Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Ia Tak Pernah Menyebutkan Kebaikannya

Sungguh kagum melihat seorang yang banyak kebaikannya dan jasanya untuk umat namun ia tak pernah mengungkitnya di hadapan manusia apalagi di sosial media..

Jadi ingat perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah, beliau berkata:

فإن الله إذا أراد بعبد خيراً سلبه رؤية أعماله الحسنة من قلبه والإخبار بها من لسانه ، وشغله برؤية ذنبه ، فلا يزال نصب عينيه حتى يدخل الجنة ، فإن ما تقبل من الأعمال رفع من القلب رؤيته ومن اللسان ذكره .

“Sesungguhnya Allah apabila menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, dijadikan hatinya tak mengingat amal amal kebaikannya, dan dijadikan lisannya tak ingin mengabarkan amalnya kepada manusia. Allah jadikan ia sibuk mengingat dosa dosanya. Senantiasa dosa itu berada di pelupuk matanya hingga ia masuk surga..

Karena tanda amal diterima itu adalah menjadikan hati tak mengingatnya dan lisan tak mengabarkannya..”

(Lihat kitab Thoriqul Hijrotain hal. 169-172)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Pakaian Pertengahan

Malik bin Nadhlah rodhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku mendatangi Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan memakai baju yang jelek dan lusuh..

Beliau bersabda, “Apakah kamu memiliki harta..?”
“Punya..” jawabku.
Beliau bertanya lagi, “Harta apa..?”
Aku menjawab, “Semua harta telah Allah berikan kepadaku.. unta, kuda, hamba sahaya dan kambing..”

Beliau bersabda,

إذا آتاك الله عز وجل مالا فلير عليك

“Apabila Allah memberimu harta, maka hendaklah terlihat pada dirimu..”

(HR Ahmad dengan sanad yang shohih)

Namun bukan dengan memakai pakaian yang amat mahal karena itu termasuk pakaian syuhroh.. akan tetapi pakaian yang bagus dan tidak jelek sebagai rasa syukur kepada Allah atas pemberian-Nya…

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Salaf terdahulu memakai pakaian pertengahan.. tidak terlalu mahal dan tidak jelek.. dan mereka memilih pakaian yang bagus khusus untuk sholat Jum’at, hari raya dan bertemu dengan teman teman..”

(Al Muntaqo An Nafiis Min Talbis Iblis hal. 256)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Perkara Yang Mempengaruhi Keutamaan Amal

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata :

إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya, namun karena apa yang ada di hati saat beramal..” (Majmu fatawa 25/282)

Apa yang ada di hati berupa :
– keikhlasan
– kekhusyuan
– cinta dan takut
– berharap akan rahmat-Nya

Semua itu amat mempengaruhi keutamaan amal.. amal walaupun besar tapi kurang ikhlas, maka berkurang pula pahalanya..

dan amal yang kecil namun disertai hati yang ikhlas dan rasa cinta yang besar, ia menjadi besar pahalanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Salah Satu Akhlak Tercela

Amru bin Al ‘Ash rodhiyallahu ‘anhu berkata:

لا أَمَلُّ ثوبي ما وسعني،
ولا أملُّ زوجتي ما أحسنت عِشرتِي،
ولا أملُّ دابٌَتِي ما حملتني،
إن الملال من سيء الأخلاق.

“Sesungguhnya aku tidak bosan dengan bajuku selama masih mencukupiku..

Aku tidak bosan dengan istriku selama ia masih mau menemaniku..

Aku tidak bosan dengan kendaraanku selama ia masih bisa membawaku..

Sesungguhnya mudah bosan itu adalah akhlak tercela..”

تاريخ دمشق [۱٨٣/٤٦].

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Janganlah Menjadikan Faidah Dunia Sebagai Pokok

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

بعض الناس عندما يتكلمون على فوائد العبادات يحولونها إلى فوائد دنيوية ، فمثلا يقولون في الصلاة رياضة وإفادة للأعصاب ، وفي الصيام فائدة إزالة الرطوبة وترتيب الواجبات ، ‏والمفروض ألا نجعل الفوائد الدنيوية هي الأصل، لأن الله لم يذكر ذلك في كتابه ، بل ذكر أن الصلاة : تنهى عن الفحشاء والمنكر ، وعن الصوم أنه سبب للتقوى .

“Sebagian orang ketika berbicara tentang faidah ibadah mereka membicarakan faidah dunia.. seperti ucapan mereka bahwa sholat itu adalah olah raga dan faidah untuk otot. Puasa faidahnya menghilangkan ruthubah..

Padahal seharusnya kita tidak menjadikan faidah dunia sebagai pokok. Karena Allah tidak menyebutkan hal itu dalam kitab-Nya. Tapi menyebutkan bahwa sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, dan puasa menyebabkan ketakwaan..”

 القول المفيد : (138/2)

Diterjemahkan oleh.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Diantara Nikmat Yang Paling Ajaib

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومن أعجب النعـــــــــــم عليه
‏نعمة النسيان
‏فإنه لولا النسيان لما سلا شيئا
‏ولا انقضت له حسرة
‏ولا تعزى عن مصيبة
‏ولا مات لـــــــه حزن
‏ولا بطل لـــــــه حقد
‏ولا استمتع بشيء من متاع
‏الدنيا مع تذكر الآفات.

“Diantara nikmat yang paling ajaib adalah lupa. Karena kalau bukan karena lupa, tentu sesuatu itu tak terasa manis..
– penyesalan tak pernah selesai,
– musibah tak pernah berlalu,
– kesedihan selalu merundung,
– kedengkian tak pernah padam,
– bahkan kenikmatan dunia tak terasa menyenangkan bila selalu mengingat kepedihannya..”

( Miftah Dar Assa’adah 2/887 )

Diterjemahkan oleh.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Siapa Yang Berhak Menimbang Antara Maslahat Dan Mafsadah..?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

معيار مقادير المصالح والمفاسد هو بميزان الشريعة؛ فمتى قدر الإنسان على اتباع النصوص لم يعدل عنها، وإلا اجتهد برأيه لمعرفة الأشباه والنظائر، وقلَّ أن تحوز النصوص من يكون خبيراً
بها وبدلالتها

مجموع الفتاوى (28/129).

“Parameter menentukan mashlahat dan mafsadah adalah timbangan syari’at. Kapan saja seorang insan mampu mengikuti nash maka ia tidak boleh menyimpang darinya. Jika tidak, maka ia berijtihad dengan pendapatnya untuk mengenal Al Asybah wan Nazhoir. Dan sedikit yang dicakup oleh nash oleh orang yang sangat berilmu tentangnya dan dilalahnya..” (Majmu’ Fatawa 28/129)

Ini menunjukkan bahwa untuk mempertimbangkan antara mashalahat dan mafsadah membutuhkan pengetahuan yang luas terhadap nash dan ijtihad.

Doktor Asyraf Abdurrahman menyebutkan bahwa syarat-syarat orang yang menimbang antara mashlahat dan mafsadah adalah : berilmu dengan kaidah-kaidah maqashid syari’ah.. mengetahui kaidah-kaidah untuk mentarjih antara mashlahat dan mafsadah.

Adapun orang awam yang tak mampu berijtihad, selama bukan keadaan darurat, kewajiban mereka adalah bertanya kepada para ahli ilmu. Karena itulah yang Allah perintahkan dalam firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui..” (An-Nahl – 43)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berharap Wajah Allah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من تصدق بعدل تمرة من كسب طيب – ولا يصعد إلى الله إلا الطيب – فإن الله يتقبلها بيمينه ثم يربيها لصاحبها، كما يربي أحدكم فلوه حتى تكون مثل الجبل

“Siapa yang bersedekah dengan sebutir kurma dari usaha yang halal dan tidak naik kepada Allah kecuali yang halal maka sesungguhnya Allah menerimanya dengan tangan kanannya kemudian membesarkannya sebagaimana seseorang dari kalian membesarkan anak kudanya hingga menjadi sebesar gunung..” (HR Al Bukhari)

Imam Ibnul Jauzi rohimahullah berkata

فإنّ الحسنة إذا طلب بها وجه الله تصير التمرة كالجبل العظيم

Sesungguhnya kebaikan itu apabila hanya berharap wajah Allah maka sebutir kurma bisa menjadi gunung yang besar..”

(At Tadzkirah 196)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Kelembutan Hati Seorang Mukmin

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

من دلائل رقة قلب المؤمن،
أن يتوجع لعثرة أخيه المؤمن
إذا عثر،
حتى كأنه هو الذي عثر بها، ولا يشمت به.

“Diantara tanda kelembutan hati mukmin adalah merasa sedih ketika saudaranya tergelincir seakan ia sendiri yang tergelincir.. dan ia tidak bergembira dengan ketergelincirannya..”

(Madarijussalikin 1/436)

Karena kaum mukminin satu sama lainnya bagaikan satu badan..

Mukmin ingin agar ia dan saudara-saudaranya seiman dapat bersama masuk jannah dan selamat dari jahannam..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL