simak penjelasan Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny
Sungguh Mengherankan
Ibnu Muflih -rohimahullah- mengatakan,
“Sungguh mengherankan .. banyak orang meratapi :
– rusaknya negeri,
– sedikitnya rezeki,
– masa yang buruk, dan
– mahalnya barang-barang..
Tapi, tidak pernah sekalipun mereka meratapi :
– terasingnya agama ini,
– matinya sunnah Nabi, dan
– tersebarnya bid’ah.
Mereka juga tidak menangisi kurangnya mereka dalam beramal.
Sebabnya, karena lemahnya iman mereka dan agungnya dunia di mata mereka..”
(Adab Syar’iyyah 3/240)
Penterjemah,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Meraih Banyak Kemuliaan Di Malam Lailatul Qadar
Bukan lagi tentang “siapa yang mendapatkan Lailatul Qadar” .. tapi bagaimana dapat sebanyak mungkin kemuliaan dari malam itu..?
=====
Semua yang mukmin dan beramal salih di malam Lailatul Qadar akan mendapatkan keutamaannya .. Yang berbeda adalah kadar yang dia dapatkan dari kemuliaan malam itu.
Siapa yang lebih banyak amal salihnya di malam itu, maka ia mendapatkan lebih banyak kemuliaan darinya.
Jika sekedar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar saja .. tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak perlu i’tikaf dan menghidupkan malamnya dengan shalat, membaca Alquran dan ibadah lainnya.
Tidaklah beliau seperti itu kecuali karena beliau ingin mendapatkan kemuliaan semaksimal mungkin darinya.
Logika sederhananya, bila ada sebuah mall mengumumkan ada diskon 70 persen di semua itemnya pada 1 malam tertentu .. maka dengan membeli 1 item saja kita sudah mendapatkan keuntungan .. dan semakin banyak kita memanfaatkan diskon itu untuk membeli kebutuhan kita, maka semakin banyak kadar manfaat yang kita dapatkan darinya.
Begitu pula dengan malam Lailatul Qadar.
Pilihan ada di tangan kita .. silahkan memilih, ingin dapat banyak ataukah hanya ingin dapat sedikit dari kemuliaan malam tersebut.
Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita, amin.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.
Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Memberi Makan Untuk Buka Puasa Di Masjid
Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah:
“Hendaknya orang yang mampu (secara finansial) untuk berusaha memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, BISA DI MASJID, bisa juga di tempat-tempat lain. Karena ‘orang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, dia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa’.
Maka, barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada saudara-saudaranya yang berpuasa, baginya seperti pahala puasa mereka.
Oleh karena itu, hendaknya orang yang Allah berikan kecukupan untuk memanfaatkan kesempatan ini agar mendapatkan pahala yang banyak..”
[48 tanya jawab tentang puasa, hal 20]
——
Kata-kata beliau “bisa di masjid”, menunjukkan bolehnya mengadakan buka bersama di masjid, dan ini yang lebih sesuai dalil, karena hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan amalan ini tidak membatasi tempatnya. Wallahu a’lam.
Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Semua Sedang Berjalan
Kita semua sedang berjalan .. tidak ada yang bisa berhenti .. bedanya hanya pada kemana arahnya dan pada cepat lambatnya perjalanan kita.
=====
Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan,
فالعبد سائر لا واقف، فإما إلى فوق، وإما إلى أسفل، إما إلى أمام وإما إلى وراء، وليس في الطبيعة ولا في الشريعة وقوف البتة، ما هو إلا مراحل تطوى أسرع طي إلى الجنة أو النار، فمسرع ومبطئ، ومتقدم ومتأخر، وليس في الطريق واقف البتة، وإنما يتخالفون في جهة المسير، وفي السرعة والبطء … فمن لم يتقدم إلى هذه بالأعمال الصالحة فهو متأخر إلى تلك بالأعمال السيئة
“Seorang hamba itu berjalan, bukan berhenti. Kemudian bisa jadi ia pergi ke atas (kemuliaan) atau ke bawah (kehinaan), bisa jadi ia pergi ke depan atau ke belakang.
Dalam kehidupan ini -begitu pula dalam syariat- tidak ada yang berhenti sama sekali.
Ia hanya fase-fase yang akan digulung dengan sangat cepat, bisa ke surga atau ke neraka. Ada yang sampai dengan cepat, ada yang lambat, ada yang ke depan, ada yang ke belakang, dan tidak ada yang berhenti di jalan ini sama sekali.
Mereka hanya berbeda dalam arah perjalanan itu dan dalam cepat dan lambatnya .. barangsiapa tidak maju ke surga dengan amal-amal saleh, berarti ia mundur ke neraka dengan amal-amal buruknya..”
[Madarijus Salikin 1/278]
——
Sungguh betapa lemahnya manusia .. ternyata untuk berhenti saja, mereka pun tidak mampu .. maka tunduk dan taatlah kepada Allah dan bersabarlah untuk menjalaninya, hingga kita mendapatkan surga-Nya, amin.
✍
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Kata Mutiara
KATA MUTIARA
“Sebelum engkau membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang-orang yang kaya, bandingkan dahulu ibadahmu dengan ibadahnya orang-orang yang bertakwa .. karena dunia itu fana, sedang akherat itu selamanya..”
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Tanda-Tanda Wali Allah
Ramalannya benar, berarti dia wali..?
========
Wali adalah kekasih Allah, maka untuk mengetahui apakah seseorang itu wali Allah ataukah tidak, kita harus mengembalikannya kepada standar kewalian menurut Allah ta’ala.
Dalam kitab-Nya Allah telah berfirman:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ [يونس: 62، 63]
Artinya: Ingatlah, bahwa para “wali Allah” tidak ada ketakutan sedikit pun atas mereka, dan mereka tidak akan bersedih, yaitu: mereka yang beriman dan bertakwa. [QS. Yunus: 62-63]
إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ [الأنفال: 34]
Artinya: Para wali Allah tidak lain adalah mereka yang bertakwa [QS. Al-Anfal: 34].
Selaras dengan ini, perkataan Abu Yazid al-Busthami -rohimahullah-:
لله خلق كثير يمشون على الماء، لا قيمة لهم عند الله، ولو نظرتم إلى من أعطي من الكرامات حتى يطير، فلا تغتروا به حتى تروا كيف هو عند الأمر والنهي، وحفظ الحدود والشرع
Artinya: “Allah punya banyak makhluk yang bisa berjalan di atas air, tapi ia tidak ada harganya di sisi Allah.
Jika kalian melihat ada orang yang diberi karomah sampai bisa terbang pun, maka jangan teperdaya dengannya, sampai kalian melihat bagaimana sikap dia terhadap perintah dan larangan agama, bagaimana dia menjaga batasan-batasan Allah dan syariat-Nya..” [Siyarul A’lamin Nubala’13/88].
—–
Jadi, standar wali itu bukan ramalan yang benar, atau bisa terbang di udara, atau bisa berjalan di air, atau bisa menghilang, atau bisa tampak gila, atau keanehan-keanehan lainnya.
Tapi standar wali adalah iman dan taqwa, dan itu bisa dilihat dari keadaan diri dan prilakunya, apakah sesuai dengan syariat Allah ataukah tidak.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.
Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Tak Seorangpun Mengetahui Apa Yang Akan Ia Lakukan Esok Hari
Selama engkau masih hidup ..
Jangan merasa aman dari fitnah
Jangan pula mencela orang karena maksiat.
Jangan heran dengan dosa yang orang lain lakukan.
Jangan pula merasa telah banyak melakukan amal kebaikan.
Karena Allah ta’ala telah berfirman yang artinya:
“Seseorang tidak tahu apa yang akan dia lakukan esok hari, dan seseorang tidak tahu di bumi mana dia akan mati..” [QS. Luqman: 34]
Mintalah kepada Allah ketetapan hati, ketepatan langkah, dan tauhid, sampai mati.
Serta ampunan dan masuk surga dari semua pintunya..
Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Yang Penting Berkahnya
Banyak orang mengatakan kepada anaknya, ‘aku ingin engkau jadi dokter, atau arsitek, atau pengusaha, atau ..’
Tapi siapa yang mengatakan kepada anaknya, ‘aku ingin engkau menjadi berkah dimanapun engkau berada..’
Sungguh ini sangat penting untuk direnungkan..!
Keberkahan adalah sesuatu yang sangat besar pengaruh baiknya pada sesuatu.
– bila berkah ada pada harta, ia akan memperbanyaknya,
– bila ada pada anak, ia akan men-sholih-kannya,
– bila ada pada badan, ia akan menguatkannya,
– bila ada pada waktu, ia akan memakmurkannya,
– bila ada pada hati, ia akan membahagiakannya.
Maka, banyaklah meminta keberkahan untuk harta, anak, waktu, dan nikmat Allah lainnya .. karena yang menjadi penentu bukanlah “banyaknya”, tapi “keberkahannya”.
Ya Allah .. jadikanlah kami orang-orang yang Engkau berkahi, amin
Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Pahala Amal Sholeh
Sebagian orang beranggapan bahwa pahala amal sholeh hanya akan dirasakan di akhirat.. Begitu pula akibat buruk dari dosa hanya akan dirasakan di hari kiamat.
Padahal sebenarnya,
– AMAL SHOLEH seorang mukmin akan mendatangkan kebaikan, baik ketika di dunia maupun saat di akhiratnya.
– Begitu pula KEMAKSIATAN akan mendatangkan keburukan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.
—–
Renungkanlah dua firman Allah berikut ini:
“Barangsiapa melakukan amal sholeh -baik lelaki maupun perempuan- dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan akan Kami beri balasan (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan..”
(QS. An-Nahl: 97)
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit (di dunia), dan pada hari kiamat nanti Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta..”
(QS. Thoha: 124)
Penulis:
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى