All posts by BBG Al Ilmu

Tauhid Itu Mudah Dipahami

Tauhid itu simpel dan mudah dipahami, jangan ditakuti atau malah ditakut-takuti.

Tauhid yang harus kita pelajari dan kita amalkan, sejatinya itu adalah mudah dipahami, dan mudah diamalkan.

Karena Tauhid itu artinya, mengesakan Allah, alias meyakini bahwa hanya Allah yang berkuasa, menciptakan, mengatur, memberi dan menguasai, tiada tandingan bagi-Nya.

Karena hanya Allah yang kuasa melakukan semua itu, maka hanya Allah pula yang layak menjadi tujuan dari semua aktifitas anda, anda hidup untuk mengabdi, bersandar, mengharap, mengagungkan, takut dan mencintai-Nya, selanjutnya hanya imbalan-Nya yang anda nanti nantikan.

Selanjutnya untuk menyempurnakan kedua pengakuan dan kedua keyakinan di atas, anda harus mengenal secara luas, terperinci dan mendalam, apa saja nama dan sifat sifat Allah, dan apa maksud, kandungan dan aplikasi dari semua nama dan sifat sifat tersebut.

Tauhid pertama disebut TAUHID RUBUBIYAH, pengakuan akan ke-esaan Allah pada setiap perbuatan Allah.

Tauhid kedua disebut TAUHID ULUHIYAH, yaitu mengesakan Allah dengan setiap perbuatan dan ucapan kita.

Tauhid ketiga dikenal dengan TAUHID ASMA’ WA AS SIFAT.

Semoga bermanfaat.

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Siapa Yang Berhak Untuk Menjadi Imam..?

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Beberapa Udzur Yang Membolehkan Seseorang Tidak Ikut Sholat Berjama’ah Di Masjid… bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  Siapa Yang berhak untuk menjadi Imam…

Dari Abu Mas’ud al Anshori rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah ‘yang paling qori’ terhadap kitabullah (yang dimaksud dengan ‘yang paling qori’, yaiu yang paling banyak hafalan Al Qur’an nya), apabila dalam hafalan sama maka yang paling alim tentang sunnah Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam, apabila mereka dalam pengetahuan sunnahnya sama maka yang paling dahulu hijrah, apabila dalam hijrahnya sama maka yang paling dahulu masuk islam, dan janganlah seseorang menjadi imam orang lain dalam kekuasaannya dan janganlah duduk dirumahnya di tempat yang menjadi kekhususan buat dia kecuali atas izinnya.” [HR Imam Muslim]

Hadits ini menunjukkan bahwa yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Al Qur’annya… tentunya bukan sebatas banyaknya, tapi juga tajwidnya benar. Adapun kalau tajwidnya hancur sehingga merubah makna-makna ayat Al Qur’an maka tidak boleh ia menjadi imam. Kalau ternyata dalam hafalan sama, maka yang paling berilmu tentang sunnah.

⚉  Bagaimana kalau ternyata ada dua orang… yang satu lebih banyak hafalannya… si A lebih banyak hafalannya dari si B, tapi si B lebih paham tentang sunnah dari si A… mana yang didahulukan ?

Jawab
Tentu si B yang lebih didahulukan.

Mengapa demikian ? Karena didalam sholat butuh kefaqihan.

Sebatas banyak hafal tapi tidak faqih, yang tidak paham tentang sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, disaat ia melakukan kesalahan ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Maka tentu mereka yang paham tentang sunnah, lebih didahulukan sebagaimana juga disebutkan dalam riwayat yang lain.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

أخاف على أمتي ﻧﺸﺌﺎ ﻳﻨﺸﺄﻭﻥ ﻳﺘﺨﺬﻭﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﺰﺍﻣﻴﺮ
ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻣَﺰَﺍﻣِﻴﺮَ ﻳُﻘَﺪِّﻣُﻮﻥَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻢْ ﻟِﻴُﻐَﻨِّﻴَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻗَﻠُّﻬُﻢْ ﻓِﻘْﻬًﺎ

“Aku khawatir atas umatku 6 perkara… (yang ke 6) adanya pemuda pemuda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling.”

Maksudnya pemuda-pemuda tersebut hanya memperhatikan kemerduan suaranya saja.

Kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, ‘mereka menyuruh seseorang bukan yang paling faqih diantara mereka, mereka menyuruh menjadi imam hanya sebatas untuk menyanyikan Al Qur’an saja.’

Lihat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mengatakan bukan orang paling faqih yang disuruh menjadi imam.

⚉  Kalau ada dua orang… yang satu banyak hafalannya dan yang satu lagi lebih faqih kepada sunnah Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam, maka yang lebih faqih didahulukan.

⚉  Tapi kalau ada orang yang hafalan Al Qur’annya banyak dan ia faqih, tentu itu yang paling didahulukan.

Kemudian beliau menyebutkan hadits dalam Sunan Abi Daud, kata Abu Mas’ud,

“Dan aku waktu kecil/pemuda banyak hafalan Al Qur’an, lalu ayahku membawaku kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersama utusan dari kaumnya, lalu Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam mengajarkan mereka sholat, hendaklah yang mengimami kalian yang paling banyak hafalannya dan aku yang paling banyak hafalannya karena aku yang banyak hafalannya aku hafalkan, maka mereka menyuruh aku maju menjadi imam.”

Kenapa ?
Karena mereka dalam keilmuan, semua sama tentang sunnah Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam, tapi dalam Al Qur’an ternyata beliau yang paling banyak (hafalannya).

Ini semua menunjukkan bahwa hendaknya yang menjadi imam itu yang banyak hafalan Al Qur’annya, yang paham tentang sunnah Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam dan faqih.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
Menahan Kencing Ketika Sholat, Apakah SAH Sholatnya…?

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Larangan Berharap Bantuan Dari Manusia

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

 

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-34

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 33) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 34 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kemudian… diantara perkara yang memalingkan seseorang dari kebenaran, dan ini adalah yang terakhir, yaitu…

حيل أهل البطل

⚉  Makarnya orang-orang ahlul bathil.

Karena orang-orang yang ahlul bathil pasti akan melakukan makar dengan berbagai macam cara untuk menghalang-halangi manusia dari kebenaran

Diantaranya adalah :

1. Mereka akan berusaha menjelek-jelekkan kebenaran dan orang yang berusaha berpegang kepada kebenaran

Dimana mereka menamai orang-orang yang berpegangan kepada kebenaran dengan nama-nama yang membuat manusia lari. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Adz Dzaariat : 52

مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ ﴿٥٢

“Demikianlah, tidaklah datang seorang Rosul kepada orang-orang sebelum mereka, kecuali mereka berkata Rosul itu penyihir atau gila”

Di zaman ini juga mereka menamai dengan nama-nama yang agar manusia lari, dengan nama RADIKAL atau nama WAHABI atau nama-nama yang lainnya.

2. Memperlihatkan kebathilan bagaikan sebagai sebuah kebenaran.

Dengan cara apa ?.. dengan kata-kata yang indah. Karena… mereka berusaha membela kebatilan mereka, dan mencari berbagai macam alasan, bahkan terkadang mereka mencari dalil yang pemahamannya di paksakan agar manusia menerima kebathilannya tersebut.

Bahkan terkadang mereka akan berusaha untuk mengesankan kepada manusia bahwa ini adalah perkara yang di ikhtilafkan ulama, padahal tidak demikian

3. Bermudah-mudahan dengan berdusta.

Seperti yang dilakukan orang orang rofidhoh, sebagian orang orang sufi, mereka mudah bahkan menghalalkan dusta agar dapat membela pendapat mereka.

⚉  Kata Syaikhul Islam dalam kitab Daarut ta’aru bi Nakl jilid 7 hal. 168
“Bahkan mereka menggunakan kedustaan, kebid’ahan dan kezholiman untuk membela kebathilan mereka tersebut”.

Kita lihat sendiri dizaman ini… orang-orang yang membela kebathilan berusaha berdusta dengan mengada-adakan tuduhan, berdusta dengan membuat-buat dalil atau menyebarkan perkara yang hadits-hadits palsu dan lainya.

4. Menuduh orang yang menyelisihi mereka, bahwa mereka itu kurang pemahamannya.

Orang-orang yang berpegang pada kebenaran dituduh… katanya pemahamannya kurang, (kurang dalam pikniklah dan lainnya). Dan mereka dengan cara seperti itu mengelabui orang-orang awam, padahal mereka sendiri memahami dalil-dalil itu dengan sangat dangkal. Tapi dengan cara seperti itu mereka berusaha untuk menggambarkan seakan-akan bahwa merekalah diatas kebenaran.

5. Menggunakan kata-kata yang sifatnya global.

Yang tentunya mengandung kebenaran dan kebathilan, sehingga dengan kata-kata yang global seperti ini membingungkan orang-orang awam, bahkan juga sebagian penuntut ilmu.

Maka dari itulah kewajiban kita menghadapi mereka dengan cara meminta perincian apa yang dimaksud dengan ucapan mereka tersebut.

6. Mengklaim adanya ijma’ dalam perkara yang mereka pegang (padahal tidak ada ijma’ sama sekali).

Makanya Imam Ahmad dahulu berkata, “Siapa yang mengatakan adanya ijma’ dalam masalah ini maka ia telah berdusta”,
Karena adanya sebagain ahli bathil mengklaim adanya ijma’.

7. Berpegang kepada nash-nash yang telah dihapus, demikian pula pendapat-pendapat yang pelakunya sendiri telah rujuk darinya.

8. Menyembunyikan kebenaran

Sehingga dengan cara seperti itu dia ingin memperlihatkan bahwa orang-orang yang menyelisihi mereka itulah diatas kebathilan, padahal ketika dibukakan semua dalil-dalilnya tampaklah kelemahan pendapat mereka.

Inilah pembahasan terakhir dari kitab Showarif ‘Anil Haq ini, in-syaa Allah akan diganti dengan kitab yang lainnya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Ketika Emosi Timbul Saat Berkendaraan

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

Jangan Sampai Salah

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

الْجَاهِل يشكو الله إِلَى النَّاس وَهَذَا غَايَة الْجَهْل بالمشكو والمشكو إِلَيْهِ فَإِنَّهُ لَو عرف ربه لما شكاه وَلَو عرف النَّاس لما شكا إِلَيْهِم .

“Orang jahil, ia mengeluhkan tentang Allah kepada manusia. Inilah tingkat kebodohan yang paling tinggi, karena ia tidak mengetahui siapa yang ia keluhkan dan ia tidak mengetahui siapa yang menjadi tempat ia berkeluh kesah. Sungguh seandainya ia mengenali Robb-nya dengan benar niscaya ia tidak akan mengeluhkan Allah ‘azza wajalla dan seandainya ia mengenali manusia dengan benar niscaya ia tidak akan berkeluh kesah kepada mereka”.

[Sumber: Al-Fawaid, halaman. 87]

MUTIARA SALAF : Memperbaiki Hubungan Dengan Allah

Abu Hazm Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,

“Tidaklah seorang hamba itu memperbaiki hubungannya dengan Allah Ta’ala kecuali Allah juga akan memperbaiki hubungannya dengan sesama hamba, dan tidaklah dia merusak hubungannya dengan Allah Ta’ala kecuali Allah akan merusak hubungannya dengan sesama hamba..

Melakukan satu arah, tentu lebih mudah daripada melakukan semua arah..

Sesungguhnya jika engkau fokus kepada Allah maka semua arah akan berpihak kepadamu, tapi jika engkau merusak hubunganmu dengan Allah, maka semua arah akan membencimu..”

[ Hilyatul Auliya’ – 7/51 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Anjuran Menjauhi Marah Dan Tidak Tergesa-Gesa

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Larangan Dengki Dan Membenci

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

KITAB FIQIH – Beberapa Udzur Yang Membolehkan Seseorang Tidak Ikut Sholat Berjama’ah Di Masjid…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Wajib Mengikuti Imam dan Haram Mendahuluinya… bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  Beberapa udzur yang membolehkan seseorang tidak ikut sholat berjama’ah di Masjid…

1⃣. DINGIN YANG SANGAT ATAU HUJAN YANG DERAS.

Dari Nafi’

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُنَادِي مُنَادِيْهِ فِي اللَّيْلَةِ المَطِيْرَةِ أَوْ اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ذَاتَ الرِّيْحِ صَلُّوْا فِي رِحَالِكُمْ

Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar pernah adzan untuk sholat disuatu malam yang sangat dingin dan angin yang kencang, kemudian Ibnu Umar berkata, ‘hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing’, kemudian beliau (Ibnu Umar) berkata, ‘sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan muadzzin apabila malam sangat dingin dan hujan untuk mengucapkan ‘ala shollu firrihaal’  (artinya: hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing.)” [HR Bukhari dan Muslim]

Namun para ulama berbeda pendapat dimana tempat mengucapkan ‘ala shollu firrihaal

⚉  Sebagian ulama mengatakan bahwa
ucapan ini menggantikan kata-kata ‘hayya ‘alassholaah…’

Kenapa ?
Karena apabila kita ucapkan ‘hayya ‘alassholaah’ juga (mari kita sholat) tentu bertabrakan dengan kata-kata sholatlah dirumah rumah kalian, karena yang pertama memanggil untuk sholat tapi kemudian malah disuruh sholat dirumah masing masing.

Jadi kata mereka ‘ala shollu firrihaal itu menggantikan hayya ‘alassholah.
Ini yang dirojihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’

⚉  Sementara sebagian ulama mengatakan ucapan ‘ala sholu firrihaal diucapkan setelah azdan.

Kenapa ?
Supaya tidak merubah ucapan-ucapan adzan. Sehingga adzan tidak berubah kata-katanya. Ini pendapat yang dirojihkan oleh banyak mazhab Syafi’iyah.

⚉  Mana yang lebih kuat ?

Wallahua’lam saya lebih condong pada pendapat yang pertama yang dirojihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani rohimahullah.

Dari Abdullah bin al Harits rohimahullah anak paman Muhammad bin Sirin ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepada muadzzin dihari yang hujan, ‘kalau kamu sudah mengucapkan

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

jangan kamu ucapkan hayya ‘alassholah , tapi ucapkan ‘shollu fii buyuutikum’ (sholatlah dirumah rumah kalian)’, maka seakan akan orang orang mengingkari ucapan Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas berkata,
‘yang melakukan ini adalah orang yang lebih baik dariku (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam) dan sesungguhnya sholat Jum’at itu kewajiban tetapi aku tidak suka untuk memberatkan kalian sehingga kalian berjalan ditanah yang becek dan itu menyulitkan kalian’. [HR Imam Bukhari dalam shahihnya]

Hadits ini Ibnu Abbas mengatakan bahwa ‘shollu fiibuyuutikum’ atau ‘ala shollu firrihal itu menggantikan ‘hayya ‘alassholaah’. Dan ini yang dirojihkan oleh Ibnu Hajar.

2⃣ SAKIT

Disebutkan dalam hadits Itban bin Malik bahwasanya beliau karena buta tidak bisa ke masjid dimusim hujan karena antara masjid dengan rumah beliau ada lembah yang apabila musim hujan maka banjir. Dan beliau juga seorang yang buta.

3⃣ MAKANAN HADIR

Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, menyuruh untuk mendahulukan makanan.

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

“Apabila telah dihidangkan makanan malam sementara qomat sholat sudah dikumandangkan mulailah dengan makan malam.” [HR Bukhari dan Muslim]

Namun kata para ulama ini bagi mereka yang lapar. Adapun bagi yang tidak lapar, maka yang lebih utama adalah sholat terlebih dahulu. Karena maksud Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh makan dahulu supaya tidak terganggu ke khusyuan kita.

4⃣ MENAHAN BUANG AIR KECIL dan BUANG AIR BESAR.

Sebagaimana hadits A’isyah ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada sholat (tidak sempurna sholat) dalam keadaan makanan telah dihadirkan, tidak pula ketika dia menahan buang air kecil dan buang air besar.” [HR Imam Muslim dalam shahihnya]
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
Menahan Kencing Ketika Sholat, Apakah SAH Sholatnya…?