Category Archives: BBG Kajian

Beramal Karena Dunia

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan..” [Huud: 15-16]

Ayat ini menunjukkan tercelanya orang yang beramal karena berharap dunia. Namun orang yang berharap dunia dari amalnya ada beberapa macam :

PERTAMA : Orang yang beramal sholih berupa sedekah, puasa, sholat dan sebagainya dengan niat agar rezekinya dilancarkan dan ditambah hartanya. Ia tak mengaharapkan pahala dari Allah dan keridhoan-Nya.

Maka yang seperti ini hanya akan diberikan di dunia saja jika Allah berkehendak. Adapun di akherat ia tidak mendapat pahala, yang akan ia dapatkan adalah siksa api Neraka.

Abul Abbas Al Qurthubi rohimahullah berkata,

“Jika pendorong untuk beramalnya adalah dunia maka tidak menjadi ibadah, tetapi ia adalah maksiat. Bahkan bisa menjadi kufur yaitu syirik besar atau riya yaitu syirik kecil. Ini bila pendorongnya hanya dunia semata, bila tidak mendapat dunia tentu ia tidak akan beramal..” (Al Mufhim 12/50)

KEDUA : Orang yang beramal sholih mengharapkan pahala dari Allah dan keridhoan-Nya, tetapi iapun mengharapkan dunia dari amalannya.

Maka yang seperti dilihat mana yang lebih dominan.

– Jika yang lebih dominan adalah niat akheratnya, maka ia mendapat pahala.

– Jika yang lebih dominan adalah harapan dunia, maka ia mendapatkan dosa dan amalnya tidak diterima, dan

– Jika sama-sama kuat maka saling berguguran dan tidak mendapat pahala dan tidak juga dosa..

(sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau : 1/99).

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Katanya..

Katanya: “Jangan jadi Tuhan untuk sesama” .. Maksudnya jangan memvonis atau menilai orang lain salah !

Kita jawab:

a. Bahwa perkataan dia, “Jangan jadi Tuhan untuk sesama”, juga merupakan sikap menyalahkan orang lain .. maka harusnya perkataan itu juga berlaku pada dirinya.

b. Perkataan itu datangnya dari orang-orang liberal, yang meyakini bahwa tidak ada hukum Allah di muka bumi ini .. dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

ذَ ٰ⁠لِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ یَحۡكُمُ بَیۡنَكُمۡۖ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ

“Itulah hukum Allah, yang Dia tetapkan untuk kalian. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. [Al-Mumtahanah: 10]

c. Bahwa Allah menginginkan agar sebagian hamba-Nya memberikan penilaian kepada hamba-Nya yang lain, dan itu bentuk ketundukan dia kepada Allah, Tuhannya .. bukan sikap menuhankan dirinya kepada orang lain.

Lihatlah firman-Nya:

وَأَنِ ٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ

“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka (kaum yahudi) dengan apa yang Allah turunkan, dan jangan sampai engkau mengikuti hawa nafsu mereka”. [Al-Maidah: 49]

Dia juga berfirman:

وَإِذَا حَكَمۡتُم بَیۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُوا۟ بِٱلۡعَدۡلِ

“Apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, (Allah memerintahkan) agar kalian menetapkannya dengan adil”
[An-Nisa’: 58]

Seorang ahli ilmu juga boleh menilai perbuatan orang lain, makanya Allah berfirman:

فَاسْألُوا أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada ahli ilmu, bila kalian tidak tahu”. [An-Nahl: 43]

Bahkan selain hakim dan ulama’ pun boleh memberikan penilaian terhadap orang lain, lihatlah firman-Nya:

فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ

“Berjalanlah kalian ke (segenap penjuru) bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. [Ali ‘Imran: 137]

Lihat juga firman-Nya:

كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلله

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) ber-amar makruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali ‘Imran: 110]

Dan tidaklah seseorang mampu ber-amar makruf nahi mungkar, kecuali setelah dia memberikan penilaian terhadap perbuatan tertentu, apakah itu baik atau buruk.

Apa itu berarti, Allah memerintahkan sebagian manusia menjadi Tuhan atas sebagian yang lain .. tentu tidak demikian.

Wallahu a’lam .. silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Banyak Yang Mengatakan Bahwa Harta Itu Segalanya

Tidak sadarkah mereka, bahwa banyak nikmat dunia yang tidak bisa diganti oleh uang, apalagi nikmat akhirat.

Memang, dengan uang seseorang bisa membeli obat, atau masuk RS tercanggih.. tapi belum tentu dia bisa sehat, atau sembuh dari sakitnya.. betapa banyak orang kaya yang sakit bahkan tersiksa oleh penyakitnya hingga ajal menjemputnya.. karena sehat tidak bisa dibeli dengan harta.

Memang, dengan uang orang bisa membeli ranjang terhalus dan ternyaman.. tapi itu tidak menjamin dia bisa tidur dengan nyenyak.. betapa banyak orang tidak bisa tidur, padahal dia bermalam di hotel paling mewah dan paling berkelas.. justru, banyak yang bisa tidur nyenyak dengan hanya beralaskan tikar dan beratapkan langit.

Memang, dengan uang orang bisa membeli makanan terlezat dan paling bergizi.. tapi belum tentu dia bisa menikmati rasanya, bahkan bisa jadi makanan sudah di depan matanya, tapi selera makan tiba-tiba hilang entah kemana.. selera makan ternyata tidak bisa dia beli dengan uang.

Memang, dengan uang orang bisa bertamasya dan bersenang-senang.. tapi belum tentu batin dia bahagia, betapa banyak orang yang sudah bergelimang harta, sudah mencari kesenangan hidup, tapi kebahagiaan masih tidak ia temukan.. bahkan ia malah mabuk-mabukan, pertanda banyak masalah dan kepenatan hidup yang ingin dia buang dan lepaskan.

Uang juga tidak akan bisa membeli akhlak, meski orang bisa membeli buku tentang akhlak..

Uang tidak bisa membeli waktu, meski bisa membeli jam paling baik sekalipun.. dan masih banyak lagi.

Intinya, sadarlah bahwa uang bukan segalanya.. tidak benar segalanya membutuhkan uang.. tapi yang benar segalanya membutuhkan pertolongan Allah.. tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di alam ini kecuali atas kehendak Allah.

Oleh karenanya, mendekatlah kepadaNya, Anda akan mendapatkan semua yang Anda harapkan, bahkan lebih dari yang Anda harapkan.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab At Takfiir wa Dhowabithhu..

Kemarin telah kita sebutkan perbedaan Ahlussunnah dengan murji’ah, sekarang kita menyebutkan perbedaan Ahlussunnah dengan khowarij dan mu’tazilah.

Ada TIGA perbedaan yang utama:
1⃣ Bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa pokok iman itu disertai adanya dosa.

Sementara khowarij dan mu’tazilah mengatakan bahwa iman itu hilang sama sekali, apabila disertai dengan dosa. Dimana mereka mengkafirkan para pelaku dosa besar, sedangkan Ahlussunnah tidak mengkafirkan pelaku dosa besar.

2⃣ Ahlussunnah wal Jama’ah membedakan Islam dan Iman ketika Islam dan Iman bersatu dalam satu kalimat.

Sementara khowarij dan mu’tazilah tidak membedakan Islam dan Iman.

3⃣ Ahlussunnah wal Jama’ah berbeda dengan khowarij dan mu’tazilah dalam memberi nama orang fasik.

Ahlussunnah mengatakan orang fasik yaitu pelaku dosa besar muslim.
Sementara khowarij dan mu’tazilah meyakini bahwa pelaku dosa besar atau fasik itu kafir, dan dia tidak akan pernah masuk surga selama-lamanya.

Ini tiga perbedaan yang sangat utama antara Ahlussunnah dan khowarij.

Kemudian Beliau menyebutkan tentang sejarah munculnya keyakinan mengkafirkan dengan tanpa dalil. Ketahuilah (kata Beliau) bahwa kafir-mengkafirkan dengan tanpa hujjah, yang pertama yang melakukannya adalah kaum khowarij.

Dimana kaum khowarij pertama itu muncul saat terjadi perang antara ‘Ali dan Mu’awiyah di perang shiffin, lalu kemudian terjadilah perdamaian antara ‘Ali dan Mu’awiyah, dimana ‘Ali mengirimkan Abu Musa Al-‘Asy’ari sebagai utusan dan muawiyah mengirimkan ‘Amr bin Al-Ash sebagai utusan.

Lalu kemudian keluarlah sekitar 12.000 orang dan mengatakan bahwa ‘Ali menyerahkan hukum kepada manusia, Mu’awiyah menyerahkan hukum kepada manusia, padahal hukum itu hanya milik Allah, lalu mereka mengkafirkan ‘Ali dan Mu’awiyah dan mengatakan bahwa ‘Ali dan Mu’awiyah tidak berhukum dengan hukum Allah.

Kemudiaan, tadinya ‘Ali membiarkan mereka, namun ketika mereka telah berani berbuat kerusakan dengan cara membunuh, diantaranya Abdullah bin Al Araj dan anak-anaknya serta budaknya, maka ‘Ali bin Abi Thalib pun kemudian bermusyawarah dengan para sahabat dan para sahabat semuanya sepakat bahwa mereka itulah yang dimaksud oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam,
“Akan muncul kelompok saat kaum muslimin berpecah belah, mereka membaca Alqur’an namun tidak sampai ke kerongkongan mereka”

Maka kemudian ‘Ali bin Abi Thalib pun memerangi kaum khowarij itu dan orang-orang khowarij itupun berhasil ditumpas oleh ‘Ali bin Abi Thalib dimana mereka semua terbunuh kecuali 9 orang atau 7 orang. Mereka berhasil melarikan diri.

Kelompok kedua yang mengkafirkan yaitu syi’ah rofidhoh.

Dimana mereka mengkafirkan seluruh para sahabat Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam. Ini dia Ulama syi’ah yang bernama Almufid berkata (kata dia), “dimana kelompok imamiyah, zaidiyah dan khowarij sepakat bahwa para sahabat semuanya kafir dan tersesat.”

Demikian pula yang dikatakan dalam kitab al-Kafiy, bahwa para sahabat semuanya telah kafir, kecuali 3 orang saja, yaitu Al Miktad bin Al Aswad, Abu Dzar Al Ghifary dan Salman Al Farisi.

Dan kemudian juga ternyata hampir seluruh ahli bid’ah mengkafirkan satu sama lainnya.

Makanya kafir mengkafirkan itu hampir ada pada setiap kelompok ahli bid’ah yang mengkafirkan kelompok lainnya yang tidak setuju dengan pendapatnya.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Tergantung Cara Pandangmu

Nikmat dan musibah, bisa menjadi besar atau kecil tergantung cara pandangmu kepada keduanya.. Nikmat biasa bisa menjadi istimewa.. musibah besar bisa menjadi biasa karenanya..

Seringkali saya melihat, seorang anak merasa sangat bahagia ketika bermain dengan permainan sederhana .. sementara bagi anak lain, permainan itu sangat tidak menarik baginya .. permainannya sama, hanya cara pandang yang berbeda.

Pernah juga melihat ada pria yang sangat bahagia karena berhasil menikah dengan wanita yang cantiknya biasa .. di sisi lain, ada pria yang kurang bahagianya, ketika menikah dengan wanita yang cantik jelita.. Itu yang satu merasa nikmat yang dia dapatkan sangat istimewa .. yang satunya tidak menghargai nikmat tersebut.

Pernah juga melihat, ada yang terkena musibah besar, tapi dia tetap tenang dan sangat mampu menghadapinya, seakan musibah itu sangat kecil baginya .. sementara ada orang lain terkena musibah yang sama, sampai menjadikannya setres dan gila .. musibahnya sama, tapi karena cara pandangnya beda, maka beda pula rasanya.

Oleh karenanya, seringkali kita dengar perkataan “bahagia itu sederhana, tidak harus mahal..”

Dan memang itulah kenyataannya, bahagia itu ketika kita mampu menjadikan hati kita menganggap istimewa apa yang kita dapatkan.. baik sesuatu itu besar atau kecil menurut orang lain.

Ditulis dalam beberapa status/komentar oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah

Kunci Sukses

Kunci sukses: “Ciptakan rutinitas sederhana, lalu pertahankan”.

=====

Keberhasilan itu bukan dari kuantitas usaha kita.. tapi dari kedisiplinan kita dalam merutinkan usaha.

Keberhasilan itu bukan dari besarnya usaha, atau tingginya cita-cita.. tapi dari kemampuan kita untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa dilakukan sepanjang umur.

Tentunya, ini semua setelah taufiq dari Allah.

Maka, dari sekarang, putuskanlah untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa mengantarkanmu kepada kesuksesan.. jangan terbebani oleh terciptanya kesuksesan itu sendiri.

Jangan sibukkan pikiranmu dengan menghapal Al Qur’an dari awal sampai akhir.. Tapi, sibukkan saja dirimu dengan menghapal setengah halaman setiap hari.

Jangan sibukkan diri memikirkan bagaimana mendapatkan bentuk badan yang atletis.. Tapi, khususkan saja waktu seperempat jam tiap hari untuk olahraga.

Jangan sibukkan dirimu dengan target mahir dalam disiplin ilmu tertentu.. Tapi, khususkan saja sedikit waktu tiap hari untuk membaca beberapa halaman tentang disiplin ilmu tersebut.

Jangan sibuk memikirkan diet yang ideal, atau target turun 30 kilo dalam dua bulan.. Tapi, buat saja kebiasaan makan sehat yang mudah dijalani sepanjang hidup.

Ingatlah, bahwa umur itu akan berjalan dengan sangat cepat.. oleh karenanya, ketika kita sudah menjalankan sebuah rutinitas dengan baik meski sederhana, maka setelah berjalan setahun atau dua tahun, kita akan mampu meraih apa yang menjadi target kita, atau bahkan melebihi target kita.. dan mungkin saja kita akan kagum sendiri dengan capaian itu.

Saya misalkan Anda memutuskan untuk mengkhususkan waktu:
1. 30 menit untuk menghapal Al Qur’an.
2. 15 menit untuk olahraga.
3. 15 menit untuk membaca kitab atau buku tentang disiplin ilmu yang anda inginkan.

Tentu setelah berjalan beberapa tahun yang tidak lama (bisa saja terasa seperti kedipan mata), Anda akan kaget sendiri, ternyata Anda sudah hapal Al Qur’an, sudah memiliki badan yang atletis, dan telah selesai membaca puluhan kitab atau buku.. padahal itu hanya dengan menyisihkan waktu 1 satu jam saja.. tentu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktu 23 jam yang banyak tersia-siakan setiap harinya.

Intinya sangat sederhana, untuk meraih sukses: “ciptakan rutinitas sederhana”.. itu akan berakhir dengan menumpuknya banyak hasil, dan terwujudnya apa yang kita cita-citakan, atau bahkan lebih dari itu.

Oleh karena itulah, sejak dahulu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah menyabdakan: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling dirutinkan, meski hanya sedikit”. [HR. Bukhari: 6464, Muslim: 783].

[Dari pesan berbahasa arab dengan beberapa penyesuaian]

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Manusia Akan Menjadi Baik Jika Bukan Karena Tiga Perkara Ini

Abu Darda rodhiyallahu ‘anhu berkata:

لَوْلَا ثَلَاثٌ لَصَلُحَ النَّاسُ، لَوْلَا هَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِي رَأَى بِرَأْيِهِ

“Jika bukan karena tiga perkara ini, manusia akan menjadi baik,
⚉ kekikiran yang diikuti,
⚉ hawa nafsu yang ditaati dan
⚉ setiap orang berbangga dengan pendapatnya sendiri”

(Kitab Azzuhdu karya Imam Ahmad)

Islam tidaklah berdasarkan pendapat akal semata..
Namun berdasarkan wahyu..
Dan apa yang difahami oleh para sahabat dan para ulama setelahnya…
Siapapun yang berbicara dalam agama ini, wajib ia berdasarkan wahyu…
Adapun merasa diri intelek lalu berbicara seenaknya dalam agama..
Maka ini sumber munculnya berbagai macam keburukan…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Larilah Sekencang Mungkin

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu melihat saudaramu suka mendebat dan membantah saat kebenaran telah jelas, tapi dia tidak mengikuti kebenaran itu, maka LARILAH kamu darinya seperti ketika kamu lari dari singa, dan katakan kepadanya; aku tidak memiliki kecuali kebenaran yang telah ku katakan kepadamu.”

[Syarah Hilyah Tholibil ‘Ilm, hal: 26].

———–

Selamatkan diri… Dengan tetap menjaga sikap dan kata-kata yang baik… Dan tetap menyampaikan yang benar kepada orang tersebut.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1309162038

MUTIARA SALAF : Ejekan Manusia Kepadamu Tidak Akan Membahayakanmu, Kecuali…

Syaikh Abdurrahman Assa’diy rohimahullah berkata,

: ‏من الأمورالنافعةأن تعرف أن أذيةالناس لك وخصوصاًفي الأقوال السيئة،لا تضرك بل تضرهم،إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها،وسوغت لها أن تملك مشاعرك،فعند ذلك تضرك كماضرتهم ، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئا “

“Diantara perkara yang bermanfaat adalah kamu mengetahui bahwa ejekan manusia kepadamu dengan kata-kata yang buruk tidak akan membahayakanmu. Justru membahayakan mereka.

Kecuali jika kamu sibuk menanggapinya dan hatimu terbawa emosi. Maka di saat itu membahayakanmu sebagaimana membahayakan mereka. Tapi jika kamu tidak memperdulikannya maka tidak akan membahayakanmu.”

[al Wasaailul Mufiidatu Lil Hayaatis Sa’iidah hal 16]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Keutamaan Hari Jum’at

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Haruskah NIAT Dan MUWALAH Dalam Jama’ Dan Qoshor..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. kita masuk ke pembahasan..

⚉ KEUTAMAAN HARI JUMA’T

Banyak sekali keutamaan-keutamaan yang disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tentang hari Jum’at diantaranya ;

⚉ Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ.”

“Sebaik baik hari yang matahari terbit adalah hari Jum’at, dihari Jum’at Nabi Adam diciptakan, diihari Jum’at Nabi Adam dimasukan kedalam surga, dihari Jum’at juga Nabi Adam dikeluarkan dari dalam surga dan tidak tegak hari kiamat kecuali di hari Jum’at.” (HR. Muslim)

⚉ Hadits Abu Ulubabah bin Abi Mundzir ia berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُ

Sesungguhnya hari Jum’at itu adalah penghulunya hari, dia yang paling besar disisi Allah dan bahkan lebih agung disisi Allah daripada Idul Adha dan Idul Fitr. Pada hari Jum’at terdapat lima perkara, padanya Allah menciptakan Nabi Adam, dihari itu juga Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, dihari Jum’at juga Allah wafatkan Nabi Adam, dan dihari Jum’at juga terdapat sebuah waktu tidaklah seorang hamba minta kepada Allah padanya kecuali Allah pasti berikan selama tidak minta yang haram, dihari Jum’at juga ditegakkan hari kiamat,

tidak ada satupun malaikat yang didekatkan tidak juga langit, tidak juga angin, tidak juga gunung, tidak juga laut kecuali mereka semua merasa takut dengan datangnya hari Jum’at (maksudnya, dikhawatirkan akan tegaknya hari kiamat)”

(HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Anas bin Malik, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berkata,

أتاني جبريل وفي يده كالمرآة البيضاء فيها كالنكتة السوداء فقلت يا جبريل ما هذه قال الجمعة قال قلت وما الجمعة قال لكم فيها خير قال قلت وما لنا فيها قال يكون عيدا لك ولقومك من بعدك ويكون اليهود والنصارى تبعا لك قال قلت وما لنا فيها قال لكم فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها شيئا من الدنيا والآخرة هو له قسم إلا أعطاه إياه أو ليس بقسم إلا ادخر له عنده ما هو أفضل منه أو يتعوذ به من شر هو عليه مكتوب إلا صرف عنه من البلاء ما هو أعظم منه قال قلت له وما هذه النكتة فيها قال هي الساعة هي تقوم يوم الجمعة وهو عندنا سيد الأيام ونحن ندعوه يوم القيامة ويوم المزيد قال قلت مم ذاك قال لأن ربك تبارك وتعالى اتخذ في الجنة واديا من مسك أبيض فإذا كان يوم الجمعة هبط من عليين على كرسيه تبارك وتعالى ثم حف الكرسي بمنابر من ذهب مكللة بالجواهر ثم يجيء النبيون حتى يجلسوا عليها وينزل أهل الغرف حتى يجلسوا على ذلك الكثيب ثم يتجلى لهم ربك تبارك وتعالى ثم يقول سلوني أعطكم قال فيسألونه الرضى فيقول رضائي أحلكم داري وأنيلكم كراسي فسلوني أعطكم قال فيسألونه قال فيشهدهم أنه قد رضي عنهم قال فيفتح لهم ما لم تر عين ولم تسمع أذن ولا يخطر على قلب بشر قال وذلكم مقدار انصرافكم من يوم الجمعة …. قال فليسوا إلى شيء أحوج منهم إلى يوم الجمعة ليزدادوا إلي ربهم نظرا وليزدادوا منه كرامة

“Hari Jum’at ditampakkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, dibawa oleh malaikat Jibril ditangannya bagaikan cermjn yang berwarna putih, dan ditengahnya seperti goresan hitam, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “apa ini wahai Jibril ?” Ini adalah hari Jum’at, Allah menampakkannya kepadamu agar menjadi hari raya untukmu dan untuk kaummu setelahmu, dan untuk kalian padanya kebaikkan, dimana engkau mendapatkan yang pertama yaitu hari Jum’at sedangkan Yahudi dan Nasrani setelahmu.

Dan dihari Jum’at terdapat waktu tidaklah seorang hamba berdo’a pada Robbnya dengan kebaikkan kecuali pasti Allah akan berikan, atau ia berlindung dari keburukan kecuali pasti akan dilindungi dengan sesuatu yang lebih agung darinya, sementara kami menyebutnya dihari akhirat sebagai hari tambahan”

(HR. ath-Thabrani dengan sanad yang jayid dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Abu Musa Al Asy’ari ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Allah mengutus hari-hari pada hari kiamat sesuai dengan keadaannya, dan Allah mengutus hari Jum’at dalam keadaan ia bercahaya dan bersinar, dimana ahlinya mengelilinginya bagaikan pengantin yang dikirim kepada suaminya yang akan memberikan cahaya untuk mereka dimana mereka akan berjalan dibawah cahaya Jum’at tsb.

warna mereka bagaikan salju (putihnya) sementara wanginya mereka bagaikan harum semerbak bagaikan kasturi, mereka berada digunung gunung wewangian, dimana manusia dan jin melihat kepada mereka, mereka tidak mengedipkan mata karena saking kagumnya sampai mereka masuk surga, tidak ada yang sama dengan mereka kecuali orang orang yang adzan yang berharap pahala”

(HR. Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lainnya dan Syaikh al-Albani menilainya shohih)
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah