773. Tj Imam Memimpin Shalat Berjama’ah Tanpa Sutrah

773. BBG Al Ilmu – 2

Tanya:
Apakah seorang imam yang memimpin sholat berjamaah tanpa sutroh batal sholatnya? Dan menanggung dosa seluruh jamaah dibelakangnya? Bagaimana kalau beliau memang tidak dapat menemukan apapun untuk dijadikan sutroh didekat2 posisi imam ?

Jawab:
Menurut mayoritas ulama, jika seseorang shalat sendirian atau sebagai imam “disunnahkan” baginya shalat menghadap sutroh supaya dapat menghalangi orang lain yang akan lewat di hadapannya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫‬

“Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasi dirinya agar tidak dilewati orang dan apabila ada yang tetap nekad melewati di hadapan ia shalat, maka hendaklah ia menolak/menghalanginya” (HR. Bukhari no. 509 dan Muslim no. 505)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al
‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kutipan hadits “Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasi dirinya agar tidak dilewati orang”, menunjukkan bahwa orang yang shalat kadang menghadap sutroh dan kadang pula tidak menghadapnya. Konteks kalimat semacam ini tidaklah menunjukkan bahwa setiap orang pasti shalat menghadap sutroh. Yang tepat, konteks kalimat ini menunjukkan bahwa sebagian orang ada yang shalat
menghadap sutroh dan sebagian lainnya tidak menghadapnya.

Lebih lanjut beliau rahimahullah mengatakan, “Sutroh sesungguhnya hanya penyempurna shalat dan tidak mempengaruhi kesahan shalat. Ia pun bukan bagian dari rukun dan bukan pula syarat shalat sehingga dapat merusak shalat. Yang tepat, sutroh hanyalah penyempurna shalat sehingga ia bukanlah suatu yang wajib…”

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3216-hukum-shalat-menghadap-sutroh-.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

772. Tj Istri Yang Meminta Cerai

772. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah ada ancaman bagi istri yang menuntut cerai ? Terus ada tidak syarat syarat diperbolehkannya isri meminta cerai ?

Jawab:
Jika seorang istri mengajukan gugagat cerai tanpa alasan jelas, maka hal ini termasuk dosa besar. Peringatan ini mendapat ancaman keras sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Para istri yang minta cerai (pada suaminya) adalah wanita-wanita munafik.” [Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1186) dan Abu Dawud (no. 9094), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah (no. 632) dan Shahih Jaami’ush Shaghiir (no. 6681)]

Dan dalam riwayat lain disebutkan juga:

“Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan (yang dibenarkan oleh syar’i), maka haram baginya mencium wangi Surga.” [Hadits shahih. Riwayat Abu Dawud (no. 2226), Tirmidzi (no. 1187), Ibnu Majah (no. 2055), Ad-Daarimi (II/162), Ibnul Jarud (no. 748), Ibnu Hibban (no. 4172 –
At-Ta’liiqaatul Hisaan), Al-Hakim (II/200), Al-Baihaqi (VII/136), dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu. Lihat Irwa’ Al-Ghaliil (VII/100)]

Makna kata: ‘alasan‘ yang tercantum dalam hadits di atas adalah alasan yang dibenarkan oleh syar’i, yaitu segala yang dapat mengakibatkan keduanya sudah tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, misalnya karena naqshud-dîn (kurangnya agama, umpamanya tidak shalat, tidak puasa), akhlak buruk pada diri suami yang suka bertindak sewenang-wenang, hingga menyebabkan istri sangat tertekan dan tidak mampu lagi memenuhi hak suami dengan baik.

Meski demikian, keputusan atas gugatan isri ini tetap berada di tangan suami, kecuali bila perkaranya sudah masuk kepada hakim, maka hakim atau qadhi dapat memaksa sang suami tersebut untuk menceraikan istrinya.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2766/slash/0/istri-menggugat-cerai-suami/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

771. Tj Sejarah Tahun Hijriyah

771. BBG Al Ilmu – 307

Tanya:
Mohon penjelasan sejarah tahun Hijriyah sampai diberlakukannya kalender tersebut.

Jawab:
Masyarakat Arab, sebelum Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (peredaran bulan), dan sepakat tanggal 1 ditandai adanya hilal. Mereka memberi nama bulan seperti Dzulhijah sebagai bulan haji, Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya, namun mereka tidak memiliki angka tahun.

Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Acuan tahun yang dipakai adalah berdasarkan peristiwa besar yang terjadi ketika itu, contohnya:
1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.

2. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.

Sampai akhirnya di tahun ke 3 Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, beliau mendapat surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang menjabat gubernur Bashrah. Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:

“Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan kaum muhajirin dan anshar radhiyallahu ‘anhum, beliau bertanya: “Mulai kapan kita menulis tahun.” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: “Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik.”

Maksud Ali adalah ketika Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama kalender Islam, dan selanjutnya kalender ini dinamakan kalender hijriah.

Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/sejarah-penetapan-kalender-hijriah/#

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

770. Tj Menyuruh Perbuatan Ma’ruf Tapi Tidak Melakukannya

770. BBG Al Ilmu – 407

Tanya:
Apakah derajat hadits berikut ini:
“Pada hari kiamat nanti, akan dibawa seorang lelaki lalu dicampakkan ke dalam neraka. Maka terburailah ususnya di dalam neraka, lalu ia berputar-putar seperti seekor keledai berputar-putar mengelilingi batu penggilingan. Maka penghuni neraka berkumpul mendekatinya dan bertanya, “Wahai Fulan, mengapa engkau seperti ini?, bukankah dahulu engkau yang suka menyuruh kami kepada perbuatan ma’ruf dan melarang kami dari perbuatan mungkar?”. Maka ia menjawab, “Dahulu aku menyuruh kalian kepada perbuatan ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian dari perbuatan mungkar namun aku sendiri melakukannya”

Jawab:
Shahiih haditsnya, diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, juz 4, hlm 1191).

Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2565/slash/0/sosok-ideal-seorang-dai/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

769. Tj Dzikir Berjama’ah Menurut Imam Syafi’i Rahimahullah

769. BBG Al Ilmu – 427

Tanya:
Apakah benar bahwa Imam Syafi’i pernah memberikan hadist dalil untuk dzikir secara berjamaah/dipimpin ?

Jawab:
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
“Imam dan makmum boleh memilih sama ada ingin berzikir kepada Allah (atau tidak) selepas solat. Dan mereka hendaklah memperlahankan zikir kecuali dia merupakan seorang imam. Imam wajib mengajari makmum berzikir, maka hendaklah dia kuatkan zikirnya sehingga dia melihat bahawa telah dipelajari darinya (zikir-zikir tersebut). Kemudian hendaklah dia perlahankan semula.” (Al-Umm, Kitab As-Solah, dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah, 1/150).

Maksudnya, mengeraskan dzikir setelah jamaah sholat wajib lima waktu, tidak sesuai sunnah. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa hal itu hanya dilakukan oleh Rasulullah shalallallahu alaihi wasallam untuk sementara waktu saja, karena tujuan mengajari para sahabatnya. Oleh karenanya beliau hanya membolehkan mengeraskan dzikir yang dibaca setelah jama’ah sholat wajib ketika ada tujuan itu, jika tidak ada tujuan itu, maka sunnahnya dilirihkan.

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://aslibumiayu.wordpress.com/2010/12/16/apa-hukum-doa-dan-dzikir-secara-berjamaah-2/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

767. Tj Mempersiapkan Diri Menghadapi Syi’ah

767. BBG Al Ilmu – 87

Tanya:
Akhir2 ini heboh di-sosial media bahwa orang2 syi’ah menyibukkan dirinya untuk latian bela diri dan perang (Allahu a’lam kebenarannya), apakah kita sebagai ahlussunnah wajib mempersiapkan diri dengan bekal seperti itu? Mengingat banyak sekali ikhwan2 kita yang semangat untuk mempersiapkan diri mereka dikhususkan untuk masalah ini. Mohon pencerahan dari ustadz supaya kita bisa lebih dewasa menyikapinya, dan mohon saran berkenaan dengan hal ini.
Jawab:
Ust. M Elvi Syam, حفظه الله

Perrtama, kita tingkatkan diri dengan ilmu & iman serta amal sholeh, sebarkan kebenaran kepada semua orang. Derikan penjelasan kepada pihak pemerintah, militer & polisi akan bahaya kejahatan mereka terhadap keamanan & kerukunan umat islam di Indonesia.

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

MUTIARA SALAF : Sebab-Sebab Kerasnya Hati Dan Bagaimana Cara Terbebas Darinya

كيف يتخلص الإنسان من قسوة القلب وما هي أسبابه؟

Bagaimana sesorang dapat terbebas dari kerasnya hati, dan apa penyebab (keras)nya (hati)..?

أسباب قسوة القلب الذنوب والمعاصي، وكثرة الغفلة، وصحبة الغافلين والفساق،

Sebab kerasnya hati adalah :
– perbuatan dosa dan maksiat,
– banyak lalai,
– berteman dengan orang yang lalai dan fasik.

كل هذه الخلال من أسباب قسوة القلوب،

Hal-hal ini merupakan penyebab kerasnya hati.

ومن لين القلوب وصفائها وطمأنينتها طاعة الله جل وعلا، وصحبة الأخيار، وحفظ الوقت بالذكر وقراءة القرآن والاستغفار،

Dan sebab lembutnya hati, bening dan tenangnya (hati) adalah :
– dengan taat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla,
– berteman dengan orang-orang baik (sholih),
– menjaga waktu dengan berdzikir,
– membaca al-Quran dan beristighfar,

ومن حفظ وقته بذكر الله وقراءة القرآن، وصحبة الأخيار، والبعد عن صحبة الغافلين والأشرار، يطيب قلبه ويلين،

Barangsiapa yang :
– menjaga waktunya dengan berdzikir kepada Allah,
– membaca al-Quran,
– berteman dengan orang-orang baik (sholih), dan
– menjauhi teman-teman yang lalai dan jahat,

maka hatinya akan baik dan lembut.

قال تعالى: أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِن الْقُلُوبُ.

Allah Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang..” (QS. Ar-Ra’d: 28)

سماحة الشيخ / عبد العزيز بن باز – رحمه الله تعالى –

(Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz -rohimahullah-)

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/1760

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Fuad Hamzah Baraba Lc, حفظه الله تعالى

Yang Muda Yang Punya Cita-Cita

Ust. DR Arifin Badri, حفظه الله

Kawan…Gantungkan cita-citamu setinggi awan.

Bukan sekedar tingginya angan, tanpa usaha dan pengorbanan. Bukan pula yang bermalas-malasan, berpangku tangan dan hanya menunggu datangnya keajaiban.

Namun, Cita-cita yang akan membangkitkan semangat kita untuk terus berusaha meraih hidup yang lebih baik di masa depan .

Betapa banyak orang yang bercita-cita. Namun, betapa banyak yang gagal dalam meraihnya. Hanya mereka yang Allah kuatkan usahanya yang berhasil menggapai impianya.

Ayo kobarkan semangat untuk terus berkarya. Singsingkan lengan baju dan kencangkan tali sepatu. Sungguh layar telah terkembang dan pantang untuk disurutkan.

Tauladan kita Shollallahu alahi wasallam telah bersabda :

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah….” (HR Muslim)

Simak penjelasan 8 kiat sukses mewujudkan cita-cita oleh ust DR Arifin Badri.

Klik

Kesuksesan Yang Hakiki

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah yang berbahagia diatas hidayah islam dan sunnah….

Sering kali kita mendengar dari saudara2 kita dalam menasehati anak-anaknya ketika mereka sdh beranjak dewasa, org tua tersebut selalu menasehati kpd anak2 dgn kalimat, “Nak, belajarlah yg benar biar kelak kamu menjadi orang…!” Kalimat “biar menjadi orang disini biasanya mereka tujukan/ maksudkan kepada anak2 agar anak mrk tersebut sukses dalam urusan duniawi mereka kelak…

Wahai saudara-saudariku
Sungguh Islam sama sekali tidak melarang seseorang sukses dalam kehidupan duniawinya, akan tetapi kesuksesan duniawi bukanlah yg utama bagi seorang mu’min!
Yg merupakan prioritas utama seorang mu’min ialah bagaimana agar dia sukses dalam kehidupan akhiratnya kelak.

Sebagaimana ALLAH jelaskan bahwa kesuksesan yg benar2x sukses ialah, manakala ALLAH selamatkan manusia dari api neraka dan ALLAH masukkan manusia kedalam surga itulah hakekat kesuksesan yg hakiki.

Sebagaimana yg ALLAH jelaskan dalam surah Ali Imran :185

” ..Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan…”

Syaikh As-Sa’di Rahimahullah mengatakan;

Orang yg memperoleh kemenangan yg besar adalah mereka yg selamat dari azab yg pedih dan dia bisa menikmati berbagai macam kenikmatan di surga. Yaitu kenikmatan yg belum pernah dilihat oleh mata manusia sebelumnya, belum pernah didengar oleh telinga manusia dan belum pernah terlintas didalam hati manusia, itulah hakekat kesuksesan.

Adapun sebaliknya apabila manusia dimasukkan kedalam neraka dan dijauhkan dari surga berarti dia bukan termasuk orang yg sukses….

(Taisir Kariimirrahman)

Demikianlah yg seharusnya sikap seoarang muslim dlm kehidupannya yaitu menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai puncak cita-citanya dan harapan tingginya.

Semoga ALLAH memberikan kemudahan utk melaksanakan ketaatan kepadaNya, memberikan kesehatan kpd kita semua.

Ahmad Ferry Nasution

Menebar Cahaya Sunnah