Kedua Orangtua Penghafal Al Qur’an Mendapat Kemuliaan

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.

Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.

Keduanya bertanya :
“Mengapa kami dipakaikan jubah ini..?”

Dijawab :
“Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an”.
[HR. Al-Hakim]

Mari kita ajari anak-anak kita dalam menghafal dan mempelajari Kitabullah…

Siapa sangka besok bangun dari kubur kita bisa memakai jubah..

Semoga bermanfaat.. !

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Musang Berbulu Domba

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Pepatah di atas adalah petuah bijak yang diwariskan oleh nenek moyang kepada kita. Harapannya, kita menjadi generasi penerus yang waspada dan bijak, sehingga cerdik dalam menghadapi segala kondisi.

Betapa sering, maling berteriak maling, penjahat menangis sendu meminta iba. Bahkan dalam banyak kesempatan penjahat melalui tetesan air mata buayanya, terus melancarkan kejahatannya dan memangsa korbannya yang lugu. Benar-benar bak buaya sang pembunuh kejam berdarah dingin.

Tidakkah anda ingat bagaimana dahulu iblis atau setan mengesankan dirinya sebagai pemberi nasehat yang patut dipercaya, sehingga Nabi Adam Alaihissalam bersama istri nya terperdaya dan terperangkap dalam makarnya. Allah Taala berfirman:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ

“Lalu setan membisikkan kepadanya (Adam) dan berkata: sudikah engkau aku tunjukkan kepada satu pohon abadi dan kerajaan yang tiada pernah sirna ?” (Thaha 120)

Pada ayat lain, Allah berfirman:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Setan bersumpah kepada keduanya: sungguhlah aku adalah pemberi nasehat untuk kalian berdua.” (Al A’araf 21).

Di sisi lain, betapa banyak korban kejahatan dengan tegar dan tabah menerima kenyataan. Walau terjatuh, mereka segera bangkit dan kembali mengobarkan semangat juangnya. Berbekalkan jiwa besarnya, mereka memetik pelajaran dari segala yang menimpanya, menyesali, bertaubat dan tidak hanyut dalam budaya mengkambing hitamkan musuh. Demikianlah teladan yang dicontohkan oleh Nabi Adam alaihissalam, sebagaimana dikisahkan pada ayat berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Adam dan istrinya berdoa: wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri, dan jikalau Engkau tidak mengampuni kami dan menyayangi kami, pastilah kami menjadi orang orang yang merugi.” (Al A’raf 23)

Sobat! Ketahuilah bahwa seburuk apapun musuh anda, bila anda selalu waspada, cerdik dan kuat niscaya musuh dapat dikalahkan, telebih bila anda senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla. Namun sebaliknya selemah apapun musuh anda, bila anda memang lemah, lengah dan ceroboh niscaya anda kalah.

Pelajaran, ini dapat saya rasakan dari sikap Bapak Prabowo pada debat CAPRES CAWAPRES, yang masih saja dikorbankan dan terus dituduh sebagai penjahat HAM, namun demikian, beliau berjiwa besar dan terus berusaha membangun kekuatan diri bukan sibuk mengungkit kelicikan musuh dan lawannya. Sepatutnya kita meneladani sikap besar tersebut, sebagaimana diisyaratkan pada ayat berikut:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Dan sungguhlah orang yang bersabar dan memaafkan, sejatinya sikap tersebut benar benar bagian dari sikap besar (terpuji).” (As Syura 43).

Ref: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=646260702121773&id=405218379559341&refid=17

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

10 Sebab Matinya Hati Manusia

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

قلوبنا ماتت بعشرة أشياء

Hati kita mati disebabkan 10 hal:

1. عرفنا الله ولم نؤد حقه

1. Kita tahu bahwa Allah itu ada, tapi tidak melaksanakan hak-Nya.

2. وقرأنا كتاب الله ولم نعمل به

2. Kita membaca al-Qur`an, tapi tidak mengamalkannya.

3. وادعينا محبة رسول الله (صلي الله عليه وسلم) وتركنا سنته

3. Kita mengaku cinta Rasulullah صلى الله عليه وسلم , tapi meninggalkan sunnahnya.

4. وادعينا معاداه الشيطان ووافقناه على ما غوانا

4. Kita mengaku setan itu musuh kita, tapi kita mengikuti rayuannya.

5. وقلنا نحب الجنة ولم نعمل لها

5. Kita menginginkan surga, tapi tidak berusaha mendapatkannya.

6. وقلنا نخاف النار ووهبنا أنفسنا لها

6. Kita takut neraka, tapi justru kita menyerahkan diri kita untuknya.

7. وعلمنا أن الموت حق ولم نشق له

7. Kita tahu bahwa kematian adalah pasti, tapi kita tidak mempersiapkannya.

8. وانشغلنا بعيوب الناس ونسينا عيوب أنفسنا

8. Kita sibuk dengan aib orang lain, tapi melupakan aib diri sendiri.

9. وأكلنا نعم ربنا ولم نشكر له

9. Kita menikmati karunia Allah, tapi tidak mensyukurinya.

10. ودفنا موتانا ولم نعتبر

10. Kita ikut mengubur saudara-saudara kita yang telah mati, tapi tidak bisa mengambil pelajaran.

أستغفر الله ..أستغفرالله..أستغفرالله..

View

Mensikapi Perbedaan Dalam Memilih Pemimpin

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Pemilu.. oo.. pemilu.. sungguh engkau cukup membuat pilu.. membuat pilu dikalangan kaum muslimin. Pemimpin.. pemimpin itu adalah yang menuntukan arah jalan yang dipimpin, apakah dia membawa kita kepada surga atau malah kepada neraka waliyadzubillah.

Memang demokrasi bukanlah dari islam namun bagaimanakah kita menghadapi dan menyikapi jika hal itu bertabrakan dengan kita ?

Saksikan video penjelasannya oleh Ustadz Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

KLIK:
http://www.youtube.com/watch?v=Q4VaMDE5yKk

Semoga bermanfaat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Sejernih Kaca

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wa sholatu wa salamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Manusia berharkat dan bermartabat jika ia mampu menjaga hati dan lisan, karena hati diibaratkan sebagai pengembala terhadap anggota badan lainnya yang diibaratkan sebagai peliharaan yang harus dijaga, jika ia baik maka seluruh gembalaan nya akan baik.

Demikian lisan, jika hati dan lisan nya baik, ia akan menjadi manusia yang paling baik, dan sebaliknya jika hati dan lisan-nya buruk maka menjadilah ia manusia yang paling buruk dan keji.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari ditanya, siapakah manusia yang paling baik? Maka bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Manusia yang paling baik adalah manusia yang berhati bersih dan lisan yang jujur.”

Kemudian ditanya, bagaimana hati yang bersih itu? Maka dijawab, “Yaitu hati yang bertakwa lagi suci, yang tidak melakukan dosa, kedengkian dan hasad.” (HR Ibnu Majah dan Baihaki, shohih Ja’mik no 3291).

Dikisahkan dari Ko’lid Ar-Rabi’iy, “Lukman dahulu adalah seorang hamba sahaya dari habasyah, tatkala majikannya memerintahkan agar menyembelih se-ekor domba maka ia pun menyembelihnya, maka majikannya meminta agar menyuguhkan dua bagian yang paling istimewa dari daging domba tersebut, maka diberikanlah hati dan lisan dari domba tersebut, dan dalam beberapa waktu yang cukup lama majikannya memerintahkan lagi untuk menyembelih se-ekor domba, dan meminta agar menyisihkan bagian dari sembelihannya bagian yang paling buruk yang tidak pantas untuk dimakan, maka ia pun menyisihkan hati dan lisan dari sembelihan tersebut, maka majikan bertanya, “Dahulu aku perintahkan agar memberikan bagian dari hewan sembelihan yang paling baik maka engkau memberikan hati dan lisannya, sekarang aku perintahkan agar menyisihkan bagian yang paling tidak layak maka engkau menyisihkan hati dan lisan, bagaimana dengan ini?”

Maka Lukman berkata, “Sesungguhnya tiada bagian yang paling baik dari tubuhnya melainkan keduanya (hati dan lisan) jika ia baik, dan tiada bagian yang paling buruk melainkan keduanya-hati dan lisan – jika ia buruk.” (Tafsir At-Tobary 21/ 67_68).

Sesungguhnya bahagia dan sengsaranya seorang hamba dlm masa kehidupan dan setelah kematiannya, terletak pada hati manusia, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Ketahuilah, didalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, jika baik maka seluruh badannya baik, dan jika ia buruk, maka seluruh tubuhnya buruk, ketahuilah ia adalah hati.” (HR Bukhary dan Muslim).

Hati merupakan pusat kendali bagi amal, karena disana tersimpan niyat manusia, jika niatnya tidak baik, niscaya Allah tidak akan menerima amalnya. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal manusia bersandar kepada niatnya, dan seseorang akan mendapat sesuai yang ia niatkan.” (HR Bukhary dan Muslim).

Hati merupakan pusat pandangan Allah terhadap para hamba Nya, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tid*k melihat pada tampang rupa dan harta kalian, akan tetapi melihat pada hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Hati merupakan sarang besemayamnya ketakwaan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya takwa berada disini,” sambil memberikan isyarat kedadanya tiga kali. (HR Muslim).

Hati yang bersih adalah takwa, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hati yang bening adalah yang bertakwa lagi bersih yang tidak menyimpan dosa, dengki, iri, kedhaliman dan hasad.” (HR Baihaki dan Ibnu Majjah)

Laporan Penerimaan Dana Program Ta’awun

Bismillah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu

Alhamdulillah, “Program Ta’awun” telah berjalan. Dalam program ini para donatur yang mendaftarkan diri, mendonasikan sejumlah dana tetap setiap bulannya secara ikhlas, yang akan digunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang miskin, dalam bentuk dana dan/atau sembako.

Dana yg masuk per Senin 9 juni 2014 sebesar Rp. 7.121.448

Program pertama telah didistribusikan ke 33 penerima berupa sembako senilai Rp. 2.94 juta di daerah Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur.

Bagi yang ingin bergabung dan menjadi donatur tetap dalam program ini, mohon kirim data sebagai berikut:
* Nama
* Email address
* No Hp yang bisa dihubungi
* pin BB
* Nilai donasi per bulannya
Kirim ke.: +6281280414886
PIN BB. : 2758CCC5

* No rekening program taawun:
748-000-444-7
a/n Al Ilmu Ta’awun
Bank Syariah Mandiri ( BSM )
Kode Bank 451 .

* Sumbangan berupa barang (sembako) kirim ke alamat :
Jl Batas 1 no 40 rt 02 rw 03 Kalisari Jakarta Timur.
PIC : +6281311305100

Kami akan mengirimkan pesan (reminder) ke masing-masing donatur 1-2 hari sebelum akhir bulan via BB atau SMS.

Sedangkan laporan penerimaan dan pengeluaran akan dilaporkan secara berkala setiap bulannya melalu media yang sama, in-syaa Allah.

Semoga Allahu Ta’ala meridhoi program ini dan menjadikannya wasiilah amal kebaikan bagi kita semua di akhirat kelak.

أميــــن يــارب العـالــمي

بارك الله فيكم

View

Ngeyel

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Pepatah Arab:

: عَنْزَة وَلَوْ طَارَتْ

“Kambing meskipun terbang !!!”

Dikisahkan bahwasanya ada dua orang arab yang melihat seekor hewan dari kejauhan, yang pertama berkata : “Itu adalah kambing,” yang kedua berkata : “Itu adalah burung.”

Akhirnya keduanya mendekati hewan tersebut, ternyata hewan tersebutpun terbang, maka yang kedua berkata : “Bukankah telah saya katakan itu adalah burung !!.”

Maka yang pertama dengan PeDe nya dan NGEYELnya berkata : “Itu adalah kambing meskipun terbang.”

Sikap ngeyel sering menimpa dua golongan manusia :

PERTAMA : Orang Pintar yang ujub. Dia merasa pendapatnyalah yang terbaik, ide-nyalah yang terbagus, sehingga tidak menghargai pendapat orang lain. Akhirnya jika telah nampak bahwa pendapatnya salah dan keliru ia akhirnya ngeyel mempertahankan pendapatnya. Waspadalah jangan sampai anda terjangkiti sikap ngeyel yang menunjukan anda telah terjangkiti penyakit ujub

KEDUA : Orang bodoh tapi merasa pintar. Ia merasa pendapatnya benar, dan ia ngeyel mempertahankannya, padahal semua orang pintar tahu bahwasanya ia telah keliru. Kebodohannyalah yang membuat ia merasa benar dan pintar sehingga iapun ngeyel. Ia bodoh kalau ia adalah orang bodoh. Waspadalah jangan sampai anda ngeyel karena kebodohan anda.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Sholat Di Perempatan Jalan, Bolehkah ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Sobat! Menurut hemat anda, benarkah sikap seorang muslim yang mendirikan sholat wajib atau sholat sunnah di tengah-tengah jalan yang padat dilalui kendaraan? Orang tersebut sholat dengan khusyu’ dan memenuhi seluruh syarat, rukun, wajib-wajibnya. Akibat dari perbuatannya mendirikan sholat di tengah jalan tersebut, lalu lintas terganggu dan terjadi kemacetan parah.

Saya yakin, walaupun anda adalah seorang muslim yang taat beragama, dan rajin sholat, anda pasti menyalahkan bahkan membenci perilaku orang tersebut. Terlebih bila anda adalah satu korban kemacetan yang diakibatkan oleh orang tersebut.

Pertanyaan di atas hanyalah sekedar ilustrasi untuk menggambarkan bahwa dalam beribadah, sepatutnya anda memperhatikan kenyamanan orang lain di sekitar anda. Jangan sampai ibadah anda mengganggu atau merugikan orang lain. Karena bila anda mengganggu dengan ibadah anda, niscaya masyarakat dapat saja membenci agama atau minimal ibadah anda.

Dan bila mereka membenci agama atau ibadah anda, bisa jadi mereka menjauh dari agama dan ibadah anda.

Sahabat Abu Said Al Khudri mengisahkan: suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’itikaf. Tiba-tiba beliau mendengar suara para sahabat yang sedang sholat sunnah dengan suara bacaan yang keras. Mendengar suara yang gaduh tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ألا إن كلكم يناجي ربه، فلا يؤذين بعضكم بعضا، ولا يرفعن بعضكم على بعض في القراءة في الصلاة

“Ketahuilah, bahwa kalian semua sedang bermunajat dengan Tuhannya, karena itu janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian lainnya. Janganlah sebagian kalian mengeraskan suara bacaan shalatnya, sehingga mengganggu sebagian lainnya.” ( Abu dawud dan lainnya).

Bila sesama orang yang sedang sholat tidak boleh saling mengganggu, bagaimana halnya dengan orang yang membaca sholawatan atau yang semisal sampai mengganggu orang yang sholat sunnah atau berdoa atau berdzikir ?

Ref:  https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

View

Menebar Cahaya Sunnah