Category Archives: BBG Kajian

Hakikat Kebodohan…

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوٓءَ بِجَهٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولٰٓئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 17)

Penjelasan Ayat Di Atas : 

Setiap orang yang melakukan kemaksiatan adalah orang yang pada hakikatnya bodoh, hingga ia meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Dan kebodohan yang disebutkan dalam ayat ini yang menjangkiti pelaku kemaksiatan bukanlah kebodohan atau ketidaktahuan akan hukum kemaksiatan yang ia lakukan. Karena jika seseorang tidak mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya tersebut merupakan kemaksiatan maka tentunya ia tidak akan dihukumi oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud dengan kebodohan di dalam ayat ini adalah kebodohan yang hakiki.

Hakekat kebodohannya –sebagaimana keterangan para ulama- bisa ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya :

Tatkala bermaksiat sesungguhnya ia bodoh bahwasanya Allah sedang melihatnya, dan sedang mengawasinya, dan mencatat seluruh perbuatan maksiatnya tersebut

Ia bodoh akan akibat buruk yang timbul dari perbuatan maksiatnya tersebut, di antaranya berkurangnya imannya atau bisa jadi menyebabkan hilangnya keimanannya

Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut menyebabkan kemurkaan Allah

Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut bisa menyebabkan siksaan yang pedih di akhirat kelak (lihat penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam Tafsirnya hal 171)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

 

Apa Itu Manhaj Muwazanah..?

Manhaj Muwazanah adalah memperingatkan manusia dari penyimpangan seseorang atau kelompok bid’ah tetapi dengan menyebutkan juga kebaikan mereka, dan cara seperti ini TIDAK DIBENARKAN.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhohullah berkata :

“Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak (manusia) kepada mereka, tidak ; jangan engkau sebut kebaikan mereka ! Tetapi sebutkan kesalahan mereka saja, karena tugasmu bukanlah untuk mempelajari keadaan mereka dan menilainya… tetapi tugasmu adalah menyebutkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya, dan agar selain mereka menjauhi kesalahan itu. Demikian juga kesalahan yang ada pada mereka bisa jadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan, bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka, dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Allah”

(Ajwibah Mufidah ‘An As’Ilatil Manahijil Jadidah hal 13-14)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Bagaimana Isi ‘KHUTBAH NIKAH’ Yang Sebenarnya …? Dan Kapan Dilakukannya…?

Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari Kajian “Merayakan Cinta Bersamamu” bersama Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Silahkan saksikan video rekamannya berikut ini :

da060515-2101

Salah Kaprah Yang Berkaitan Dengan Khutbah Dan Ceramah Nikah dan Siapa Yang Seharusnya Mengucapkan Khutbah Nikah…?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى   berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

 

Simak juga artikel terkait berikut ini :

Bagaimana Isi ‘KHUTBAH NIKAH’ Yang Sebenarnya …? Dan Kapan Dilakukannya…?

 

 

Berapa Wajah Anda..?

Wouw, ya jelas saja hanya satu, demikian barang kali jawab anda.

Tenang sobat, ketika anda bercermin, ada berapakah wajah anda saat itu? Coba pikirkan! Dan ketika anda ketemu dengan binatang buas, samakah wajah anda ketika ketemu dengan orang yang anda cintai ?

Jadi sebenarnya wajah anda ada berapa?

Kalau saya sih, berusaha untuk merasa wajah saya tetap satu, apapun yang saya hadapi dan dimanapun saya berada, adapun perubahan itu hanya sekedar ekspresi natural dari suasana hati, wajah mengekspresikan isi hati. Demikianlah idialnya orang yang beriman, jujur; sehingga lahir dan batinnya sama.

Berbeda dengan orang munafik, ia terbiasa bermain wajah, memasang wajah kawan kepada lawan, dan memasang wajah budak di depan atasan, dan wajah pengkhianat di belakangnya, demikian seterusnya.

Anda tahu, apa sebabnya mereka berbuat demikian ?

Sederhana, sebabnya mereka tidak punya harga diri, karena ia telah menjualnya dengan kepentingan dunia, harta, jabatan, wanita, dan lainnya, padahal kepentingan dunia terus berubah dan berpindah pindah, ya jadinya gitu itu, amit amit deh.

Adapun orang yang beriman, jiwa mereka teguh dengan imannya, hanya ada satu kepentingan baginya, yaitu mengabdi, takut, mengharap dan cinta hanya kepada Allah.

Dimanapun orang beriman berada, maka baginya hanya ada satu yang ia takutkan, murka Allah, hanya ada satu yang ia harapkan, ridha Allah, dan hanya ada satu yang ia harapkan, kasih sayang Allah. Allah Taala berfirman:

(يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا)

“Mereka merasa perlu untuk bersembunyi dari manusia, namun mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka di saat mereka merencanakan ucapan ucapan yang tidak Allah ridhai, sedangkan Allah benar benar mengetahui apa yang mereka lakukan.” [Surat An-Nisa’ 108]

Jadi, sekarang anda merasa ada berapa wajah anda ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Teruslah Belajar Wahai Saudaraku…

Alhamdulillah dakwah Sunnah mulai menyebar dimana mana, dan mulai banyak pula bermunculan da’i-da’i Sunnah di atas manhaj Salaf.

Tetapi ada yang benar-benar da’i Sunnah, dan ada juga da’i-da’i yang baru rujuk ke manhaj ini yang akhirnya saat mengisi kajian, pemahaman yang dia sampaikan masih campur sari, dan yang seperti ini tidak sedikit, yang menyusup ke dalam barisan da’i Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Akhirnya terjadilah benturan-benturan diantara para tholibul ilmi, yang terkadang permasalahan itu sudah jelas dan sudah baku dalam pokok manhaj Ahlus Sunnah, tapi diantara mereka masih ada yang belum tahu.

Maka inilah zaman yang penuh dengan fitnah, karena ternyata tidak semua ulama dan ustadz itu berada diatas Sunnah dan manhaj Salaf.

Saudaraku, tolak ukur yang di lihat bukannya sekedar lembaga ini dan itu, ustadz ini dan itu, dosen ini dan itu, tetapi lihatlah apakah mereka memang benar-benar ulama dan ustadz Sunnah di atas manhaj Salaf ?

Begitu banyak ustadz atau individu yang mengaku mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf, tetapi dalam lisan, tulisan dan perbuatan tidak semuanya terbukti.

Hendaknya penilaian kita itu bukan hanya karena mereka memulai kajian dengan menyebut innal hamda lillah, adanya jenggot, tidak isbal, adanya gelar lc dll, bicara tentang sunnah dan bid’ah atau mereka mengaku sendiri mengikuti manhaj Salaf dll, atau karena merasa pernah duduk di kajiannya 1 atau 2 kali sehingga dengan mudahnya lalu berkata bahwa ustadz ini telah mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf.

Adapun para jamaah umumnya awam, hanya sekedar berkata bagus cara penyampaiannya, lembut atau ceramahnya banyak di you tobe atau banyak yang hadir di taklimnya atau ada yang berkata bahwa da’i itu juga pakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits dll.

Saudaraku, yang jadi masalah bukan hanya sekedar da’i itu memakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits, tetapi kita juga harus tahu “Bagaimana ia memahami dalil itu”, dan harus dikembalikan kepada Rasul, para Sahabat, para Tabi’in dan ulama-ulama setelahnya dalam memahamiya.

Jika tidak tahu atau masih ragu, maka tanyakanlah kepada para ustadz Sunnah yang lebih senior untuk mengetahui siapa mereka dan apa manhajnya ? Karena biasanya yang tahu apa saja syubhat yang masih ada pada ustadz itu adalah para ustadz juga. Karena terkadang umat ini tidak berilmu sehingga tidak mengetahui.

Seandainya syubhat dalam memahami Islam, Sunnah dan manhaj Salaf masih ada pada ustadz itu, dan ia pun sudah dinasihati tetapi tetap belum juga mau rujuk darinya maka jelas ini berbahaya.

Adakah yang lebih berbahaya dari salah dalam memahami Islam dan menempuh manhaj Salaf ?

Sebenarnya ustadz Sunnah yang mengikuti manhaj Salaf dengan benar itu banyak, tetapi zaman ini penuh dengan fitnah, sehingga banyak ikhwan dan akhawat yang tergelincir dalam memahami Sunnah dan manhaj Salaf yang sebenarnya.

Jika terjadi saling tahdzir antara satu ustadz dengan ustadz lain atau satu ulama dengan ulama lain, padahal mereka sama sama mengusung manhaj salaf, maka yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu dalam menyikapi fenomena tersebut adalah tetap menuntut ilmu.

Bisa jadi mereka benar-benar sama dalam manhaj salaf lalu terjadi perbedaan pendapat yang bisa saja terjadi sebagai manusia, maka hendaknya penuntut ilmu hanya menyibukkan dirinya dalam belajar dan selalu sabar dalam menuntut ilmu dan jangan ikut-ikutan mentahdzir atau mencela.

Atau bisa jadi sebenarnya salah satu dari mereka tidaklah mengusung manhaj salaf, tetapi terlihat oleh orang awam seakan-akan sama manhajnya. Jika demikian maka tinggalkanlah mereka yang menyelisihi manhaj salaf itu.

Maka dari itu, janganlah ikhwan dan akhawat selalu bermudah-mudah dalam menyebarkan info dan ilmu dari para da’i yang manhajnya masih menyimpang, dan itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada pemahaman serta pengamalan Islam dan Sunnah yang benar di atas manhaj Salaf…

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Orang Yang Meminta Hidayah BUKAN Berarti Dia Di Atas Kebatilan…

Mengapa Kaum Muslimin diperintahkan meminta hidayah ? Bukankah mereka yakin bahwa mereka di atas hidayah dan kebenaran ?!

Inilah pertanyaan sebagian musuh Islam dan Kaum Muslimin, dan pertanyaan ini tidaklah muncul melainkan karena kejahilan mereka terhadap Ajaran Islam yang sangat sarat dengan ilmu pengetahuan.

Pertanyaan ini telah dijawab oleh para ulama, diantaranya Ibnu Athiyyah -rohimahulloh-:

“Makna perkataan mereka: ‘berilah kami hidayah‘, bila dalam hal yang sudah ada di sisi mereka, maka maknanya adalah ‘meminta diteguhkan dan ditetapkan (di atasnya)’. Dan bila dalam hal yang belum ada di sisi mereka -mungkin karena kejahilannya atau keteledorannya dalam menjaganya- (maka maknanya) adalah ‘meminta ditunjukkan kepadanya’.” [Tafsir Ibnu Athiyyah 1/74].

Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- juga mengatakan:

“Jika dikatakan; bagaimana seorang mukmin meminta hidayah dalam setiap waktu, baik di dalam sholat maupun dalam waktu lainnya, padahal dia sudah berpredikat ‘mendapat hidayah’, apakah itu termasuk tindakan yag sia-sia?!

Maka jawabannya: TIDAK, jika bukan karena kebutuhannya untuk meminta HIDAYAH sepanjang siang dan malam, tentu Allah tidak akan mengarahkannya kepadanya.

Maka sungguh seorang hamba itu -di semua waktu dan keadaannya- sangat butuh kepada Allah untuk meneguhkannya, memantapkannya, mengingatkannya, dan meningkatkannya di atas hidayah.

Karena seorang hamba tidaklah kuasa mendatangkan manfaat ataupun mudhorot untuk dirinya kecuali atas kehendak Allah. Oleh karena itulah Allah ta’ala mengarahkannya untuk memohon kepadaNya agar Dia memberinya kemudahan, keteguhan, dan taufiq…

Allah ta’ala juga telah berfirman: “Wahai orang-orang yang BERIMAN, BERIMANLAH kalian kepada Allah, Rosul-Nya, kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya (Muhammad), dan kitab yang diturunkan sebelumnya”. [Annisa: 136].

Maka (dalam ayat ini) Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk beriman, dan itu bukanlah hal yang sia-sia, karena maksudnya adalah ‘meminta diteguhkan, ditetapkan, dan diistiqomahkan’ dalam amalan-amalan yang memudahkannya melakukan hal tersebut, wallohu a’lam. [Tafsir Ibnu Katsir 1/139].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101114-1310

Saudaraku, Sembunyikan Amalmu…

Janganlah menceritakan kepada orang lain amal yang telah dilakukan, karena khawatir bisa membahayakan niat yang ada pada hati…

Siapakah yang bisa menjamin bahwa kita pasti akan terjaga niatnya ketika selesai menceritakan amal kepada orang lain ?

Dan itu bukanlah contoh dari perilaku orang-orang yang shalih. Bacalah kisah dibawah ini :

(1). Abdullah bin ‘Amru menceritakan hadits kepada Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah akan perdengarkan amal tersebut kepada makhluk-Nya yang dapat mendengar. Dan Allah pun akan merendahkan dan meremehkannya”. Laki-laki itu berkata : “(Mendengar itu), menangislah mata ‘Abdullah (bin ‘Umar)” (Diriwayatkan oleh Ahmad II/195)

(2). Nu’aim bin Hammad menuturkan bahwa ia pernah mendengar Ibnul Mubarak berkata : “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi derajatnya dari pada Malik. Dia tidak banyak memiliki shalat dan puasa, namun dia memiliki banyak amal yang disembunyikan dan dirahasiakan” (Nuzhatul Fudhala’ II hal 621).

(3). Abu Bakar al-Marwazi berkata : “Suatu hari Ahmad bin Hambal menyebut-nyebut tentang Ibnul Mubarak dan ia berkata : “Allah tidak meninggikan derajatnya melainkan karena kerahasiaan yang dimilikinya” (Shifatus Shafwah IV hal 104).

(4). Yahya bin Ma’in berkata : “Aku tidak melihat orang seperti Ahmad bin Hambal. Aku menemaninya selama 50 tahun, dan ia tidak menyebutkan sedikitpun pada kami kebaikan yang ia lakukan”

(5). Semasa hidup Imam al-Mawardi, tidak ada satu pun karyanya yang dikeluarkan. Ia menulis karya dengan menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur, namun setelah semuanya rampung, dia inginkan agar buku-buku itu dilempar ke sungai Dajlah, karena dia takut riya’.

Dia berkata kepada seseorang :

“Jika aku dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika aku menggenggam tanganmu, maka ketahuilah ini berarti tidak ada satu pun karyaku yang diterima-Nya. Jika demikian, ambillah seluruh karyaku dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari.

Jika aku membentangkan telapak tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat mati, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima, sebab aku mendapatkan niat ikhlas yang kuharapkan.

Ternyata dia membentangkan telapak tangnnya dan tidak menggenggam tanganku. Aku pun tahu, ini tanda diterima amalnya. Sehingga setelah itu aku pun mengedarkan buku-buku hasil karyanya” (Siyar A’laamin Nubalaa’ oleh Imam adz-Dzahabi 18/66-67).

Mereka para imam saja seperti itu, khawatir amalnya tidak ikhlas sehingga lebih suka menyembunyikan amal kebaikannya. Lalu bagaimana dengan orang yang baru belajar dan mengamalkan Islam, kemudian merasa yakin akan selamat dari bisikan syaitan seperti riya, sum’ah dan ujub ?

Orang yang ikhlas adalah orang yang berusaha menyembunyikan berbagai macam kebaikannya, seperti ia menyembunyikan berbagai macam kejelekannya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Tujuh Hal Yang Pahalanya Terus Mengalir…

(سبع يجري للعبد أجرهنّ وهو في قبره بعد موته)

Tujuh hal yang pahalanya mengalir kepada hamba sementara hamba itu di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia

عن أنس رضي الله عنه،قال:

Dari Anas semoga Allah meridhoinya:

قال رسولُ الله صلى الله عليه و سلم:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرهُنَّ،وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ:

TUJUH HAL yang pahalanya mengalir kepada hamba sementara hamba itu di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia

مَنْ عَلَّمَ عِلْماً،

Orang yang mengajarkan satu ilmu,

أَوْ أَجْرَى نَهراً،

Atau yang mengalirkan satu sungai,

أَوْ حَفَرَ بِئْراً،

Atau yang menggali sumur,

أَوْ غَرَسَ نَخْلاً،

Atau yang menanam sebatang korma,

أَوْ بَنَى مَسْجِداً،

Atau membangun sebuah masjid,

أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفاً،

Atau mewariskan (membagi) sebuah mushhaf al Qur’an,

أَوْ تَرَكَ وَلَداً يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ)).

Atau meninggalkan seorang anak yang akan mendo’akannya setelah ia meninggal.

[حسّنه العلاّمة الألباني رحمه الله،في صحيح الجامع ٣٦٠٢]

Hadis dihasankan oleh al Allamaj al Albani, di shahih al Jami’ 3602

كُنْ مِفْتَاحاً لِلْخَيرِ وَانْشُر

Jadilah anda sebagai pembuka kebaikan dan sebarkanlah…

Ustadz Muhammad Elvi Syam MA, حفظه الله تعالى

 

da110215-0951