Tj Shadaqah Barang Yang Belum Lunas

110. Tj – 321

Pertanyaan:
afwan ustadz, ana mau bertanya…bgm klo kita mau bersedekah tetapi barang yg kita mau sedekahkan barang yg diutang,apakah bisa atau bgm ,mohon saran dan masukannya..ﺷﻜﺮﺍﹰ

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Barang utang tidak boleh disedekahkan. Karena masih berhubungan dengan pihak pemilik barang.

———————————————

Tj Men-jahar-kan Surat Al Faatihah Dan Surat Lainnya Dalam Shalat Sunnah Rawatib

108. Tj – 235

Pertanyaan:
Ustad?ana mohon jawaban ustad? apa boleh pada saat shalat sunnah rawatib dirumah? kita jaharkan dan nyaringkan bacaan alfatihah dan surah dalam rangka dan niat utk melancarkan hafalan? krn ana takut bid’ah ?
بارك الله فيكم وجزاكم الله

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc,

Perbuatan ini tidak mengikuti sunnah, jadi tinggalkan.

———————————————

ROJA’ / BERHARAP

Roja’ artinya berharap nya hati untuk menanti apa yang dicintai disisinya.
Jikalau harapan tersebut tanpa sebab musabab, maka berarti ia sedang tertipu dan kepandiran lebih tepat untuk nya. Sebagaimana dalam ungkapan sya’ir, “Engkau berharap tercapainya keberhasilan sedang dirimu tidak menjalani sebab -sebabnya. Sesungguhnya suatu bahtera tidak akan berlayar di pasir yg kering”.

Demikian juga, jikalau sesuatu yang diharapkan tersebut dipastikan terjadi, maka ini bukanlah harapan, sebagaimana ucapan seseorang, “Aku berharap terbitnya matahari”. Akan tetapi ucapan yang tepat, “Aku berharap hujan turun”.
Ia katakan disaat ia melihat mendung di langit.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad dijalan Allah, merekalah orang-orang yang sesungguhnya berharap kepada rahmat Allah سبحانه وتعالى dan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS Al Baqoroh 218)
Ayat diatas menunjukkan sesungguhnya mereka-merekalah yang berharap rahmat Allah. Dan barang siapa yang harapannya membawa ketaatan dan menjauh dari maksiat, maka harapan tersebut adalah benar dan sebaliknya jika mengiring kearah maksiat, menjauh dari ketaatan maka harapan tersebut adalah tipuan belaka.

Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Adab Menyebut Nama Bila Tuan Rumah Menanyakannya

Diantara adab seorang tamu menyebutkan namanya apabila tuan rumah menanyakan “siapa?” Dan tidak cukup bagi tamu menjawab “aku”.

Ikhwan dan akhwat sekalian yang kami hormati diantara perkara atau adab seorang muslim dan muslimah yang perlu diketahui ialah ketika mereka meminta izin untuk bertamu atau seseorang yang menelpon seseorang yang dia tuju, maka apabila tuan rumahnya atau orang yang dituju menanyakan “siapa?” maka dia harus menyebutkan namanya dengan jelas….
dan tidak cukup baginya menjawab “aku” atau “ana ikhwan” atau “ana akhwat” tanpa menyebutkan namanya. Yang demikian, dengan menyebutkan namanya berarti mereka telah mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnahnya para sahabat.

Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir radhiallahu’anhu, dia berkata,
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي فَدَقَقْتُ الْبَابَ فَقَالَ مَنْ ذَا فَقُلْتُ أَنَا فَقَالَ أَنَا أَنَا كَأَنَّهُ كَرِهَهَا

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau
bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku
menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR Muslim 2155)

Hadits ini menunjukkan seorang tamu menyebutkan namanya dengan jelas apabila tuan rumahnya menanyakan siapa yang datang. Dan tidak boleh bagi tamu menjawabnya dengan kalimat “aku” atau “saya”, “ikhwan” atau “akhwat”. Tanpa menyebutkan namanya dengan jelas.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Ilmu Sebelum Berbicara dan Beramal

Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Dalam kitab shahihnya, Imam Bukhari mengatakan:

بَابٌ العِلمُ قَبلَ القَولِ وَالعَمَلِ
 
“Bab: Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan”
(Shahih al-Bukhari, kitab: al-Ilmu, bab al ilmu qabla al-qoul wa al amal)
 
Ucapan Imam Bukhari ini telah mendapatkan perhatian khusus dari para ulama. Karena itu, perkataan beliau ini banyak dikutip oleh para ulama setelahnya dalam buku-buku  mereka. Imam Bukhari berdalil dengan firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغفِرْ لِذَنبِكَ
 
“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mintalah ampunan untuk dosamu” (QS. Muhammad: 19)
 
Di ayat ini, Allah memulai perintahnya dengan: “ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak disembah selain Allah”, yang ini merupakan perintah untuk mencari ilmu. Kemudian Allah sebutkan amal yang sangat penting yaitu istighfar, sebagaimana Allah sebutkan di lanjutan ayat, yang artinya: “….mintalah ampunan untuk dosamu.”.
Ketika menjelaskan hadis ini, al-Hafidz al-Aini dalam kitab syarh shahih Bukhari mengutip perkataan Ibnul Munayir berikut:
 
Yang beliau maksudkan bahwasanya ilmu adalah syarat sah ucapan dan perbuatan.       
Ucapan dan perbuatan tidak akan dinilai kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu, ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Karena ilmu yang akan men-sahkan niat, dan niat adalah yang men-sahkan amal.
(Umdatu al-Qori, Syarh Shahih Bukhari, al-Hafidz al-Aini, jilid 2, hal. 476).

http://m.klikuk.com/ilmu-sebelum-berbicara-dan-beramal/

Tj Fatwa Ibnu Qayyim Rahimahullah Mengenai Onani/Masturbasi

107. Tj – 235

Pertanyaan:

ustadz, Ana mau tanya tentang ini Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Badai’ul Fawaid: Pasal Tentang Istimta’ (onani): “Jika seorang wanita tidak bersuami yang syahwatnya memuncak, maka sebagian ulama kami berkata, “Boleh baginya mengambil kulit lunak yang
berbentuk batang dzakar atau mengambil ketimun atau terong berukuran mini lalu ia masukkan ke dalam (ma’af) kemaluannya.” [Badai’ul Fawaid juz 4 hal. 1471-1472]. Bagaimana hukumnya ?

Jawaban:

1) Mengenai Pasal Onani dalam kitab Badai’ul Fawaid, yang kami ketahui ini salah satu fitnah yang disebarkan kaum Syi’ah untuk mencela Ahlus Sunnah dengan menyebarkan berbagai kedustaan murahan kepada kaum muslimin awam. Apa yang mereka sebarkan merupakan bagian dari Fatwa Syaikhul Islam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah yang telah dipotong (tidak utuh) untuk disajikan kepada kita.

Inilah nukilan (perkataan Al-’Allamah Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Badai’u Fawa’id, -admin) selengkapnya meskipun hanya sebagian…

إذا قدر الرجل على التزوج أو التسري‎ ‎حرم عليه الاستمناء بيده . قال ابن‎ ‎عقيل : قال : وأصحابنا وشيخنا لم‎ ‎يذكروا سوى الكراهة لم يطلقوا‎ ‎التحريم . قال : وإن لم يقدر على ز…‏‎ ‎وجة ولا سرية ولا شهوة له تحمله على‎ ‎الزنا حرم عليه الاستمناء ، لأنه‎ ‎استمتاع بنفسه والآية تمنع منه ، وإن‎ ‎كان متردد الحال بين الفتور والشهوة‎ ‎ولا زوجة له ولا أمة ولا ما يتزوج به‎ ‎كره . ولم يحرم وإن كان مغلوباً على‎ ‎شهوته يخاف العنت كالأسير والمسافر‎ ‎والفقير جاز له ذلك نص عليه أحمد .‏‎ ‎وروي أن الصحابة كانوا يفعلونه في‎ ‎غزواتهم وأسفارهم وإن كانت امرأة لا‎ ‎زوج لها ، واشتدت غلمتها فقال بعض‎ ‎أصحابنا : يجوز لها اتخاذ الأكرنبج‎ ‎وهو شيء يعمل من جلود على صورة الذكر‎ ‎فتستدخله المرأة أو ما أشبه ذلك من‎ ‎قثاء وقرع صغار . قال : والصحيح عندي‎ ‎أنه لا يباح ، لأن النبي صلى الله‎ ‎عليه وسلم إنما أرشد صاحب الشهوة إذا‎ ‎عجز عن الزواج إلى الصوم . ولو كان‎ ‎هناك معنى غيره لذكره . وإذا اشتهى‎ ‎وصور في نفسه شخصاً أو دعي باسمه .‏‎ ‎فإن كان زوجة أو أمة له فلا بأس إذا‎ ‎كان غائباً عنها‎

artinya :
Jika seorang laki-laki mampu untuk menikahi atau melakukan persetubuhan dengan budak maka haram baginya untuk melakukan onani dengan tangannya, telah berkata Ibnu Uqail, dan telah berkata sebagian sahabat-sahabat kami dan guru-guru kami bahwa mereka tidak menyebutkannya selain dibencinya hal itu walaupun mereka belum memutlakkan pengharamannya, dan berkata lagi, jika tidak mampu untuk menikah atau dengan budak yang dimiliki maka janganlah ia membiarkan syahwatnya menggiringnya kepada perzinahan dengan sebab onani itu, karena hal itu termasuk perkara yang mempermainkan nafsu dan ayat melarang dari berbuat demikian, …….. -(((((((((((( dan diriwayatkan dari sebagian shahabat bahwasanya mereka melakukan (onani) ketika mereka berperang dan safar dan bagi seorang perempuan yang tidak memiliki suami, dan jika nafsunya memuncak maka berkata sebagian sahabat kami, boleh bagi mereka (perempuan) untuk mengambil kulit lunak yang berbentuk batang dzakar atau mengambil ketimun atau terong berukuran mini lalu ia masukkan ke dalam))))))))))))))), dan berkata dalam hal ini: yang shohih bahwa hal ini di sisi kami tidak boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menganjurkan shoum kepada mereka yang merasakan syahwat jika tidak mampu untuk nikah, walaupun di sana ada makna selain yang telah disebutkan, ……….. (selesai, dan hanya diterjemahkan sebagian saja)

Kedustaan dan kebodohan dari penukilan ini (semoga Allah memberikannya hidayah):

1. Menisbatkan perkataan ini kepada Imam Ibnul Qoyyim

2. Tidak mengetahui penggunaan kata ruwiya, itu adalah bentuk penukilan dengan isyarat akan lemahnya nukilan tersebut

3. Tidak menyebutkan penjelasan secara utuh dan hanya memotong sebagian kalimat

4. Tidak menjelaskan perincian dari Imam Ibnul Qoyyim terhadap perkara istimna’ pada perempuan bahwasanya beliau menjelaskan perkara ini tidak boleh,

5. Membuat opini kepada para pembaca bahwa Ibnul Qoyyim-lah yang membolehkan perkara ini, padahal ini hanya berupa kutipan dan telah dijawab sendiri oleh Imam tentang perkara yang seharusnya (yaitu shoum bagi mereka yang belum mampu nikah, karena membiarkan diri membiasakan untuk memperturutkan hawa nafsu akan menggiring kepada perzinahan).

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/02/26/inilah-kedustaan-syiah-bantahan-atas-artikel-fikih-porno-ala-wahhabi-khusus-buat-para-akhwat-dan-ummahat-berfaham-salafy/

2) Mengenai hukum Onani sendiri, selain yang telah disampaikan oleh Ibnu Qayyim (secara utuh), berikut ini adalah fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin :

Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Al-Qur’an mengatakan.

“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampui batas” [Al-Mu’minun : 5-7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.

Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As-ilah Muhimmah Ajaba ‘Alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]

http://almanhaj.or.id/content/1431/slash/0/kebiasaan-tersembunyi-onani-terjerat-kebiasaan-onanimasturbasi/

 

Tj Pakaian Isbal Bukan Karena Sombong

106. Tj – 271

Pertanyaan:
Ana pernah denger di kajian muhammadiyah,katanya kain yg panjang itu memang disebut sombong namun pada zaman rasul dan di lingkungan mereka,sedangkan disini tidak,gimana ustad?

Jawaban:
Para ulama telah sepakat bahwasanya isbal itu haram jika dilakukan karena sombong.
Akan tetapi mereka berselisih pendapat jika isbal dilakukan bukan karena sombong. Mereka menyatakan bahwa isbal tanpa kesombongan hukumnya makruh (dibenci oleh Allah).

Pendapat yang lebih kuat bahwasanya hukumnya adalah haram meskipun tanpa kesombongan, dan semakin bertambah keharamannya jika disertai dengan kesombongan.

Untuk pembahasan tuntas masalah haram/makruh isbal, silahkan buka link berikut:
http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/273-isbal-no-apa-sih-susahnya-wong-tinggal-ninggikan-celana-sedikit-kan-masih-tetap-keren

Untuk mereka yang tetap bersikukuh isbal, mohon dipertimbangkan hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam ujung baju dan sarung beliau hingga tengah betis padahal dia adalah orang yang paling bertakwa dan paling jauh dari kesombongan bahkan beliau tawadlu kepada Allah dengan memendekkan baju dan sarung beliau hingga tengah betis dan beliau takut ditimpa kesombongan serta ujub, maka mengapa kita tidak meneladani beliau??

والله أعلم بالصواب
———————————————

Tj Memimpin Doa Bersama

105. Tj

Pertanyaan:
Assalamu’alaykum,, Ustadz,, ana mau tanya ketika ana diminta untuk memimpin doa (yang diaminkan secara
bersama-sama) dalam suatu kunjungan,, apakah hukumnya, dan ada tidak doa yang disyariatkan?

Jawaban:

Berdoa bersama kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada 2 keadaan:
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”
Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

http://www.konsultasisyariah.com/apa-hukum-doa-dan-dzikir-secara-berjamaah/

 

 

——————

Menebar Cahaya Sunnah