All posts by BBG Al Ilmu

Waro’ Itu..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فضل العلم خير من فضل العبادة، وخير دينكم الورع

Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah dan sebaik-baik agamamu adalah waro’…” (HR AlHakim, shahih targhib)

👉🏼   Waro’ adalah meninggalkan semua perkara yang dikhawatirkan akan merusak akherat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Hurairah:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؛ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

Hai Abu Hurairah, bersikap waro’lah niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling beribadah.” HR ibnu Majah.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Senantiasa Memperhatikan Apa Yang Masuk Dan Keluar Dari Hatinya

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Kaidah Ushul Fiqih Ke 37 : Sanksi Bagi Yang Zholim…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-36) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 37 🍀

👉🏼   Orang yang berbuat ihsan tidak ada jalan untuk memberinya sanksi. Sebaliknya orang yang zholim.

Kaidah ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ما على المحسنين من سبيل

Tidak ada bagi orang yang berbuat ihsan itu jalan (untuk menghukumnya).” (Attaubah:91).

Contoh kaidah ini adalah:
⚉    Apabila ada orang yang menggali sumur jauh dari jalan lalu lalang untuk keperluan air minum warga setempat. Lalu ada orang yang jatuh ke dalam sumur tersebut dan meninggal, maka tidak ada kewajiban mengganti rugi.

⚉    Bila ada orang yang memasang tiang listrik di pinggir jalan untuk kepentingan masyarakat setempat, lalu ada orang yang menabrak tiang tersebut dan meninggal. Maka tidak ada ganti rugi.

⚉    Sebaliknya orang zholim wajib diberikan sanksi. Seperti bila ada orang yang sengaja menggali sumur di tengah jalan agar orang celaka. Atau membuat jebakan. Maka ia wajib mendapat hukuman.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Antara Urusan Akhirat dan Urusan Dunia…

Rejeki sudah dijamin, mengapa dipikir sungguh-sungguh ? Sedang urusan surga belum ada jaminan, mengapa tidak sungguh-sungguh ?

Demikian pernyataan sebagian orang, seakan itu adalah idiologi yang haqul yaqin tidak boleh dibantah atau minimal diragukan lagi. Padahal ucapan di atas nyata nyata menyelisihi dalil, diantaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

مَا مِنْكُمْ من أَحَدٍ إِلا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ أَوِ الْجَنَّةِ ” . فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلا نَتَّكِلُ ؟ قَالَ : ” اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ,

Tiada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka atau di surga.” Spontan salah seorang lelaki bertanya: “wahai Rasulullah, bila demikian apa tidak lebih baik kita berpangku tangan saja ?” Beliau menjawab: “beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk menemui apa yang telah ditaqdirkan untuknya.”  (Muttafaqun Alaih)

Jadi, masihkah ada dikotomi antara taqdir urusan akhirat dari taqdir urusan dunia ?

Memotivasi agar masyarakat lebih semangat dalam urusan akhirat, tidak perlu menafikan status taqdir dalam urusan dunia.

Lalu yang benar bagaimana ?

Simak metode Imam Ibnu Al Qayyim dalam menunaikan misi mulia di atas; memotivasi akhirat tanpa mengingkari taqdir dalam urusan surga dan neraka. beliau bekata:

يهتمون بما ضمنه الله ولا يهتمون بما أمرهم به, ويفرحون بالدنيا ويحزنون على فوات حظهم منها ولا يحزنون على فوات الجنة وما فيها ,ولا يفرحون بالإيمان فرحهم بالدرهم والدينار

Mereka begitu peduli dengan urusan yang telah Allah jamin untuk mereka, namun mereka kurang peduli dengan urusan yang Allah perintahkan mereka dengannya.

Mereka girang dengan urusan dunia, dan berduka bila gagal mendapatkan bagian darinya. Namun mereka tidak berduka bila kehilangan kesempatan mengapai surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya.

Mereka tidak girang dengan urusan iman, kegirangan mereka hanyalah urusan dirham dan dinar.

(Al Fawaid Ibnu Al Qayyim 157)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Mengapa Ucapan Salafushalih Lebih Bermanfa’at..?

قيل لحمدون القصار الزاهد :

Hamdun Al Qoshor ditanya:

ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا ؟

Mengapa ucapan salaf lebih bermanfa’at dari ucapan kita ?

قال : لأنهم تكلموا لعز الإسلام ونجاة النفوس ورضا الرحمن

Hamdun berkata, “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, menyelamatkan diri (dari neraka) dan untuk keridloan Arrohman.

ونحن نتكلم لعز النفس وطلب الدنيا وقبول الخلق

Sedangkan kita berbicara untuk memuliakan diri sendiri, mencari dunia dan agar diterima manusia.”

(Hilyah Auliya)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Muqoddimah

Alhamdulillah alladzii bi-ni’matihi tatimmush-shoolihaat…

Kita telah menyelesaikan pembahasan kitab yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan, حفظه الله تعالى. Seluruh pembahasannya bisa di baca di SINI

=======

Kini kita memasuki pembahasan baru dari kitab “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.

🌼 MUQODDIMAH 🌼

⚉   Beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman) berkata sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan manusia diatas fithrahnya.

Allah berfirman [QS Ar-Rum : 30]

‎فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Itulah Fithrah Allah yang Allah fithrahkan manusia diatasnya.” Artinya, (manusia) di fithrahkan untuk mencintai kebenaran dan menginginkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah [Majmu’ Fataawa, 10/88] berkata,

‎وَالْقَلْبُ خُلِقَ يُحِبُّ الْحَقَّ وَيُرِيْدُهُ وَيَطْلُبُهُ

HATI itu sebetulnya diciptakan untuk mencintai kebenaran, menginginkan dan mencarinya”.

Beliau juga berkata. [Majmu’ Fataawa 16/338]

‎فَإِنَّ الْحَقَّ مَحْبُوْبٌ فِيْ الْفِطْرَةِ

Sesungguhnya kebenaran itu disukai oleh fithrah manusia” bahkan ia (kebenaran) lebih ia cintai dan lebih agung menurutnya dan lebih lezat daripada kebathilan yang tidak ada hakikatnya, karena fithrah itu tidak menyukai kebathilan.

Dan itu merupakan perkara yang telah ada pada jiwa-jiwa manusia, dimana setiap manusia sebetulnya fithrahnya mencintai kebenaran, mengetahui “Al HAQ”.

Allah Ta’ala berfirman [ QS Thaaha :50]

رَبُّنَا الَّذِيْ أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى.

Robb kami yang telah memberikan segala sesuatu penciptaannya, kemudian Dia memberikan hidayah

Sebagaimana juga Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ صَدْرِكَ

Dosa itu yang membuat hatimu tidak tentram..

وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ.

dan kamu tidak suka orang-orang mengetahuinya” [HR. Imam Muslim].

⚉   Itu menunjukkan bahwa dosa itu membuat hati tidak tentram.

Berkata Ibnu Taimiyyah juga dalam kitab Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql ,VIII/463

‎فَيِ النَّفْسِ مَا يُوْجِبُ تَرْجِيْحَ الْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ

Dalam jiwa manusia ada sesuatu yang menguatkan kebenaran di atas kebathilan baik dalam masalah aqidah maupun juga masalah keinginan.” Ini cukup menunjukkan bahwa memang manusia diciptakan diatas fithrah.

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama jilid 8 halaman 463: “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hamba-hambanya di atas fithrah, yang padanya kebenaran dan membenarkannya.

⚉   Demikian pula ia merasakan kebathilan dan mendustakannya. Dan mengetahui mana yang manfaat dan mencintainya dan mengetahui mana yang mudhorot dan membencinya, maka sesuatu yang haq, apabila fithrahnya masih lurus ia akan membenarkannya.

⚉   Demikian pula perkara-perkara yang bermanfa’at, maka fithrahpun akan menyukainya dan merasa tentram dengannya. Itu adalah yang merupakan perkara yang ada pada setiap manusia, (pada asalnya demikan).

Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy dalam Kitab Taisiirul Lathiifi Al mannaan, hal. 50

 ‎فَالدِّيْنُ هُوَ دِيْنُ الْحِكْمَةِ الَّتِيْ هِيَ مَعْرِفَةُ الصَّوَابِ وَالْعَمَلِ بِالصَّوِابِ

Agama yang hakiki adalah agama hikmah yang dengannya ia mengetahui kebenaran dan beramal dengan benar. Dan mengetahui kebenaran dan beramal dengan kebenaran pada segala sesuatu”.

Berkata Mu’adz bin Jabal:

فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُوْرًا.

Sesungguhnya kebenaran itu terdapat padanya cahaya.”

Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam datang ke kota Madinah maka kemudian Abdullah bin Salam, (seorang pendeta Yahudi), ini menemui Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, ketika Abdullah bin Salam melihat wajah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, maka ia berkata, “Aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah orang yang suka berdusta”.

👉🏼   Itu menunjukkan akan fithrah manusia, dimana ia ditabiatkan untuk mencintai kebenaran kecuali orang-orang yang fithrahnya dikalahkan oleh hawa nafsu, oleh kesombongan, oleh kedengkian dan yang lainnya dari perkara-perkara yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebenaran.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Balas Dendam Karena Dicaci…

A’isyah radliyallahu ‘anha berkata:

وما نِيل منه شيء قطُّ، فينتقم مِن صاحبه، إلا أن يُنْتَهك شيء مِن محارم الله، فينتقم لله عزَّ وجلَّ

Beliau jika dicaci dirinya tak pernah membalas (dengan mencaci) pelakunya kecuali jika dilanggar keharaman keharaman Allah, maka beliau membalas karena Allah Azza wajalla.” (HR Muslim)

Sungguh akhlak amat terpuji namun berat. Karena diri jika dicaci biasanya akan marah dan ingin membalas dendam. Tapi marah saat itu bukanlah marah yang terpuji.
Cukuplah kita mengingat bahwa ketika dicaci maka dosanya untuk yang mencaci dan kita mendapat pahala darinya dan pahala kesabaran.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,   حفظه الله تعالى

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Seharusnya Mereka Yang Meminta Ma’af Kepada Saya..(??)

Dosa mereka kepada saya lebih banyak dibanding dosa saya kepada mereka, maka seharusnya mereka yang meminta ma’af kepada saya ?

Islam tuh mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi penebar kasih sayang. Semakin kita belajar dan bertambah iman, seharusnya kita semakin bertambah kasih sayang kepada semua saudara kita.

Belajar dan berdakwah untuk memperbanyak persamaan dan persahabatan agar semakin banyak yang beriman dan bertaqwa, bukan malah sebaliknya semakin belajar semakin banyak musuh dan semakin sempit dada anda karena dipenuhi oleh kebencian kepada masyarakat anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di maki, diludahi, dilempari bebatuan dan diusir oleh kaum Tsaqif, namun ketika ditawari bantuan oleh Malaikat Jibril dan malaikat Penunggu Gunung, beliau malah menghadiahi do’a kepada orang orang yang menyakitinya agar mereka masuk Islam.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan merencanakan dendam atau pelampiasan kebencian atau dendam.

Yang terjadi, beliau malah mengemukakan alasan ummatnya yang tiada lelah memusuhi dan menyakitinya.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

كأني أنظر إلى رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يحكي نبياً من الأنبياء ضربه قومه فأدموه وهو يمسح الدم عن وجهه ويقول اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

Sungguh seakan saat ini aku sedang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perihal seorang nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah darah. Sambil mengusap darah di wajahnya, beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu (bodoh).” Muttaafaqun ‘alaih.

Sobat! kemanakah selama ini kita dari mengamalkan hadits ini ? Mengapa lisan kita, tindakan kita dan hati kita dipenuhi dengan dendam dan emosi kepada saudara sendiri yang nyata-nyata beragama Islam, walau memang nyatanya banyak terdapat perbedaan.

Tidakkah kita bisa lebih bersabar, dan berlapang dada, bisa jadi saudara kita memusuhi dan menyakiti kita karena kurangnya kita dalam menunaikan hak-hak saudara kita berupa amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara-cara yang benar-benar ma’ruf, alias sesuai dengan keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa pentingnya saat ini kita untuk memperbanyak istighfar karena kurang mampu menunaikan hak-hak saudara kita dibanding menyibukkan diri dengan menginventaris kesalahan mereka kepada kita .

Percayalah, bila memang mereka bersalah, kepada anda, maka hak-hak anda akan anda dapatkan seutuhnya kelak di hari Qiyamat.

Namun jangan lupa pula bahwa walaupun kesalahan anda kepada mereka lebih kecil dibanding dosa mereka kepada anda, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa anda akan selamat dari hisab dan terbebas dari siksa di dunia ataupun di akhirat.

Bisa jadi pula mereka memiliki kebaikan yang cukup untuk menebus dosa-dosa mereka kepada anda, sedangkan anda belum tentu memiliki cukup simpanan pahala untuk menebus dosa-dosa anda kepada mereka.

Jangan lupa sobat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdakwah dengan cara yang paling sempurna, walau demikian, di akhir hayat beliau diperintahkan untuk memperbanyak istighfar, menyibukkan diri dengan kekurangan diri sendiri bukan dengan kekurangan dan dosa dosa orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا {2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An Nasher 1-3)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى