Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Potret Kesahajaan Syeikh Albani…

Syeikh Masyhur Hasan Salman menceritakan:

Syeikh pernah menyuruhku untuk mengoreksi beberapa juz dari kitab silsilah dho’ifah sebelum dicetak, beliau memberikan kepadaku juz kelima dari kitab tersebut, maka aku pun mengambilnya masih dengan tulisan tangannya sebelu. dicetak.

Maka ketika aku keluarkan dari plastik dan kulihat, aku menangis.

Syeikh pun bertanya kepadaku: ada apa denganmu?

Syeikh Masyhur: aku tidak menjawabnya, tapi syeikh melihat air mataku.

Ternyata syeikh menulis jilid kelima kitab itu di atas kertas-kertas hadiah, di atas bungkus-bungkus gula dan beras, di atas kertas bungkus warna merah yang biasa dipakai orang-orang untuk menimbang gula dan beras!

Syeikh juga mengatakan kepadaku: aku dulu memiliki benang yang kutaruh di tempat tinta, lalu aku tempatkan benang itu di atas kertas, maka jadilah kertas itu bergaris!

Syeikh -rohimahulloh-mengatakan: aku tidak punya uang untuk membeli kertas!

——

Dengan semangat yang luar biasa inilah, beliau meraih kemuliaan yang luar biasa.. sungguh hasil itu akan sebanding dengan usahanya.. karena Allah maha adil kepada hamba-hamba-Nya.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Mati Mendadak

Mati mendadak, adalah sisi paling menakutkan dari kehidupan di dunia.

Anda tentu yakin, tidak ada yang menjamin kehidupan ini..
ada yang sehat tiba-tiba mati..
ada yang kecil sudah mati..
ada yang baru kaya, mendadak mati..
ada yang lagi bugar-bugarnya, ternyata tidak lama mati..

Tentunya hal itu bisa juga terjadi pada diri Anda..
padahal Anda masih malas-malasan ibadah..
bekal untuk kehidupan kekal Anda masih sangat sedikit..
atau bahkan mungkin dosa Anda masih lebih banyak.

Bayangkan jika nafas Anda mendadak berhenti.. padahal yang Anda pikirkan; dunia dan dunia.. akherat hanya terpikir, ketika Anda tersandung dalam permasalahan.

Bayangkan ketika Anda masih semangat-semangatnya mengejar dunia.. tiba-tiba blaaaas, dunia itu menjadi sama sekali tidak berharga.. tidak bisa menyelamatkan Anda.. bahkan lepas dari tangan Anda ke tangan para pewaris anda !!

Sobat, jangan pelit kepada dirimu sendiri.. bekalmu di akherat adalah amalmu.. dan akheratmu jauh lebih lama.. tentu membutuhkan bekal yang jauh lebih banyak..

Duniamu hanya sementara.. sadarlah dan sadarlah.. selamatkan dirimu sekarang juga, sebelum semuanya menjadi sia-sia !!

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berdakwah Saat Kebodohan Merajalela, Lebih Mulia Daripada Berjihad…

Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ

“Tidak ada orang yg lebih baik ucapannya daripada orang yg berdakwah kepada Allah”. [QS. Fush-shilat:33].

Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam- juga telah bersabda:

“Orang yang paling baik dari kalian, adalah orang yang mengajarkan Alqur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain).” [HR. Al Bukhori Muslim]

Tentunya keutamaan ini tidak terbatas pada amalan mengajarkan huruf-huruf Alqur’an, tapi juga mencakup amalan mengajarkan makna-makna yang terkandung dalam Alqur’an.

Bahkan, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Menyampaikan sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- kepada umat; lebih afdhal daripada menyampaikan busur panah ke leher-leher musuh (dalam perang).” [Bada-i‘ut Tafsir 2/416].

Dan jangan meremehkan ilmu agama yang ada pada diri Anda, sebarkanlah walaupun sedikit, Allah-lah yang akan menambah dan memberkahinya, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda:

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. [HR. Al-Bukhori]. 

Tentunya ilmu Anda sudah lebih banyak dari satu ayat Alqur’an.

Semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Ternyata Benar, Ada Sungai-Sungai Pencuci Dosa

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Bagi mereka yang banyak dosa, ada tiga sungai besar yang dapat membersihkan mereka di dunia, jika itu tidak cukup membersihkan mereka, nantinya mereka akan dibersihkan di sungai (neraka) jahim pada hari kiamat.

1. Sungai taubat nasuha.
2. Sungai amal-amal kebaikan yang dapat menenggelamkan dosa-dosa yang mengelilingi pelakunya.
3. Sungai musibah besar yang dapat menebus dosanya.

Maka, jika Allah menginginkan hambanya kebaikan; Dia akan memasukkannya ke tiga sungai ini, sehingga pada hari kiamat nanti dia akan datang dalam keadaan baik dan bersih, sehingga dia tidak perlu lagi pembersihan keempat..”

[Madarijus Salikin 1/312]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

Rasa Ujub Akan Hilang Dengan Meyadari Hal Ini

Jika engkau melihat orang-orang takjub denganmu… maka ketahuilah bahwa mereka itu takjub terhadap kebaikan yang Allah tampakkan pada dirimu… Di sisi lain mereka tidak tahu keburukan yang Allah tutupi dari dirimu.

Oleh karena itu, jangan engkau terlena, tapi harusnya engkau bersyukur kepada Allah, yang memberi semua kebaikan yang ada pada dirimu, dan yang menutupi semua keburukan dan kekuranganmu.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mari Muhasabah Diri Kita

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Intinya: hendaknya seseorang melakukan muhasabah terhadap dirinya,

●  Pertama: (muhasabah) pada hal-hal yang diwajibkan (dalam syariat), apabila dia tahu ada yang kurang; maka harusnya dia tutup kekurangan itu, dengan meng-qodhonya atau memperbaikinya.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada hal-hal yang dilarang (dalam syariat), jika dia tahu pernah melakukan sebagian dari larangan itu, maka harusnya dia perbaiki dengan :
– taubat,
– istighfar, dan
– amal-amal kebaikan yang bisa menghapusnya.

●  Kemudian melakukan muhasabah atas kelalaiannya. Bila dia telah lalai dengan tujuan dia diciptakan, maka harusnya dia memperbaikinya dengan berdzikir dan menghadapkan dirinya kepada Allah ta’ala.

●  Kemudian melakukan muhasabah pada perkataannya, atau langkah kakinya, atau gerakan tangannya, atau apa yang didengarkan telinganya.
– apa yang dia inginkan darinya..?
– mengapa dia melakukannya..?, dan
– bagaimana dia melakukannya..?

Hendaknya dia tahu, bahwa dalam semua gerakan dan ucapan harus dibentangkan DUA aturan:
* mengapa kamu melakukannya..?, dan
* bagaimana kamu melakukannya..?

(Aturan) yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan, dan (aturan) yang kedua adalah pertanyaan tentang mutaba’ah, (yakni pengikutan kita kepada cara Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam).

[Kitab: Ighotsatul Lahafan 1/83].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ulama Lebih Menyayangi Umat, Melebihi Ayah dan Ibu Mereka…

Sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz Arrazi -rohimahulloh-:

“Para ulama lebih menyayangi umat Muhammad -shallallahu alaihi wasallam- melebihi ayah dan ibu mereka”.

Dikatakan kepadanya: mengapa demikian?

Dia menjawab: “Karena ayah dan ibu mereka menjaga mereka dari neraka dunia, sedang para ulama menjaga mereka dari neraka akherat.”

[Mukhtashor Nasihat Ahli Hadits 1/167].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Fatwa Ulama : Dapat Hadiah Dari Orang Yang Bisnisnya RIBA, Ditolak..?

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya: “bolehkah mengambil hadiah dari orang yang berbisnis dengan sistem riba..?”

Jawaban beliau:

“Kita memiliki kaidah, bahwa harta yang diharamkan karena cara mendapatkannya, maka harta itu diharamkan untuk orang yang menghasilkan saja, tidak (haram) untuk orang yang mengambilnya dengan cara yang mubah.

(Oleh karena itu) Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah menerima hadiah dari orang yahudi, yaitu ketika menghadiahkan kepada beliau seorang perempuan (yahudi) seekor kambing di daerah Khoibar, beliau juga berbisnis dengan mereka, dan beliau wafat dalam keadaan baju perangnya digadaikan kepada seorang yahudi.

Padahal Allah ta’ala telah mengabarkan tentang mereka:

فَبِظُلْمٍ مِنْ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا * وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang yahudi itu, Kami haramkan atas mereka makanan-makanan yang baik yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, juga karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka mengambil (harta) riba, padahal mereka telah dilarang darinya, juga karena mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil”. [An-Nisa’: 160-161].

Oleh karena itu, dibolehkan menerima hadiah dari orang yang berbisnis dengan riba, dibolehkan pula untuk melakukan transaksi jual beli dengannya, kecuali jika ada maslahat dalam memboikotnya, maka tidak mengapa kita menghindarkan diri dari hal ini karena maslahat tersebut.

Adapun harta yang diharamkan karena dzatnya, maka harta itu diharamkan, baik atas orang yang menghasilkannya maupun orang lain.

Misalnya: khomr (sesuatu yang memabukkan), jika ada seorang yahudi atau nasrani menghadiahkannya kepadaku, dan dia termasuk orang yang memandang halalnya khomr, maka tidak boleh diterima, karena itu diharamkan secara dzatnya.

Begitu pula jika ada seorang yang mencuri harta, dan dia memberikan sebagiannya kepada orang lain, maka tidak boleh diterima, karena harta itu diharamkan secara dzatnya”.

[Sumber: Liqo’ Babil Maftuh 2/59, dengan penyesuaian redaksi].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

============

ARTIKEL TERKAIT – (Klik Link Dibawah Ini)

Kumpulan Artikel – Tentang RIBA

Nasihat Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhailiy,  حفظه الله

Diantara Poin-Poin Penting Nasihat Yang Sangat Mendalam dan Begitu Berharga Dari Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ar Ruhailiy hafizhahullah Pada Daurah di Batu, Malang, 15 Syawal 1437 H:

** Sangat disayangkan sebagian pembawa kebenaran itu malas dalam mendakwahkan Tauhid, padahal sekarang antum berada dalam kenikmatan yang besar, yakni nikmat kemudahan dalam mendakwahkan Tauhid, dan ini akan dipertanyakan oleh Allah.

** Sekitar 40 sampai 50 tahun yg lalu bila seseorang hendak menyampaikan beberapa kalimat tentang Tauhid maka dia tidak tahu apakah bisa kembali pulang kerumahnya atau tidak!?

** Kemudian muncullah orang-orang yang berjuang dan bersabar dalam menjelaskan Tauhid, lalu Allah pun memudahkan tersebarnya dakwah Tauhid ini sehingga manusia bisa mendengar gaung dakwah ini, sehingga mereka pun ikut mendakwahkan Tauhid dan Sunnah, Alhamdulillah.

** Camkanlah, jika telah terbuka suatu pintu kebaikan maka masukilah, karena Demi Allah, antum tidak tahu kapan pintu itu tertutup!

** Sekarang pintu-pintu itu telah terbuka untuk berdakwah pada Tauhid dan Sunnah, serta memperingatkan umat dari Syirik dan bid’ah, dengan metode yang ilmiah dan baik. Antum tidak tahu kapan pintu ini tertutup. Demi Allah, bisa saja pintu itu tertutup atau bisa juga tetap terus terbuka dengan karunia Allah, maka manfaatkanlah kesempatan ini!

** Saya sangat yakin dakwah Salafiyyah di Indonesia ini kuat dan tersebar, Alhamdulillah. Dan tidak ada yang menghalangi tersebarnya melainkan Salafiyin itu sendiri!!

** Sangat disayangkan saat ini justru Salafiyin malah saling menghalangi satu sama lain. Padahal, disekeliling mereka, kelompok-kelompok sesat begitu gencar menyebarkan kesyirikan dan bid’ah! Sebagian Salafiyin malah disibukkan dengan perselisihan diantara mereka. Demi Allah, ini akan ditanyai oleh Allah!

** Hendaklah seseorang itu mengobati kesalahan dirinya sendiri dan janganlah angkuh.

** Hendaklah seseorang menasihati saudaranya (seiman) dan menjelaskan kesalahannya, karena diantara kenikmatan yang besar adalah Allah mengaruniakan teman yang berilmu yang bisa menunjukkan kesalahan antum.

** Tetapi tidak boleh bagi Salafiyin menghabiskan waktu dalam berprasangka buruk dengan hal yang belum jelas sehingga tertipu syetan yang menjerumuskan pada kedengkian.

** Saya berbicara pada saudara-saudara yang berada dalam lingkup dakwah Salafiyah yang mengetahui keutamaan dakwah ini dan hidup di atasnya namun tentu mereka memiliki beberapa kesalahan, dan bagi yang telah keluar maka kita tidak bisa berbuat banyak.

** Tidak boleh kita menghalangi dakwah Tauhid dan Sunnah ini dengan hal-hal yang terlarang secara Syar’i, seperti saling bermusuhan, dan saling memboikot (hajr).

** Dan justru wajib bagi kita memiliki ghairah (semangat) dalam dakwah dan ilmu.

Oleh : M. Hilman Alfiqhy
Rabu, 15 Syawal 1437 H.

Posted by Ustadz DR. Musyaffa ‘Ad Dariny MA,  حفظه الله

Anda Ahlus-Sunnah..?

Pada ngaku AHLUSSUNNAH, dan menuduh orang lain BUKAN ahlussunnah, hanya karena berbeda pendapat dalam suatu masalah.

Apakah mereka mengatakan sesuatu tanpa mengetahui maksudnya?!

Tidakkah mereka tahu bahwa makna “ahlussunnah”, adalah “Pengikut Sunnah Nabi”, atau lebih diindonesiakan lagi “Pengikut Ajaran Nabi” -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Jika mereka mengaku “Pengikut Ajaran Nabi”, lalu mana peraktek ajaran Nabi pada diri mereka?!

Mana sholat berjama’ah di masjid?!

Mana jenggot yang panjang?!

Mana baju yang tidak isbal?!

Mana jilbab yang syar’i?!

Mana pengharaman musik?!

Mana ajaran Nabi yang kau tampakkan pada dirimu dan amalmu?!

Pantaskah mereka mengaku sebagai Ahlussunnah “Para Pengikut Ajaran Nabi”, tapi hidupnya selalu menyelisihi beliau?!

Lihatlah para sahabat -rodhiallohu ‘anhum-! Mereka berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka LAKUKAN. Tapi orang sekarang, berusaha mencari tahu mana yang SUNNAH untuk mereka TINGGALKAN.

Nas’alullahassalamah, semoga Allah memperbaiki keadaan ini, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى