All posts by BBG Al Ilmu

Ini Hakekatnya

Sebagian manusia bekerja, siang malam, kedinginan, dan kepanasan tetapi tidak mendapat kecuali sedikit dari rupiah..

Sebagian manusia hanya duduk di atas meja, ruangan ber-AC, sedikit bergerak tapi mendapatkan banyak dari harta dunia..

Itulah rezeki, Allah-lah yang mengaturnya, Dia melapangkan kepada siapa yang dikehendaki dan menahannya dari siapa yang dikehendaki-Nya..

Tapi masalahnya adalah pemahaman kita tentang arti dari KEKAYAAN..

Apakah itu..?

Siapakah orang kaya yang sesungguhnya..?

Selama seseorang tidak memahami hakekatnya maka ia akan berada di dalam kubangan kekurangan dan kemiskinan walaupun hartanya melimpah..

Mari kita perhatikan sabda Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berikut :

ليس الغنى عن كثرة العرض و لكن الغنى غنى النفس

“(Hakekat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi hakekat kaya adalah kaya jiwa..”
[HR Bukhari : 6446, Muslim : 1051]

Kaya jiwa, kaya hati inilah hakikatnya..

Karena kaya jiwa seseorang bisa tersenyum tulus dari hatinya yang lapang..

Karena kaya jiwa seseorang bisa berbagi rezeki walaupun hidup kekurangan..

Karena kaya jiwa makan, minum dan menjalani hidup dengan tenang tanpa stress walaupun hidup seadanya..

Tapi kalau jiwa miskin, maka kesusahan dan kesempitan yang dirasakan, tidak bahagia, sulit berinfaq dan berbagi, dan hidup sesalu dihantui kekurangan dan kekurangan..

Sudah saatnya kita merubah pandangan kita agar tidak menyesal..

Bacalah Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi, hadirilah kajian-kajian ilmu yang bermanfaat..

Mengejar dunia tanpa mengetahui hakikatnya, akan membuahkan kesempitan, kejenuhan, was-was, stress dst..

Seseorang akan mengalami kejenuhan, ya kejenuhan..

Kebahagiaan ada dalam kekayaan jiwa, dan ketaatan pada Allah..

Selamat beraktifitas, dan selamat berbagi dengan sesama..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Alaah, jangan bawa-bawa agama…

Sobat, betapa sering kita mendengar ucapan semisal di atas, di dunia pendidikan katanya: jangan bawa bawa agama, di urusan politik, katanya: jangan bawa bawa agama, dalam urusan dagang, katanya : jangan bawa bawa agama, dalam urusan sosial, katanya: jangan bawa bawa agama,……. dst.

Sobat! Kalau demimikian, lalu kapan Anda akan membawa agama Anda?

Dan coba Anda jawab: di saat anda tidak membawa agama, apa berarti anda tidak beragama alias Anda sedang KAFIIIIIR? Lalu kalau saat itu Anda lagi tidak beragama, kapan anda kembali beragama?

Sobat! Tahukah Anda bahwa agama Anda ini agama Islam, mengajarkan agar Anda masuk Islam secara kaafah, menyeluruh dalam semua urusan, waktu, dan tempat.

يأيها الذين امنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين

Wahai orang orang yang beriman, hendaknya engkau masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh, dan janganlah engkau mengikuti langkah langkah setan sejatinya setan adalah musuh yang nyata bagimu. ( Al Baqarah 208)

Jadi, sudikah Anda menjadi orang kafir di saat berada di sekolah atau kampus? Atau kafir ketika di pasar, atau kita bicara tentang politik?

Sebagai orang Islam, anda pasti bersemboyan, sekali Islam ya selamanya Islam, di manapun, kapanpun dan dalam urusan apapun.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Murid Maksa Gurunya Jadi Orang Bodoh Seperti Dirinya…

Namanya murid, biasanya kurang ilmu, sedangkan guru biasanya lebih banyak ilmu, -biasanya loo, ndak selalu, sehingga wajar bila guru mengetahui banyak hal yang belum dan tidak diketahui atau dipahami oleh murid. Karenanya, satu kepastian bila murid bersikap santun dan sabar dalam menuntut ilmu, dan bersyukur bila gurunya mengajarinya atau mencontohkan kepadanya berbagai hal yang belum ia ketahui atau belum pernah ia dengar sebelumnya. Sebagaimana, guru juga sepatutnya bersabar mengajari muridnya berbagai ilmu yang belum dipahami dan dikuasai oleh muridnya.

Kondisi menjadi berubah seutuhnya, bila murid menjadi berang setiap kali mendengar gurunya menyampaikan hal yang belum ia pahami atau dengar, dengan tanpa santun, sang murid berkata: wahai guru! Sangat aneh apa yang engkau sampaikan ini, karena selama aku belajar, belum pernah mendengar dan belum pernah mengetahui apa engkau sampaikan ini! Seakan murid lupa kalau dia belajar tuh untuk menimba sesuatu yang belum dia pahami atau ketahui.

Sebagaimana kondisi akan kacau balau bila guru selalu berang bila mengetahui muridnya belum paham banyak hal yang telah lama ia pahami, lalu berkata: muridku, masalah begini saja engkau belum paham dan belum tahu, padahal sudah sekian lama saya mengetahui masalah ini.

Murid bengal, guru congkak, tamatlah ilmu, dan berakhir pula kisah panjang menuntut ilmu dan mengajarkannya. Bila sudah demikian, maka kebodohanlah yang tersisa.

Abdullah bin Syaqiq bercerita: Suatu hari selepas shalat Asar, sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkhutbah, untuk menenangkan masyarakat yang sedang terprovokasi untuk melakukan pemberontakan. Karena begitu gentingnya kondisi saat itu, beliau dengan berapi api terus berkhutbah, hingga matahari terbenam. Sepontan sebagian masyarakat yang hadir kala itu, mulai kasak-kusuk dan berkata: sholat, sholat . Namun sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu terus berkhutbah berusaha meredam gejolak perang saudara. Merasa seruan mereka agar beliau berhenti dari khutbahnya dan segera mendirikan sholat Maghrib, ada seorang lelaki dari Bani Tamim yang bangkit, seakan tidak dapat dikendalikan lagi, berteriak dengan suara lantang: sholat, sholat.


Mendengar teriakan lelaki tersebut, sahabat Ibnu Abbas berkata:

أَتُعَلِّمُنِى بِالسُّنَّةِ لاَ أُمَّ لَكَ. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Apakah engkau hendak mengajariku tentang sunnah (agama)? Engkau lelaki yang tiada memiliki ibu. Selanjutnya beliau berkata: Sungguh aku pernah menyaksikan Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam menjama’ (menggabungkan) sholat Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’.


Abdullah bin Syaqiq merasa ragu dengan pernyataan sahabat Ibnu Abbas ini, sehingga ia merasa perlu untuk mencari tahu dengan cara mendatangi sahabat Abu Hurairah radhiallau ‘anhu, untuk menanyakan pernyataan sahabat Ibnu Abbas di atas, dan ternyata sahabat Abu Hurairah membenarkan pernyataan sahabat Ibnu Abbas radhiallau ‘anhuma (Muslim dan lainnya)

Para ulama’ menjelaskan bahwa bila ada kebutuhan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda, semisal yang sedang dihadapi oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, atau semisal dokter yang harus menjalankan oprasi pasiennya, dan tidak bisa dihentikan atau ditunda walau hanya sesaat, semisal petugas pemadam kebakaran yang harus menjalankan tugasnya, maka mereka dibolehkan menjama’ sholat, walau tidak sedang dalam kondisi safar.

Namun lihatlah, perbedaan sikap kedua orang di atas, lelaki dari Bani Tamim bersikap tidak santun, alias bengal, hanya berdasar keterbatasan ilmunya ia menentang, akhirnya ia kehilangan ilmu. Sedangkan Abdullah bin Syaqiq, bersikap santun dan menyadari keterbatasannya, sehingga ia mencari tahu dengan mendatangi sahabat Abu Hurairah yang terkenal paling banyak menghafal hadits hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, dan akhirnya ia mendapatkan kejelasan dan tambahan ilmu.

Ya kisah di atas adalah contoh sederhana sikap murid bengal yang memaksa gurunya menuruti kebodohannya. Ia tidak menyadari bahwa dirinya belum gaduk kuping, alias minim ilmu, namun tanpa ragu ragu menghardik orang yang berilmu.

Kisah di atas juga menyimpan kisah sikap seora ng murid bijak dan pandai, semisal Abdullah bin Syaqiq. Contoh sikap penuntut ilmu yang kini mulai luntur, oleh semboyan: ndak kenal basa basi, dan keterbukaan informasi.

Kisah di atas juga merupakan contoh sikap seorang guru yang tegar dengan ilmunya, ia berusaha memadamkan api perang saudara, dengan menggunakan keringanan (rukhshah), yaitu menjama’ sholat. Dengan ilmunya, beliau dapat mengurutkan berbagai masalah sesuai dengan skala prioritasnya, dan dapat menerapkan sunnah secara proporsional.

Sobat! Awas ya, jangan jadi murid bengal dan jangan pula menjadi guru congkak.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Macam-Macam Hadits Dlaif…

Hadits dloif yang disebabkan oleh terputusnya sanad ada beberapa macam:

1. Mu’allaq.
2. Mursal.
3. Mu’dlol.
4. Munqothi’.
5. Mudallas.
6. Mursal Khofi.

1. Hadits Mu’allaq.

Definisi

مَا حُذِفَ مِنْ مُبْتَدَأِ إِسْنَادِهِ رَاوٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ إِلَى آخِرِ اْلإِسْنَادِ

Apabila dari awal sanad dihilangkan seorang perawi atau lebih dan seterusnya sampai akhir sanad.

Penjelasan Definisi

Awal Sanad, dihitung dari penyusun kitab.

Seorang rawi atau lebih, yaitu gurunya penyusun kitab, gurunya sang guru, dan seterusnya dihilangkan sanadnya

Sampai akhir sanad, tempat dimana dikatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”, atau “Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”

Contoh; Diriwayatkan oleh Al Bukhari di dalam kitabnya Ash Shahih, Kitab Al Iman, Bab: Husnu Islami Al Mar’i (1/17), ia mengatakan,

قَالَ مَالِكٌ، أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَّارٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّ أَبَا سَعِيْدِ الْخُدْرِيّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ يُكَفِّرُ اللهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلْفَهَا، وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصِ الْحَسَنَةِ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِئَةٍ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا، إِلاَّ يَتَجَاوَزُ اللهُ عَنْهَا

Telah berkata Malik, telah memberitakan kepada kami Zaid bin Aslam, bahwa ‘Atha’ bin Yasar memberitahu kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri memberitahu kepadanya, bahwasannya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; Apabila seseorang masuk Islam, dengan keislaman yang bagus maka Allah akan menghapuskan semua kejahatannya yang telah lalu. Setelah itu balasan terhadap suatu kebaikan sebanyak sepuluh kali sampai 700 kali lipat dari kebaikan itu, dan balasan kejahatan sebayak kejahatan itu sendiri, kecuali pelanggaran tehadap Allah.

Al Bukhari tidak menyebutkan nama gurunya, padahal ia meriwayatkan hadits dari Imam Malik melalui perantara seorang rawi.

Contoh lain:

Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam kitabnya Ash Shahih, Kitab ath-Thaharah, Bab Ma Ja’a fi Ghusli Al Baul, (1/51)

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِصَاحِبِ الْقُبْرِ: كَانَ لاَ تَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada penghuni kubur, “Dahulu dia tidak membersihkan kencingnya.”

Al Bukhari menghilangkan semuasanadnya, dan hanya mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Baca artikel terkait sebelumnya : Keunggulan Shahih Bukhari di Atas Shahih Muslim…

1 Milyar Kebaikan Setiap Hari.. Mengapa Tidak..?! Bahkan Bisa Lebih..!!!

Saudaraku… Allah yang Maha Rahman menginginkan hamba-hambaNya bahagia baik di dunia maupun di akhirat… sehingga Dia banyak membuka pintu-pintu amal kebaikan yang dengannya mereka bisa menambah beratnya timbangan amal shalih nanti di akhirat…

Pintu-pintu kebaikan yang Allah buka selain banyak juga sangat mudah… bahkan terkadang amalan yang sangat ringan namun memiliki bobot pahala yang sangat luar biasa dan besar…

●  INILAH DIANTARA AMALAN MUDAH DAN HEBAT YANG DI KABARKAN

مَنِ استغفَرَ للمؤمنينَ وللمؤمناتِ ، كتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مؤمِنٍ ومؤمنةٍ حسنةً

“Barang siapa yang memohonkan ampun kepada Allah untuk kaum mu’minin dan mu’minah, niscaya Allah akan mencatat baginya satu pahala dari setiap mu’min dan mu’minah”
(HR. Al Bukhori dalam Adab Mufrod dishohihkan oleh syekh Albani)

●  TERNYATA ITU PERINTAH ALLAH DALAM AL-QURAN

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Subhanallah… betapa besar pahala memintakan ampun untuk orang-orang yang beriman baik yang masih hidup atau yang sudah wafat….maka sisipkanlah diantara do’a kita :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“(Doa Nabi Ibrahim): Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan seluruh orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

●  DIANTARA ORANG-ORANG YANG PERLU KITA DO’AKAN SETIAP HARI

1⃣ Kedua Orang Tua kita
2⃣ Istri, suami dan anak-anak kita.
3⃣ kerabat dekat kita
4⃣ Guru-guru kita
5⃣ Ulil amr / Pemerintah kita
6⃣ Orang-orang yang senantiasa memberikan kebaikan kepada kita
7⃣ Seluruh kaum Muslimin dan Muslimah.

Semoga manfa’at dan kita bisa mendulang miliyaran pahala dalam sekejap.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ismail Fachruddin Nu’man MA,  حفظه الله تعالى.

Ma’had Riyadhusshalihiin Pandeglang.