Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

MUTIARA SALAF : Sikap Terhadap TIGA Perkara

Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu berkata:

“Wahai bangsa Arab.. bagaimana sikap kalian terhadap tiga :
– dunia yang memutuskan leher kalian..
– kesalahan ulama..
– dan jidal munafiq dengan menggunakan Al Qur’an..

Merekapun diam..

Beliau berkata :
Adapun ulama..
jika ia di atas hidayah, maka jangan kalian taqlid kepadanya dalam agama kalian..

Jika ia salah, jangan kalian putuskan hubungan dengannya.. karena seorang mukmin terkadang terfitnah.. kemudian ia bertaubat..

Adapun Al Qur’an..
Ia memiliki tanda bagaikan tanda jalan, tidak tersembunyi pada siapapun.. apa yang kalian ketahui ilmunya, jangan mempertanyakannya.. dan apa yang kalian merasa ragu padanya, maka serahkan kepada ‘alimnya..

Adapun dunia..
Siapa yang Allah berikan kekayaan dalam hatinya, sungguh ia beruntung.. dan siapa yang tidak diberikan, maka dunia tidak bermanfaat untuknya..

(Shohih Jaami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadlihi hal 390)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Belum Jujur Kepada Allah

Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata, “Belum jujur kepada Allah orang yang masih mencintai ketenaran..”

Lalu imam Adz Dzahabi rohimahullah memberi komentar yang indah:

عَلاَمَة ُالمُخلِصِ الذي قد يُحِبُّ شُهرَةً،ولا يشعرُ بها، أنّه إذا عُوتب في ذلك لا يَحْرَدُ(أي: لا يغضب)ولا يُبَرِّئُ نفسَهُ، بل يعترف ويقول: رحمَ الله من أهدى إليَّ عُيوبي، ولا يَكُنْ معْجباً بنفسِه؛ لا يشعرُ بعيوبها، بل لا يشعر أنّه لا يشعر، فإنّ هذا داءٌ مزمنٌ.

“Tanda orang yang ikhlas yang terkadang tak terasa menyukai ketenaran adalah jika ia diingatkan maka ia tidak marah dan tidak juga mencitrakan dirinya. Justru ia mengakui dan berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aib-aibku..” Ia pun tidak merasa ujub dengan dirinya dengan cara tidak merasa punya aib atau bahkan tidak merasa jika ia tidak merasa. Inilah penyakit kronis..”

(Siyar A’lam Nubala 7/393)

Karena ia mencintai kebenaran..
maka ia suka untuk diluruskan kesalahannya..
dan dibimbing menuju jalan kebenaran..

Namun itu tak mudah..
harus membuang ego pribadi demi mencari keridhaan Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Perkara Yang Besar Bahayanya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

من أعظم الأشياء ضررًا على العبد،
‏ بطالته وفراغه،
‏ فإن النفس لا تقعد فارغة،
‏ بل إن لم يشغلها بما ينفعها شغلته بما يضره.
‏”إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوء ِ”

“Termasuk perkara yang besar bahayanya bagi hamba adalah waktu kosongnya karena jiwa tidak pernah diam.. jika ia tidak disibukkan dengan perkara yang bermanfaat maka ia akan sibuk dengan perkara yang bermudhorot.. karena “sesungguhnya jiwa itu suka menyuruh kepada keburukan..”

(Kitab Thoriqul Hijrotain)

Jiwa yang mulia…
keinginannya kepada perkara perkara yang mulia..

Sedangkan jiwa yang buruk..
menginginkan perkara perkara yang buruk..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Menanggung Beban Dosa

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

وإذا ثَقُل الظهر بالأوزار منع القلب من السير إلى الله، والجوارح من النهوض في طاعته، وكيف يقطع مسافة السفر مُثْقل بالحمل على ظهره؟! وكيف ينهض إلى الله قلب قد أثقلته الأوزار؟! فلو وضعت عنه أوزاره لنهض وطار شوقا إلى ربه، ولانقلب عسره یسرا.

“Punggung yang berat dengan menanggung dosa, menghalangi perjalanan hati menuju Allah, dan membebani badan untuk menaati-Nya. Orang yang membawa beban yang amat berat bagaimana mungkin dapat menyelesaikan perjalanannya..?

Jika ia meletakkan beban-beban dosa dari dirinya, tentu hatipun akan terbang penuh rindu kepada Robbnya, dan kesulitanpun berubah menjadi ringan..” (Bada’i Tafsir 3/223)

Saat hati berat kepada ketaatan..
Itu akibat ia menanggung beban dosa..
Sehingga membuat langkahnya tertatih..
Bahkan terhenti tak mampu melanjutkan perjalanan..
Demikianlah kelak di hari akherat..
Ia akan membawa dosa-dosanya itu di punggungnya..

Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu !”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu..”

(Al-An’am – 31)

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sadarlah

Imam Ibnu Rojab Al Hanbali rohimahullah berkata,

ابن آدم لو عرفت قدر نفسك ما أهنتها بالمعاصي أنت المختار من المخلوقات ولك أعدت الجنة».

“Hai anak Adam, jika kamu mengetahui kedudukan dirimu, tentu kamu tidak akan menghinakan dirimu dengan maksiat. Kamu adalah makhluk pilihan.. dan surga diciptakan untukmu..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 183)

Manusia diberi kelebihan dengan akal untuk mengenal Allah dan memahami ayat-ayat-Nya..

Kemuliaan manusia adalah dengan menghambakan diri kepada-Nya saja..

Semakin ia tunduk dan patuh kepada penciptanya, semakin mulia di hadapan Allah ‘Azza wajalla..

Namun semakin ia berani memaksiati-Nya, semakin ia rendah, bahkan lebih rendah dari binatang ternak..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Amal Itu Bertingkat-Tingkat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

إِنَّ الْأَعْمَالَ لَا تَتَفَاضَلُ بِالْكَثْرَةِ، وَإِنَّمَا تَتَفَاضَلُ بِمَا يَحْصُلُ فِي الْقُلُوبِ حَالَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya amal itu bertingkat-tingkat keutamaannya bukan karena banyaknya. Namun karena apa yang ada di hati saat beramal..”

(Majmu Fatawa 25/282)

Apa yang ada di hati berupa:
– keikhlasan
– kekhusyuan
– cinta dan takut
– berharap akan rahmat-Nya
Semua itu amat mempengaruhi keutamaan amal..

Amal walaupun besar tapi kurang ikhlas..
maka berkurang pula pahalanya..

dan amal yang kecil namun disertai hati yang ikhlas dan rasa cinta yang besar..
Ia menjadi besar pahalanya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Jangan Larut Dalam Kesedihan

Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam berdo’a,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia..” (HR Al Bukhari)

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

” *والمقصود أن النبي ﷺ جعل الحزن مما يستعاذ منه ، وذلك لأن الحزن يُضعف القلب ، ويُوهن العزم ، ويضر الإرادة ، و لا شيء أحبّ إلى الشيطان من حزن المؤمن، قال تعالى { إنما النجوى من الشيطان ليحزن الذين آمنوا .. }*”.

“Nabi  shollallaahu ‘alayhi wa sallam berlindung dari kesedihan karena kesedihan melemahkan hati, melemahkan semangat, dan membahayakan keinginan. Dan tidak ada sesuatu yang paling disukai oleh setan dari membuat sedih seorang mukmin. Allah berfirman, “Sesungguhnya najwa (berbisik-bisik tersebut) berasal dari setan agar membuat sedih kaum mukminin..”

(Thoriqul Hijrotain 2/607)

Sedih saat ditinggal orang yang kita cintai adalah wajar..

Yang tidak wajar itu adalah larut dalam kesedihan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Semakin Hati Penuh Dengan Keimanan Kepada Allah, Semakin Dekat Kepada Kebenaran

Allah Ta’ala berfirman :

فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“… maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan, dan Allah memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus..” (Al Baqarah: 213)

• Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata dalam tafsirnya,

“Diantara faidah ayat ini adalah bahwa keimanan seorang hamba bila semakin kuat maka ia lebih dekat kepada kebenaran. Karena Allah berfirman yang artinya, “maka Allah memberi hidayah orang-orang yang beriman kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan..”

Karena Allah menggantungkan hidayah kepada keimanan. Maka hidayah semakin kuat dengan kuatnya iman dan semakin lemah dengan lemahnya iman.

Oleh karena itu para shahabat lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan generasi setelahnya, baik dalam tafsir, hukum, dan akidah. Karena tidak diragukan lagi bahwa para shahabat adalah generasi yang paling kuat imannya. Rosul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Sebaik baik manusia adalah generasiku kemudian setelahnya, kemudian setelahnya..”

Oleh karena itu madzhab imam Ahmad adalah bahwa pendapat shahabat adalah hujjah selama tidak bertabrakan dengan nash..”

[ Tafsir Syaikh al-‘Utsaimin 3/35 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menyaring Keimanan

Allah memberi ujian untuk menyaring keimanan..

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi..? (Al-Ankabut – 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (Al-Ankabut – 3)

Hati yang jujur adalah hati yang beriman kepada Allah ‘Azza wajalla..
hati yang sabar saat diterpa ujian..
dan bersyukur saat diberi kesenangan..

Hati yang jujur adalah hati yang lebih mengharapkan kehidupan akherat..
hati yang takut adzab Allah dan berharap rahmat dan keridhoan-Nya..

Kelak orang orang yang jujur dalam imannya akan melihat kegembiraan di negeri sana..

قَالَ اللَّهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar..” (Al-Maidah – 119)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى