All posts by BBG Al Ilmu

Tanda Tawakal Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

يا رب إني لأستحي أن أقول توكلت عليك لو توكلت عليك لما خفت ولا رجوت غيرك

“Ya Robbi, aku malu untuk mengatakan bahwa aku telah bertawakal kepada-Mu. Sebab jika aku telah bertawakal kepada-Mu tentu aku tidak akan merasa takut dan tidak juga berharap kepada selain-Mu..”

(Sifatushofwah 2/591)

Karena tawakal kepada Allah menimbulkan kekuatan di hati..
Ketenangan dan ketentraman..

Tapi ketika hati kita masih berharap kepada selain Allah..
Dan merasa tenang dengan selain-Nya..
Itu menunjukkan kita belum bertawakal kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Nilai Sholat Dalam Islam

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ رَبِّهِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ٤٦

“Dan memohonlah pertolongan (Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, sholat itu terasa berat kecuali bagi orang yang khusyuk. Yakni mereka yang meyakini bahwa mereka akan menghadap Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya..”

[ Qs Al-Baqoroh: 45 – 46 ]

● Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

فإنما كبرت على غير هؤلاء لخُلوِّ قلوبهم من محبة الله تعالى وتكبيره وتعظيمه والخشوع له، وقلّة رغبتهم فيه، فإن حضور العبد في الصلاة وخشوعه فيها وتكميله لها واستفراغه وسعة في إقامتها وإتمامها على قدر رغبته في الله تعالى

“Sungguh, sholat terasa berat bagi selain orang yang khusyuk, karena :
– kosongnya kalbu mereka dari mahabbah (rasa cinta) kepada Allah,
– tidak merasakan kebesaran dan keagungan-Nya,
– tidak khusyuk kepada-Nya, dan
– rendah kecintaan kepada-Nya..

Oleh karena itu, seorang hamba bisa menghadirkan hatinya ketika sholat, bisa khusyuk dan memperbagusnya, dan berusaha dengan serius untuk menegakkan dan meraih kesempurnaan sholat, sesuai dengan kadar cintanya kepada Allah..”

● Imam Ahmad rohimahullah berkata,

إنما حظهم من الإسلام على قدر حظهم من الصلاة ورغبتهم في الإسلام على قدر رغبتهم في الصلاة فاعرف نفسك يا عبد الله واحذر أن تلقى الله عز وجل ولا قدر للإسلام عندك، فإن قدر الإسلام في قلبك كقدر الصلاة في قلبك

“Bagian mereka dalam Islam sesuai dengan kadar bagian mereka dalam sholat..

Kecintaan mereka terhadap Islam sesuai dengan kadar cinta mereka terhadap sholat..

Koreksi dirimu, wahai hamba Allah..! Takutlah engkau jika saat menghadap Allah, ternyata tidak ada nilai Islam pada dirimu. Sebab, nilai Islam pada hatimu sesuai dengan nilai sholat pada hatimu juga..”

[ Ash-Sholatu wa Ahkamu Tarikiha hlm. 140 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nikmat Yang Bisa Menjadi Musibah

Salamah bin Dinar Abu Hazim rohimahullah berkata,

كل نعمة لا تقرب إلى الله عز وجل فهي بلية

“Semua nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah adalah baliyyah (musibah)..”

(Mawa’idz Sholihin hal 262)

Cobalah renungkan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita..
Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah..
Ataukah malah membuat kita jauh dari-Nya..

Nikmat handphone..
Nikmat kendaraan..
Nikmat pakaian..
Nikmat kecerdasan..
Nikmat kecantikan..
Dan semua nikmat..

Jangan sampai nikmat itu menjadi musibah yang membinasakan keimanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sesungguhnya Pertolongan Allah Itu Dekat

Lelah, lelah dan lelah..

Demikian mungkin keluh kesah anda.. badan anda lelah, batin anda menjerit dan berkata kapan datangnya pertolongan Allah..?!

Kawan..! Percayalah apa yang anda alami saat ini adalah salah satu cara unik Allah untuk menyadarkan diri anda bahwa anda lemah dan tak berdaya, sedangkan yang Maha Kuasa hanyalah Allah.

Karena itu bersegeralah mengetuk pintu Allah Ta’ala, mengakui kelemahan anda.

Serulah nama-Nya, akuilah dosa anda, dan memohonlah dengan setulus hati anda niscaya pertolongan Allah terasa begitu dekat.

Damai batin anda, cerah pandangan anda dan menjadi mudah urusan anda.

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(( عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ قُنُوْطِ عِبَادِهِ وَقُرْبِ غِيَرِهِ يَنْظُرُ إِلَيْكُمْ أَزِلِيْنَ قَنِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَكُمْ قَرِيْبٌ ))

“Tuhan kita heran dengan hamba-hamba-Nya yang dilanda putus asa, padahal pertolongan Allah merubah keadaan mereka dari yang sulit menjadi mudah itu begitu dekat.

Allah melihat kepada kalian yang sedang dilanda susah dan berputus asa, Allah- pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolongan-Nya untuk kalian adalah dekat..” (Ahmad dan lainnya)

Hadits ini semakna dengan firman-Nya:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu..? .

Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang dengan berbagai cobaan, sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah..?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat..” (Al Baqarah 214)

Kawan..! Kobarkan imanmu, bangkitkan semangatmu dan songsong pertolongan Robbmu dengan usaha keras, do’a dan tawakkalmu.

Semoga mencerahkan kawan.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Tidak Tertipu Dengan Dunia

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah berkata,

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة
‏طاب له عيش الدنيا
‏ومن طلب عيش الدنيا
‏ضاعت عليه الدنيا والآخر .

“Yang ajaib adalah orang yang mencari kehidupan akherat, maka menjadi baik juga kehidupan dunianya.. dan orang yang mencari kehidupan dunia saja, hilang untuknya dunia dan akheratnya..”

(Tafsir Syaikh Utsaimin 1/23)

Ya..
Para pencari dunia yang rakus itu berpaling dari akherat..
Tak peduli halal dan haram..
Tak peduli dengan batasan batasan agama-Nya..
Sehingga ia tidak mendapat akherat dan dunia pun belum tentu ia mendapatkannya..

Kalaupun ia meraih dunia, maka menjadi adzab untuknya..
Hatinya dipalingkan dari ketaatan..
Hatinya makmur dengan cinta dunia..

Sebaliknya..
Orang yang mencari akherat..
Ia jadikan dunia untuk kebaikan akheratnya..
Ia tetap mendapat kenikmatan dunia..
Namun ia tidak tertipu dengannya..

Ia tak ingin mengambil harta dengan cara yang haram..
Tak ingin melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya..
Ia takut akan hari yang setiap manusia berdiri di hadapan Robbnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Pohon Keikhlasan

Tatkala menjelaskan tentang Syajarotul Ikhlaash (Pohon Keikhlasan), Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Tahun itu bagaikan sebatang pohon, bulan-bulannya adalah dahan, hari-harinya adalah ranting, jam-jamnya adalah daun, dan nafas (detak jantung) adalah buahnya..

Barangsiapa yang waktu-waktunya diisi dengan ketaatan, maka buah dari pohon yang ia miliki akan bagus. Akan tetapi barangsiapa yang waktu-waktunya dihabiskan dalam kemaksiatan maka pohonnya akan berbuah pahit..

Hanya saja untuk mengetahui buah mana yang manis atau pahit dapat diketahui pada musim panen ketika semua buah dipetik, yaitu pada hari yang dijanjikan (kiamat)..

Ikhlas dan tauhid bagaikan sebatang pohon di dalam hati manusia, dahannya adalah amal perbuatan, sedang buahnya adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat.. ⁣

Sebagaimana pohon yang ada dalam surga yang terus berbuah, tak pernah berhenti, juga tidak terlarang diambil, buah dari pohon tauhid dan ikhlas di dunia ini demikian pula, tidak pernah terputus buahnya dan tidak pernah terlarang dicicipi.⁣.

Dan demikian pula Syirik, dusta, dan riya’ adalah pohon di dalam hati manusia. Buahnya di dunia ini adalah rasa takut, kegelisahan, kesempitan hati, dan gelapnya hati..

Sedangkan buahnya di akhirat adalah zaqqum (makanan ahli neraka) dan azab yang kekal. Kedua pohon inilah yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim..” ⁣

[ Al-Fawaa’id – 214 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tertipu Oleh Pujian Manusia

Khalid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“Wahai Amirul Mukminin..

Banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
Dan terfitnah oleh pujian manusia..

Maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
Jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

Semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadapn aib kita..

Dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

Dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir – Imam Al Baihaqi 1/187)

Allah menutup aib kita sebagai karunia-Nya..
Lalu manusia memuji karena ketidak tahuan mereka tentang aib-aib kita.. Namun kita malah tertipu dengannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Akibat Selalu Berbaik Sangka Kepada Diri Sendiri

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأما سوء الظن بالنفس فإنما احتاج إليه
‏لأن حسن الظن بالنفس يمنع من كمال التفتيش ويلبس عليه، فيرى المساوئ محاسن، والعيوب كمالا ومن أحسن ظنه بنفسه فهو من أجهل الناس بنفسه.
‏فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه

“Berburuk sangka kepada diri sendiri dibutuhkan karena berbaik sangka kepada diri sendiri itu mencegah untuk introspeksi dan membuat samar (kesalahan). Sehingga ia melihat keburukan menjadi kebaikan, dan melihat aib diri sebagai kesempurnaan.

Orang yang selalu berbaik sangka kepada dirinya adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya.

Berapa banyak orang yang diulur dengan kenikmatan sementara ia tidak merasakannya.

Dan berapa banyak orang yang tertipu karena Allah menutupi aib dan kebutuhannya..”

(Madarijussalikin 1/238)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Istighfar

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّه لَيُغَانُ علَى قَلْبِي، وإنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ في اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ“

“Sesungguhnya hatiku terkadang lalai, dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari..”

(HR Muslim)

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna “layughoonu” adalah kelalaian yang menimpa hati. Karena kebiasaan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengingat Allah.

Demikianlah.. Saat seorang insan telah merasakan kenikmatan dzikir di hatinya…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sekiranya

Sekiranya peluang kita untuk berbuat dosa hanya sekali tak boleh berulang dan Allah langsung menjatuhkan siksanya pada kita, niscaya habis binasa dan punahlah kita semua.

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan dosanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya..”

(Qs. Fathir:45)

Sekiranya Allah harus mencabut nyawa kita tatkala melakukan maksiat dan dosa, niscaya telah binasalah kita semua.

Sekiranya Allah menyingkap dosa-dosa yang kita lakukan, membeberkannya pada orang-orang terdekat kita seperti anak, istri maupun kerabat dan teman yang akrab dan mengenal kita, niscaya putuslah segala hubungan, dan dijauhkanlah kita dari komunitas mereka, hidup terisolir dalam benteng dosa dari manusia.

NAMUN, DIA ALLAH ROBB KITA, yang senantiasa melihat, mendengar dan menyaksikan segala perbuatan dosa kita, belas kasih pada kita, tutup rapat aib-aib kita, beri tenggang pada kita untuk bertaubat, dan memperbaiki diri.

DIALAH ROBB KITA, yang segala kebaikan dan rahmat-Nya turun setiap saat pada kita, tak pernah abaikan kita, apalagi memutus rezeki kita, sementara yang naik pada-Nya adalah dosa-dosa kita, perbuatan dan omongan buruk kita, dan kufur nikmat kita.

DIA DICELA DAN DIFITNAH sang hamba, dikatakan memiliki anak dan istri, dikatakan kikir dan fakir oleh musuh-musuh-Nya dari golongan Nashara dan Yahudi, tapi tetap mengayomi mereka dengan segala nikmatnya..

Subhanaka ya Robb, ampuni kami hamba-hambamu yang selalu berdosa dan kufur dengan nikmat-nikmatmu, sucikan diri kami, buat kami benci pada kemaksiatan, dosa dan kekufuran. Matikan kami dalam kebaikan dan taubat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى