All posts by BBG Al Ilmu

1149. Haruskah Kita Bersafar Untuk Menuntut Ilmu ?

1149. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Adakah hadits / perkataan ulama yang menyatakan tholabul ilmi itu harus safar/rihla ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى
Bismillah. Sepengetahuan kami Tidak Ada Hadits Shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan bahwa menuntut ilmu agama itu harus dengan safar atau meninggalkan kampung halaman menuju suatu tempat yang disana terdapat para ulama Robbani dan Majlis Ilmu.

Yang ada hanyalah atsar-atsar (perkataan) para ulama salafus sholih yang menganjurkan agar melakukan rihlah fi tholabil ilmi jika di negerinya tidak ada ulama dan majlis ilmu. Dan diantara sahabat Nabi yang pernah melakukan safar untuk mencari hadits adalah Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma. Demikian pula para ulama hadits dan sunnah seperti imam Bukhori, imam Muslim, imam Ahmad bin Hanbal, imam Syafi’I, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, dan selainnya, mereka banyak melakukan rihlah fi tholabil ilmi dan hadits.

Adapun hadits yang berbunyi:

(Uthlubul Ilma wa Lau Bish-Shiin)

“Tuntutlah ilmu meskipun (harus melakukan safar) ke negeri Cina.”

Derajat hadits ini TIDAK SHOHIH dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .

NB: Namun ada sebuah ayat Al-Qur’an yang menganjurkan kita atau sebagian dari kaum muslimin untuk melakukan safar dalam rangka menimba ilmu agama, dan tidak semuanya pergi ke Medan Jihad, yaitu firman Allah:

(Wa Maa Kaanal Mu’minuuna Liyanfiruu Kaaffatan, Falau laa Nafaro Min Kulli Firqotin Minhum Thooifatun Liyatafaqqohuu Fid-Diin, wa Liyundziruu Qoumahun idzaa roja’uu ilaihim La’allahum Yahdzaruun).

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1148. Adakah Nama Lain Bagi Surat-Surat Yang Terdapat Dalam Al-Qur’an ?

1148. BBG Al Ilmu – 49

Tanya:
Nama-nama surat dalam Alquran semuanya ada 114. Apakah semua punya nama lainnya ? Misalkan Al-Lahab nama lainnya Al Masad ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى
Bismillah. Sebagian surat-surat Al-Qur’an mempunyai nama lain, seperti surat Al-Fatihah, nama lainnya; Ummul Qur’an, Ummul Kitab, As-Sab’ul Matsani, Fatihatul Kitab, Asy-Syafiyah, dll. Dan sebagian besar surat Al-Qur’an hanya mempunyai satu nama saja, seperti surat Huud, Ibrahim, Yusuf, Nuh, Qoof, Shood, dll.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1147. Membayar Zakat Fitri Dengan Uang

1147. BBG Al Ilmu – 133

Tanya:
Zakat fitrah di sekolah pada umumnya ditarik sumbangan berupa uang daripada makanan pokok. Bagaimana ini hukumnya? Dan bagaimanakah zakat fitrah yang sebaiknya ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله تعالى

Jikalau uang yang ditarik akan dibeli kan beras maka ini tidak mengapa, sekedar tehnis, akan tetapi jikalau di bagikan kepada fakir miskin dalam wujud uang, maka ini kurang tepat, menyelisihi sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hendaknya memberikan zakat dari beras yang menjadi makan pokok warga negara kita.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1146. Sahkah Shalat Bila Wudhu Tidak Sempurna ?

1146. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apa hukum sholat apa bila wudhu kita tidak sempurna. Sebagai contoh, seharusnya membasuh tangan dari ujung tangan ke siku tapi ana terbalik dari siku ke tangan.. ana lupa.. setelah ana cek dibuku sifat sholat nabi ternyata ana salah wudhunya. Jadi gimana ya hukum sholat ana ?

Jawab:
Ust. Abdussalam Busyro, حفظه الله تعالى

Jika karena tidak tahu maka sholat tetap sah.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1145. Bolehkah Dana Riba Untuk Membangun Toilet Di Pesantren..?

1145. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah uang bunga bank digunakan untuk membantu pembuatan WC/kamar mandi pondok pesantren ?

Jawab:

Bismillah. Hukumnya BOLEH karena untuk kepentingan kaum muslimin secara umum. Namun ketika menyalurkan dana riba, niat dan tujuannya bukan untuk mencari pahala dan ridho Allah, tetapi hanya ingin membebaskan diri dan harta kita dari kotoran harta yang haram.

والله أعلم بالصواب

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

 

Antara Penjual Emas, Intan Berlian Dan Penjual Sayuran

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Saudaraku! Salah satu keunikan di negri kita ialah adanya pedagang keliling, dari rumah ke rumah. Kehadiran mereka sangat memudahkan urusan anda, bukankah demikian?

Mereka berhenti di setiap gang, bahkan di depan setiap rumah menawarkan dagangannya. Sayur, sayur, bumbu bumbu, daging daging, atau belanja buk? Bahkan dagangannya digelayutkan di kendaraan mereka, seakan tanpa rasa kawatir ada yang mencuri atau paling kurang terjatuh.

Demikian teriak para pedagang sayuran keliling. Mereka optimis setiap rumah yang mereka lalui berpotensi untuk membeli dagangannya, karena itu mereka menawarkan dagangannya kepada semua orang.

Kondisi yang sangat berbeda dengan penjual emas atau bahkan intan berlian. Sebatas yang saya ketahui belum ada pedagang emas atau berlian keliling yang menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Biasanya mereka memasarkan dagangannya dengan cara membuka toko yang didesain mewah dan penuh dengan fasilitas pengamanan yang ketat, CC TV, teralis besi, satpam dan lainnya.

Saudaraku, saya yakin anda memaklumi dan dapat menerima perbedaan antara penjual sayuran dari penjual emas dan intan berlian, walaupun tujuan mereka sama yaitu mencari keuntungan.

Barang kali anda akan berkata: nilai barang dagangannya yang membedakan, dan tentunya juga konsumennya. Emas dan intan berlian bernilai super mahal, dan konsumennya juga terbatas.

Saya yakin anda akan curiga dan was was bila diminta membeli emas atau intan berlian dari pedagang keliling. Namun sebaliknya anda ketakutan untuk belanja sayuran di toko yang didesain mewah dengan pengaman maksimal seperti yang ada di toko emas.

Kemurnian emas menjadi salah satu hal yang anda perhatikan, karena anda pasti enggan untuk tertipu atau merugi gara gara membeli emas SEKARAT dengan harga emas 24 karat.

Saudaraku! Perbedaan semacam di atas sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi kita bahwa sikap atau metode dapat dan bahkan sepatutnya dibedakan selaras dengan perbedaan jenis amalan dan obyek amalan kita.

Bila perbedaan obyek jual beli anda mengharuskan anda menerima perbedaan seperti tergambar di atas, tentu sikap serupa sepatutnya anda lakukan pada urusan agama dan dunia anda.

Betapa banyak ummat Islam yang menyikapi urusan agama seperti sikapnya terhadap urusan dunianya. Betapa sering kita menjadikan logika, budaya dan perasaan ( kepuasan pribadinya ) menjadi standar kebenaran dalam urusan agama sebagaimana halnya dalam urusan dunia.

Seharusnya dalam urusan agama, kita memiliki kehati hatian melebihi kehati hatian kita ketika membeli emas atau intan berlian. Kemurnian agama seperti yang diajarkan oleh Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjadi salah satu pertimbangan utama sebagaimana halnya yang anda lakukan ketika membeli emas atau intan berlian.
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barang siapa mengamalkan satu amalan yang tiada contohnya dari kami niscaya amalannya itu tertolak. ( Bukhary)

Sahabatku! Betapa meruginya diri anda bila beramal dengan semangat besar ternyata amalan anda telah tercampuri oleh hal hal yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana anda merugi bila membeli emas SEKARAT seharga emas 24 Karat.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Hobi Kaum Yahudi

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Jangan Heran…

Kaum yahudi, hobi mereka adalah membunuh nabi-nabi mereka yang tidak sesuai dengan selera mereka…

وَقَتْلَهُمُ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”. (Ali Imron : 181)

Dan Allah menyebutkan hobi keji mereka ini berulang-ulang…

Jika para nabi saja mereka bunuh maka bagimana lagi hanya sekedar anak-anak Palestina, orang tua renta, para ibu…dengan biadab!!!

Maka janganlah heran akan kebiadaban mereka !!!

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1144. Benarkah Syaithan Dirantai Di Bulan Ramadhan ?

1144. BBG Al Ilmu

Tanya:
Pada bulan ramadhan syaiton di belenggu, apakah memang pada bulan ramadhan tidak ada syaiton untuk menggoda kita ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله تعالى

Sebagaimana yang di kabarkan dalam hadist, bahwasanya dedengkot syaitan dibelenggu, walaupun demikian, masih tersisa musuh yang kuat yaitu hawa nafsu yang melekat di dalam hati manusia, sehingga jika godaan luar tidak ada, masih ada godaan dari dalam jiwa manusia.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1143. Bila Ingin Memberikan Zakat Atau Fidyah, Perlukah Memberitahu Penerima Bahwa Itu Adalah Zakat Atau Fidyah ?

1143. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah kalau ingin memberikan fidyah kepada fakir-miskin harus diberitahukan bahwa itu sebagai pembayaran fidyah ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Bagi siapa saja yang akan membayar Fidyah atau zakat maal, tidak diharuskan agar memberitahukan kepada orang-orang faqir dan miskin yang menerimanya bahwa apa yang ia berikan adalah Fidyah atau Zakat. Akan tetapi, Disyaratkan baginya agar menetapkan niat bayar fidyah atau zakat maal di dalam hatinya saja.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
(Innamal a’maalu bin-niyyaati wa innamaa likullimri-in maa nawaa)

Artinya: “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan (dengan amalannya tersebut).” (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dari jalan Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa diantara hikmah tidak memberitahukan kepada penerima bahwa itu fidyah atau zakat ialah agar ia tidak merasa malu atau perasaan tidak enak di dalam hatinya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1142. Bagaimana Mendapatkan Pahala Do’a Anak Yang Shalih Bila Tidak Mempunyai Anak ?

1142. BBG Al Ilmu – 463

Tanya:
Salah satu syarat yang bisa menyelamatkan kita di akhirat adalah doa anak yang sholeh. Pertanyaannya, jika kita tidak punya anak, terus bagaimana ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى

Bismillah. Memang benar, anak adalah anugerah Allah kepada siapa saja dari para hamba yang dikehendaki-Nya.
Jika anak itu beriman dan sholih, maka pahala seluruh amal ibadahnya akan mengalir secara otomatis kepada kedua orangtuanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(Wa inna aulaadakum min kasbikum)

Artinya: “Dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian sendiri.”

Dan beliau juga bersabda (yang artinya): “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya, kecuali 3 hal (yaitu): shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang selalu mendoakan (kebaikan bagi kedua orangtuanya).”

Adapun orang yang belum atau tidak dikaruniai anak oleh Allah, maka ia bisa mendapatkan kiriman pahala yang semisalnya dengan cara menanggung biaya pendidikan anak yang tidak mampu di sekolah atau pesantren yang mengajarkan agama Islam dengan baik dan benar, jika ia tidak mampu secara finansial, namun punya ilmu agama, maka sepantasnya ia mengajarkan ilmunya yang bermanfaat kepada anak-anak atau orang dewasa, atau jika tidak punya ilmu, maka berupaya menunjukkan anak-anak kaum muslimin kepada kebaikan.

Nabi bersabda:
(Ad-Daalu ‘Alal Khoiri Kafaa’ilihi)
“Orang yang menunjukkan (orang lain) kepada kebaikan, maka (pahalanya) seperti orang yang mengamalkannya.”

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊