Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Tawadhu Dan Tidak Tinggi Hati

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya.. dan orang yang paling utama adalah yang tidak pernah melihat keutamaan dirinya..”

(Siyar A’lam Nubala 10 – 99)

Orang yang selalu melihat kedudukan dirinya dan keutamaannya..
Seringkali terkena penyakit ujub dan sombong..

Berbeda dengan orang yang punya keutamaan dan kedudukan..
Tapi ia tak pernah melihat kedudukan dan keutamaan dirinya..
Dia yakin bahwa semua itu adalah dari Allah yang harus disyukuri..
Maka ia menjadi tawadhu dan tidak tinggi hati..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tanda Tawakal Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

يا رب إني لأستحي أن أقول توكلت عليك لو توكلت عليك لما خفت ولا رجوت غيرك

“Ya Robbi, aku malu untuk mengatakan bahwa aku telah bertawakal kepada-Mu. Sebab jika aku telah bertawakal kepada-Mu tentu aku tidak akan merasa takut dan tidak juga berharap kepada selain-Mu..”

(Sifatushofwah 2/591)

Karena tawakal kepada Allah menimbulkan kekuatan di hati..
Ketenangan dan ketentraman..

Tapi ketika hati kita masih berharap kepada selain Allah..
Dan merasa tenang dengan selain-Nya..
Itu menunjukkan kita belum bertawakal kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Nikmat Yang Bisa Menjadi Musibah

Salamah bin Dinar Abu Hazim rohimahullah berkata,

كل نعمة لا تقرب إلى الله عز وجل فهي بلية

“Semua nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah adalah baliyyah (musibah)..”

(Mawa’idz Sholihin hal 262)

Cobalah renungkan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita..
Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah..
Ataukah malah membuat kita jauh dari-Nya..

Nikmat handphone..
Nikmat kendaraan..
Nikmat pakaian..
Nikmat kecerdasan..
Nikmat kecantikan..
Dan semua nikmat..

Jangan sampai nikmat itu menjadi musibah yang membinasakan keimanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Tertipu Dengan Dunia

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah berkata,

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة
‏طاب له عيش الدنيا
‏ومن طلب عيش الدنيا
‏ضاعت عليه الدنيا والآخر .

“Yang ajaib adalah orang yang mencari kehidupan akherat, maka menjadi baik juga kehidupan dunianya.. dan orang yang mencari kehidupan dunia saja, hilang untuknya dunia dan akheratnya..”

(Tafsir Syaikh Utsaimin 1/23)

Ya..
Para pencari dunia yang rakus itu berpaling dari akherat..
Tak peduli halal dan haram..
Tak peduli dengan batasan batasan agama-Nya..
Sehingga ia tidak mendapat akherat dan dunia pun belum tentu ia mendapatkannya..

Kalaupun ia meraih dunia, maka menjadi adzab untuknya..
Hatinya dipalingkan dari ketaatan..
Hatinya makmur dengan cinta dunia..

Sebaliknya..
Orang yang mencari akherat..
Ia jadikan dunia untuk kebaikan akheratnya..
Ia tetap mendapat kenikmatan dunia..
Namun ia tidak tertipu dengannya..

Ia tak ingin mengambil harta dengan cara yang haram..
Tak ingin melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya..
Ia takut akan hari yang setiap manusia berdiri di hadapan Robbnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tertipu Oleh Pujian Manusia

Khalid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“Wahai Amirul Mukminin..

Banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
Dan terfitnah oleh pujian manusia..

Maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
Jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

Semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadapn aib kita..

Dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

Dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir – Imam Al Baihaqi 1/187)

Allah menutup aib kita sebagai karunia-Nya..
Lalu manusia memuji karena ketidak tahuan mereka tentang aib-aib kita.. Namun kita malah tertipu dengannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Akibat Selalu Berbaik Sangka Kepada Diri Sendiri

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وأما سوء الظن بالنفس فإنما احتاج إليه
‏لأن حسن الظن بالنفس يمنع من كمال التفتيش ويلبس عليه، فيرى المساوئ محاسن، والعيوب كمالا ومن أحسن ظنه بنفسه فهو من أجهل الناس بنفسه.
‏فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه

“Berburuk sangka kepada diri sendiri dibutuhkan karena berbaik sangka kepada diri sendiri itu mencegah untuk introspeksi dan membuat samar (kesalahan). Sehingga ia melihat keburukan menjadi kebaikan, dan melihat aib diri sebagai kesempurnaan.

Orang yang selalu berbaik sangka kepada dirinya adalah orang yang paling bodoh tentang dirinya.

Berapa banyak orang yang diulur dengan kenikmatan sementara ia tidak merasakannya.

Dan berapa banyak orang yang tertipu karena Allah menutupi aib dan kebutuhannya..”

(Madarijussalikin 1/238)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Istighfar

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّه لَيُغَانُ علَى قَلْبِي، وإنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ في اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ“

“Sesungguhnya hatiku terkadang lalai, dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari..”

(HR Muslim)

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna “layughoonu” adalah kelalaian yang menimpa hati. Karena kebiasaan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengingat Allah.

Demikianlah.. Saat seorang insan telah merasakan kenikmatan dzikir di hatinya…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hati Yang Selamat

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat..”

(Ash-Shu’aroo: 88 – 89)

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

والقلب السليم هو الذي سَلِمَ من الشرك والغِل والحقد والحسد والشح والكِبْر وحب الدنيا والرياسة، فسَلِمَ من كل آفة تبعده عن الله،وسلم من كل شبهة تعارض خبره، ومن كل شهوة تعارض أمْره، وسلم من كل إرادة تزاحِم مُراده

“Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari :
– syirik,
– dengki,
– hasad,
– kikir,
– sombong,
– cinta dunia dan kedudukan..

ia selamat dari setiap penyakit yang menjauhkannya dari Allah..

selamat dari setiap syubhat yang bertentangan dengan dalil..

selamat dari setiap syahwat yang bertabrakan dengan perintah-Nya..

dan selamat dari setiap keinginan yang berlawanan dengan keinginan-Nya..”

(Ad Daa wad Dawaa hal. 219)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akhlak Yang Baik

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما شيءٌ أثقلُ في ميزانِ المؤمِنِ يومَ القيامةِ مِن خُلُقٍ حسَنٍ، فإنَّ اللَّهَ تعالى ليُبغِضُ الفاحشَ البَذيءَ

“Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan dari akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk akhlak dan buruk ucapan..”

(HR At Tirmidzi no 2002)

Al Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

ولأن يصحبني فاجر حسن الخلق أحب إلي من أن يصحبني قارىء سيء الخلق، إن الفاسق إذا كان حسن الخلق عاش بعقله، وخف على الناس وأحبوه، وإن العابد إذا كان سيء الخلق، ثقل على الناس ومقتوه .

“Lebih aku sukai yang menemaniku orang yang fajir tapi bagus akhlaknya dari pada ahli ibadah tapi buruk akhlaknya..

Karena orang fasik yang baik akhlaknya hidup dengan akalnya, ringan untuk manusia dan dicintai oleh mereka. Sedangkan ahli ibadah bila buruk akhlaknya membuat berat manusia dan dibenci oleh mereka..”

(Mawa’idz Sholihin hal 135)

Keindahan akhlak lebih baik dari banyaknya ibadah..
Karena akhlak yang baik adalah diantara amal yang paling berat timbangannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tanda Ilmu Yang Bermanfaat

Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullah berkata,

تساءل مع نفسك عن حظك من علامات العلم النافع، وهى:
العمل به.
كراهية التزكية والمدح والتكبر على الخلق.
تكاثر تواضعك كلما ازددت علماً.
الهرب من حب الترؤس والشهرة والدنيا.
هجر دعوى العلم.
إساءة الظن بالنفس، وإحسانه بالناس تنزها عن الوقوع بهم

Tanyalah dirimu, adakah tanda-tanda ilmu yang bermanfaat pada dirimu :

1. Mengamalkan ilmu.

2. Tidak suka pujian dan tidak bersombong diri.

3. Semakin banyak ilmu semakin tawadhu.

4. Lari dari mencintai kedudukan, ketenaran dan cinta dunia.

5. Tidak mengaku diri berilmu.

6. Suuzhon kepada diri sendiri dan husnuzhan kepada orang lain.

(Hilyah Tholibil ‘Ilmi hal. 71)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى