“Tegarlah! Jangan berubah karena banyaknya serangan kepadamu atau karena celaan terhadap pendapatmu. Selagi kamu diatas, sabarlah ! Karena kebenaran tidak mungkin goyah.
Kemudian setelah itu, halaulah jika kamu dalam posisi lemah. Adapun jika kamu kuat, seharusnya kamu menyerang. Karena roda kehidupan terus berputar. Tapi yang terpenting jika kamu lemah wajib bagimu tetap bersabar.
Jangan kamu katakan: manusia semuanya menyelisihiku! Tapi tetaplah bersabar, karena Allah yang menolong agama-Nya, kitab-Nya dan rasul-Nya disetiap zaman.
Tapi gangguan pasti ada. Lihatlah Imam Ahmad bagaimana beliau ditarik dengan keledai di pasar sambil dipukuli. Tapi beliau tetap bersabar dan tegar. Lihat pula bagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dibawa keliling pasar dengan gerobak dan diikat dipenjara tapi beliau tetap sabar.
Jangan pernah berpikir akan terbentang jalan yang dipenuhi bunga dan kembang bagi orang yang berpegang teguh dengan sunnah. Barangsiapa menginginkan demikian ia menginginkan suatu yang mustahil.”
Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah para rasul itu“. (QS Yaasiin :20)
Allah mengabadikan amal soleh lelaki tersebut yang berdakwah menyeru kaumnya untuk mengikuti para rasul, akan tetapi tidak diketahui nama lelaki tersebut.
Karenanya tidaklah penting siapa dirimu.. Tidak penting engkau harus muncul dan dikenal.. tetapi yang penting adalah amal apa yang telah kau lakukan untuk agama ini..
* ia meninggalkan pujian Allah lantas berharap pujian manusia
* ia meninggalkan Allah Yang Maha Kuasa dan memilih manusia yang penuh kekurangan dan kehinaan
* ia mengagungkan makhluk yang hina dan tidak mengagungkan Allah Yang Maha Agung
* ia memilih ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat
* ia mengagungkan dunia dan tidak mengagungkan akhirat
* ia tidak mengagungkan hari qiamat dimana seluruh rahasia dan isi hati akan dibongkar oleh Allah
* di akhirat ia disuruh mencari pahaladari orang-orang yang ia harapkan pujian dan penghormatan mereka tatkala di dunia
* di akhirat ia yang pertama kali disiksa di neraka
* di dunia ia selalu gelisah menanti pujian manusia dan komentar indah dari manusia. Lebih gelisah lagi jika ternyata riya’ nya tidak membuat orang memujinya dan menghormatinya
* di dunia ia capek berkreasi demi memamerkan amal ibadahnya, capek dalam berkreasi menulis status dan capek berkreasi dalam ber-selfie- untuk mengshare ibadahnya. Apalagi yang nge-like- hanya sedikit.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian dengan kebatilan diantara kalian“
Jadi inilah 6 perkara yang berhubungan dengan maksud yang pertama yaitu DAFUL MAFAASID (mencegah mafsadat).
👉🏼 Maksud yang ke dua yaitu JALBUL MASHAALIH (mendatangkan maslahat)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan semua segala sesuatu yang sifatnya maslahatnya besar untuk kehidupan manusia. Allah berfirman “contohnya” [QS Al-Jumu’ah : 10]
“Kecuali apabila itu adalah perdagangan yang kalian saling ridho padanya“ Yaitu kemaslahatan karena perdagangan adalah merupakan maslahat.
Demikian pula semua maslahat di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan semua mafsadat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
👉🏼 Maksud yang ke tiga yaitu: Akhlak yang baik dan adat kebiasaan yang bagus, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk berakhlak yang baik.
Allah berfirman [QS Al-Qalam : 4]
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya engkau wahai Muhammad diatas akhlak yang baik“
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga dalam hadits yang banyak menganjurkan kita kepada akhlak karimah yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita. Nah inilah daripada TUJUAN DI SYARI’ATKANNYA SYARI’AT ISLAM, sungguh sangat mulia sekali.
Dimana tidak ada agama yang lebih mulia dari agama Islam yang tujuannya yang tiada lain adalah untuk memelihara kehidupan manusia, memberikan kepada mereka maslahat-maslahatnya dan menolak dari mereka hal-hal yang bisa merusaknya.
👉🏼 Maka Islam menganjurkan kita untuk senantiasa berakhlak yang baik terhadap tetangga, terhadap saudara, terhadap penguasa, terhadap ulama, apalagi kepada orangtua. Terlebih juga akhlak kita kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Sebagian ulama berpendapat tidaklah dikatakan bersiwak dengan sikat gigi adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi.
Namun pendapat yang benar bahwasanya jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi biasa karena illah (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah besiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya-pent) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya”. [Hadits riwayat Ahmad dalam musnadnya 1/158. Berkata Al-Hafizh dalam talkhis 1/70 setelah beliau membawakan hadits-hadits tentang siwak dengan jari yaitu dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu dan Aisyah dan selain keduanya :”Dan hadits yang paling shahih tentang siwak dengan jari adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu”] [Syarhul Mumti’ 1/118-119]
Dan bersiwak dengan menggunakan akar atau dahan pohon adalah lebih baik dan lebih mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memiliki faedah yang banyak dan bisa digunakan setiap saat serta bisa dibawa kemana-mana. Namun anehnya banyak kaum muslimin yang merasa tidak senang jika melihat orang yang bersiwak dengan akar atau dahan pohon, padahal tidak diragukan lagi akan kesunnahannya. Mereka memandang orang yang bersiwak dengan akar kayu dengan pandngan sinis atau pandangan mengejek. Apakah mereka membenci sunnah yang sering dilakukan dan dicintai oleh Nabi Shallallawau alaihi wa salam bahkan ketika akhir hayat beliau? Tidak cukup hanya dengan membenci, merekapun memberikan olok-olokan yang tidak layak sampai-sampai mereka mengatakan orang yang bersiwak adalah orang yang jorok.
Simak Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى dalam rangkuman ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى berikut ini :