Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Yang Kurang Dari Kita.. PRAKTEKNYA

Mungkin berat untuk jujur dalam hal ini, namun kenyataannya memang kita kurang dalam menerapkan ilmu agama yang telah kita ketahui.

Banyak dari kita -bahkan yang berstatus penuntut ilmu- tidak menjalankan amalan-amalan sunnah.. shalat sunnah rowatib bolong-bolong, shalat sunnah malam bablas terus, shalat dhuha malas, dst.

Begitu pula dalam puasa sunnah.. puasa senin-kamis jarang, puasa tiga hari tiap bulan tidak pernah terpikir, puasa Daud apalagi.

Silahkan lihat amalan lainnya.. misalnya dzikir pagi dan sore, membaca Alqur’an, dzikir mutlak (yang tidak terikat dengan tempat dan waktu), dst… Padahal tujuan utama ilmu agama adalah amalan, bukan hanya pengetahuan saja.

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Yang kurang dari kita dalam ilmu (agama) kita, bahwa kita tidak menerapkan ilmu kita dalam tingkah laku kita. Yang paling banyak di kita, bahwa kita mengetahui hukum syariat, adapun menerapkannya, maka ini sedikit, semoga Allah memperlakukan kita dengan ampunan-Nya.

Padahal manfaat dari ilmu adalah praktek nyatanya, sehingga tampak pengaruh ilmu itu pada tatapan wajahnya, tingkah lakunya, akhlaknya, ibadahnya, ketenangannya, takutnya (kepada Allah), dan pada hal lainnya. Dan inilah yang penting.

Saya kira seandainya ada seorang nasrani yang cerdas, dan dia belajar fikih sebagaimana kita mempelajarinya, tentu dia akan memahaminya sebagaimana kita memahaminya, atau bahkan lebih baik lagi. Lihatlah sebagai contoh dalam (ilmu) bahasa arab ada “Almunjid”, orang-orang mengatakan penulisnya seorang nasrani, dan dia bisa membahasnya dengan baik.

Oleh karena itu, perkara-perkara teori itu bukanlah tujuan dalam ilmu (agama), -Ya Allah kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat-, manfaat dari ilmu (agama) adalah ketika kita bisa mengambil manfaat darinya (dengan mengamalkannya).

Betapa banyak orang awam yang jahil, tapi kamu dapati dia lebih khusyu’ kepada Allah, lebih merasa diawasi Allah, lebih baik perilaku dan akhlaknya, lebih dalam ibadahnya, jauh melebihi apa yang ada pada penuntut ilmu (agama)”.

[Kitab Syarhul Mumti’ 7/166].

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Pentingkanlah Akheratmu, Karena Dunia Ini Bukanlah Apa-Apa

Syeikh Utsaimin -rohimahullah- mengatakan:

“Seorang yang cerdas, apabila dia membaca Qur’an dan berusaha menghayatinya, dia akan tahu nilai dunia ini, bahwa dunia ini bukanlah apa-apa, bahwa dunia ini ladang untuk akherat.

Maka, lihatlah apa yang telah kau tanam di dunia ini untuk akheratmu.

Jika engkau telah menanam kebaikan, maka berbahagialah dengan hasil panen yang akan membuatmu ridha.

Namun bila keadannya sebaliknya, berarti engkau telah rugi dunia akherat..”

[Syarah Riyadhus Sholihin 3/358]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله

Kuliah JURUSAN AKHLAK…

Satu-satunya jurusan yang tidak akan kamu dapati di universitas manapun di dunia ini adalah jurusan akhlak..

Uniknya, bisa jadi petugas kebersihan lulus menjalani ujiannya, sedang orang yang telah bergelar doktor malah gagal di dalamnya.

Begitu pentingnya akhlak dalam Islam, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan:

Sungguh seseorang dari kalian, bisa mencapai derajat orang yg ahli shalat di malamnya dan ahli puasa di siangnya dengan akhlaknya”

[Dishahihkan oleh Sy Albani dalam Shahihul Jami’, no: 1620].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sunnah Di Hari Raya Yang Sudah Mulai Ditinggalkan…

Di zaman akhir ini, memang kita dapati banyak sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang ditinggalkan oleh kaum muslimin.

Sunnah-sunnah itu luntur karena ketidak-tahuan yang merajalela.. oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita yang tahu untuk menghidupkan sunnah-sunnah itu kembali, sehingga mendapatkan pahala mengamalkannya, dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelah kita.

Diantara sunnah yang sudah pudar itu, adalah sunnah mengumpulkan manusia agar berkumpul makan bareng di hari raya, baik hari raya Idul Fitri, maupun hari raya Idul Adha.

Diantara ulama yang menegaskan hal ini adalah Syeikhul Islam -rohimahulloh-, beliau mengatakan:
“Mengumpulkan manusia untuk (menyantap) hidangan pada momen dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan pada hari-hari Tasyriq adalah sunnah. Dan itu merupakan sebagian syiar Islam yang dituntunkan oleh Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- untuk kaum muslimin”.
[Al-Fatawal Kubro, Syeikhul Islam, 4/414]

Mari yang berkemampuan, hidupkan sunnah ini.. betapa indahnya pemandangan ini bila diwujudkan.. kebersamaan, kepedulian, dan kebahagiaan yang menyeruak di tengah-tengah kaum muslimin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Salahkah Ucapan Minal Aa’idin Wal Faa’iziin..?

​Sebagian orang menyalahkan ucapan selamat saat hari raya “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin”, karena artinya:

“Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan menang”. 
Mereka juga mengatakan: orang-orang arab tidak menggunakan ucapan selamat seperti itu.
Kita katakan: 
1. Arti yang paling tepat untuk ucapan “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” adalah: “Selamat berhari raya, dan semoga termasuk orang yang mendapatkan kemenangan”. 
Maksud dari ucapan ini adalah: memberikan ucapan selamat berhari raya, dan MENDOAKAN semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, ampunan, dan kemuliaan yang dijanjikan Allah di Bulan Ramadhan. 

2. Tidak benar bila ‘ucapan selamat’ itu tidak digunakan orang-orang arab, karena saya sendiri -selama di Madinah- pernah mendengar beberapa orang arab mengatakannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.

3. Para ulama telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya, selama maknanya baik, maka dibolehkan.. karena syariat tidak membatasinya dengan ucapan atau doa-doa tertentu.
Hal ini, sama dengan dibolehkannya merayakan hari idul fitri dengan permainan, nasyid, dan hal-hal mubah lainnya.. dan syariat tidak membatasi jenis permainannya, atau jenis nasyidnya… selama hal mubah itu tidak mengandung hal-hal yang diharamkan, maka dibolehkan.
Sehingga ‘ucapan selamat’ ini tidak mengapa, maknanya baik, dan cocok diucapkan di momen Hari Raya Idul Fitri, wallohu a’lam.

4. Bagi yang ingin memasyarakatkan ucapan selamat yang dipakai oleh para sahabat -rodhiallohu anhum-, maka itu merupakan hal yang sangat baik… yakni ucapan: Taqobbalallohu Minna wa Minkum yang artinya: semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua.
Namun, bukan berarti kita boleh mengharamkan atau menyalahkan ‘ucapan selamat’ yang lainnya tanpa dasar dalil yang kuat, wallohu a’lam.

5. Diantara contoh ucapan selamat lain yang maknanya baik dan biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin adalah: 
“‘Iidukum Mubarok” (semoga hari rayanya penuh dengan keberkahan.
“‘Iidukum Sa’iid” (semoga hari rayanya penuh dengan kebahagiaan).
“Taqobbalahu Thoa’atakum” (semoga Allah terima amal ketaatannya).

Tidak mengapa pula menyelipkan ucapan “Mohon maaf lahir batin”, setelah ucapan minal ‘aa-idin wal fa-izin, karena maksudnya; meminta atau mengingatkan agar saling memaafkan.. karena waktu hari raya adalah momen berkumpulnya karib kerabat, sehingga sangat pas bila digunakan uuntuk saling memaafkan dan mempererat atau memperbaiki tali silaturrahim.
Sekian, semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Hukum Makmum Menyimak Bacaan Imamnya Dari Mushaf Dalam Shalat Taraweh…

Hukum makmum menyimak bacaan imamnya dari mushaf dalam shalat taraweh karena alasan mengikuti bacaan imam (sehingga kalau salah bisa membenarkan).

=====

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh-:

“Membawa mushaf untuk tujuan ini menyelisihi sunnah, dilihat dari beberapa sisi:

1. Hal itu akan menjadikan dia meninggalkan (sunnah) meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat berdiri (dalam shalat).

2. Hal itu menjadikan seseorang banyak bergerak dengan gerakan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, yaitu gerakan membuka mushaf dan menutupnya, meletakkannya di ketiak atau saku atau yang semisalnya.

3. Hal itu hakekatnya akan menyibukkan dirinya dari shalatnya dengan gerakan-gerakan tersebut.

4. Hal itu menjadikan orang yang shalat meninggalkan (sunnah) melihat ke tempat sujudnya, padahal mayoritas ulama berpendapat bahwa melihat ke tempat sujud merupakah sunnah dan bahwa itu lebih afdhal.

5. Orang yang melakukan itu bisa jadi lupa bahwa dia sedang shalat jika tidak menghadirkan dalam hatinya bahwa dia sedang shalat.

Berbeda ketika dia khusyu’ dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, menundukkan kepalanya ke arah (tempat) sujudnya, tentu hal itu lebih dekat dalam menghadirkan (dalam hatinya) bahwa dia sedang shalat dan bahwa dia (sedang shalat) di belakang imam”.

[Majmu’ Fatawa Arkanil Islam 1/354, soal no: 282]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Engkau Akan Mengalaminya Seorang Diri

Engkau akan mengalaminya seorang diri.. tanpa orang lain.. oleh karenanya, pikirkan baik-baik jalan hidupmu, jangan hanya ikut-ikutan orang lain.

Ibrohim bin Adham -rohimahulloh-:

“Apa hubunganku dengan manusia..?!

– Dahulu aku berada di perut ibuku seorang diri.
– Aku juga keluar ke dunia seorang diri.
– Aku akan mati seorang diri.
– Akan dimasukkan kuburan seorang diri.
– Dan akan ditanya seorang diri.

– Aku akan dibangkitkan seorang diri.
– Dan akan dihisab seorang diri.
– Jika aku masuk surga, aku masuk seorang diri.
– Jika aku masuk neraka, aku juga akan masuk seorang diri.

Di saat-saat itu, tidak ada seorangpun yang bisa memberikan manfaat baik kepadaku, lalu apa hubunganku dengan manusia..”

[Iqozhul Himam, karya Ibnu Ajiibah 1/176]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Perbedaan Jumlah Roka’at Tarawih Dalam Pandangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah..

Perbedaan jumlah roka’at Taraweh dalam pandangan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rohimahulloh-.

======

“… Dan menyerupai hal ini dari sebagian sisi, perbedaan pendapat para ulama dalam kadar (roka’at) shalat qiyam (taraweh) di bulan Ramadhan.

Karena telah valid kabar tentang sahabat Ubay bin Ka’ab, bahwa dahulu dia mengimami jama’ah dengan 20 roka’at dalam shalat qiyam Ramadhan, dan berwitir dengan 3 roka’at.

Sehingga banyak ulama berpendapat bahwa hal itu merupakan sunnah, karena beliau mendirikan shalat qiyam itu di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshor, dan tidak ada satupun (dari mereka) yang mengingkari (jumlah roka’at itu).

Sedang ada ulama lain yang menganjurkan 39 roka’at, dengan dasar bahwa itu adalah praktek penduduk madinah dahulu.

Dan sekelompok ulama (lain) mengatakan: bahwa telah valid dalam kitab As-shahih, dari Aisyah: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menambah, baik di Bulan Ramadhan maupun di bulan lain, melebihi 13 roka’at.

Kemudian ada kaum yang goncang pendapatnya dalam hal ini, karena mereka mengira ada pertentangan antara hadits Nabi yang sahih dengan sunnahnya para Khulafa’ Rosyidin, dan juga praktek kaum muslimin.

Tapi yang benar, bahwa semua itu baik sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad -rohimahullah-, dan bahwa tidak ada ketentuan baku dalam jumlah roka’at shalat qiyam di bulan Ramadhan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan batasan roka’at padanya.

Dengan demikian, banyak dan sedikitnya roka’at itu sesuai dengan panjang dan pendeknya berdiri (dalam shalat).

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu memanjangkan shalat qiyamullail-nya, sampai-sampai telah valid -dalam kitab As-Shahih dari hadits Hudzaifah-: bahwa beliau dahulu membaca dalam satu roka’at surat Albaqoroh, surat Annisa’, dan surat Alu Imron. Sehingga dengan panjangnya berdiri (dalam shalat itu) tidak dibutuhkan lagi banyaknya roka’at.

Dan Sahabat Ubay bin Ka’ab ketika shalat bersama orang-orang, dan mereka satu jama’ah, tidak memungkinkan bagi dia untuk memanjangkan berdirinya, maka ia pun memperbanyak jumlah reka’atnya, agar banyak jumlah roka’at itu bisa menjadi ganti lamanya berdiri, dan mereka menjadikan shalat qiyam itu dua kali lipat jumlah roka’at beliau, dan dahulu beliau shalat qiyamnya 11 reka’at atau 13 reka’at.

Kemudian setelah itu, penduduk Madinah tidak mampu berdiri lama, maka mereka pun memperbanyak roka’atnya hingga mencapai 39 roka’at”.

[Majmu’ Fatawa Syeikhul Islam, 23/105].

———

Intinya: 11 atau 23 roka’at, dua-duanya baik, tidak perlu dipermasalahkan.. asalkan mengerjakannya dengan khusyu’, hikmat, dan pelan dengan menjaga thoma’ninahnya.. wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Aku Tinggalkan Karena Allah…

Di zaman ini, sangat banyak godaan dunia… sehingga sangat berat bagi sebagian orang untuk menyembunyikan amal baiknya… apalagi setelah medsos menjadi trend di masyarakat.. banyak sekali status yang berpotensi merusak pahala amal ibadah.

Sedang tahajud, tergoda untuk menulis status: “sungguh nikmatnya bermunajat di sepertiga malam terakhir!”.

Ketika sedekah, tergoda dengan status: “hati menjadi terenyuh dan lembut saat menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa”.

Saat membaca Al Qur’an, ingin nulis di beranda: “terbukti setelah banyak membaca qur’an, hati menjadi sangat tenang”… “ramadhan ini penuh berkah, sudah khatam 3 kali!”.

Sedang umroh, tergoda menulis, “semoga Allah terima ibadah umrohku yang sangat berkesan ini”… “hanya karena-Mu ya Allah, aku penuhi panggilanmu”.

Ketika sedang towaf, ingin diabadikan dalam video.. ketika shalat di depan ka’bah, minta dijepret, lalu disebar.. ketika berada di madinah, narsis dengan gaya tangan berdo’a.

Wahai saudaraku.. mengapa engkau lakukan itu semua.. tidak cukupkah pahala dan pujian dari Allah.. sehingga engkau masih berharap pujian dari manusia.

Wahai saudaraku.. sungguh kasihan orang yang demikian adanya.. cobalah engkau renungkan, berapa lama orang itu akan menikmati perbuatannya.. paling hanya ketika dia masih hidup, karena setelah meninggal, tidak ada yang akan peduli lagi dengannya.. bahkan bisa jadi ketika dia masih hidup, dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tindakannya itu.. atau bahkan akan menimbulkan hasad dan dengki orang lain terhadap dia.

Saudaraku… tinggalkanlah itu semua karena Allah.. bukanlah Allah sudah menyimpan detil-detil amalanmu dalam catatan yang aman dan terjaga.. ataukah engkau ingin nantinya tercantum juga dalam catatan itu bahwa engkau beramal sembari narsis, berpose, dan bergaya, karena mengharapkan pujian dari makhluk?!

Ingatlah selalu firman Allah:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا

“Kebaikan apapun yg kalian lakukan, maka sungguh Allah mengetahuinya”. [Annisa’: 127]

Semoga Allah menjaga amal ibadah kita dari riya dan sum’ah.. sehingga pahalanya terjaga dan bisa memuliakan kita di akherat nanti, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Pendapat Yang Harus Diingkari…

Assalamualaikum tanya ustadz, pada jaman sekarang (saat ini) apa masih ada malam lailatul qodr ? karena ada yang bilang malam lailatul qodr itu malam diturunkannya Al Qur’an.
Atas pencerahannya disampaikan terimakasih.

Jawaban:

Waalaikumussalam warohmatulloh.

Ana jawab dalam beberapa poin berikut:

1. Yang dimaksud malam diturunkannya Al Qur’an, adalah malam diturunkannya Al Qur’an ke langit dunia secara sekaligus.. bukan tahap pertahap.

Karena penurunan Al Qur’an itu dua macam, ada yang sekaligus, sebagaimana penurunan Al Qur’an pada malam lailatul qodar. Dan ada yang bertahap, sebagaimana diturunkannya Al Qur’an sesuai peristiwa yang dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan penurunan Al Qur’an secara sekaligus ke langit dunia itu lebih dahulu.. daripada penurunan Al Qur’an secara bertahap.

2. Ketika Allah mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qodar, bukan berarti tidak ada malam lailatul qodar yang tidak diturunkan Al Qur’an di dalamnya.. seperti ketika kita mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari senin, bukan berarti tidak ada hari senin yang di situ tidak dilahirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena malam lailatul qodar itu lebih umum daripada malam penurunan Al Qur’an tersebut, sebagaimana hari senin lebih umum daripada hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. semoga bisa dipahami.

3. Kalau lailatul qodar tidak ada lagi setelah penurunan Al Qur’an, lalu untuk apa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mendapatkannya, padahal Al Qur’an telah diturunkan secara sekaligus sebelum itu.

4. Lalu untuk apa juga beliau menyarankan kepada para sahabatnya untuk mencarinya di 10 malam terakhir.

5. Untuk apa para isteri beliau, dan para sahabat beliau, setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mencari dan mendapatkan malam lailatul qodar?!

Begitu pula para imam setelah mereka, mengapa mereka masih mencari malam lailatul qodar.. bahkan membahas tentang kapan lailatul qodar bisa didapatkan.

Intinya, pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qodar tidak ada lagi sekarang, adalah pendapat yang ganjil, sangat lemah, tidak berdasar, dan harus diingkari, wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى