Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Keberkahan Dalam Rezeki Dan Umur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وَلَيْسَتْ سَعَةُ الرِّزْقِ وَالْعَمَلِ بِكَثْرَتِهِ ، وَلَا طُولُ الْعُمُرِ بِكَثْرَةِ الشُّهُورِ وَالْأَعْوَامِ ، وَلَكِنَّ سَعَةَ الرِّزْقِ وَطُولَ الْعُمُرِ بِالْبَرَكَةِ فِيهِ .

“Bukanlah luasnya rezeki dan amal itu dengan banyaknya.. dan bukanlah panjang umur itu dengan banyaknya bulan dan tahun. Akan tetapi luasnya rezeki dan panjangnya umur adalah dengan keberkahan padanya..”

(Al Jawabul Kaafi)

Barokah itu dengan banyaknya kebaikan pada harta dan umur..

Adapun harta yang banyak namun sedikit kebaikannya..
Adalah harta yang tidak barokah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Amal Yang Paling Berat

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

أشدُّ الأعمال ثلاثة :
‏- الجود من قلَّة ،
‏- والورع في الخلوة ،
‏- وكلمة الحق عند من يُرجى ويُخاف .

Amal yang paling berat ada tiga yaitu :
– dermawan saat susah,
– waro’ saat sendiri, dan
– menyampaikan kebenaran di sisi orang yang kita takuti dan harapkan.

(Sifatushofwah 2/167 – Lihat Kitab Mawa’idz Sholihin hal 130)

Banyak orang yang dermawan saat senang dan punya kelebihan harta..
Namun jarang yang dermawan saat susah dan sedikit harta..

Demikian pula sikap waro’..
Yaitu meninggalkan segala sesuatu yang dikhawatirkan merusak akhirat dan keimanan..
Saat sendiri dan tak ada orang melihat..
Kita sering kehilangan sifat waro’..

Saat kita berharap manfaat dari seseorang dan takut manfaat tersebut hilang..
Kita seringkali berat untuk menyampaikan kebenaran kepadanya..

Hanya orang-orang yang Allah kokohkan hatinya..
Dan ia diberi hidayah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tak Terasa

Terkadang tak terasa bahwa sebagian hidayah telah Allah ambil dari kita..

– Kekhusyu’an yang telah sirna..
– Tilawah qur’an yang tak lagi dilantunkan..
– Hati yang tak lagi merasa nikmat saat mengingat Allah..

Anehnya.. kita biasa-biasa saja..
Tak sedih dan tidak juga merasa kehilangan..

Namun saat kehilangan sebagian dunia..
Kita stress, sedih dan galau..
Bahkan terkadang menyalahkan ketentuan sang pencipta..

Mungkin dunia lebih besar di hati kita..
Padahal ia tak lebih berharga dari bangkai anak kambing..

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من سرَّتْهُ حسنتُهُ وساءتْهُ سيِّئتُهُ فهو مؤمنٌ

“Siapa yang merasa gembira dengan amal kebaikannya dan merasa susah dengan amal keburukannya maka ia adalah mukmin..”

(HR. Ahmad dan Attirmidzi)

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Teruslah Berjalan Di Atas Kebaikan

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ للشَّيطانِ لمَّةً بابنِ آدمَ وللملَك لمَّةً فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ فإيعادٌ بالشَّرِّ وتَكذيبٌ بالحقِّ وأمَّا لمَّةُ الملَك فإيعادٌ بالخيرِ وتصديقٌ بالحقِّ فمن وجدَ ذلِك فليعلم أنَّهُ منَ اللهِ فليحمدِ اللَّهَ ومن وجدَ الأخرى فليتعوَّذ باللَّهِ منَ الشَّيطانِ الرَّجيمِ ثمَّ قرأ الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ الآيةَ

“Sesungguhnya setan memiliki bisikan kepada anak Adam, dan malaikatpun memiliki bisikan..

Bisikan setan adalah janji dengan keburukan dan mendustakan kebenaran.

Sedangkan bisikan malaikat adalah janji dengan kebaikan dan membenarkan kebenaran, siapa yang merasakan itu maka hendaklah ia memuji Allah..

Dan siapa yang merasakan yang lain (yaitu bisikan setan) maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Setan itu menjanjikan kefakiran dan menyuruh kepada dosa..”

(Shohih Sunan At Tirmidzi)

Ketika hendak menuntut ilmu..
Setan membisiki, ‘Nanti kamu tidak mampu mengamalkannya..’

Ketika hendak mengamalkan sunnah..
Setan membisiki, ‘Nanti kamu akan dijauhi orang atau disebut wahabi..’

Maka teruslah berjalan di atas kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tawadhu Dan Tidak Tinggi Hati

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya.. dan orang yang paling utama adalah yang tidak pernah melihat keutamaan dirinya..”

(Siyar A’lam Nubala 10 – 99)

Orang yang selalu melihat kedudukan dirinya dan keutamaannya..
Seringkali terkena penyakit ujub dan sombong..

Berbeda dengan orang yang punya keutamaan dan kedudukan..
Tapi ia tak pernah melihat kedudukan dan keutamaan dirinya..
Dia yakin bahwa semua itu adalah dari Allah yang harus disyukuri..
Maka ia menjadi tawadhu dan tidak tinggi hati..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tanda Tawakal Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

يا رب إني لأستحي أن أقول توكلت عليك لو توكلت عليك لما خفت ولا رجوت غيرك

“Ya Robbi, aku malu untuk mengatakan bahwa aku telah bertawakal kepada-Mu. Sebab jika aku telah bertawakal kepada-Mu tentu aku tidak akan merasa takut dan tidak juga berharap kepada selain-Mu..”

(Sifatushofwah 2/591)

Karena tawakal kepada Allah menimbulkan kekuatan di hati..
Ketenangan dan ketentraman..

Tapi ketika hati kita masih berharap kepada selain Allah..
Dan merasa tenang dengan selain-Nya..
Itu menunjukkan kita belum bertawakal kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Nikmat Yang Bisa Menjadi Musibah

Salamah bin Dinar Abu Hazim rohimahullah berkata,

كل نعمة لا تقرب إلى الله عز وجل فهي بلية

“Semua nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah adalah baliyyah (musibah)..”

(Mawa’idz Sholihin hal 262)

Cobalah renungkan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita..
Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah..
Ataukah malah membuat kita jauh dari-Nya..

Nikmat handphone..
Nikmat kendaraan..
Nikmat pakaian..
Nikmat kecerdasan..
Nikmat kecantikan..
Dan semua nikmat..

Jangan sampai nikmat itu menjadi musibah yang membinasakan keimanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Tertipu Dengan Dunia

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah berkata,

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة
‏طاب له عيش الدنيا
‏ومن طلب عيش الدنيا
‏ضاعت عليه الدنيا والآخر .

“Yang ajaib adalah orang yang mencari kehidupan akherat, maka menjadi baik juga kehidupan dunianya.. dan orang yang mencari kehidupan dunia saja, hilang untuknya dunia dan akheratnya..”

(Tafsir Syaikh Utsaimin 1/23)

Ya..
Para pencari dunia yang rakus itu berpaling dari akherat..
Tak peduli halal dan haram..
Tak peduli dengan batasan batasan agama-Nya..
Sehingga ia tidak mendapat akherat dan dunia pun belum tentu ia mendapatkannya..

Kalaupun ia meraih dunia, maka menjadi adzab untuknya..
Hatinya dipalingkan dari ketaatan..
Hatinya makmur dengan cinta dunia..

Sebaliknya..
Orang yang mencari akherat..
Ia jadikan dunia untuk kebaikan akheratnya..
Ia tetap mendapat kenikmatan dunia..
Namun ia tidak tertipu dengannya..

Ia tak ingin mengambil harta dengan cara yang haram..
Tak ingin melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya..
Ia takut akan hari yang setiap manusia berdiri di hadapan Robbnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tertipu Oleh Pujian Manusia

Khalid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“Wahai Amirul Mukminin..

Banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
Dan terfitnah oleh pujian manusia..

Maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
Jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

Semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadapn aib kita..

Dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

Dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir – Imam Al Baihaqi 1/187)

Allah menutup aib kita sebagai karunia-Nya..
Lalu manusia memuji karena ketidak tahuan mereka tentang aib-aib kita.. Namun kita malah tertipu dengannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Akibat Selalu Berbaik Sangka Kepada Diri Sendiri

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأما سوء الظن بالنفس فإنما احتاج إليه
‏لأن حسن الظن بالنفس يمنع من كمال التفتيش ويلبس عليه، فيرى المساوئ محاسن، والعيوب كمالا ومن أحسن ظنه بنفسه فهو من أجهل الناس بنفسه.
‏فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه

“Berburuk sangka kepada diri sendiri dibutuhkan karena berbaik sangka kepada diri sendiri itu mencegah untuk introspeksi dan membuat samar (kesalahan). Sehingga ia melihat keburukan menjadi kebaikan, dan melihat aib diri sebagai kesempurnaan.

Orang yang selalu berbaik sangka kepada dirinya adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya.

Berapa banyak orang yang diulur dengan kenikmatan sementara ia tidak merasakannya.

Dan berapa banyak orang yang tertipu karena Allah menutupi aib dan kebutuhannya..”

(Madarijussalikin 1/238)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى