All posts by BBG Al Ilmu

Tiada Yang Tetap…

Di dunia ini tiada yang tetap, segalanya kan berubah. Jikalah ada yang tetap maka dialah “perubahan”.

“Berubah itu yang menjadi ketetapan..”

Jika musim hujan telah berakhir, datanglah musim kemarau,
jika terang siang berakhir datanglah gelapnya malam,
tiada banjir yang abadi kecuali akan mengering,
tiada lautan yang surut kecuali akan datang pasang,
tiada tangisan yang mengalir kecuali berganti tawa,
tiada derita kecuali berganti bahagia,
tiada pertemuan yang kekal kecuali kan datang perpisahan..

“Segala yang didunia ini fana dan berubah..”

Jika hari ini dialah kekasih anda, maka tidak mustahil esok menjadi musuh bebuyutan.
Jika hari ini ialah teman setia, besok lusa dia berkhianat..

“Jika pagi ini ia beriman, boleh jadi esok petang dia menjadi kafir..”

Ada mantan preman yang tobat,
ada juga mantan santri yang murtad,
ada mantan pendeta dan ada pula mantan ustadz,
ada mantan istri dan ada pula mantan suami..

Seorang mukmin hendaklah senantiasa berubah kepada yang lebih baik dalam segala sisi kehidupannya. Berubah untuk lebih sholeh, lebih santun, lebih gairah menimba ilmu, lebih giat dalam berinfaq, lebih gigih dalam berdakwah, lebih semangat berkorban untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin…

Bukan lagi masanya berleha-leha,
bukan waktunya untuk tidur lelap,
bukan lagi zamannya bersantai-santai..

“Siapa yang ingin menyingsing fajar, harus mau berjalan malam..”

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Hidayah Itu…

Hidayah tuh tidak bergantung pada kecerdasan, atau kekayaan, atau keturunan, atau suku, atau ketampanan.

Hidayah adalah karunia Allah, maka mintalah agar Allah menurunkannya kepada anda, dan menjaganya hingga akhir hayat.

Itulah salah satu alasan mengapa anda harus baca surat Al Fatihah di setiap kali sholat, yang mengandung permintaan hidayah, padahal anda sudah beragama Islam bahkan rajin sholat.

Karena anda sholat hari ini, belum cukup sebagai jaminan anda akan tetap sholat besaok hari.

Dan sebaliknya yang belum sholat hari ini, belum tentu akan demikian seterusnya, bisa jadi esok dia yang rajin sholat sedangkan anda mengganti posisinya sebagai orang yang malas sholat.

Karena itu buang jauh-jauh kesombongan karena merasa sudah dapat hidayah dan buang jauh-jauh budaya nyinyir setiap kali melihat orang terjerembab dalam dosa.

Ya Allah, teguhkanlah jiwa kami dan tetapkan keislaman kami hingga akhir hayat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

 

KITAB FIQIH – Bolehkah Makmum Yang Berwudhu Bermakmum Kepada Imam Yang Tayamum..?

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apa Syarat Imam Itu Sah Sebagai Seorang Imam..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita melanjutkan fiqihnya…

⚉  BOLEHKAH MAKMUM YANG BERWUDHU BERMAKMUM KEPADA IMAM YANG TAYAMUM ?

Jawabnya : BOLEH
Ini berdasarkan hadits ‘Amr bin Al ‘Ash dimana ia pernah junub disuatu malam yang sangat dingin diperang Dzatutssalaatsil dan ‘Amr khawatir bila mandi ia akan binasa, maka beliaupun bertayamum dan mengimami sahabat-sahabatnya.

Kemudian dikhabarkan kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, ketika Nabi bertanya kepadanya, ‘Amr beralasan dengan surat An Nisaa’ : 29

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Jangan kamu membunuh dirimu sendiri”

Maka Nabi tertawa dan tidak mengingkarinya. [HR Imam Ahmad, Abu Daud]

⚉ BOLEHKAH SEORANG MUSAFIR MENJADI IMAM BAGI ORANG YANG MUKIM ?

Jawab : BOLEH
Berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar, bahwa ‘Umar pernah sholat mengimami penduduk Mekkah dalam sholat Zhuhur lalu beliau salam didua roka’at kemudian ‘Umar berkata, “sempurnakan sholat kalian wahai penduduk Mekkah, karena kami sedang safar.” [HR Imam Malik]

👉🏼  Dan apabila musafir menjadi makmum dibelakang imam yang mukim wajib bagi dia secara sempurna sholatnya, tidak boleh qashor.

Sebagaimana disebutkan dari hadits Musa bin Salamah Al Hudzali ia berkata, “aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas bagaimana aku sholat jika aku berada di Mekkah ? kalau aku sholatnya sendirian, bukan dibelakang imam yang mukim ?” Kata Ibnu ‘Abbas, “cukup dua roka’at saja qoshor, itu sunnah Abil Qoshim” (yaitu sunnah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam). [HR Imam Muslim]

Ini menunjukkan bahwa apabila ia sholat dibelakang imam yang mukim maka wajib baginya sempurna.

Dan juga dalam suatu riwayat yang dishahihkan oleh Syaikh Albani bahwa Ibnu ‘Abbas ditanya, ‘mengapa seorang musafir itu sholat dua roka’at ketika ia sholat sendirian dan empat roka’at apabila ia sholat dibelakang imam yang mukim ?’

Kata Ibnu ‘Abbas. ‘itulah sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam’ artinya itu perintah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam.

⚉ Kemudian seorang laki-laki mengimami wanita, maka ini telah ijma’ para ulama akan bolehnya.

⚉ Kemudian wanita mengimami yang ada dirumahnya, seperti anak-anak demikian pula budak-budak, hamba sahaya, karena dizaman dahulu ada budak dan hamba sahaya.

Disebutkan dalam HR Abu Daud adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkunjung ke Ummu Waroqoh bintu Abdullah Al Harits dirumahnya, maka beliau menjadikan untuknya seorang mu’adzzin yang adzan untuk Ummu Waroqoh dan memerintahkan Ummu Waroqoh untuk menjadi imam yang ada dirumahnya.

⚉ Dan apabila seorang wanita mengimami para wanita, maka hendaknya ia berdiri ditengah-tengah, disebutkan dalam hadits Ro’ithoh al Hanafiyah bahwa, ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha mengimami para wanita sholat lima waktu, maka Aisyah berdiri ditengah-tengah.’ [HR Abdur- Rozzaq dalam Al Mushonnafnya]

Demikian juga dalam riwayat Hujairoh bintu Hussain bahwa Ummu Salamah pernah menjadi imam para wanita dalam sholat dan beliau berdiri di tengah makmum bukan didepan. [HR Abdur- Rozzaq dalam mushonnafnya juga]
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

Demikianlah Kebanyakan Manusia…

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

قال ابن القيم رحمه الله :
” *وَهَكَذَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَسْمَعُ مِنْكَ وَيَرَى مِنَ الْمَحَاسِنِ أَضْعَافَ أَضْعَافِ الْمَسَاوِئِ فَلَا يَحْفَظُهَا وَلَا يَنْقُلُهَا وَلَا تُنَاسِبُهُ، فَإِذَا رَأَى سَقْطَةً أَوْ كَلِمَةً عَوْرَاءَ وَجَدَ بُغْيَتَهُ وَمَا يُنَاسِبُهَا فَجَعَلَهَا فَاكِهَتَهُ وَنُقْلَهُ* “

مدارج السالكين ١ / ٤٠٦

“Demikianlah kebanyakan manusia, ia mendengar dan melihat darimu kebaikan-kebaikan yang lebih banyak dari keburukan namun ia tidak mengingatnya, tidak menyebarkannya dan tidak sesuai dengannya.

Tapi apabila ia melihat satu kekeliruan, atau kata-kata yang salah seolah ia mendapatkan apa yang ia cari-cari dan ia jadikan bahan obrolanya dan ia sebarkan.”

[Madarij as Saalikin 1/406]

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

Dakwah Itu IBADAH…

Karena ia ibadah, maka metodenya baku tak menerima kreasi maupun innovasi. Segala kreasi baru dalam ibadah tidak akan pernah mampu membangun kembali kejayaan Islam…

Apapun nama dan sebutannya berupa ”dakwah gaul” dengan mencampur adukkan yang haq dan batil, antara dakwah dan musik, antara dakwah dan film religi, antara dakwah dan seni menari……..

pasti kan menemukan jalan buntu, meski terlihat sesaat hebat, modern, namun kan segera hilang tenggelam di telan masa..

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى

KAFIR Disebut Dalam DUA Konteks…

KAFIR disebut dalam DUA konteks:

1. Konteks panggilan, maka ini dibolehkan dalam keadaan tertentu saja.. seperti konteks surat ALKAAFIRUN, atau konteks ayat 7 dari surat Attahrim.

Adapun dalam kehidupan sehari hari, maka panggilan yang kita gunakan harusnya panggilan yang bersahabat, karena kita harus berakhlak mulia.

2. Konteks menjelaskan hakekat keadaan, maka ini dibolehkan secara mutlak, sebagaimana kata ini disebutkan ratusan kali dalam Alquran untuk menjelaskan hakekat keadaan orang yang kufur kepada Allah dan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.

Maka jangan disamakan dua konteks yang ada .. berlakulah adil dalam melihat dalil.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Tantangan Dakwah…

Dakwah itu penuh tantangan…

1. Baik dari diri sendiri.. seperti tantangan riya, ujub, hubbuz zhuhur, tafawwuqul Aqran dan lain-lain.
2. Baik dari rival yang seprofesi, disebabkan hasad, iri dan dengki, fanatik maupun ta’assub pada individu, tokoh, yayasan maupun perkumpulan tertentu…
3. Dari musuh-musuh dakwah, ahlul ahwa wal bida’…

Solusinya:

1. Berjuang untuk mengikhlaskan niat lillahi ta’ala semata, dengan terus menterapi penyakit-penyakit hati semisal ujub, bangga, riya dst..

2. Terus menerus bergantung pada Allah, berdoa padaNya agar diberikan keikhlasan dan taufiq, dijauhkan dari kejelekan diri dan syaitan.

3. Berusaha semakin memperbagus akhlak dalam berinteraksi dengan sesama teman para da’i dengan berhusnuz zhan pada mereka, mengalah dan bersabar dengan perangai mereka, tetap berupaya membina hubungan dan persahabatan dengan mereka.

4. Mencari akar permasalahan dalam dakwah, setelah tau baru berusaha mencarikan jalan keluarnya.

5. Banyak meminta nasehat dengan para senior yang telah mendahui kita dalam berdakwah.

6. Barusaha untuk senantiasa mengajak mereka bermusyawarah dalam menghadapi berbagai problematika dakwah..

Wallahu a’lam…

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى

Penawar Hati Yang Galau…

Sahabat…
Ku tau piranti hatimu berserpih-serpih, tatkala mimpi-mimpi yang kau semai diladang harap, hanyalan menuai kekecewaan demi kekecewaan.

Menyelami samudera hati seseorang yang kau harap , ternyata lebih pelik dari menyelami dasar samudera yang berjejak. Dalam lautan dapat diduga, namun samudera hati siapa yang tau.

Sahabat…
Kesalahan fatalmu adalah terlalu berharap pada kenaifan makhluk dan lupa bersandar pada kehebatan Sang Pencipta-pemilik samudera cinta-yang telah punya skenario dan perhitungan yang maha bijak dan adil untukmu.

Selami samudera cinta-Nya, niscaya kan kau dapati lezatnya buah iman dalam qalbumu yang dapat mengikis habis segala harapmu pada percikan gelombang cinta makhluk yang membentur pantai hatimu.

Obati luka-luka kekecewaan hatimu dengan istighfar dan taubat, basuh ia dengan munajat..

Yakinlah Zat yang MahaTau apa yang tersirat dan tersurat dari garis takdirmu, takkan memberikan padamu kecuali makhluk yang memang layak dan sesuai untukmu.

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى

Gigih Dalam Urusan Dunia, Lalai Dalam Urusan Akhirat…

Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Ta’ala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا .

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Dia tertipu dengan dunia, sehingga sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dia habiskan dunia ini, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta saja atau hanya untuk berlomba-lomba dalam teknologi. Hal ini sebagaimana kondisi orang-orang kafir saat ini. Mereka habiskan dunia ini untuk sesuatu yang tidak abadi.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh memanfaatkan dunia ini dan kemajuan teknologi di dalamnya. Akan tetapi, hendaknya dia manfaatkan ini semua untuk membantu ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Nasihat Untuk Para Suami…

Apabila engkau tidak menjaga istrimu, tidak bertakwa kepada Allah dalam memperlakukannya, dan tidak menunaikan haknya, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Ketika engkau pulang dari bekerja menemui istrimu, dia yang telah menjadikan rumahmu bagai surga di muka bumi, sekalipun letih dan lelah dia berusaha tampil cantik dan menarik dihadapanmu, tersenyum kepadamu dan berusaha menghiburmu, lantas engkau cuek dan acuh tak acuh..ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Ketika engkau manfaatkan kepemimpinanmu atasnya dengan cara yang tidak terpuji, hanya sekedar jaga gengsi dan memperlihatkan dirimu sebagai pemimpin, maka ketahuilah engkau tidak pantas jadi suami.

Ketika istrimu bekerja diluar rumah, ia lakukan itu hanyalah untuk membantumu memikul beban hidup. Lalu dia pulang ke rumah, ia pun tetap melakukan pekerjaan rumah sekalipun tampak letih, sementara engkau sikapi dgn angkuh, sombong tanpa mau mengulurkan tangan membantunya melakukan pekerjaan rumah dan memperhatikan anak-anak, tidak pula memberi kesempatannya rehat. Maka ketahuilah engkau tidak layak jadi suami dan ayah.

Apabila engkau telah menikah, dulu istrimu cantik, mulus dan ramping, lalu dia hamil dan melahirkan, umurnya juga telah bertambah, tubuhnya mulai gemuk, kulitnya mulai kendur, tampak perobahan dan bekas-bekas letih, lelah dan penat karena hamil, melahirkan, mengurus rumahmu, dirimu dan anak-anakmu. Kemudian engkau malah berkeluh kesah terhadapnya, merasa jenuh, sering menyindirnya dengan kata-kata yang melukainya serta melalaikannya, ketahuilah engkau tidak pantas jadi suami.

Jika engkau pulang ke rumah hanya utk makan, lalu menyendiri dengan HP mu atau semisalnya, atau keluyuran keluar rumah dengan teman-temanmu, membiarkan dan melalaikannya di rumah sepanjang minggu. Ketahuilah engkau suami yang gagal.

Apabila engkau memperlakukan istrimu dengan kata-kata yang kasar, tidak bersabar terhadap kesalahan dan kekurangannya, tidak memaafkannya, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau menyakiti istrimu dengan tanganmu, menampar atau memukulnya tidak pada kondisi dan bagian yang diizinkan syar’i, maka engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau menuntut istrimu bersolek dan tampil cantik untukmu, sementara engkau tidak peduli terhadap dirimu dihadapannya, engkau tidak pantas jadi suami.

Jika engkau tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dirumahmu, tidak memerintahkan istrimu sholat dan menutup aurat, tidak menjaga istrimu dari api neraka, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau mengumbar aib rumahtanggamu dan problematikanya kepada teman-temanmu, ibu bapakmu dan saudara-saudarimu, ketahuilah engkau tidak layak jadi suami.

Apabila engkau tidak bertakwa kepada Allah pada istrimu, engkau tidak pantas jadi suami.

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.