Seorang Istri Ditanya…

Ust. Naharudin Syuuhada LC, حفظه الله تعالى

*** Apa yang membuat suami mencintaimu ? Seolah pandangan nya hanya untukmu.. Padahal diluar sana banyak wanita yang lebih cantik darimu..

“Iyaa, bisa jadi aku bukanlah wanita tercantik, bukan juga wanita terindah..
Hanya saja aku selalu maafkan bila ia lukaiku..
Selalu dengarkan setiap kali datang dengan masalah..
Selalu memujinya bila memberiku nafkah berlebih..
Dan merasa terpenuhi dengan nafkah yang sedikit..

Begitu lah Robb-ku mengajarkan ku..

Cintaku tak terputus..
Dan.. Taatku tak tercegah..

Sekalipun aku memanen duri, aku akan terus menanam mawar..”

By Ust. Naharudin Syuuhada LC

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Mau Masuk Surga ?

Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillaah..wa ba’du!

Saudaraku seislam yang saya cintai, kalau kita ditanya, ‘Mau masuk Surga?’. Ga pake mikir lagi, kita pasti menjawabnya ‘Mauuuuuuu!’.

Nah betul, kan?!

Akan tetapi, meskipun banyak orang yang bilang ‘mau’ saat ditanya demikian, pada kenyataannya kebanyakan mereka malah menunjukkan ‘tidak mau’ untuk masuk Surga.

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ  مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat berkata ; “Ya Rosululloh, siapakah yang enggan masuk surga itu?” Beliau bersabda : “Barangsiapa yang mentaatiku, dia masuk surga. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku/tidak mentaatiku maka itulah orang yang enggan masuk surga.”[ HSR. Al Bukhori no. 7280]

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk bertauhid dan melarang mereka dari syirik, kenyataannya betapa banyak di kalangan mereka -kecuali yang dirahmati Alloh- malah menyekutukan Alloh (berbuat syirik) dan meninggalkan Tauhid..

Beliau memerintahkan umatnya untuk menyibukkan diri dengan agama dan sunnahnya, kenyataannya kebanyakan mereka -kecuali yang dirahmati Alloh- malah sibuk dengan apa-apa yang diada-adakan orang dalam urusan agamanya itu, atau malah berbahagia dengan keyakinan & adat jahiliyyah yang diajarkan nenek moyang mereka..

Beliau memerintahkan muslimah untuk menutup aurotnya dengan busana syar’ie, kenyataannya kebanyakan muslimah -kecuali yang dirahmati Alloh-malah mengumbar aurotnya atau busana yang dipakainya masih mengundang laknat Alloh..

Dan masih banyak contoh dalam realitas kehidupan yang menunjukkan keengganan seseorang untuk masuk Surga meski lisannya mengatakan ‘mau’

Semoga bermanfaat..

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Merasa Cukup

@sahabatilmu

Memiliki banyak harta namun tetap merasa sengsara..

Punya tabungan dan simpanan tetapi terus kekurangan…

Hati yang bicara, merasa puas atau nestapa.

A. Sungguh Beruntung.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung seseorang yang masuk Islam, dan memperoleh rizki yang cukup serta Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang Allah berikan…” (HR Muslim: 1054)

Qana’ah (merasa cukup) merupakan harta berharga yang tak terhingga bagi seorang muslim.

B. Berdoa.

Jangan pernah meninggalkan doa.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melantunkan do’a:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu hidayah, ketakwaan, menjaga kehormatan dan kekayaan…” (HR. Muslim no. 2721)

Adapun kekayaan yang dimaksud adalah kaya hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan (yang sejati) dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang senantiasa merasa cukup..” (HR. Bukhari: 6446, Muslim: 1051)

@sahabatilmu

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menjaga Lisan – Jalan Surga Dan Jalan Neraka

Ust. Ahmad Daniel LC, حفظه الله تعالى

Saudaraku, lisan itu ibarat pisau. Dia bisa digunakan untuk perkara yang bermanfaat dan juga bisa digunakan untuk kejahatan. Pisau bisa menjadi jalan pahala dan bisa menjadi jalan dosa, tergantung siapa yang memanfaatkannya. Dari Abu Hurairah, dari Nabi, bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang Allah ridhai tanpa keseriusan yang kata tersebut menjadi sebab Allah tinggikan kedudukannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang Allah murkai tanpa keseriusan yang kata tersebut menjadi sebab terjerumus ke dalam neraka Jahannam.
(HR Bukhari)

Saudaraku, sungguh sangat berat kita menjaga lisan ini.
Lisan yang terjaga dari caci
maki, ghibah, fitnah, kata-kata kotor, kata-kata kasar, menyepelekan, dan tuduhan dusta terhadap saudara muslim yang lain.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika anak Adam masuk waktu pagi maka seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika kau istiqamah (di atas kebenaran) maka kami juga istiqamah. Jika kau melenceng (dari kebenaran) maka kami juga melenceng.”
(HR. Tirmidzi & dinilai hasan oleh Al-Albani).

Saudaraku, mohonlah pada Allah agar dimudahkan untuk menjaga lisan.

بارك الله فيكم

View

Sibuk Dengan Berita Politik

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Akhi … kenapa hari-harimu cuma ingin mengurus capres A dan capres B, padahal berita politik tidaklah jelas.

Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik itu ingin saling menjatuhkan satu dan lain.

Akhi … bukankah engkau tahu bahwa dalam politik tidak ada kawan sejati dan tidak ada musuh abadi.

Akhi … jangan terlalu memforsir usahamu untuk terus menelusurui berita politik.

Engkau tahu demikian, namun kerjaanmu setiap harinya hanya menelusuri terus berita capres A dan capres B, itu pun engkau tidak bisa menemukan manakah yang benar dari berita-berita yang ada.

Kenapa engkau terlalu sibuk dengan berita yang hanya berlandas “katanya”?

Padahal Allah membenci seperti itu sebagaimana kata hadits,

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ

“Allah tidak menyukai qiila wa qool (berkata hanya berlandaskan ‘katanya’)” (HR. Muslim no. 1715, dari Abu Hurairah).

Qiila wa qool kata Ibnu Katsir, maksudnya adalah, “Banyak bicara tentang perkataan orang lain namun
(1) tanpa kroscek,
(2) tanpa memastikan,
(3) tanpa mencari kejelesan.”
(Tafsir Surat An Nisaa’ ayat 82).

Andai waktumu habis untuk menelaah buku dan kitab.

Andai waktumu habis untuk mendatangi majelis ilmu.

Andai waktumu habis dengan menelusuri website islam bermanfaat.

Andai waktumu hanya dengan ilmu, ilmu dan ilmu.

Ayo kembali ngaji lagi.

Moga Allah memberi taufik pada kita semua dalam memanfaatkan waktu-waktu kita.

Artikel Muslim.Or.Id

By: Muhammad Abduh Tuasikal

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1095. Bagaimana Cara Mengusir Jin Dari Tempat Usaha ?

1095. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah kita ruqyah tempat kerja, yaitu dengan membaca ayat-ayat ruqyah di sebuah wadah/tempat yang berisi air kemudian kita siram di tempat usaha kita (siram /mandikan kapal dengan air ruqyah) ? Kalo tidak boleh, bagaimana harusnya “membersihkan” tempat kerja dari aura jahat ?

Jawab:
Ust. Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Pada prinsipnya, ruqyah digunakan untuk orang yang sakit, bukan untuk tempat.
Demikian penjelasan As Syaikh DR. Ibrahim Ar-Ruhaili dalam kajian beliau di masjid Nabawi.

Sementara untuk tempat, cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surat penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ، خَرَجَ مِنْهُ

“Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).

Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan buka link berikut:

http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengusir-jin-dari-rumah/

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1094. Bagaimana Bila Suami Pelupa ?

1094. BBG Al Ilmu

Tanya:
Suami saya waqaf tanah dan gedung untuk sekolah dan kini dalam masa perluasan sekolah. Uang waqaf pembangunan dari suami saya.

Namun kini suami sudah sakit-sakitan, mudah marah dan pelupa. Jika diminta dana untuk pembangunan sekolah bilangnya nanti-nanti, dan bila dapat uang langsung minta dimasukkan ke rekeningnya dan tidak pernah keluar lagi. Padahal pembangunan sekolah perlu dana.

Terakhir suami dapat uang cukup besar (warisan keluarganya), namun saya tidak kasi tahu suami dan saya simpan di satu rekening khusus (atas nama saya) dan saya kasi tahu ke anak-anak kami (sudah dewasa semua) bahwa uang ini untuk selesaikan sekolah. Niat saya baik yaitu agar pembangunan sekolah bisa lancar. Jika saya kasi tahu suami pasti dia akan minta uangnya di simpan di rekeningnya dan tidak dikeluarkan meskipun kita ingatkan soal sekolah. Jawabnya nanti-nanti dan terus lupa.

Mohon nasehatnya:

1. Apakah yang saya lakukan ini benar ?

2. Jika ajal suami datang, apakah semua hartanya jadi waris ? Atau kita sisihkan dulu sebagian untuk selesaikan sekolah ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Uang waris yang anda simpan tanpa pemberitahuan kepada suami adalah salah. Hendaknya di beri tahu, dan di serahkan kepada nya. Karena wakaf pembangunan gedung membutuhkan izin dan kerelaan sang suami. Jika tidak mendapat izin maka tidak di wakafkan. Bisa jadi suami memiliki niatan tersendiri/kebutuhan tertentu yang bisa di tanyakan dengan baik-baik. Karena wakaf adalah suatu ibadah mulia yang butuh ke-ikhlasan.

Harta akan menjadi warisan jika setelah dikurangi hal ini: kebutuhan keperluan jenazah, hutang, wasiat. Jika tidak ada wasiat untuk wakaf maka akan menjadi harta waris.

Menyisihkan harta tanpa izin dan kerelaan maka tidak di benarkan. Anda bisa mengembangkan sekolah itu dengan membuka sumbangan wakaf dari pihak lain, baik luar/dalam negeri dari para donatur yang ada.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menyingkat Salam Atau Menyempurnakannya ?

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam dan shalawat dengan disingkat. Padahal telah diketahui bahwa dalam kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan dan pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti dan makna dari sebuah kata dan kalimat.
Lalu, bagaimana jika salam dan shalawat disingkat dalam penulisannya?

Apakah akan merubah arti dan makna kalimat tersebut?

** Adab Menulis Salam

Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka dan perlindungan dari segala bentuk aib dan kekurangan. Salaam juga berarti aman dari segala kejahatan dan terlindung dari peperangan.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam dan menyebarluaskannya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Salam dan Perintah Untuk Menyebarluaskannya).

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya, “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)

Baca lengkap KLIK :

http://klikuk.com/adab-salam-dan-shalawat/

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jerat-Jerat Setan Dalam Menggoda Manusia

Ust. Abdussalam Busyro, حفظه الله تعالى

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى :
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka. (Shad: 82-83)

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Al Bada’iul Fawaaid: “Sesungguhnya setan mengajak manusia kepada enam perkara, ia baru melangkah kepada perkara kedua bila perkara pertama tidak berhasil dilakukannya.

Langkah2 setan dalam menggoda manusia:

1. Mengajaknya berbuat syirik dan kekufuran. Jika hal ini berhasil dilakukannya berarti setan telah menang dan tidak sibuk lagi dengannya.

2. Jika tidak berhasil, setan akan mengajaknya berbuat bid’ah. Jika sudah terjerumus ke dalamnya maka setan akan membuat bid’ah itu indah dimatanya hingga ia rela dan setanpun membuatnya puas dgn bid’ah itu.

3. Jika tidak berhasil juga, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar.

4. Jika tidak berhasil, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa kecil.

5. Jika ternyata tidak berhasil juga setan akan menyibukkannya dengan perkara-perkara mubah hinggai ia lupa beribadah.

6. Jika tidak mempan juga, setan akan membuainya dengan perkara-perkara kurang penting hingga ia abaikan perkara-perkara terpenting.

7. Jika gagal juga maka setan akan melakukan tipu daya terakhir, yaitu mengerahkan bala tentaranya dari jenis manusia untuk menyerang orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dikalangan manusia ada juga yang berperan sebagai setan, firman Allah Subhana Wata’ala:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.
(Al-An’am: 112).

Oleh sebab itu banyak kita temui setan-setan jenis manusia, ada yang menyeru kepada kekufuran, syirik, mengajak orang berbuat dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, atau mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang melalaikan

(Ust Abdus Salam Busyro, Lc)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menebar Cahaya Sunnah