All posts by BBG Al Ilmu

Durhaka Kepada Ibu

 Al Imam Dzahabi didalam kitab Al Kabair (hal :34) berkata:

Renungkanlah serta amalkan nasehat emas ulama kita ini…

“Ibu mu telah mengandungmu di dalam perutnya selama 9 bulan seolah-olah dia telah mengandungnya 9 tahun lamanya.

Dia bersusah payah ketika akan melahirkanmu!!
Yang hampir saja menghilangkan nyawanya…

Dan dia telah menyusuimu dari payudaranya dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjaga dirimu!!!

Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dan dia selalu mengutamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu dirimu…

Dia telah memberikan semua kebaikan padamu dan apabila kamu sakit atau mengeluhkan sesuatu tentang dirimu, maka tampak dari wajah ibumu kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang berkepanjangan, dan dia keluarkan harta untuk membiaya dokter dan rumah sakit utk mengobati dirimu. Dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya (kematian ibunya) , maka IBU mu akan memilih/ meminta supaya KAMU tetap hidup dengan suara yg sgt keras!!!

Betapa banyak kebaikan dan jasa seorang ibu….
Sedangkan engkau balas dengan akhlak yg kurang baik yang kurang baik padanya…
IBUmu selalu mendoakanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala IBUmu sekarang sangat membutuhkanmu disaat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu lagi…

ENGKAU KENYANG! dalam keadaan IBUMU KELAPARAN…

ENGKAU PUAS! dalam keadaan IBUMU KEKURANGAN…

Dan ENGKAU lebih mendahulukan berbuat baik kepada istrimu dan anakmu dari pada kepada IBUmu sendiri…

Dan ENGKAU Lupakan semua kebaikan yg pernah dia buat kepadamu..

Dan ENGKAU merasa berat! apabila ENGKAU merawatnya padahal yg demikian adalah sangat mudah bagimu….

Dan ENGKAU mengira bahwa ibumu akan berumur panjang padahal umurnya sangat singkat.

ENGKAU tinggalkan dia! Padahal dia tdk penolong selain dirimu…

Padahal ALLAH telah melarangmu berkata “ah” dan ALLAH mencelamu dgn celaan yang sangat lembut.

Dan ENGkAU akan disiksa didunia ini dg siksaan yg pedih dg sebab ENGKAU durhaka kepada IBUMU!

Dan ALLAH akan membalas diakhirat dgn dijauhkan dari ALLAH Rabbul ‘aalamin.

Semoga ALLAH memudahkanku dan dirimu saudaraku utk berbuat baik kepada kedua orangtua kita terutama ibunda kita…
Mari kesempatan bagi kita untuk meraih syurga dgn berbakti kepda keduaorang tua kita…

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – –

Hafalkanlah !

Ust. Badrusalam Lc

Dari Abu Kabsyah Al Anmaari radliyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, aku akan sampaikan, maka hafalkanlah !

-Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.
-Tidaklah seorang hamba di zalimi, lalu ia bersabar kecuali Allah akan tambahkan kemuliaan untuknya.
-Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu kefaqiran.

Aku akan menyampaikan sebuah hadits, hafalkanlah ! Dunia itu untuk empat orang:

-Seorang hamba yang diberikan oleh Allah rizki berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahmi dan melaksanakan hak Allah. Ini adalah kedudukan yang paling utama.

-dan hamba diberikan oleh Allah ilmu dan tidak diberikan harta, namun niatnya benar, ia berkata: jika aku mempunyai harta, aku akan berinfaq seperti si fulan, maka dengan niatnya ia mendapat pahala yang sama dengannya.

-dan hamba yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu, ia habiskan hartanya dengan tanpa ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak melaksanakan hak Allah, maka ini kedudukan yang paling buruk.

-dan hamba yang tidak diberikan harta tidak juga ilmu, dan ia berkata: jika aku mempunyai harta aku akan beramal (buruk) seperti si fulan, maka dengan niatnya tsb ia mendapat dosa yang sama dengannya.

(HR Ahmad dan at Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih. Dan dishahihkan oleh syaikh al Bani dalam shahih targhib no 16).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Tj Larangan Membaca Al Qur’an Di Pemakaman/Kuburan

Tj – 319

Pertanyaan:
Ana mau tanya : apakah ada hadist yg melarang langsung utk membaca al quran di kuburan?. شُكْرًا كَثِيْرًا

Jawaban:
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

“Sesungguhnya diantara makhluk yang paling buruk (di sisi Allah) adalah orang yang masih hidup ketika terjadinya kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” (HR. Ahmad, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 216)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras sikap nya terhadap orang-orang yang beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang yang shalih. Kalau beribadah kepada Allah di sisi kubur saja, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap keras, tentu akan lebih keras lagi jika sampai beribadah kepada penghuni kubur tersebut.

Berikut adalah hadits-hadits mengenai larangan tersebut :
1. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari’ Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha (salah seorang istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka di dalamnya yang dilihatnya di Negeri Habasyah (Ethiopia). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ؛ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِداً وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka itu, apabila ada orang yang shalih -atau hamba yang shalih- meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka; mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “mereka itulah makhluk yang paling buruk di hadapan Allah” menunjukkan haramnya membangun masjid-masjid di atas pekuburan, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang melakukan hal itu. Perbuatan itu merupakan sarana yang mengantarkan kepada kekufuran dan kesyirikan, yang secara nyata merupakan kezhaliman yang paling besar.

Al Baidhawi berkata: “Tatkala orang-orang Yahudi dan Nasrani bersujud kepada kuburan para nabi dengan maksud mengagungkan derajat mereka, dan menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai kiblat, yang mereka menghadap dalam shalat, serta menjadikannya sebagai berhala-berhala, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka”.

Imam al Qurthubi berkata,”Mula-mula, para pendahulu mereka memahat gambar-gambar tersebut agar mereka dapat menjadikannya sebagai suri teladan dan mengenang perbuatan-perbuatan shalih mereka, sehingga dapat memiliki kesungguhan beribadah yang sama seperti mereka; karenanya, mereka beribadah kepada Allah di sisi kuburan-kuburan mereka. Kemudian setelah mereka meninggal, datanglah generasi yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap agama, sehingga tidak mengerti maksud dari pendahulu mereka tersebut; lalu setan merasuki mereka dengan menyatakan, bahwa para pendahulu mereka tersebut sebenarnya telah menyembah rupaka-rupaka ini dan mengagungkannya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang terjadinya hal tersebut untuk menutup segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tersebut.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,”(Mereka dikatakan sebagai makhluk yang paling buruk), karena memadukan dua fitnah sekaligus. Yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat gambar-gambar.” Keduanya disebut fitnah, karena memalingkan manusia dari agama.

Beliau rahimahullah juga berkata,”Hal inilah yang dipakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai alasan untuk melarang membangun masjid-masjid di atas kuburan-kuburan, karena telah banyak menjerumuskan umat-umat sebelumnya, baik ke dalam syirik besar maupun syirik lainnya yang lebih ringan. Banyak orang cenderung melakukan perbuatan syirik terhadap patung orang shalih dan patung-patung yang mereka anggap bahwa ia merupakan garis-garis rajah dari bintang-bintang, dan hal lain yang serupa dengan bintang. Ini terjadi, karena berbuat syirik dengan menyembah kuburan orang yang diyakini keshalihannya lebih terasa di dalam jiwa, daripada berbuat syirik dengan menyembah pohon atau batu.

Oleh karena itu pula, Anda mendapatkan ahli syirik memohon di sisi kuburan dengan penuh kesungguhan, penuh kekhusyuan dan sikap berserah diri, serta menyembahnya dengan sepenuh hati, padahal ibadah yang seperti itu tidak pernah mereka lakukan di rumah-rumah Allah ataupun di waktu tengah malam menjelang Subuh. Di antara mereka ada yang bersujud kepada kuburan itu. Ketika melakukan shalat dan berdoa di sisi kuburan tersebut, kebanyakan mereka mengharapkan keberkahan, yang tidak pernah mereka harapkan ketika berada di masjid-masjid.

Lantaran perbuatan tersebut dapat menimbulkan kerusakan, maka dengan tanpa ragu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikisnya. Sampai-sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di pekuburan secara mutlak, meskipun orang melakukannya tidak dengan maksud mengharapkan berkah tempat tersebut sebagaimana ia mengharapkannya ketika shalat di dalam masjid. Begitu pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya melakukan shalat pada waktu terbit dan tenggelamnya matahari, karena waktu-waktu tersebut digunakan oleh kaum musyrikin untuk menyembah matahari. Karenanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya shalat pada waktu-waktu tersebut, meskipun mereka tidak memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kaum musyrikin tadi. Hal ini sebagai upaya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup rapat celah-celah menuju kesyirikan.

Adapun bila seseorang melakukan shalat di sisi kuburan dengan maksud untuk mendapatkan keberkahan melalui shalat di sisi kuburan tersebut, maka ini jelas merupakan sikap memusuhi Allah dan RasulNya, melanggar aturan agamaNya, mengada-adakan sesuatu di dalam agama yang tidak pernah Allah izinkan. Kaum muslimin telah bersepakat secara ijma’, bahwa di antara perkara-perkara mendasar dalam agama, yaitu mengetahui bahwa shalat di sisi kuburan adalah dilarang. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang mengfungsikan kuburan sebagai masjid. Karena itu, di antara perbuatan mengada-ada (bid’ah) yang paling besar dan merupakan sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah melakukan shalat di sisi kuburan dan mengfungsikannya sebagai masjid, serta mendirikan masjid-masjid di atasnya. Nash-nash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang hal itu, dan memperingatkan pelakunya secara keras sangatlah banyak dan mutawatir. Seluruh kelompok umat secara jelas dan terang-terangan melarang untuk mendirikan masjid-masjid di atasnya, karena mereka mengikuti sunnah yang shahih dan sharih (jelas).

Para ulama pengikut Imam Ahmad dan ulama yang lain, yakni pengikut Imam Malik dan Imam Syafi’i, secara terang-terangan mengharamkan perbuatan tersebut. Ada juga yang menyatakan, hal itu sebagai perbuatan makruh, namun sepatutnya membawa maknanya kepada karahah at tahrim (makruh yang berindikasi pengharaman) sebagai tanda bersangka baik kepada para ulama yang menyatakan demikian, sehingga mereka tidak disangka membolehkan perbuatan yang secara mutawatir dilarang oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pelakunya beliau laknat.”

2. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia pernah berkata: Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika dalam keadaan demikian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الَْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid)”.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal itu saat mendekati kematiannya, untuk memperingatkan umatnya dari perbuatan mereka (Yahudi dan Nasrani) itu. Seandainya bukan karena peringatan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, niscaya kubur beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan
ditampakkan; hanya saja beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir, jika (kubur beliau) akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”

Syaikh Shalih Alu asy Syaikh menjelaskan, ada tiga bentuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Pertama : Menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujudnya. Bentuk yang paling bisa dipahami dari perkataan ‘mereka menjadikan kuburan tersebut sebagai masjid’ ialah, menjadikan kuburan sebagai masjid. Yaitu tempat melakukan
shalat dan sujud di atasnya. Demikian ini jelas merupakan sarana yang sangat berbahaya, dan paling merusak yang mengantarkan kepada syirik dan berlaku ghuluw kepada kuburan.

Kedua : Shalat ke arah kuburan. Makna menjadikan kuburan sebagai masjid dalam bentuk ini, yaitu seseorang shalat di hadapan kuburan dengan menjadikannya sebagai kiblatnya. Dengan kondisi ini, dia telah menjadikan kuburan sebagai tempat ia merendahkan dan menghinakan dirinya.
Masjid di sini bukan lagi semata-mata berarti tempat sujud –meletakkan dahi di atas tanah–, tetapi berarti tempat merendahkan dan menghinakan
diri. Mereka menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid, maksudnya, menjadikannya sebagai kiblat. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ke arah kuburan, karena merupakan salah satu sarana kepada sikap pengagungan kuburan.

Ketiga : Menjadikan kuburan berada di dalam suatu bangunan, dan bangunan itu adalah masjid. Jika yang dikubur itu seorang nabi, maka mereka membuat bangunan di atasnya. Mereka lantas menjadikan di sekeliling kuburan itu sebagai masjid dan menjadikan tempat itu sebagai tempat beribadah dan shalat.

http://almanhaj.or.id/content/2707/slash/0/larangan-beribadah-di-kuburan/

Adab Ziarah Kubur

UST. FUAD HAMZAH BARABA’, LC

Di antara adab² ziarah kubur yg perlu diperhatikan adalah sbb:

1. Mengucapkan salam ktika masuk pekuburan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Smg kesejahteraan utkmu wahai penduduk kampung (Barzakh) dr kaum mu’minin & muslimin & sesungguhnya kami Insya Allôh akan menyusul kalian, kami memohon kpd Allôh keselamatan bagi kami & bagi kalian” (HR.Muslim)

2. Tdk memakai alas kaki (sandal/sepatu) ktika memasuki pekuburan.

Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam ketika melihat seseorg sdg berjalan di antara kuburan dg memakai sandal, bersabda,
“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!”
Lalu org trsbt melihat (kpd org yg meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau org itu adlh) Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam ia melepas kedua sandalnya & melemparnya”
(HR. Abu dawud, Ibnu Majah dll)

3. Tdk duduk di atas kuburan & menginjaknya.
Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam bersabda; “Sungguh jika salah seorg dari kalian duduk di atas bara api shg membakar bajunya & menembus kulitnya, itu lebih baik drpd duduk di atas kubur” (HR. Muslim)

5. Mendo’akan ahli kubur jika dia seorg muslim & boléh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit dgn menghadap ke kiblat. (HR. Ahmad).

6. Tdk mengucapkan al-hujr
(ucapan yg bathil).

7. Diperboléhkan menangis yg wajar tetapi tdk boléh meratapi mayit dgn histeris, menampar pipi, merobék kerah & sejenisnya.

8. Tdk boléh membaca al-Qur’an di kuburan, baik hanya sekedar membaca di sisi kubur atau utk dihadiahkan kpd si mayit.

Nabi Shollallôhu ‘Alayhi Wasallam bersabda, “Jgnlah kalian jadikan rumah2 kalian sbg kuburan, sesungguhnya syaython akan lari dari rumah yg dibacakan padanya suroh alBaqoroh”. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kuburan bukanlah tempat utk membaca al-Qur’an & sbaliknya rumah yg selayaknya dibacakan di dlmnya al-Qur’an.

Kewajiban Ittiba’ Seperti Dalam Mengusaf Khuff

Ust. Badrusalam Lc

Hadits 54.
Dari Ali radliyallahu ‘anhu berkata: “Kalaulah agama ini berdasarkan ro’yu, tentulah bagian bawah khuff lebih layak diusap dari pada bagian atasnya. Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap punggung khuffnya”.
(HR Abu Dawud dengan sanad yang hasan).

Fawaid hadits:
1. Wajibnya mengusap bagian punggung khuff saja, dan tidak disyari’atkan mengusap bagian lainnya dari khuff.

2. Agama islam dibangun di atas wahyu dari Allah dan yang berasal dari RasulNya. Bukan berdasarkan ro’yu semata, maka kewajiban kita adalah ittiba’ bukan berbuat bid’ah.

3. Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan dalil yang shahih. Bila terjadi pertentangan maka yang dituduh adalah akal bukan dalil yang shahih.

4. Islam tidak menghilangkan fungsi akal sama sekali, namun akal digunakan untuk memahami wahyu (al qur’an dan hadits), bukan untuk menentang wahyu.

Wallahu a’lam

Hadits 54. Kewajiban ittiba’ seperti dalam mengusaf khuff

Hal-Hal Yang Belum Banyak Diketahui Ketika Mengurus Jenazah

1. Tidak ada sunnah menyedekapkan tangan jenazah.

2. Tidak ada sunnah membuka wajah mayit ketika dikuburkan.

3. Dalam mengantar jenazah, tidak boleh orang yang berkendara berada di depan mayit.

4. Duduk di atas kuburan itu dosa besar.

5. Tidak harus membuka tali pocong.

6. Ketika di kuburan, tidak boleh duduk sebelum mayat diletakkan.

7. Yang berada di liang adalah orang yang tidak jima’ pada malam harinya.

8. Tidak ada dalil untuk memimpin do’a setelah mayit dikuburkan, yang ada ialah doa sendiri2.

9. Disunnahkan bagi setiap hadirin untuk melemparkan 3 gumpalan tanah ke arah kepala mayat.

10. Sunnah menyalatkan jenazah di tanah lapang.

11.Sunnahnya tidak mengangkat tangan dalam takbir ketika shalat jenazah.

12. Tidak sunnah menutup mayat dengan keranda.

13. Tinggi kuburan maksimal 1 (satu) jengkal.

14. Tidak usah mengganti dhamir hu menjadi ha karena dalam doa tersebut kembali kepada mayat, bukan jenis kelamin mayat.

15. Tidak disunnahkan adzan dan iqomah di liang lahat, adzan adalah panggilan untuk sholat.

♥ Dari kajian أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc -حفظه الله تعال- di Rodja TV



Berobat Dengan Al-Qur’an Dan Sunnah

Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan perhatian besar terhadap kesehatan jasmani dan rohani dgn perlindungan dan pengobatan. Anjuran kpd pengobatan dan penyembuhan dgn ayat-ayat alqur’an dari berbagai penyakit hati spt dendam, dengki, syahwat yg diharamkan serta penyakit2 jiwa spt kecemasan, kesusahan, depresi dan penyakit2 fisik. Allah berfirman:

“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Robbmu dan penyembuh bagi penyakit2 didalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang2 yg beriman” (QS:Yunus:57)

Alqur’an adalah penyembuh yg sempurna dari seluruh penyakit hati dan fisik. Berikut tatacara mengobati penyakit dgn alqur’an / ruqyah:

1.Ruqyah dgn membaca sj.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha adalah Rosul صلى الله عليه وسلم jika mendatangi orang sakit atau didatangkan kepada beliau orang sakit beliau berdoa:
اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ فَأَنْتَ الشَّافيِ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَماً

‘Hilangkanlah penyakit, wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhanMu yaitu penyembuhan yg tdk meninggalkan penyakit (HR. Al-Bukhori 5676)

2.Ruqyah dgn membaca dan meniup
Adalah Rosul صلى الله عليه وسلم jika ada seorang dari keluarganya yg sakit, beliau meniup padanya dengan bacaan al-Mu’awwidzat (ayat2 perlindungan) maka saat beliau sakit, dengan sakit yg beliau wafat didalamnya, akupun meniup atas beliau lalu aku usapkan dgn tangan beliau sendiri karena tangan beliau lbh besar keberkahannya daripada tanganku’ (HR. Muslim (50/2192)

3.Ruqyah dgn membaca dan meludah ringan.
Dari Muhammad bin Hatib رضي الله عنه dia berkata:
‘Periuk terjatuh (tertumpah) atas tanganku maka tangankupun terbakar, lalu bapakku pergi membawaku kpd Rosul صلى الله عليه وسلم. Dan beliau kala itu meludah padanya (tanganku) seraya bersabda ‘Hilangkanlah penyakit wahai Tuhan manusia’ Dan aku kira beliau bersabda ‘Dan sembuhkanlah dia,
Sesungguhnya Eangkau adalah Sang Maha Penyembuh’ (HR. Ahmad)

4. Ruqyah dgn membaca dan mengusap.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha dia berkata: ‘Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم memintakan perlindungan utk sebagian mereka dan mengusapnya dgn tangan kanannya seraya berdoa ‘Hilangkanlah penyakit wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau adalah Sang Maha Penyembuh, tdk ada kesembuhan selain kesembuhanMu, dgn kesembuhan yg tidak meninggalkan penyakit (HR. Al-Bukhori 5750)

5.Ruqyah dgn membaca lalu meletakkan tangan diatas tempat yg sakit kemudian mengusap.
Dari Utsman bin Abil Ash ats-Tsaqaofiy رضي الله عنه berkata: ‘Bahwasanya dia mengadu kpd Rosulullah akan sebuah sakit yg dia dapati di tubuhnya semenjak dia msk islam. Maka Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya ‘Letakkanlah tanganmu diatas tempat yg kamu merasakan sakit dari tubuhmu kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut asma Allah (3x) dan ucapkanlah 7x ‘Aku berlindung kpd Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yg aku dapatkan dan aku khawatirkan ‘ (HR Muslim 67/2202)

6. Meruqyah dgn bacaan, tiupan dan usapan
Dari Abu Sa’id al-Khudriy رضي الله عنه berkata: ‘Maka sayapun membaca al-Fatihah lalu sy usap tempat yg dipatuk (disengat hewan berbisa) hingga dia sembuh’ (HR. An-Nasa’i dl al-Kubra 7/70)

7. Ruqyah dgn membaca, kemudian meletakkan ludah diatas jari, kemudian meletakkannya diatas tanah kemudian diletakkan diatas orang yg sakit.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha: ‘Bahwa Rosul صلى الله عليه وسلم jika ada seseorang mengeluhkan sesuatu darinya atau padanya terdapat borok atau luka maka Nabi صلى الله عليه وسلم melakukan spt ini dengan jarinya, Sufyan (memperagakan) meletakkan jari telunjuknya ditanah kemudian mengangkatnya seraya berkata ‘Dengan menyebut asma Allah n (ini adalah) tanah bumi kami, dengan air ludah kami, agar orang sakit kami disembuhkan dgn (sebab)nya dgn izin rabb kami (HR Muslim 54/2194)

An-nawawi Rakhimahullah berkata, ‘Makna hadits adalah mengambil air ludah sendiri diatas jari telunjuk

Kemudian meletakkan diatas tanah lalu menempellah dari tanah itu sesuatu kemudian mengusap-usapkannya di atas tempat luka atau sakit dengan mengucapkan doa tersebut pada saat mengusap (Syarah Muslim, Imam an-Nawawi Rahimahullah XIV/183)

8. Ruqyah dengan meletakkan garam didalam air kemudian mengusapkannya diatas tempat sakit dgn disertai membaca utk orang yg disengat.

Dari Ali رضي الله عنه berkata: “Ketika Rosulullah صلى الله عليه وسلم shalat pada suatu malam, beliau meletakkan tangan beliau diatas tanah, maka seekor kalajengking menyengatnya, maka Rosul صلى الله عليه وسلم mengambilnya dengan sandal beliau lalu membunuhnya. Maka tatkala beliau selesai sholat, beliau bersabda, ‘Allah melaknat kalajengking, dia tdk membiarkan orang yg sedang sholat, tidak jg selainnya, atau seorang nabi atau selainnya’. Kemudian beliau minta diambilkan garam dan air lalu menjadikannya dalam satu wadah kemudian menuangkannya diatas jari beliau yang disengat kalajengking dan mengusapnya serta meminta perlindungan dgn al-Mu’awwidzataim (surat al-Falaq dan an-Nas)”. (HR. Al-Baihaqi 2340, al-Mishkah, al-Albani II/534)

9.Ruqyah dengan membaca disertai dgn mencampurkan tanah dgn air lalu meiup padanya lalu menuangkannya diatas orang yg sakit.
“Rosulullah صلى الله عليه وسلم masuk menemui Tsabit bin Qais – Ahmad berkata, ‘Dia sedang sakit, seraya beliau bersabda, ‘Singkaplah penyakit wahai Tuhan manusia dari Tsabit bin Qois bin Syammas. ‘Kemudian beliau mengambil tanah dari Bathhan lalu menjadikannya dalam sebuah wadah kemudian beliau meniup padanya dengan air dan menuangkannya diatasnya. (HR Ibnu Hibban, an-Nasa’i, sanadnya di jayyidkan oleh Ibnu Baz dlm Majmu’ Fatawa VIII/94)

10. Memakan makanan dan minuman yg memiliki khasiat sbg obat dgn izin Allah سبحانه وتعالى . Sebagaimana sabda beliau صلى الله عليه وسلم dalam al-Bukhori: “Sesungguhnya jinten hitam adalah penyembuh dari segala penyakit kecuali kematian”.

Rujukan: Bahtsul Istisyfa’ bil Qur’anil Karim

Tj Sutroh Bagi Makmum Masbuq

Apakah seorang masbuq masih diwajibkan menghadap sutroh untuk sisa rakaat sholatnya?

Penanya : Abu Zahroh

Jawaban :

Telah maklum bahwa orang yang melakukan shalat berkewajiban mendekat ke sutrah. Dan dilarang melakukan shalat tanpa menghadap sutroh. Yang dimaksudkan dengan sutroh pada shalat yaitu benda yang ada di hadapan orang yang shalat, minimal setinggi sehasta, untuk menutupinya dari apa-apa yang lewat di depannya. Sutroh ini dapat berupa tembok, tiang, atau lainnya.
Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
لاَ تُصَلّ ِ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ
Artinya:
“Janganlah engkau melakukan shalat kecuali menghadap sutroh.” (HR. Ibnu Khuzaimah; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shifat Shalat Nabi)

Nabi shalallahu alaihi wasallam- juga bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعْ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ
Artinya:
“Jika seseorang dari kamu melakukan shalat menghadap sutroh, maka hendaklah dia mendekat kepadanya, jangan sampai syaithaan membatalkan shalatnya.” (HR. Abu Dawud, no. 695; An-Nasai, no. 748; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Adapun ukuran kedekatan tempat berdiri orang shalat dengan sutroh adalah kira-kira tiga hasta, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari, hadits no. 506.

Maka orang yang melakukan shalat itu harus mendekat ke sutroh, jika dia tidak melakukan berarti dia bermaksiat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sutrohnya makmum adalah sutrohnya imam, karena sutrah di dalam shalat jama’ah merupakan tanggungan imam. Sehingga jika diperlukan seseorang boleh lewat di depan makmum, dan makmum tidak wajib menolaknya…

Lebih lengkap Silahkan KLIK :

http://m.klikuk.com/bagaimanakah-sutroh-makmum-masbuq/

Ciri-Ciri Hati Yang Selamat

1. Mengutamakan kehidupan akhirat dibanding dunia,serta hatinya memahami ia datang kedunia ini seperti orang asing.

2. Hatinya selalu menegur untuk selalu istighfar serta bertaubat kepada ALLAH subhaanahu wa ta’ala.
(Ali imran: 133).

3. Hati merasakan sakit/menyesal apabila ada bentuk ketaatan yang luput darinya.

4. Hatinya selalu merindukan untuk beribadah kepada ALLAH.

5. Hatinya senantiasa menyibukkan dari waktu ke waktu untuk hal-hal yang akan memberikan manfaat untuk kehidupan akhiratnya.

6. Apabila ia melaksanakan shalat,maka akan hilang darinya semua kesibukan dunia dan dia merasakan kelezatan yang sangat dari shalat tersebut.

7. Tidak pernah putus untuk senantiasa berdzikir kepada ALLAH karna ia sangat membutuhkan dan tidak juga pernah bosan dari beribadah kepadaNYA.

8. Hati yang selamat senantiasa memiliki perhatian yang sangat untuk senantiasa mengoreksi setiap amal yang ia kerjakan, dan selalu berusaha untuk senantiasa ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi.

9. Hati yang selamat senantiasa menyibukkan untuk mengoreksi dari setiap kekurangan/aib yang ada pada dirinya dan ia tidak menyibukkannya terhadap aib saudaranya.

10. Ia selalu memusatkan perhatiannya/ menanti serta merindukan dari setiap nasehat para ahli ilmu yang akan senantiasa menasehatinya, dan ia gemar berakhlak yang mulia kepada manusia.

Semoga memberikan manfaat kepada kita semua.

Oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution.

MEMINTA RAHMAT (BERTARAHHUM) BAGI ORANG KAFIR

Ust. Abdussalam Busyro Lc

Allah Ta’ala melarang hambaNya untuk bertarahhum kepada orang kafir selagi mereka mati dalam keadaan kafir. Permintaan rahmat kepada orang kafir, maknanya adalah memindahkannya dari neraka menuju surga sementara Allah سبحانه وتعالى mengharamkan surga atas orang-orang kafir.

Imam Ahmad Rohimahullah meriwayatkan dalam al-musnad dan lainnya, bahwa orang-orang yahudi dahulu bersin disisi Nabi صلى الله عليه وسلم berharap mendapat doa dari Nabi صلى الله عليه وسلم, akan tetapi Rosul صلى الله عليه وسلم tidak bertarahhum kepada mereka.

Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى melarang menshalati orang kafir dan berdiri diatas kuburnya, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) orang yg mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan RosulNya dan mereka mati dlm keadaan fasik” (QS. At-taubah : 84)

Shalat dan berdiri tidaklah dilarang namun keduanya mengandung unsur doa. Oleh karen itulah Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi صلى الله عليه وسلم utk bertarahhum untuk ibu beliau. Dalam hadits shahih muslim (976) dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, Rosul صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Aku telah meminta izin kepada rabbku untuk beristighfar bagi ibuku, maka Dia tidak memberiku izin dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya maka Diapun mengizinkanku”

Hadits diatas memberikan pelajaran bahwa bertarahhum kepada orang2 kafir adalah perbuatan yg melampaui batas dalam berdoa. Dan Allah سبحانه وتعالى melaknat orang2 kafir lebih dari satu tempat dalam kitabNya, sementara laknat adalah pelemparan dan penjauhan dari rahmatNya.