Menuntut Ilmu Adalah Jihad

Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Abu Darda Radliyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad maka telah berkurang akalnya.” (Jami’ bayanil ‘ilmi hal 60).

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah hasanah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, dan membahasnya adalah jihad.” (Jami’ bayanil ‘ilmi hal. 94).

Al Hafidz ibnu Rajab berkata, “Demikian pula orang yang menyibukkan diri dengan ilmu, ia adalah salah satu dari dua macam jihad. Menyibukkan diri dengan ilmu sama dengan jihad fii sabilillah.” (Jami’ Rosail ibnu Rojab 1/244).

Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata, “Diantara jihad yang paling agung adalah meniti jalan ilmu dan mengajarkannya, karena sibuk dengan ilmu bila niatnya lurus tidak ada amalan yang dapat mengimbanginya. Karena dengan ilmu agama menjadi hidup, orang-orang bodoh menjadi terbimbing, juga seruan kepada kebaikan dan larangan dari keburukan dan kebaikan lain yang amat banyak dimana para hamba selalu butuh kepadanya.”

(Al Fatawa As Sa’diyah hal 45).

View

Inilah Curhatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Yang Wajib Kita Teladani

Ustadz M Wasitho, حفظه الله تعالى

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia biasa yang pernah mengalami sakit, sedih, susah dan menghadapi berbagai problem dakwah. Beliau juga pernah curhat dan berkeluh kesah tentang itu semua. Hanya saja curhatan dan keluh kesah beliau senantiasa diadukan hanya kepada Allah Ta’ala. Beliau menyeru kepada Allah dengan mengatakan:

اللهمّ إليك أشكو ضعف قوّتي، وقلّة حيلتي، وهواني على النّاس، يا أرحم الرّاحمين، أنتَ ربُّ المستضعفين وأنت ربّي، إلى مَن تَكِلُني؟ إلى بعيدٍ يتجهَّمني؟ أم إلى عدوٍّ ملّكتَه أمري؟ إن لم يكن بك غضبٌ عليَّ فلا أبالي، ولكن عافيتك هي أوسع لي…إلخ

“Ya Allah, hanya kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia. Wahai Dzat yang Paling Penyayang, Engkaulah Tuhan orang yang ditindas, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku ini? Kepada orang asing yang akan menyerangku ataukah kepada musuh yang menguasai aku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun afiat-Mu sudah cukup bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi segala kegelapan, dan teratur segala urusan dunia dan akhirat di atasnya, daripada Engkau menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau Engkau murka kepadaku, hanya Kepada-Mu-lah aku tetap merayu sehingga Engkau ridho. Tiada daya (untuk melakukan kebaikan) dan tiada upaya (untuk meninggalkan kejahatan) kecuali dengan (petunjuk dan pertolongan)Mu.” (HR. Ath-Thobrini dalam al-Mu’jam al-Kabir XIII/73, dan derajatnya dinyatakan HASAN oleh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya, VII/267).

(*) Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari hadits ini, dan berupaya untuk senantiasa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dlm perjalanan hidup kita di dunia menuju Allah Ta’ala.

View

Renungan

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Dalam menjalani hidup, kita membutuhkan cara pandang yang mampu menembus batas-batas materi.

Meski mata menatap dunia dengan segala keindahannya, namun hati kita harus melihat jauh kesana, pada keaslian kampung akhirat yang akan menjadi tujuan.

Ini bukan soal panjang dan pendeknya umur atau sedikit banyaknya materi yang kita dapat dari kehidupan, tapi ini murni soal keberkahan dan berapa banyak yang telah kita syukuri dari semua karunia itu.

Karena hidup hanya sesaat…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Rebutan Nama Dan Julukan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Sobat, mungkin anda sering mendengar petuah bijak : di zaman sekarang, tontonan menjadi tuntunan dan sebaliknya tuntunan menjadi tontonan.

Perilaku para pemain senetron, dagelan, bintang film, penyanyi pemain sandiwara oleh banyak orang telah banyak dijadikan sebagai tuntunan sehingga diteladani.

Sedangkan, Al Qur’an dan As Sunnah kini telah diasingkan atau dicampakkan, sehingga hanya berfungsi sebagai tontonan. Karena itu, masyarakat lebih pandai dan bersemangat untuk mengkreasikan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keislaman seseorang hanya diukur dari kreasi seni kaligrafi atau yang serupa yang terpajang di rumah seseorang. Adapun amalan dan keimanan telah jauh jauh hari diabaikan.

Banyak orang hanya puas dengan sebutan dan nama, adapun hakekat dan prakteknya maka telah lama dilupakan.

Sobat! Momentum hadirnya bulan Ramadhan ini sepatutnya menjadi kilas balik bagi kita semua untuk berubah ke arah yang lebih baik. Isi lebih penting dibanding nama dan sebutan. Tidakkah saudara ingat, bagaimana dahulu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh sebagai orang gila, tuang sihir dan penyair. Namun demikian, beliau tidak menghiraukan tuduhan itu, beliau lebih mementingkan pembuktian dengan akhlak beliau yang mulia.

Karena itu, ketahuilah bahwa sampaipun puasa Ramadhan yang sesaat lagi tiba, bisa jadi hanya namanya yang kita dapat, adapun hakikat dan maknanya benar-benar terluput dari genggaman kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع

“Bisa jadi orang yang berpuasa, tiada mendapatkan manfaat dari puasanya selain rasa lapar.” (Bukhari)

View

Surgapun Berdo’a

Ustadz Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Dari Anas bin Malik -rodhiyallohu ‘anhu-, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

من سأل الجنة ثلاث مرّات قالت الجنة : اللّهمّ أدخله الجنة, و من استجار من النار ثلاث مرّات قالت النار : اللّهمّ أجره من النار

“Barangsiapa yang meminta Surga sebanyak tiga kali maka Surga berkata, ‘Ya اللّـﮧ masukkan hamba-Mu itu ke dalam Surga’. Dan barangsiapa yang memohon perlindungan kepada اللّـﮧ dari api Neraka maka Neraka berkata, ‘Ya اللّـﮧ, lindungilah hamba-Mu itu dari api Neraka’.”

[Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah rohimahulloh no. 4340, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohih sunan Ibni Majah no. 4331]

الّلهمّ إنّي أسألك الجنّة و أعوذ بك من النّار

Alloohumma innii as-alukal jannata wa a’uudzu bika minan-naar(i)

Ya اللّـﮧ sesungguhnya aku memohon Surga kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari api Neraka.

Semoga اللّـﮧ memilih saya dan pembaca bbm ini sebagai penghuni Surga-Nya kelak.

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad

View

Jangan Lupakan Persiapan Masuk Liang Kubur..!

Ustadz Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan..sesibuk apapun kita jangan pernah melupakan persiapan untuk masuk liang kubur..cepat atau lambat kematian akan menyapa kita..hanya amal sholeh saja yang mau menemani kita di dalamnya sementara harta yang kita kumpulkan dan keluarga yang kita cintai dan mencintai kita, semuanya akan kembali ke rumahnya.

Dari Anas bin Malik ~rodhiyallohu ‘anhu~, dia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit itu tiga perkara; Dua kembali dan satu yang tinggal. Mayit diikuti keluarga, harta dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya kembali pulang dan yang tinggal adalah amalnya.”

HSR. Bukhori no. 6514 dan Muslim no. 7613

Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda :

أي إخواني! لمثل اليوم فأعدّوا

‘Wahai saudara-saudaraku! Untuk hari seperti ini maka persiapkanlah bekal kalian.'”

[ HR Al-Bukhori dalam kitab at-Taarikh, Ahmad dan Ibnu Majah ~rohimahumulloh~, dihasankan oleh Syaikh al-Albani ~rohimahulloh~ dalam Ash-Shohihah no. 1751]

Semoga اللّـﮧ menyelamatkan penulis dan pembacanya dari akhir umur yang jelek..dan semoga kita termasuk hamba2-Nya yang selamat dunia dan akhirat.

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

View

Tidakkah Anda Khawatir Dengan Harta Anda ?

Al Sofwa
 
Tidakkah anda merasa khawatir, shalat siang dan malam hari anda tidak diterima?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah tidak menerima sholat seseorang yang di dalam perutnya ada makanan haram (al-Kabair, adz-Dzahabi, hal. 120)
 
Tidakkah anda merasa khawatir, sedekah anda dan zakat anda tidak diterima?

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci terlebih dahulu dan Allah juga tidak menerima sedekah dari harta haram” (HR. Ibnu Majah)
 
Tidakkah juga anda merasa khawatir, haji dan umrah anda tidak diterima ?
Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila seorang berangkat untuk menunaikan ibadah haji dengan harta yang halal, saat dia menginjakkan kakinya ke atas kendaraan, ia menyeru, “Labbaikallahumma labbaik”, maka ada yang menyeru dari langit, “Diterima hajimu dan engkau berbahagia, bekalmu berasal dari harta halal, kendaraanmu dibeli dari harta halal, dan hajimu mabrur dan diterima. Dan apabila ia berangkat dengan harta haram, saat dia menginjakkan kakinya ke atas kendaraan, ia menyeru, “ Labbaikallahumma labbaik”, maka ada yang menyeru dari langit, “ Tidak diterima kedatanganmu, dan engkau tidak mendapatkan kebahagiaan, bekalmu berasal dari harta haram, biaya hajimu dari harta haram dan hajimu tidak mabrur”. (HR. Thabrani)
 
Tidakkah Anda merasa ngeri mendengar kabar yang pernah disampaikan oleh nabi Anda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
 
  كل جسد نبت من سحت فالنار أولى به
 
“Setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka Neraka lebih berhak menyantapnya (HR. al-Baihaqiy di dalam Syu’abul Iman, Syaikh al-Albani di dalam Shohih al-Jami’, no.4519 berkata : Shohih).
 
View

Nikmat Allah Itu Ada Tiga

Ustadz Jafar Salih, Lc, حفظه الله تعالى

Nikmat Allah itu ada tiga:

– nikmat yang didapati si hamba dan ia menyadarinya

– nikmat yang dinanti dan diharapkan kedatangannya

– dan nikmat yang didapat si hamba tapi ia tidak menyadarinya.

Apabila Allah ingin menambah nikmat-Nya kepada si hamba, Dia perkenalkan pada hamba-Nya nikmat-Nya yang pertama. Kemudian dijadikan si hamba ini mensyukurinya sehingga dengan syukur ini terikatlah nikmat tadi dan tidak pergi. Karena nikmat itu pergi dengan sebab kemaksiatan dan bertahan dengan sebab mensyukurinya.

Kemudian Allah membimbingnya untuk mengerjakan amalan yang mengundang datangnya nikmat yang kedua, yaitu nikmat yang ia nantikan kedatangannya. Dan Allah tunjuki padanya jalan-jalan yang menghalangi datangnya nikmat ini sehingga ia pun menjauhinya. Sehingga datanglah nikmat kedua ini kepadanya dengan sempurna. Kemudian Allah memperkenalkan kepadanya nikmat-nikmat yang sebelumnya tidak disadari olehnya.

Ibnul Qayyim dalam Al Fawaaid

View

Laa Adri !! (Saya Tidak tahu)

Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sebuah perkataan yang semestinya tidak ragu-ragu untuk diucapkan seorang muslim tatkala ditanya tentang permasalahan agama yang ia tidak mengetahui atau ragu akan jawabannya. Tidak perlu ia mutar kanan..mutar kiri hanya karena malu untuk mengucapkannya.

Sungguh seorang ulama besar sekelas Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad betapa sering saya mendengarnya mengucapkan Laa Adri. Padahal beliau mengucapkannya dihadapan banyak orang..di mesjid Nabawi…padahal pertanyaan yang beliau tidak tahu tersebut seandainya ditanyakan kepada sebagian kita maka dengan segera akan menjawabnya tanpa ragu dan penuh PeDe. Akan tetapi beliau tidak mau menjawab kecuali di atas ilmu dan keyakinan, jika beliau ragu maka beliau tidak malu dan tidak segan untuk mengatakan Laa Adri.

Belasan tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada seorang ustadz :”Mana yang lebih dahulu Imam Malik ataukah Imam Abu Hanifah?”

Maka sang ustadz berkata : “Lebih dahulu apanya, lahirnya atau wafatnya?”

Saya berkata : “Terserah ustadz deh, mau lahirnya atau wafatnya.”

Sang ustadz berkata : “Kalau lahirnya saya tidak tahu, adapun wafatnya…hm hm, saya juga tidak tahu.” Hatiku berkata, “Kenapa tidak dari awal bilang saja tidak tahu, jadi tidak perlu ngalor ngidul dan memerinci tanpa faedah.”

Saya jadi teringat dengan sebuah lelucon :

Paijo bercerita :” Saya punya tiga ekor sapi, warta putih, hitam, dan coklat. Yang putih dan hitam saya keluarkan untuk digembalakan pada jam 8 pagi. Adapun yang coklat…juga saya keluarkan untuk digembalakan pada jam 8 pagi. Pada jam 5 sore, yang putih dan hitam saya masukan dalam satu kandang, adapun yang coklat…maka saya masukan juga kedalam kandang yang sama dengan yang putih dan hitam. Yang putih dan hitam saya perah susunya pada jam 10, adapun yang coklat juga saya perah susunya pada jam 10.”

Paimen komentar : “Wahai Paijo, kenapa kamu perinci dan kamu bedakan antara sapi putih dan hitam dengan sapi coklat? wong semuanya sampean perlakukan sama saja !!.”

Paijo menimpali : “Saya perinci karena sapi putih dan hitam adalah sapi milik saya.”

Paimen bertanya: “Emang yang coklat milik siapa?”

Paijo menjawab: “Adapun sapi yang coklat…juga sapi milik saya !!!”

Sebagian orang terpancing untuk mudah menjawab pertanyaan yang diajukan karena kasihan melihat kondisi orang yang bertanya…akan tetapi hendaknya ia ingat dan kasihan dengan kondisinya kelak pada hari kiamat jika ia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas fatwanya yang ngawur dan tanpa ilmu.

Dan ingatlah pula bahwasanya jika ia salah berfatwa maka dosa pelakunya akan ditanggung olehnya !!!

View

Meninggalkan Dosa

Ustadz Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Seorang yang paham, tidak menyuruh manusia meninggalkan dunia. Karena mereka tidak akan mampu meninggalkannya.

Tapi orang yang paham akan menyuruh manusia meninggalkan dosa. Karena meninggalkan dunia adalah keutamaan, sedangkan meninggalkan dosa adalah kewajiban. Maka bagaimana bisa seseorang diajak kepada keutamaan, sedangkan dia masih sulit menunaikan kewajiban?!

Apabila sulit bagi mereka meninggalkan dosa, cobalah dengan menjadikan mereka cinta kepada Allah. Yaitu dengan mengingatkan mereka akan karunia-karunia Nya, nikmat-nikmat Nya, kebaikan-kebaikan Nya dan sifat-sifat Nya yang sempurna dan agung. Karena hati-hati manusia tercipta untuk mencintai-Nya. Sehingga kapan hati telah terikat dengan Allah, mudah baginya meninggalkan dosa-dosa.

Yahya bin Muadz pernah berkata: Orang yang berakal yang mencari dunia lebih baik daripada orang jahil yang meninggalkannya.
(Ibnul Qayyim dalam Al Fawaaid)

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Menebar Cahaya Sunnah