All posts by BBG Al Ilmu

Seputar ‘SYAFAA’AT’…

Ustadz Abdullah Roy, حفظه الله تعالى

Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.

Allâh & Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat.

Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

Syafa’at akhirat ini harus kita imani & kita berusaha untuk meraihnya.

Dan modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid & bersihnya seseorang dari kesyirikan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.”
(Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka dimiliki.

Allâh berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat & juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”.
(Al-Anbiyaa’ 28)

Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia. Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun. Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā (yang artinya) :

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh Ta’ālā kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqarah 255)

Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya.

Seperti seseorang mengatakan dalam yang do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu .”

Ini adalah cara untuk mendapatkan syafā’at yang diperbolehkan.

Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti mengatakan, “Ya Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.”

Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya.

Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman (yang artinya) :

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka & tidak pula memberikan manfaat & mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (Yunus 18)

Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ref : BIAS

Dipanggil Setan…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Pernahkah anda mendengar seseorang memanggil namamu, namun setelah anda mencari ke arah sumber suara, anda tidak melihat seorangpun di sana?

Sekejap bulu tengkuk anda berdiri, jantung anda berdebar dengan kencang dan bisa jadi anda terkencing kencing di tempat.

Tahukah anda, siapakah sebenarnya yang memanggil anda? Kemungkinan besar yang memanggil anda adalah setan. Hiiii, mengerikan bukan?

Sobat! Sebenarnya pada kondisi seperti ini, tiada perlu anda takut apalagi sampai terkencing kencing di tempat. Pada kondisi semacam ini sebenarnya anda bisa membalas ulah setan dengan menjadikannya ketakutan hingga lari terbirit birit. Tidak percaya? Silahkan simak kisah berikut:

Suatu hari, Az Zakwan Abu Shaleh mengutus putranya yang bernama Suhail untuk pergi ke kabilah Bani Haritsah. Dengan ditemani seorang anak kecil, Suhailpun segera. Pergi ke perkampungan Kabilah Bani Haristah. Di tengah jalan, anak kecil tersebut mendengar seseorang dari balik ladang memanggil namanya dengan keras. Merasa dipanggil, anak kecil itu segera menghampiri sumber suara di balik kebun. Namun betapa terkejutnya anak itu, karena ia tidak melihat seorangpun di dalam kebun tersebut.

Sepulang dari Perkampungan Bani Haritsah, Suhail menceritakan kejadian itu kepada ayahnya Az Zakwan. Mengetahui kejadian yang dialami oleh putranya, Az Zakwan berkata: kalaulah aku menyadari bahwa engkau akan mengalami kejadian semacam ini, niscaya aku tidak akan mengutusmu . Lain kali bila engkau mengalami kejadian serupa, maka segera kumandangkan Azan, karena aku pernah mendengar sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الشيطان اذا نودي بالصلاة ولى وله خصاص

Sesungguhnya setan bila mendengar suara seruan menuju shalat (azan) maka ia akan lari terbirit birit hingga terkentut kentut. ( Muslim dll )

Bagaimana sobat, sederhana bukan? Daripada anda takut kepada setan lebih baik anda menakut-nakuti setan agar ia larit terbirit birit.

Sunnah Yang Telah Banyak Dilupakan

Jangan lupa SELINGI OBROLAN ANDA DENGAN DZIKIR dan SHOLAWAT.. Jika tidak ingin RUGI di hari kiamat.

Ini diantara sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang telah banyak dilupakan dan ditinggalkan.

Padahal sebagian ulama mewajibkan hal ini, dan pendapat ini dikuatkan oleh sabda Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- berikut ini:

ما جلس قوم مجلسا لم يذكروا الله فيه ولم يصلوا على نبيهم إلا كان عليهم ترة فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

“Tidaklah suatu kaum duduk berkumpul, di dalamnya mereka TIDAK berdzikir kepada Allah dan TIDAK bersholawat kepada Nabi mereka, melainkan ada ‘tiroh’ (kerugian dan penyesalan) pada mereka. Allah akan SIKSA mereka jika berkehendak, atau mengampuni mereka jika berkehendak..”

[HR. Attirmidzi: 3380 dan yang lainnya, Attirmidzi mengatakan: hadits ini hasan shohih, lihat juga silsilah shohihah: 74].

Dalam hadits lain Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda:

ما قعد قوم مقعدا لم يذكروا فيه الله عز وجل ويصلوا على النبي إلا كان عليهم حسرة يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum duduk, di dalamnya dia tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bersholawat kepada Nabi, melainkan ada kerugian pada mereka di hari kiamat..”

[HR. Ahmad: 9965, sanadnya shohih, lihat: silsilah shohihah: 76].

Syeikh Albani -rohimahulloh- mengatakan:

“Hadits yang mulia ini -dan yang senada dengannya- menunjukkan wajibnya berdzikir kepada Allah, begitu pula bersholawat kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- di setiap majelis.

Oleh karena itu, harusnya setiap muslim waspada dalam hal ini, jangan sampai dia melalaikan dzikir kepada Allah ‘Azza wajall dan sholawat untuk Nabinya -shollallohu ‘alaihi wasallam- di setiap majelis, karena jika tidak demikian kerugian dan penyesalan akan menimpanya pada hari kiamat..”

[Lihat: Silsilah Shohihah 1/162].

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Mengenali Musang Dari Domba…

Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Telah baratus ratus tahun Allah menceritakan bahwa orang orang kafir itu kejam nan bengis. Mereka berdarah dingin, alih alih hanya darah ummat Islam, darah para nabipun mereka tumpahkan. Alih alih hak asasi manusia, hak asasi Allah saja mereka rampas. Alih alih kehormatan dan harga diri ummat Islam, kehormatan Allah-pun mereka langgar.

Simaklah firman Allah Ta’ala berikut :

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka tiada menghormati Allah dengan sebenarnya penghormatan, padahal bumi seluruhnya akan Ia genggam, dan seluruh langit akan Ia gulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi dari segala yang mereka sekutukan.” ( Az Zumar 67)

Pada ayat lain Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan itu ialah kelaliman yang sangat besar.”       ( Lukman 13)

Saudaraku! Masihkah anda hanyut dalam mimpi bahwa orang orang kafir akan menghormati anda dan agama anda? Masihkan anda mengimpikan bahwa orang orang kafir akan menjaga hak hak anda?

Masihkah anda menutup mata dari sejarah panjang darah ummat Islam yang terus membanjiri bumi Allah ? Belum cukupkah Petaka yang menimpa saudara saudara kita Muslim Rohingya, Afganistan, Suria, Cina, Iraq dan lainnya sebagai buktinya? Masihkah anda menantikan giliran sebagai korbannya?

Karena itu, bila anda tidak ingin menjadi korban selanjutnya maka tunaikanlah pesan Allah Ta’ala berikut:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka, segala kekuatan yang dapat engkau siapkan; berupa pasukan berkuda, yang dengannya angkau dapat menggetarkan musuh-musuh Allah dan juga musuh musuh kalian. Dan juga menggetarkan musuh musuh lain yang tidak kalian ketahui, namun Allah mengetahui keberadaan mereka ( musuh dalam selimut ). Dan tiada yang engkau belanjakan di jalan Allah melainkan Allah pasti memberikan imbalannya kepada kalian sedangkan kalian tiada dianiaya.” ( Al Anfal 60 )

Dan tahukah saudaraku! Kekuatan yang paling urgen untuk kita persiapkan saat ini ialah kekuatan idiologi, akidah dan iman. Dengannya kita dapat mengenali musuh dari kawan, membedakan musang berbulu domba yang hobi berseragam dengan seragam ummat Islam namun hobinya menjual islam dan ummatnya kepada musuh musuh Islam.

Apalah artinya anda memiliki senjata dan kekuatan paling canggih bila anda belum mampu membedakan musang dari domba?

1341. Inilah Cara Menagih Hutang Yang Sesuai Syariat

1341. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, bagaimana caranya yang shohih menagih ke teman yang berhutang tapi tidak mau bayar, sudah dengan lembut, malah cicilan ringan tetap saja tidak mau, apa boleh sedikit keras ?

Jawab :
Ustadz Irfan Helmi, Lc, حفظه الله تعالى

Tetap ditagih dengan cara yang santun. Tanyakan baik-baik, kenapa tidak mau bayar cicilan yang ringan.

Barangkali sikap anda selama ini membuat-nya tidak mau membayar hutang. 

Bila memang benar dia belum mampu bayar hutang, maka berilah tangguh. Berdasarkan firman الله :

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan apabila dia memiliki udzur (kesulitan membayar hutang) maka berilah tangguh hingga ada kemudahan.” (QS Al Baqarah : 280)

Bila sebenarnya dia mampu bayar tapi enggan melunasi hutang, maka ini merupakan kezhaliman. Dan boleh dilaporkan ke pihak berwajib, untuk diberi sanksi (‘uqubah). Berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam :

مطل الغني ظلم (متفق عليه) 

“Menunda-nunda pembayaran hutang bagi yang mampu merupakan kezhaliman.”

ليّ الواجد يحلّ عرضه وعقوبته (رواه البخاري معلّقًاوسنده حسن)

“Menunda-nunda (pembayaran hutang) bagi yang mampu, menyebabkan halal kehormatannya dan pemberian sanksi baginya.” (HR Bukhari secara mu’allaq dan sanadnya hasan).

Akan tetapi, bila benar-benar sudah tidak mampu bayar hutang maka hendaknya direlakan (dibebaskan dari hutang) sebagai bentuk sedekah dari Anda. Sebagaimana firman Allah :

وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika anda sedekahkan maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.” (QS Al Baqarah : 280)

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊