Tj Euthanasia Pasif

88. Tj – 271

Pertanyaan:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته .

Bagaimana hukum “Euthanasia pasif” (dg cara melepas alat-alat/mesin rumah sakit yang menunjang kehidupannya) kepada kerabatnya karena sudah tidak ada harapan hidup dan sudah keluar biaya banyak ?

Apakah ini dianggap “membunuh” yang mana karena itu menjadi pehalang waris ?

Baarakallah fiik

Jawaban:
Ust. Syafiq Riza Basalamah MA

Hal itu tergantung kondisi yang sakit, ada kondisi2 yang ulama’ membolehkan dan ada kondisi2 yang tidak diperbolehkan,

Wallahu A’lam

———————————————

Tj Menikah Dengan Pria Non-Muslim

87. Tj – 109

Pertanyaan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Melihat makin banyaknya pernikahan lintas agama, ana ingin kejelasan dari permasalahan berikut;
1. Bagaimana hukumnya jika wanita muslim menikah dengan pria non muslim ? Sedang pernikahan mereka telah berlangsung lama. Apakah ibadah si wanita tsb diterima ? Apakah haram ?
2. Apakah dalam Qur’an atau Hadits ada penjelasan yg detail ttg hal tsb ?
Mohon penjelasannya. Terimakasih

Jawaban:
Ust. Muhsin Suaidi LC

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ tentang keharaman pernikahan seorang muslimah dengan laki-laki kafir, Abdurrahman bin Muhammad Al-Maqdisi, seorang ulama’ yang hidup pada tahun 682 H menulis dalam syarhnya terhadap Al-Muqni’:
(Dan tidak halal seorang muslimah menikah dengan orang kafir dalam keadaan apapun) ini berdasarkan firman Allah ta’ala:

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا

(Dan Janganlah menikahkan orang-orang musyrik sampai mereka beriman) 

Dan firman Allah ta’ala:

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ 

(Tidaklah wanita-wanita itu dihalalkan bagi mereka) 
Dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah itu. Asy-Syarh Al-Kabir Ala Matn Al-Muqni’ 7/507 

Apabila sudah terjadi pernikahan antara seorang muslimah dengan laki-laki kafir maka pernikahan tersebut tidaklah sah. Karena pernikahan tersebut tidak sah maka keduanya harus segera dipisahkan. Apabila wanita tersebut ingin tetap diteruskan pernikahannya maka perbuatan wanita tersebut sama dengan zina. Ketika sudah dipisahkan dan pria tersebut masuk Islam serta berharap untuk hidup bersama dengan wanita muslimah tersebut maka silahkan dinikahkan lagi.

———————————————

Tj Bacaan Imam Tidak Fasih

86. Tj – 311

Pertanyaan:
Assalaamu’alaykum ana mau tanya, kan salah satu syarat sahnya sholat adalah membaca al fatihah, bgmn dgn sholat kpd imam yg bacaan alfatihahnya kurang benar, contoh membaca iyya kana’buduu, buduu dibaca panjang, atau qoiril maqdu, dibaca pakai qolqolah jadi maqedu, apakah sah solat imam dan makmumnya?

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Sah. Dosanya sama (yang menanggung adalah) imam.

———————————————

Tj Bekerja Di Toko Yang Melakukan Transaksi Riba Dengan Bank…

85. Tj – 383

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ana ada pertanyaan : toko furnitur menerima transaksi tunai tapi juga bekerja sama dengan bank untuk customer yang ingin pembayaran secara kredit. Artinya bank membayar tunai kepada toko, customer menyicil kepada bank. Apakah diperbolehkan jika kita tetap bekerja ditoko ini ? Terima kasih atas jawabannya

Jawaban:

Kerja disitu boleh. Tapi jangan bagian yang berhubungan dengan bank.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA…

Tj Menjual Rumah Yang Masih Dalam Kredit

84. Tj – 343

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Mau bertanya. Tetangga saya membeli rumah secara KPR. Dan baru tahu klo kpr mengandung riba. Tetangga ingin menjual rumahnya saja. Tapi terganjal dengan nilai rumah yang cukup besar jika harus dibeli cash. Ingin nya di over kredit. Tapi takut calon pembeli gantian terjerat riba. Apakah memang solusi terbaik harus cash ya Ustadz? Syukron atas jawabannya

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Iya, sebaiknya cash agar terhindar dari riba.

———————————————

Tj Hukum Kafir

83. Tj – 199

Saya pernah mengikuti suatu kumpulan majelis yg fanatik,mrka beranggapan hukum di indonesia hukum kafir,krna bkn syariat allah,mohon ustad penjelasannYa mslh ini,tks

Jawaban:
Ust. Badru Salam Lc
Gegabah dalam memvonis sebagai negara kafir seringkali membawa sikap yang merugikan islam, sehingga konskwensinya adalah munculnya pemberontakan dan huru hara, dan yang menjadi korban adalah rakyat jelata yang tak berdosa.

Ketahuilah saudaraku, berhukum dengan selain hukum islam adalah dosa besar yang mendatangkan kemurkaan Allah dan adzabnya, namun tidak setiap yang berhukum dengan hukum selain islam itu dikafirkan kecuali apabila disertai istihlal (meyakini bahwa Allah menghalalkan berhukum dengan selain hukum islam) atau juchud (mengingkari kewajiban berhukum dengan hukum Allah), atau ‘ienad (menentang disertai dengan sombong dan melecehkan).

Adapun apabila ia berhukum dengan selain hukum islam dalam keadaan ia meyakini haramnya perbuatan tersebut tidak dikafirkan sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul islam terdahulu,”Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan dosa disertai keyakinan bahwa Allah telah mengharamkannya dan meyakini bahwa ketundukan hanya kepada Allah dalam apa yang Dia haramkan dan mewajibkan untuk tunduk kepadanya, maka orang seperti ini tidak dihukumi kafir.”

Selengkapnya silahkan baca disini :

https://bbg-alilmu.com/archives/332

———————————————

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Ust. Kholid Syamhudi. Lc

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan.

Kita lihat sekarang banyak sekali diantara kita yang malas sholat lima waktu berjamaah dengan alasan kesibukan dunia. Bahkan ada yang meninggalkan sholat jum’at tanpa udzur syar’i. Padahal Rasululloh n pernah bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Hendaknya kaum tersebut berhenti meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan keraskan hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai. (HR Muslim).

Juga berapa banyak orang yang enggan berzakat dengan alasan banyak pengeluaran pribadi dan lainnya. Mereka lupa kalau hati mereka telah mengeras dan telah memiliki sifat-sifat munafiqin yang di jelaskan dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan tidak dapat mengambil pelajaran. Berapa banyak kita membaca al-Qur`aan bahkan mengkhatamkannya sekali atau dua kali namun kalbu kita tidak tersentuh dan bergetar sedikitpun. Berbeda dengan hati yang sehat dan lembut Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

3. Tidak Tersentuh dengan Ayat . Tidak tergerak kalbu kita dengan terjadinya peristiwa dan kejadian alam, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Padahal semua itu menunjukkan kemaha kuasaan Allah atas seluruh makhluknya. Kita memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. Lihatlah firman Allah yang artinya: “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

4. Mendahulukan kelezatan Dunia dari Akhirat. Kalbu yang tidak tersentuh dengan ayat-ayat Allah baik berupa al-Qur`an ataupun ayat-ayat kauniyah akan mendahulukan dunia dari akherat. Bahkan kadang semangat dan keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata . Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

Kita lihat banyak orang yang mendengar kumandang adzan tapi tidak segera bersiap ke masjid karena lezatnya tidur dibalik selimta atau mengakhirkan sholat karena menonton pertandingan sepak bola. Padahal Allah telah berfirman yang artinya:

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS al-A’laa: 16-17).

5. Kurang Mengagungkan. Kalbu yang mengeras akan kehilangan rasa cemburu, kekuatan iman padanya melemah dan tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran.

Setelah itu ia tidak dapat mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa. Hal ini mengakibatkan kalbu tidak lagi mengagungkan Allah dan kekuasaanNya.

6. Kemaksiatan dan kezhaliman Berantai karena kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu, sebagaimana disampaikan ibnu al-jauzi dalam ugkapan beliau: kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu, karena seandainya kalbu mengambil cahaya petunjuk (Hidayah), tentulah ia akan memandang akibatnya, (lihat Fathu alBaari 5/100). Demikian juga kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan.

Inilah sebagian tanda kerasnya hati akibat perbuatan dosa dan kemaksiatan, agar kita semua dapat introspeksi diri dan merubah diri menjadi insan kamil yang didam-idamkan.

Wabillahi taufiq (bersambung dengan sebab-sebab mengerasnya kalbu –insya Allah-).

Kegersangan kalbu, kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu

 

Berilah 70 Udzur

Ust. Badrusalam LC

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”
(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

Jangan Engkau Korek-Korek Kekurangan Saudaramu”

Ibnu ‘umar berkata: “Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم naik ke atas mimbar, lalu menyeru dg suara yg keras :

”Wahai sekalian orang yg mengaku berislam dgn lisannya & iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum  muslimin, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari cari aurat  mereka. Barang siapa yg suka mencari cari aurat saudaranya sesama  muslim, maka ALLAH akan mencari cari auratnya. dan siapa yg dicari cari  auratnya oleh ALLAH, niscaya ALLAH akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.   
(Tirmidzi no. 2032)  
(yg dimaksud dengan aurat disini adalah aib/cacat, kejelekan serta kesalahan orang lain).

Sampai suatu hari Ibnu Umar memandang Ka’bah, ia berkata: ”Alangkah agungnya engkau & besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi ALLAH darimu. (Tirmidzi: 2032)

Ikhwan & akhwat sekalian yg saya hormati…
Dari hadits di atas kita mendapatkan pelajaran yg sgt jelas betapa besarnya kehormatan seorg muslim/muslimah didalam islam.
Harus selalu kita ingat, bahwa kita & saudara kita lainnya adalah manusia biasa yg tidak lepas dari segala bentuk kekurangan baik dosa maupun ma’siyat. Maka apabila engkau melihat kekurangan pada saudaramu maka yg terbaik & merupakan sikap yg menunjukkan tentang baiknya pemahamanmu ttg islam ini ialah engkau menasehatinya dgn ilmu, dgn penuh kelembutan serta doakanlah saudaramu agar ALLAH memberikan hidayah untuknya, yg demikian ini akan memberikan manfaat untukmu dan untuknya. Dan jgn sekali-kali engkau buka aibnya dihadapan manusia lainnya.

Wahai saudara-saudariku apabila engkau menemukan didalam tulisan-tulisanku selama ini ada kekeliruan mohon nasehatilah diriku dgn nasehat yg baik & jgn engkau ceritakan segala kekuranganku kepada org lain.

Semoga ALLAH subhaanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosa kita semua.

Semoga bermanfaat..
Ditulis oleh Ustaadz Ahmad ferry nasution Lc

Bunuh Diri

Ust. Abdussalam Busyro Lc

Syaikh Ibnu Utsaimin brkata bhw siapa yg bunuh diri dgn ssuatu niscaya ia akan disiksa dgnnya di neraka jahanam. Maksudnya jika seseorang bunuh diri dgn alat tertentu, ia akan disiksa dgn alat tsbt pada hari kiamat kelak dineraka jahanam.

Seseorang yg minum racun dgn tujuan bunuh diri lalu ia meninggal, kelak ia akan menghisap racun tsb dineraka jahanam & kekal didlmnya.

Seseorang yg naik ke atas atap kemudian menjatuhkan diri kebawah hingga ia mati, kelak ia akan diadzab dgnnya di neraka jahanam.

Diriwayatkan dari Jundub bin Abdillah bhw Nabi bersabda:
“Dahulu ada seseorang dari umat sebelum kalian yg terluka smp ia menderita dan putus asa. Kemudian ia mengambil sebilah pisau dan memotong (urat nadi) tangannya. Darah terus mengucur tanpa henti hingga orang itu meninggal dunia. Allah berfirman, ‘HambaKu menyegerakan dirinya sendiri kepadaKu, maka Aku haramkan baginya surga’.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda, “Siapa yang membunuh dirinya sendiri dgn sebilah besi maka besi itu akan ditusuk-tusukkan kedalam perutnya dineraka jahanam, ia kekal didalamnya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dgn racun maka racun itu akan dibawanya dengan tangannya dan ia terus meminumnya di neraka jahanam, ia kekal didalamnya.”

Dalam hadits ini dinyatakan kekekalan, apakah ia telah kafir?bukankah tdk ada yg kekal di neraka kecuali orang2 kafir?jwbannya bukan kafir, tp ia berhak dimandikan, dikafani, dishalatkan serta didoakan agar mendapat ampunan. Sebagaimana yg dilakukan Rosul صلى الله عليه وسلم ketika ada seseorang yg membunuh dirinya dgn anak panah. Orang itu didatangkan kepada beliau utk dishalati, beliau enggan utk menshalatinya tetapi kemudian beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian atasnya!’ Para sahabat kemudian menshalatkannya atas perintah Rosulullah صلى الله عليه وسلم

Pembahasan ini menjelaskan betapa besar dosa bunuh diri dan perbuatan ini termsk dosa besar.
(Syarah Al-Khabair by Imam Adz-Dzahabi)

Menebar Cahaya Sunnah