul mahdzuroot (analogi boleh makan babi kalau tidak maka akan meninggal). Nabi tatkala memilih membiarkan arab Badui tersebut kencing bukan sedang dalam keadaan darurot dari sisi bahaya, akan tetapi dari sisi dua kemudorotan yang tidak bisa dihindari maka beliau memilih mudorot yang kecil.

5) pernyataan bahwa menyoblos berarti mendukung demokrasi, adalah pernyataan yang tidak benar. Karena kaidah menempuh kemudorotan yang lebih ringan bulan berarti mendukung kemudorotan !!, ini merupakan perkara yang sangat jelas bagi yang paham akan kaidah tersebut. Sebagaimana tadi Nabi membiarkan arab Badui kencing di mesjid maka bukan berarti Nabi mendukung adanya kencing di mesjid.

Pernyataan inilah yang sering disalah gunakan oleh sebagian saudara kita untuk mengkafirkan orang-orang yang nyoblos karena persepsi mereka bahwa memilih melazimkan mendukung kesyirikan demokrasi fan berarti kafir.

6) pernyataan : “golput lebih selamat” malah perlu direnungkan kembali :
– seorang yang golput pun tidak akan terhindarkan dari kemudorotan yang akan muncul dikemudian hari. Siapapun presidennya pasti undang-undang yang diputuskannya akan berpengaruh bagi rakyat Indonesia. Golput hanya bisa terhindar dari dampak demokrasi Indonesia jika golput pindah ke luar negri, ke arab saudi misalnya.
– pernyataan bahwa yang nyoblos akan ditanya pada hari kiamat, sementara yang tidak nyoblos tidak ditanya, maka kita katakan :
Seorang golput jika ternyata karena golput nya maka naiklah pemimpin yang membawa kemudorotan bagi Islam dan kaum muslimin maka iapun akan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat.
– pernyataan : kalau nyoblos maka bertanggung jawab atas hukum-hukum yang kemudian hari dikeluarkan oleh pilihannya.
Jawabannya : ini tidaklah lazim, kembali kepada kaidah memilih kemudorotan yang lebih ringan bukan berarti mendukung kemudorotan, sebagaimana analogi Nabi membiarkan arab Badui kencing dimesjid bukan berarti membolehkan apalagi mendukung kencing di mesjid.

7) kalau ada yang bilang bahwa yang nyoblos manhaj nya perlu dipertanyakan, maka kenyataannya mereka yang nyoblos telah mengikuti fatwa para ulama, bahkan banyak dan mayoritas para ulama. Kalau bukan fatwa para ulama yang diikuti lantas siapa lagi?

8) syaikh Ali Hasan pernah berfatwa untuk tidak menyoblos tatkala ada pemilu di Iraq, sehingga ahlus sunnah pada tidak memilih, akibatnya syiah yang naik dan berkuasa. Maka setelah itu beliau merubah fatwa beliau mengikuti yang lebih tua yaitu fatwa syaikh Albani guru beliau, syaikh bin Baz, dan syaikh utsaimin. Beliau sadar bahwa fatwa orang tua (syaikh Albani) lebih tajam daripada fatwa beliau.

9) ingatlah bisa jadi Kristenisasi, syiah nisasi, liberal semakin berkembang tanpa harus angkat senjata, namun hanya dengan perundang-undangan.
Jika sebagian ustadz tidak bisa ngisi pengajian di sebuah mesjid hanya karena DKM nya simpatisan syiah maka bagimana lagi jika syiah beneran. Apalagi dalam skala yang lebih luas.

10) tidak diragukan bahwa pemilu merupakan fitnah yang menimbulkan pro kontra, maka hendaknya baik yang nyoblos maupun yang golput agar kembali rukun, tidak perlu saling menjatuhkan, toh hanya 9 juli lalu semuanya hanya tinggal menunggu taqdir Allah. Masing-masing telah menunjukan sudut pandangnya, masing-masing telah berdoa dan berijtihad, dan masing-masing berniat baik untuk Islam dan negeri ini.
Semoga Allah memberikan yang lebih baik bagi kaum muslimin Indonesia.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Pemimpin Bodoh Dan Bermental Kerdil

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Said bin Sam’an mengisahkan bahwa dirinya pernah mendengar sahabat Abu Hurairah rahdiaAllahu anhu memohon perlindungan kepada Allah dari pemimpin yang bermental kerdil / kekanak kanakan dan pemimpin pemimpin pandir. (Bukhary dalam Kitab Al Adab Al Mufrad)

Sobat! Kalau anda memilih golput, saya yakin anda dengan ikhlas selalu berdoa agar Allah memilihkan pemimpin yang terbaik buat ummat Islam di negri kita ini. Saya yakin anda bukanlah orang yang malas berdoa, dan hanya hobi mencela.

Dan andai anda akan menggunakan hak suara anda besok hari sebagai ikhtiyar memilih yang paling menguntungkan. Maka saya yakin andapun juga selalu berdoa dengan tulus agar Allah membimbing anda sehingga tepat memilih.

Ya Allah lindungilah kami dan seluruh ummat Islam di negri ini dari pemimpin kerdil lagi pandir.

Ya Allah, lindungilah kami dari pemimpin yang hobi berdusta, kemarin berkata: akan pulang kampung mendidik cucu, namun kini terbukti dusta dan ambisinya.

Perangai Yang Wajib Dijaga Bagi Seorang Yang Berpuasa

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du ;

Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki adab dan etika yang sangat banyak, yang bersifat wajib dan mustahab yang seyogyanya setiap kita menjalankan serta menjaganya.

Diantara adab yang wajib untuk dikerjakan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa adalah mengerjakan serta menjaga sholat wajib lima waktu dan menunaikan nya secara berjamaah di masjid. Sholat lima waktu merupakan rukun islam yang kedua yang lebih didahulukan daripada mengerjakan puasa bulan ramadhan.

Meninggalkan sholat jamaah di masjid mendapatkan ancaman yang keras, bahkan di serupakan dengan orang munafik.

Didalam sohih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu`anhu, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Seberat berat sholat bagi orang munafik adalah sholat isya dan subuh, jikalau sekiranya mereka tahu keutamaan keduanya niscaya mereka akan mendatangi nya walaupun merangkak, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan agar di tegakkan sholat dan aku memerintahkan seseorang agar memimpin nya dan beberapa orang ikut bersama ku berkeliling siapa saja yang tidak mendatangi sholat jamaah maka akan aku bakar rumah rumah mereka.”

Didalam sohih Muslim dari sahabat Ibnu Mas`ud radhiyallahu`anhu berkata, ” Barangsiapa yang berkehendak untuk berjumpa dengan Tuhannya (dalam keadaan diridhoi) maka hendaknya ia menjaga sholat lima waktu tatkala diserukan kumandang adzan, Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan petunjuk-petunjuk sunnah kepada nabi Nya, dan tidak seorangpun yang meninggalkan sholat jamaah kecuali ia adalah seorang munafik yang jelas nifak nya.”

Diantara orang yang berpuasa dijumpai ia tertidur dari mendirikan sholat, dan ini merupakan kemungkaran yang amat besar, maka seyogyanya kita tidak lalai dari mendirikan sholat lima waktu ini.

Apakah Anda Sudah Merasa Jadi Orang ?

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Sobat!

Orang tua kita sering berkata kepada kita disaat kita kecil,”kamu belajar yang rajin ya nak, supaya kamu nanti jadi orang” maksudnya jadi orang sukses.

Ada hal yang harus menjadi keprihatinan kita, bahwa kita kerap memiliki selera & pola pikir yang berbeda dengan keinginan Allah yang telah meciptakan kita.

Manusia selalu mengukur keberhasilan dengan Dunia..

Padahal hal itu sangat keliru

Perhatikan firman Allah,”Ternyata mereka (manusia) sama hinanya dengan binatang bahkan lebih hina darinya.” (QS Al-An’am:6)

Dalam ayat ini, Allah menyatakan manusia tidak mulia karena kejeniusannya, tidak hebat karena jabatannya yang tinggi, tidak juga menjadi luar biasa oleh sebab hartanya yang berlimpah serta tidak ditinggikan harkat martabatnya karena kemuliaan nasab & segala kekuatan yang ada pada dirinya..

Yahudi lebih jenius..
Fir’aun lebih tinggi jabatannya..
Qorun lebih kaya..
Abu lahab lebih mulia nasabnya..
Gajah lebih besar fisik & kekuatannya..

Bila dipikirkan dengan baik, ternyata fakta & dalil menyatakan bahwa semua itu tidak cukup untuk membuat manusia lebih mulia daripada binatang

Tahukah anda apa yang membuat anda menjadi lebih mulia daripada binatang ?

Hanya satu…

Yaitu mengenal Allah, mengetahui apa yang dicintai & dibenci oleh-Nya lalu mengamalkannya.

Allah berfirman,”Allah akan mengangkat derajat orang beriman diantara kalian & yang memiliki ilmu..” (QS Al-Mujadalah:11)

Abdullah ibnul Mubarok pernah ditanya, “kapankah manusia layak disebut manusia (makhluk yang mulia) ?

Beliau menjawab, “disaat ia mengenal Allah & membuktikan hal tersebut sepanjang hidupnya.”

Ya Allah, tambahkan ilmu bagi kami, berilah kami pemahaman agama & muliakanlah kami dengan amal!

Merendahkan Diri Untuk Meninggikan Mutu

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Tawadlu (rendah diri) merupakan akhlak yang sangat mulia. Jika dikerjakan karena Allah maka akan meninggikan derajat di sisi Allah. Semakin seseorang tidak angkuh maka semakin tinggi derajatnya di sisi-Nya.

Akan tetapi ada orang yang merendahkan dirinya di hadapan orang lain dengan tujuan riyaa’, agar orang lain memujinya dan mengenalnya sebagai orang yang tawadlu…, ia ingin meninggikan mutunya di hadapan orang lain dengan pura-pura merendahkan dirinya.

Maka janganlah engkau demikian wahai hamba Allah..!!!.
Tawadhu’ lah engkau dari lubuk hatimu yang paling dalam, dengan penuh kesadaran bahwa tidak ada pada dirimu sesuatu yang patut kau banggakan dan sombongkan, semuanya titipan dan amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

 

Beginilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Menyikapi Nuzulul Qur’an

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?

Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185)

Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan pada suatu anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?
Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas tentang apa yang beliau lakukan.

(كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ) رواه البخاري
“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari).

Demikianlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

)الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ)
Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. ….
Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?

Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.

Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.

Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.

Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.
Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az Zumar 23).

Dan oleh firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfaal 2-4)

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

Menebar Cahaya Sunnah