Bersabarlah…

Ust. M Abduuh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Fashbir Shobron Jamiilaa Yaa Akhi

Sabarlah dengan sabar yang indah (QS. Al Ma’arij: 5)

Maksudnya?

Bersabarlah tanpa berputus asa. (Tafsir Al Jalalain)

Kita butuh sabar seperti ini supaya bisa ajeg (tetap, rutin, terus-menerus) dalam ibadah dan ketaatan.

Kita butuh sabar seperti ini untuk menghindarkan diri dari yang haram dan maksiat.

Kita butuh sabar seperti ini dalam menghadapi takdir ilahi yang kita rasa menyakitkan.

Sabarlah tanpa berkeluh kesah. Sabarlah tanpa batas.

Pahala bersabar adalah surga.

M. Abduh Tuasikal,
Pengasuh Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Buat Apa Bekerja Keras Sampai Lembur Segala ? Kan Urusan Rejeki Sudah Ditakdirkan Alias Telah Dijamin ? Sedangkan Surga Atau Neraka Harus Diupayakan, Alias Belum Ada Jaminan…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Satu motivasi untuk beribadah dan mengutamakan urusan akhirat yang nampak indah dan menyejukkan hati. Terlebih bagi anda yang telah memahami bahwa urusan dunia begitu hina dina sedangkan akhirat begitu mulia, dan memahami bahwa urusan rejeki benar-benar urusan kodrat ilahy.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ). رواه ابن ماجة

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-ebnar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah)

Mendengar motivasi ini, anda semakin tergugah untuk meningkatkan ibadah, dan zuhud terhadap urusan dunia. Tentu saja ini adalah sikap yang begus dan patut diapresiasi.

Walau demikian, sadarkah anda bahwa ungkapan di atas walau bertujuan baik, namun disadari atau tidak mengandung kesalahan besar. Karena ternyata urusan surga dan neraka juga telah menjadi bagian dari kodrat ilahy.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadiri penguburan seorang jenazah. Sambil menanti proses penggalian selesai, berliau duduk lalu bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً ».

“Tiada seorang jiwapun melainkan Allah telah menuliskan tempat kembalinya, baik di surga atau di neraka, dan juga telah dituliskan apakah ia berbahagia atau sengsara.

Tak ayal lagi, pernyataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini mengejutkan para sahabat, sehingga salah seorang dari mereka segera bertanya: Wahai Rasulullah , bila demikian apa tidak lebih baik kita mengandalkan catatan takdir kami dan meninggalkan segala bentuk amalan (usaha)?

Menanggapi pertanyaan ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Siapapun yang ditakdirkan termasuk dari orang yang berbahagia niscaya ia berhasil mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sebaliknya orang yang ditakdirkan menjadi bagian dari orang-orang serangsara, niscaya ia hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

“Beramallah kalian, karena setiap orang pastilah mendapat kemudahan. orang-orang yang berbahagia pastilah dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang sengsara pasti pula dimudahkan untuk hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

Selanjutnya beliau membaca ayat berkut:

( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan memudahkan baginya jalan yang mudah (kebahagiaan). Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar (kesengsaraan).” (Al Lail 5-10)

Semoga bermanfaat.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Renungan Menjelang Tidur

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang baik hati..
Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidak harus tua….

Jangan terpedaya dengan badan sehat, karena syarat mati tidak harus sakit…

Tundukkan diri kita diatas hukum Allah Azza wa Jalla, tundukkan pikiran dan logika dibawah Al Qur’an dan sunnah. Karena islam bukan bersumber dari buah pemikiran atau kepandaian merangkai kata, islam bersumber dari Al Qur’an dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم

Teruslah berbuat baik, bertaubat dan beristighfar akan setiap perbuatan dosa yang kita lakukan, bertutur katalah yang baik, serta terus memberikan nasehat yang baik yang bersumber dari alqur’an dan sunnah yang murni, walau tak banyak orang mengenal dirimu.

Cukuplah Allah Azza wa Jalla, mengenalimu lebih dari pada yang lain.

Jadikanlah dirimu seperti jantung yang tidak terlihat, tapi terus berdenyut setiap saat dan bermanfaat dalam kehidupanmu, sehingga membuat kita terus hidup sampai diberhentikan oleh Allah Azza wa Jalla, semoga kita jadi umat yang terbaik dan menjadikan akhir kehidupan kita yang baik

Semoga bermanfaat
بارك الله فيكم

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Adab Menebar Berita

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rosul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)..” (An Nisaa : 83)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy rohimahullah menafsirkan ayat tersebut. Beliau berkata:

“Ini adalah adab dari Allah untuk hamba-hambaNya..

Apabila datang perkara yang penting.. yang berhubungan dengan keamanan dan kegembiraan kaum muslimin..
Atau ketakutan yang ada padanya musibah untuk mereka..

Agar memeriksa dengan teliti..
Dan jangan tergesa gesa menyebarkannya..
Tetapi hendaklah mereka mengembalikan kepada Rosul..
Dan kepada alim ulama..
Yang amat memahami kemashlahatan dan mudhorotnya..

Jika mereka memandang mashlahat untuk disebarkan..
Memberikan kegembiraan kepada kaum muslimin dan terlindung dari musuh mereka..
Mereka lakukan..

Namun jika memandang mudhorotnya lebih besar..
Mereka tidak menyebarkan..”

(Taisir Karimirrohman hal 154).

Buat anda yang suka menshare berita..
Renungkanlah ucapan beliau ini..

Baarakallahu fiikum..

Ditulis oleh,
Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beginilah Cara Menasehati Diri Kita Sendiri

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

قال الفضيل بن عياض –رحمه الله- يعاتب نفسه :
يا مسكين! أنت مسيء، وترى أنك محسن، وأنت جاهل، وترى أنك عالم، وتبخل، وترى أنك كريم، وأحمق، وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل. (سير أعلام النبلاء (8/ 440)

» Al-Fudhail bin ‘Iyadh (seorang ulama sunnah dari generasi atba’ut-tabi’in) rahimahullah  pernah mencela dirinya sendiri (sebagai bentuk nasehat dan peringatan) seraya berkata: “Wahai orang yang malang.
** Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan.
** Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu.
** Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah.
** Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas.
** Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.”
(Lihat Siyaru A’laami An-Nubalaa’ karya imam Adz Dzahabi  VIII/440, dan Aina Nahnu min Akhlaaqi as-Salaf, karya syaikh Ahmad Farid, hal. 15).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari Ahad ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 11 Mei 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Kesombongan, Kok Didakwahkan !

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Orang bersikap sombong pasti tercela dan berdosa. Bahkan, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر

“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.”
(Muslim)

Dan tentu kesombongan itu lebih buruk lagi bila dijadikan sebagai ajaran yang diajarkan dan disosialisasikan kepada masyarakat umum.

Diantara bentuk kesombongan ialah dengan berkata: andai, atau semoga saja atau saya rindu, atau tangan saya gatal untuk ketemu musuh. Andai ketemu musuh niscaya saya akan habisi dan ini dan itu ….

Ucapan dan sikap mencari-cari atau paling kurang berangan-angan apalagi bercita-cita untuk bertemu musuh adalah bentuk kesombongan.

Betapa banyak orang yang berkata demikian, namun pada gilirannya ketemu musuh beneran, mereka segera lari tunggang langgang.

Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تتمنوا لقاء العدو وأسالوا الله العافية ولكن إذا لقيتموهم فاصبروا واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف

“Janganlah kalian berangan angan untuk bertemu dengan musuh dan mohonlah keselamatan/kebebasan dari cobaan. Namun bila benar benar berjumpa dengan musuh maka sabarlah (hadapi dengan gagah berani) dan ketahuilah bahwa surga berada dibawah kilauan pedang senjatamu.”
(Muslim)

Hadis di atas tentu menyelisihi ucapan sebagian pemuda yang berkata : “kenapa sih, pada takut syiah berkuasa di negri ini ?”

“Biarkan saja mereka masuk pemerintahan, nanti kalau mereka berulah kita hadapi dan kobarkan jihad melawan mereka. Saya tidak takut mati, kan mati syahid dan masuk surga.”

Ucapan ini nampaknya baik, namun sejatinya ucapan itu adalah kesombongan dan kecerobohan dalam bertutur kata.

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

7 Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir

Ust. Abu Qotadah, Lc حفظه الله تعال

Saudaraku yang baik hatinya, inginkah kita memiliki amalan yang kita lakukan didunia ini sedangkan ganjaran kebaikannya akan tetap tercurah walau kita sudah Allah wafatkan kelak ?

Ada 7 amalan yang pahalanya akan tetap sampai kepada kita walaupun kita masih/berada di alam kubur.

Dari Annas bin Malik رضي الله عنه
7 amalan yang pahalanya akan mengalir:

1) Orang yang mengajarkan ilmu
2) Orang yang mengalirkan sungai (membuat irigasi)
3) Menggali sumur
4) Menanam kurma
5) Membangun masjid
6) Orang yang mewariskan mushaf (Al-Qur’an)
7) Meninggalkan anak yang shaleh yang memintakan ampunan untuk kita setelah mati.
(HR. Imam Muslim)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Bertawasul Dengan Keikhlasan Kepada Allah Di Dalam Amalan-Amalan Sholih Diwaktu Tertimpa Kesulitan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Dalam risalah ini tidak terlupakan, akan saya bawakan faidah dan manfaat dari berbuat ikhlas tatkala di dunia sebelum di akhirat, dikarenakan memungkinkan bagimu untuk bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal-amal yang kalian ikhlas di dalamnya, agar kalian selamat dari setiap petaka dan cobaan.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrohman  ibnu Umar ibnu Khothob, radhiyallahu’anhuma, berkata, “Aku mendengar Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Dahulu ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan hingga mereka bermalam di dalam suatu goa, maka tiba-tiba goa tersebut tertutup oleh batu yang sangat besar hingga mereka tidak mampu keluar, maka berkatalah salah satu dari mereka, “Tidaklah kita selamat dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah melalui perantara amal sholih yang pernah kalian lakukan”.

Maka berkata salah seorang dari mereka, “Ya Allah Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku memikili kedua orangtua yang sangat tua renta yang aku tidak pernah mengakhirkankan keduanya dalam segala urusan harta maupun keluarga, hingga pada suatu hari aku mencari kayu dan terlambat pulang dan aku menjumpai  keduanya sudah tidur dan aku memerah susu untuk persediaan minum keduanya, dan aku enggan untuk membangunkan mereka, dan aku tidak memberi minum susu itu kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada orang tua ku, hingga aku menunggu sampai terbit fajar sedangkan anak-anakku menangis karena lapar dan haus, mereka mengelilingi kakiku, setelah itu kedua orang tua ku bangun, dan kuberikan minuman susu kepada ayah dan ibuku. Ya Allah, jika aku melakukan tindakanku karena mengharapkan wajah-Mu, maka gerakkanlah batu yang menutup gua ini“. Maka bergeserlah batu itu akan tetapi ia belum bisa keluar dari goa itu .

Berkata orang yang kedua, ”Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mempunyai saudara sepupu yaitu anak pamanku yang sangat aku cintai, -dalam riwayat lain dikatakan, aku mencintainya sebagaimana lazimnya seorang lelaki suka terhadap wanita-, hingga aku berkehendak akan kemolekannya, akan tetapi ia menolaknya, hingga pada tahun paceklik, ia mendatangiku dan aku berikan kepadanya 120 dinar dengan syarat ia rela berkholwat denganku, ia pun menyetujuinya, hingga aku disaat hampir melakukannya, -dalam riwayat dikatakan : tatkala aku berada diantara kakinya, – maka ia berkata : ‘Bertakwalah kamu kepada Allah dan jangan engkau merenggut kegadisan kecuali dengan cara yang hak’, maka aku tinggalkan dirinya, walaupun sesungguhnya aku sangat mencintainya, dan lempengan uang emas sengaja aku tinggalkan untuknya. Ya Allah Ya Tuhanku, jika aku melakukan itu karena mencari wajah-Mu, maka entaskanlah kami dari kesusahan ini”, maka bergeserlah batu tersebut, akan tetapi masih saja mereka belum bisa keluar dari goa tersebut.

Berkata orang yang ketiga, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempekerjakan beberapa orang sebagai karyawan, dan aku telah berikan imbalan upah bagi mereka semua kecuali seseorang yang ia membiarkan upahnya tersimpan padaku dan pergi dengan tanpa kabar,  maka upahnya aku rawat dan aku ternak hingga berkembang biak menjadi sangat banyak, setelah beberapa lama ia datang dan berkata, “Wahai hamba Allah,  berikan upahku yang dulu”, maka aku katakan: “Ambil semua yang engkau lihat dari onta, sapi, kambing, para budak yang ada dihadapanmu“. Maka ia berkata: “Jangan engkau mengejekku”, maka aku katakan: “Aku tidak sedang mengejekmu, maka iapun bersegera menggiring seluruh hewan dan budak penjaga ternak tersebut tanpa menyisakan sedikitpun“. Wahai Allah, jika aku melakukan itu dalam rangka mencari wajah-Mu, maka tolonglah keberadaan kami ini“.  Maka bergeserlah batu itu, hingga mereka semua dapat keluar. (HR Bukhary dan Muslim).

Wahai saudaraku, lihatlah bagaimana Allah memberikan pertolongan dengan menggerakkan batu kepada mereka lantaran doa yang dipanjatkan dengan menyertakan amal shalih dan keikhlasan mereka kepada Allah Ta’ala.

Betapa banyak sebab yang mendatangkan kehinaan dan kerendahan bagi hamba lantaran tidak berbuat ikhlas kepada Allah Ta’ala.  Wahai saudaraku, apakah kalian memiliki amal shalih yang dilandasi keikhlasan yang dapat engkau sertakan dalam doa yang kalian panjatkan untuk menolongmu dari kesusahan dan kesulitan….!!!

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

View

Menebar Cahaya Sunnah