Category Archives: BBG Kajian

Sahabatku… Musibah Itu Manis…

Ya… Musibah itu manis, bila Anda ingat firman Allah ta’ala:

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian”. [QS. Albaqoroh: 216]

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal Allah menjadikan BANYAK kebaikan padanya”. [QS. Annisa’: 19]

Memang musibah itu manis, bila Anda ingat Sabda Nabi -shollallohu alaiahi wasallam-:

“Tidaklah musibah menimpa seorang muslim… melainkan Allah hapuskan dengannya dosa-dosanya”. [HR. Bukhori Muslim]

Memang, musibah itu manis… ketika Anda sadar bahwa ternyata nikmat Allah yang Anda terima jauh lebih banyak dan jauh lebih sering daripada musibah yang menimpa.

Percayalah, musibah itu manis… ketika Anda semakin hari semakin banyak menemukan hikmah-hikmah di balik musibah tersebut.

Sadarlah, musibah itu hal biasa dan dialami oleh siapapun… bahkan mungkin banyak orang di sekitar Anda mengalami musibah yang jauh lebih berat.

Bergembiralah, bahwa ternyata datangnya musibah pertanda Anda akan bahagia, karena musibah tidak mungkin selamanya.

Bahagialah, karena ternyata musibah itu bisa Anda NIKMATI… dan ternyata musibah itu banyak menjadikan manusia MENDEKAT kepada Allah.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101214-0000

Perkara Yang Bukan Termasuk Manhaj Salaf

Asy-Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Umar Bazmuul hafizhahullah berkata :

ليس من منهج السلف العمل قبل العلم، إنما كانوا يبدأون بالعلم قبل العمل، قال تعالى: فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين) محمد19

(1). Bukan termasuk manhaj salaf, beramal sebelum berilmu. Dahulu salaf memulai dengan ilmu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman : “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Allah, dan meminta ampunlah atas dosamu dan juga kaum mukminin” [QS. Muhammad: 19]

ليس من منهج السلف : ترك العمل بالعلم، فقد ورد: “هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

(2). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan amal setelah berilmu. Disebutkan dalam sebuah riwayat : “Ilmu memanggil amal, apabila amal memenuhi panggilannya (maka ilmu akan tetap bersamanya), namun jika sebaliknya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya”

ليس من منهج السلف أن يشتغل الطالب بأي شيء قبل القرآن والحديث، فإذا تفقه وتعلم ما يحتاجه لدينه طلب ما يريده بعد ذلك

(3). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu sebelum (menghafal dan mempelajari) al-Qur’an dan hadits. Apabila seorang telah mempelajari ilmu yang ia butuhkan untuk agamanya, silahkan ia mempelajari ilmu yang ia inginkan.

ليس من منهج السلف الأخذ عن أي أحد إلا بعد النظر في حاله مع السنة. فكان يقال: “إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم”.

(4). Bukan termasuk manhaj salaf, mengambil (ilmu) dari setiap manusia kecuali setelah mengamati keadaannya apakah ia di atas sunnah. Dahulu dikatakan sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.

ليس من منهج السلف ترك طلب العلم الواجب، وإهمال طلب العلم المستحب

(5). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan thalabul ilmi yang sifatnya wajib, serta meremehkan thalabul ilmi yang sifatnya sunnah.

ليس من منهج السلف الاهتمام بالعلوم العقلية البحتة، إنما علمهم قال الله قال رسوله قال الصحابة

(6). Bukan termasuk manhaj salaf, lebih mementingkan ilmu-ilmu yang hanya bersandar pada akal. Ilmu salaf tidak lain adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya, serta perkataan sahabat.

ليس من منهج السلف ترك الاحتجاج بحديث الآحاد في العقائد

(7). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau berhujjah dengan hadits ahad dalam permasalahan aqidah.

ليس من منهج السلف حصر افادة العلم في الحديث المتواتر

(8). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi ilmu hanya diambil dari hadits mutawatir.

ليس من منهج السلف رد الحديث إذا لم تبلغه العقول والاعتراض عليه، بل منهجهم الاتباع والتسليم، لآمنا به كل من عند ربنا

(9). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak dan mengkritik hadits apabila tidak masuk akal. Bahkan manhaj salaf adalah mengikuti, menerima dan beriman dengan hadits, serta seluruh apa yang datang dari Rabb kita.

ليس من منهج السلف التحزب والتحالف والإجتماع سراً دون الناس ؛ فقد ورد : “إذا رأيت من يجتمع في المسجد من دون الناس فاعلم أنهم على ضلالة

(10). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kelompok-kelompok, persekutuan dan perkumpulan yang tersembunyi dari manusia. Diriwayatkan dari salaf : “Apabila engkau melihat orang-orang berkumpul di masjid secara sembunyi-sembunyi, maka ketahuilah bahwa mereka berada di atas kesesatan.

ليس من منهج السلف الابتداع والاختراع. وشعارهم : اتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم، وعليكم بالأمر العتيق

(11). Bukan termasuk manhaj salaf, mengada-adakan kebid’ahan dan perkara-perkara baru (dalam agama). Syiar salaf adalah “Ikutilah, janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupkan. Berpegang teguhlah dengan perintah Nabi”

ليس من منهج السلف ترك الاقتداء والاتباع للرسول عليه الصلاة والسلام

(12). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mencontoh dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف الغلو في الرسول صلى الله عليه ، ومساواته بالله تعالى

(13). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ghuluw kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan kedudukan Rasul dengan Allah Ta’ala.

ليس من منهج السلف : ترك الاتباع لما كان عليه الصحابة، واختراع معاني يخرج بها عما في الشرع

(14). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mengikuti jalan para sahabat, dan membuat kaidah-kaidah baru yang menyelisihi syariat.

ليس من منهج السلف الطعن في الصحابة أو أحد منهم

(15). Bukan termasuk manhaj salaf, mencela para sahabat nabi atau mencela salah seorang dari sahabat Nabi.

ليس من منهج السلف تهييج الناس على الحكام وتحريضهم على الخروج أو المظاهرات أو الثورات. أو الانتقاد العلني لهم ولوزرائهم أو عمالهم

(16). Bukan termasuk manhaj salaf, memprovokasi manusia untuk melawan pemerintah dan menghasung mereka untuk keluar dari ketaatan baik berupa demonstrasi, pemberontakan maupun menyampaikan kritikan terbuka kepada pemerintah dan jajarannya terkait kesalahan-kesalahan mereka.

ليس من منهج السلف السكوت عن النصيحة لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وعامتهم

(17). Bukan termasuk manhaj salaf, diam dan enggan memberikan nasihat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, serta nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan manusia pada umumnya.

ليس من منهج السلف إحداث بيعة لغير الإمام المتولي شأن المسلمين وجماعتهم

(18). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan bai’at kepada selain pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin.

ليس من منهج السلف إهمال الكلام في توحيد الله تعالى وتقرير ذلك في النفوس، فإنه الأساس الذي يقوم عليه بناء الإسلام في كل أحد

(19). Bukan termasuk manhaj salaf, meremehkan pembahasan tauhid dan tidak menanamkannya dalam jiwa, karena tauhid merupakan pokok agama setiap manusia yang Islam dibangun di atasnya.

ليس من منهج السلف أن يكون موضوع الدعوة الأساس توزيع الثروات ولو باسم الاصلاح الاثتصادي، و لا العمل السياسي ولو باسم الإصلاح السياسي

(20). Bukan termasuk manhaj salaf, memprioritaskan dakwah dengan menyebarkan kekacauan meskipun dengan alasan perbaikan ekonomi, demikian pula terjun dalam politik meskipun dengan alasan memperbaiki politik.

ليس من منهج السلف : الاشتغال بما لا نفع فيه في الآخرة

(21). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الركون إلى الدنيا وترك العمل للآخرة

(22). Bukan termasuk manhaj salaf, merasa puas dengan kehidupan dunia dan meninggalkan beramal untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الإكثار من الكلام والحديث، إنما كانوا يقولون: من كثر كلامه كثر سقطه. ويسكتون حتى يظن أن بهم عي وما بهم ذلك إنما خوف الله

(23). Bukan termasuk manhaj salaf, banyak berbicara dan bercakap-cakap. Dahulu salaf menyatakan barangsiapa yang banyak bicara, maka akan banyak kesalahannya. Mereka diam hingga orang-orang mengira bahwa ia memiliki cacat. Tidaklah mereka melakukan demikian melainkan karena takut kepada Allah.

ليس من منهج السلف الاستعلاء على الخلق، فهم دعاة خير، ورفق ورحمة

(24). Bukan termasuk manhaj salaf, menyombongkan diri terhadap makhluk. Salaf adalah para da’i yang menyeru kepada kebaikan, bersikap lembut lagi penyayang.

ليس من منهج السلف طلب الشهرة، والارتفاع على الناس، فإن حب الظهور يقصم الظهور، وإذا تسود الحدث فاته خير كثير

(25). Bukan termasuk manhaj salaf, mencari ketenaran dan kedudukan tinggi di tengah manusia, karena cinta ketenaran akan mematahkan punggung. Apabila seorang telah ditokohkan (sebelum waktunya), maka akan terluput darinya kebaikan yang banyak (maksudnya ia kehilangan kesempatan menuntut ilmu)

ليس من منهج السلف، الدخول في الكلام والجدال بل يستفرغون وسعهم في التفقه في الكتاب والسنة والعمل بهما والدعوة اليهما

(26). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan dan perkataan yang sia-sia, bahkan salaf memfokuskan waktu mereka untuk mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah, mengamalkan keduanya dan mendakwahkannya.

ليس من منهج السلف : الخروج بدلالات النصوص عن أصول العربية وفهم السلف الصالح

(27). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak memahami nash-nash syariat berdasarkan pokok bahasa arab dan pemahaman salaf yang shalih.

ليس من منهج السلف : الكلام بالمجملات وترك التفصيل والبيان

(28). Bukan termasuk manhaj salaf, membahas sesuatu secara global, tanpa merinci dan memberikan penjelasan.

ليس منهج السلف الاستدلال بكل آية أو حديث، حتى تكون الآية محكمة والحديث سنة متبعة

(29). Bukan termasuk manhaj salaf, berdalil dengan setiap ayat dan hadits hingga diketahui bahwa ayat tersebut muhkam dan hadits tersebut merupakan sunnah yang diikuti.

ليس من منهج السلف وضع القواعد والضوابط بالرأي، وإنما كان سبيلهم تتبع ألفاظ القرآن والسنة . فلايغادر في الفتوى الآية أو الحديث ما امكنه

(30). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kaidah-kaidah dan aturan agama berdasarkan akal. Jalan salaf adalah mengkaji lafazh-lafazh al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak tergesa-gesa dalam berfatwa terkait dengan ayat atau hadits sebisa mungkin.

ليس من منهج السلف التعصب للرأي والاعتداد به، فكان قائلهم يقول: ما أنا عليه صواب يحتمل الخطأ، وما مخالفي عليه خطأ يحتمل الصواب

(31). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Salaf menyatakan : “Pendapat yang aku yakini benar, tapi ada kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang yang menyelisihiku salah, tapi ada kemungkinan benar”

ليس من منهج السلف المعاداة لمجرد وقوع اختلاف، فكانوا يفرقون في ذلك بحسب حال الرجل وواقع المسألة، فالاختلاف مع صفاء النية لا يفسد للود قضية

(32). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan permusuhan hanya disebabkan oleh perselisihan. Salaf membedakan suatu perselisihan bergantung dengan keadaan seseorang dan permasalahan yang terjadi. Perselisihan yang dibarengi dengan niat yang bersih, tidak akan merusak kecintaan dan persaudaraan di antara mereka.

ليس من منهج السلف حصر الدين في مسألة فمن وافقني عليها هو سلفي ومن خالفني فيها فهو غير سلفي. فالسلفية منهج وليست مسألة

(33). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi agama ini hanya dalam permasalahan tertentu, barangsiapa yang sejalan denganku dalam permasalahan tersebut, maka ia salafy, dan barangsiapa yang menyelisihiku dalam permasalahan tersebut, maka ia bukan salafy. As-Salafiyyah adalah manhaj, bukan permasalahan tertentu.

ليس من منهج السلف التقليد والتعصب بدون دليل

(34). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap taklid (mengikuti pendapat seseorang tanpa dalil) dan ta’ashub (fanatisme) tanpa disertai dalil.

ليس من منهج السلف تكفير الناس إلا بما ورد أنه كفر في الشرع

(35). Bukan termasuk manhaj salaf, (bermudah-mudahan) dalam mengkafirkan manusia, kecuali yang ditunjukkan oleh syariat bahwa hal itu adalah penyebab kekufuran.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين بالكفر قبل إقامة الحجة بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(36). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis kafir seseorang sebelum menegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين ببدعته إلا بعد إقامة الحجة، بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(37). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis (mubtadi’) seseorang karena kebid’ahan yang ia lakukan, kecuali setelah ditegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف العذر بمطلق الجهل، إنما يعذرون بالجهل من بذل وسعه في التعلم وطلب العلم و لم يقصر وكان الذي صدر منه هو مبلغه من العلم

(38). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan udzur jahl (kebodohan) secara mutlak, seorang diberikan udzur jahl hanyalah ketika ia telah berupaya untuk belajar dan menuntut ilmu, serta bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Dan penyelisihan yang ia lakukan berdasarkan kadar ilmu yang sampai kepadanya.

ليس من منهج السلف إعطاء العصمة لأحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم

(39). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan sifat ma’shum kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف : ترك الرجوع للعلماء، بل كانوا يدعون الناس إلى مجالسة العلماء، ولزوم غرسهم

(40). Bukan termasuk manhaj salaf, enggan untuk kembali kepada ulama, bahkan dahulu salaf menyeru manusia untuk duduk kepada ulama dan terus menapaki langkah mereka.

ليس من منهج السلف : إعمال التعديل مع وجود الجرح المفسر إلا إذا ذكره المعدل ورده بعلم

(41). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan ta’dil (pujian) saat terdapat jarh (kritikan) yang terperinci, kecuali apabila ulama yang men-ta’dil menyebutkan sebab jarh, kemudian menolak jarh tersebut dengan ilmu.

ليس من منهج السلف : إعمال الجرح المجمل في حق من ثبتت عدالته، إلا إذا فسر، أو صدر من إمام كبير، فالنفس أميل إليه

(42). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan jarh yang masih global terhadap orang-orang yang telah nampak keadilannya, kecuali apabila jarh tersebut dirinci atau berasal dari seorang imam (ulama besar ahlus-sunnah), maka jiwa ini akan condong kepadanya.

ليس من منهج السلف أن يعرف الحق بالرجال، فكل ما جاء عن فلان فهو حق، بل شعارهم أعرف الحق تعرف أهله، أعرف الحق تكن من أهله

(43). Bukan termasuk manhaj salaf, mengukur kebenaran dengan seseorang yaitu setiap apa yang datang dari fulan, maka itulah kebenaran. Bahkan syiar salaf adalah kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal orang-orang yang berada di atasnya, dan kenalilah kebenaran, niscaya engkau termasuk ahlinya.

ليس من منهج السلف رد خبر الثقة، وعدم قبوله إلا مسموعاً أو مقروءا

(44). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak khabar tsiqah, tidak mau menerimanya kecuali apabila khabar tersebut berupa rekaman suara atau tulisan.

ليس من منهج السلف أن يخوض كل طالب علم في الجرح والتعديل،فإن لكل فن رجاله فكما لا يؤخذ العلم عن كل أحد فإنه لا يتكلم في الجرح والتعديل أي أحد

(45). Bukan termasuk manhaj salaf, setiap penuntut ilmu berdalam-dalam dalam permasalahan jarh wat ta’dil, karena setiap cabang ilmu terdapat ahlinya, sebagaimana ilmu tidak diambil dari setiap orang, demikian pula setiap orang tidak berhak berbicara dalam permasalahan jarh wat ta’dil.

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

(46). Bukan termasuk manhaj salaf, menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat, kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya.

ليس من منهج السلف الهجوم على العلماء والكلام فيهم واطراح علمهم وكتبهم والدعوة إلى حرقها وإتلافها وتارك الرجوع إليها لمجرد خطأ وقعوا فيه

(47). Bukan termasuk manhaj salaf, memusuhi, melawan, membicarakan ulama, serta membuang ilmu dan kitab-kitab mereka. Demikian pula menyerukan untuk membakar kitab-kitab mereka, merusaknya dan tidak mengambil ilmu dari ulama hanya karena mereka terjatuh dalam kesalahan.

ليس من منهج السلف : الركون إلى أهل البدع، والتبسط إليهم

(48). Bukan termasuk manhaj salaf, bergaul bersama ahlul-bid’ah dan melapangkan majelis untuk mereka.

ليس من منهج ألسلف محبة أهل البدع، أو إحسان الظن بهم، لا يغرهم فصاحتهم و لا بيانهم، يعلمون أن المرء مع من أحب، كما في الحديث

(49). Bukan termasuk manhaj salaf, mencintai ahlul-bid’ah atau berprasangka baik kepada mereka, tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan penjelasan mereka. Salaf mengetahui bahwa seorang bersama orang yang ia cintai sebagaimana disebutkan dalam hadits.

ليس من منهج السلف توقير صاحب البدعة

(50). Bukan termasuk manhaj salaf, memuliakan ahlul-bid’ah.

ليس من منهج السلف : الدخول في جدال مع أهل الباطل، فإن المسلم لا يعرض ديبنه للأهواء

(51). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan bersama orang-orang yang berada di atas kebatilan, karena seorang muslim tidak mempertaruhkan agamanya demi mengikuti hawa nafsu.

ليس منهج السلف الاستشراف للفتن والخوض فيها، بل كانوا يتجنبونها ويحذرون منها.

(52). Bukan termasuk manhaj salaf, menjadi corong dalam fitnah-fitnah dan menyibukkan diri di dalamya. Bahkan dahulu salaf menjauh dan memperingatkan dari berbagai fitnah.

ليس من منهج السلف الوقوع في الفرقة والاختلاف والتباغض، وشعارالسلف لا تباغضوا و لا تدابروا وكونوا – عباد الله – إخوانا

(53). Bukan termasuk manhaj salaf, perpecahan, perselisihan dan saling membenci. Syiar salaf adalah “janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

ليس من منهج السلف منازعة العلماء، في كلامهم، فالطالب يعلم أنه طالب وأن بحث هذه المسائل متروك للعلماء، فما بالكم بالنوازل والمسائل الكبار!

(54). Bukan termasuk manhaj salaf, mempertentangkan perkataan ulama. Seorang penuntut ilmu harus tahu bahwa ia hanyalah penuntut ilmu. Permasalahan kontemporer dan permasalahan yang besar hendaklah ditinggalkan dan diserahkan kepada ulama, seorang penuntut ilmu tidak diperkenankan membahas permasalahan-permasalahan tersebut.

Sumber: Twitter Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (penterjemah Abul-Harits)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Menunggu Giliran

Allah Ta’ala berfirman

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya..” (Qs Ali ‘Imran, Ayat 185)

Setiap kita sedang menunggu giliran.. maka dari itu mari kita persiapkan bekal…

Ditulis oleh,
Ustadz Fuad Hamzah Baraba’ Lc,  حفظه الله تعالى

 

Saudaraku, Kemana Akalmu..?

Manusia sangat cerdas hingga mampu memecahkan rahasia alam yang sangat rumit, tapi terkadang manusia teramat bodoh, cobalah dipikirkan…

Semua orang yakin bahwa dirinya pasti mati…
Ia melihat saudaranya, juga teman-temannya yang mati, bahkan ia turut mengantarkan ke kuburan…

Namun tetap saja ia lupa akan mati dan tidak berusaha keras untuk mengumpulkan bekal akhirat. Bukankah manusia yang sedang mengantarkan juga menunggu giliran untuk mati…?

Dan sapi pun demikian. Meskipun tempat penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, ia tetap saja makan rumputan segar dengan lahapnya…

Kalau saja sapi itu mau berfikir, tentu ia akan menyadari bahwa gilirannya dijagal mungkin tinggal beberapa menit lagi, ia tentu akan berupaya melarikan diri, atau setidak-tidaknya nafsu makannya akan hilang…

Lalu bagaimana dengan sikap manusia yang berakal, apakah mereka mau dipersamakan dengan para sapi yang terus melahap makanannya, padahal yang pasti akan mendatanginya yaitu KEMATIAN…!?

Qotadah rahimahullah berkata :

“Allah menciptakan Malaikat dengan akal tanpa syahwat, dan menciptakan hewan dengan syahwat tanpa akal, serta menciptakan manusia dan menjadikan baginya akal dan syahwat. Maka barangsiapa akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia bersama Malaikat, dan barangsiapa syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia seperti hewan” (‘Uddatush Shabirin 1/15)

Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :

لو يعلم أحدكم حقيقة جهنّم لصرخ منها حتى ينقطع صوته ولصلّّى حتى ينكسر صلبه

“Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui hakikat Neraka Jahanam, niscaya dia akan menjerit sekeras-kerasnya (minta tolong kepada Allah) sampai suaranya terputus. Dan niscaya dia juga akan melakukan shalat sampai tulang punggungnya patah” (Zawaid az-Zuhd oleh Ibnul Mubarak no.1007)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Wanita Atau Pria Yang Lebih Banyak Masuk Surga..?

Coba anda tebak, mana yang lebih banyak. Bila anda wanita, barangkali anda berkata, wanita lebih banyak, dan bila anda pria, barang kali anda berkata: semoga pria lebih banyak masuk surga dibanding wanita.

Tenang sobat, sebelum lanjut baca status ini, ambil dulu segelas air minum, atau lebih sip bila anda menyeruput secangkir kopi hitam dulu, biar ndak gagal paham.

Suatu hari ada beberapa orang wanita dan pria yang memperdebatkan masalah ini. Mengetahui perdebatan ini, sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berusaha untuk menengahi dengan menyampaikan hadits berikut:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّتِى تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّىٍّ فِى السَّمَاءِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ وَمَا فِى الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Sesungguhnya gelombang pertama dari orang-orang yang masuk surga, wajah mereka bercahaya bagaikan rembulan di malam purnama. Gelombang selanjutnya bagaikan bintang langit yang paling terang. Masing-masing dari mereka memiliki dua istri. Sungsum tulang betis mereka dapat dilihat dari luar kulit mereka. Dan tidak seorangpun yang masuk surga dalam kondisi bujang tak beristri.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi kira kira menurut anda, siapa yang lebih banyak masuk surga, wanita atau pria ?

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Resep Membuka Pintu Rejeki…

Berbagai cara, dan kiat bisa jadi telah anda lakukan untuk bisa kaya raya, namun setiap kali anda berusaha keras membukanya, seakan anda bertambah miskin bukan bertambah kaya. Benarkah demikian sobat ?

Saudaraku, sadarilah bahwa itu semua terjadi karena salah anda sendiri, andai anda membuka pintu kekayaan yang benar niscaya anda benar benar kaya raya.

Anda mau aku tunjukkan di mana pintu tersebut ?

Pintu itu adalah pintu akhirat. Lo kok bisa, mau kaya di dunia kok malah diajak membuka lintu akhirat, mana bisa jadi kaya ?

Tenang sobat, bila anda sibuk mengetuk dan berupaya membuka pintu akhirat maka Allah-lah yang akan membukakan pintu dunia anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته ، كفاه الله هم دنياه ، ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا ، لم يبال الله في أي أوديتها هلك 

“Siapapun yang menyatukan seluruh orientasinya pada urusan akhiratnya, niscaya Allah cukupi urusan dunianya. Adapun bila ia memecah orientasinya pada berbagai urusan dunianya, maka Allah mencampakkannya, sehingga tiada berkenan menolongnya, di manapun ia ditimpa binasa.” (Ibnu Majah)

Ingat sobat, anda diciptakan untuk beribadah, sedang dunia diciptakan untuk anda, karena itu jangan sibukkan diri anda dengan urusan dunia, namun sibukkan diri anda dengan tujuan hidup anda, yaitu mengabdi kepada Pencipta anda.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Perbedaan Di Hari ‘Asyuro…

Kaum Yahudi, menampakkan kesenangannya dengan nyanyian dan tarian.
Kaum Syiah, menampakkan kesedihan dengan ritual bid’ah dan kezaliman.
Kaum Muslimin Ahlussunnah, BERSYUKUR dengan ibadah puasa sesuai tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam

=====
Lihatlah bagaimana kaum syiah mengumpulkan dua keburukan di hari itu.
Sebaliknya Kaum Muslimin Ahlussunnah mengumpulkan dua kebaikan di hari itu, walhamdulillah atas kenikmatan ISLAM.

Masihkah ada yang berharap keduanya bisa bersama dan rukun?!

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da221015-2030

Apakah Orang Sakit, Wanita Haidh Masih Bisa Mendapat Pahala Puasa ‘Asyuro..?

Orang yang ada udzur dalam meninggalkan puasa –seperti haidh, nifas sakit dan safar- sementara kebiasaannya berpuasa hari itu, atau dia mempunyai niat puasa hari itu. Maka dia akan mendapatkan pahala sesuai dengan niatannya.

Sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhori (2996) dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu berkata, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Ketika seorang hamba sakit atau bepergian, maka ditulis baginya (pahala) seperti dia melakukannya  saat menetap dan sehat..”

● Ibnu Hajar rohimahullah mengatakan,

“Ungkapan ‘ditulis baginya (pahala) seperti dia melakukan dalam kondisi menetap dan sehat..’ Hal itu bagi orang yang hendak melakukan ketaatan namun terhalang, sementara niatnya –jika tidak ada penghalang- dia akan terus melakukannya..”

(Fathul Bari)

● Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah ditanya :

“Wahai fadhilatusy syaikh! Ada seorang wanita yang berniat untuk menunaikan puasa Asyura, namun pada hari tersebut dia mendapati hari kebiasaan haidhnya. Apakah dia perlu mengqadha (mengganti) puasa tersebut atau tidak..?”

Jawaban:
“Wanita  tersebut tidak perlu meng-qodhonya karena puasa ‘Asyuro adalah puasa yang dilakukan khusus pada waktu tertentu. Jika seseorang mendapati hari ‘Asyuro, maka kerjakanlah puasa pada hari itu. Jika dia tidak melakukannya, maka tidak ada qodho baginya..

Akan tetapi aku berharap mudah-mudahan dia mendapatkan ganjaran –insyaa Allah (jika Allah Ta’ala menghendaki)- disebabkan karena niat dan tekadnya. Dia tidak bisa menunaikan puasa ini karena ada udzur syar’i (alasan yang dibenarkan oleh syariat)..”

(Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 125: 15)

Sumber :

https://islamqa.info/id/146212
https://rumaysho.com/127-puasa-asyura-datang-haidh.html

 

Apakah Ada Landasannya Dalam Syariat Islam Hari Raya Atau Lebaran Anak Yatim Setiap Tanggal 10 Muharram..?

[ A ]. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

“Barangsiapa yang mengusapkan tangannya ke kepala anak yatim di hari Asyuro’ (10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat”

Hadits ini terdapat dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin no.475 dan dinyatakan maudhu’ atau “PALSU” oleh para ulama, karena dalam jalur sanadnya terdapat nama “Habib bin Abi Habib”, seorang perawi yang tertuduh pernah berdusta dan memalsukan hadits. Oleh karenanya status perawi ini adalah matruk (ditinggalkan).

Para ulama memberikan komentar tentangnya :

– Ahmad bin Hanbal berkata : “Pendusta” (Lisaanul Miizaan II/168/752 oleh Ibnu Hajar).

– Ibnu Ady berkata : “Ia pernah memalsukan hadits” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Ibnul Jauzi berkata : “Ini adalah hadits palsu dengan tanpa keraguan” (Al-Maudhuu’aat II/571)

– Adz-Dzahabi berkata : “Tertuduh berdusta” (Talkhis Kitab al-Maudhuu’aat hal 207).

– Adz-Dzahabi berkata : “Pendusta” (Miizaanul I’tidaal I/451/1693).

– Abu Haatim berkata : “Ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Asy-Syaukani berkata : “Hadits palsu” (Al-Fawaa-idul Majmuu’ah hal 92 no.33)

– lihat juga al-La’aali al-Mashnu’ah II/109 oleh as-Suyuthi, at-Tanziih asy-Syari’ah II/149-150 oleh Ibnu ‘Arraq al-Kanani dll.

[ B ]. Berbeda dengan “Agama Syi’ah” dalam menyambut bulan Muharram. Mereka menjadikan hari Asyuro’ (10 Muharram) sebagai hari berkabung, bersedih, menangis, meratap bersama dan menyakiti anggota badan lainnya dengan melukai kepala atau memukulkan pedang ke atas kepala atau dengan memukulkan rantai ke bagian punggung hingga berdarah sebagai tanda berkabung atas syahidnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka berpawai di jalan-jalan raya dan tempat-tempat umum dengan memakai pakaian hitam-hitam sambil mengulang-ngulang nyanyian berisi pujian-pujian kepada Husain.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ritual Asyuro’ oleh syiah ini dimulai tahun 352 H. Pencetusnya adalah Dinasti Buwaih beraliran syi’ah yang mewajibkan penduduk Irak untuk melakukan ratapan terhadap Husein. Yaitu dengan menutup pasar, melarang memasak makanan, dan para wanita mereka keluar kemudian menampar-nampar wajah serta membuat fitnah di hadapan manusia.

Hal ini kemudian diikuti oleh Dinasti Fathimiyah yang merayakannya dengan tindakan serupa. Pada hari itu, khalifah duduk dengan muka masam sambil memperlihatkan kesedihan, begitu juga para hakim, da’i, dan pejabat pemerintah. Para penyair membuat syair dan menyebutkan riwayat dan kisah-kisah karangan tentang pembunuhan Husein.

Mereka menganggap bahwa pada hari itu Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan banyak dari kaum muslimin laki-laki yang terbunuh, sehingga banyak dari anak-anak mereka yang menjadi yatim. Maka mereka pun menjadikan hari itu sebagai tradisi memperingati hari anak yatim yang dibenarkan dalam “Syariat Agama Syiah”.

Mereka merobek-robek pakaian dan meneriakkan ucapan berlebihan kepada Husain. Bukankah Husain mati syahid dan akan mendapatkan tempat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala ? Lalu kenapa ia diratapi seperti itu ?

Demikianlah “Agama Syi’ah” dalam memperingati hari terbunuhnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang sangat mereka agung-agungkan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melarang perbuatan demikian.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah” (HR.Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Buruknya lagi, cerita kematian Husein pun telah mereka palsukan. Padahal kaum syi’ah sendirilah yang telah membunuhnya.

Salah seorang ulama besar syi’ah, murtadha muthahhari berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah adalah pendukung Ali dan yang membunuh Imam al-Husein adalah pendukungnya sendiri” (Al-Mahamatul Husainiyah I/129, oleh al-Khamis, 2014: 255).

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menyalahkan penduduk Irak sebagai pembunuh Husain dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 5994 :

‏ ‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي نعم ‏ ‏قال كنت شاهدا ‏ ‏لابن عمر ‏ ‏وسأله رجل عن دم البعوض فقال : ممن أنت ؟ فقال : من ‏ ‏أهل ‏ ‏‏العراق ، ‏قال انظروا إلى هذا يسألني عن دم البعوض وقد قتلوا ابن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ،‏ ‏وسمعت النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏هما ريحانتاي من الدنيا


Dari Ibnu Abi Nu’min, dia berkata : “Saya menyaksikan Abdullah bin Umar ketika ditanya oleh seseorang tentang darah nyamuk, maka Ibnu Umar bertanya : “Engkau berasal dari mana ?”. Dia menjawab : “Dari penduduk Irak”. Ibnu Umar berkata : “Lihatlah kepada orang ini ! Dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk padahal merekalah yang telah membunuh cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib). Aku telah mendengar Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka berdua (yaitu Hasan dan Husain) adalah bunga raihanku di dunia”

Islam tidak pernah mengajarkan tanggal 10 Muharram diisi dengan perbuatan nista seperti “Agama Syiah”. Asyura’ tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri seperti syiah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengajarkan untuk berpuasa sunnah pada hari Asyura’.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah VIII/221 :

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontonkan seperti yang dilakukan oleh syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbunuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H.

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Thalib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Khatthab, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat shubuh di mihrab ketika sedang membaca al-Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar ash-Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka).

Lebih daripada itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para Nabi sebelumnya juga mati. Namun tidak ada satu pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagai ma’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematian Husain, seperti yang dilakukan oleh (syi’ah) rafidhah yang jahil”

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Apakah Puasa Asyura Itu Boleh Di Tanggal 10 dan 11 Muharram..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan yaitu puasa di bulan Allah Muharram” (HR. Muslim no.1163, hadits dari Abu Hurairah).

“Sesungguhnya puasa pada hari ‘asyuro (10 Muharram) bisa menghapus dosa setahun dan puasa pada hari arofah bisa menghapus dosa 2 tahun” (HR. Muslim no.1162, hadits dari Abu Qotadah).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Ketika Rasulullah berpuasa hari Asyuro’ (10 Muharram) dan memerintahkannya, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani”. Lalu Rasulullah bersabda : “Pada tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9 (juga)”. Ibnu Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan Rasulullah telah wafat” (HR. Muslim no.1134)

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata :

“Bershaumlah pada hari ke-9 dan ke-10, selisihilah kaum Yahudi !” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf­ no.7839, al-Baihaqi IV/287 dan at-Tirmidzi no. 755]

Imam Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa disunnahkan menyatukan puasa hari ke 9 dan hari ke 10 agar tidak menyerupai kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke 10 saja” (Az-Zarqoni dalam Syarah al-Muwaththa’ II/237)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Para sahabat kami dan lainnya berpendapat sunnah puasa ‘Asyuro (hari ke 10 muharram) dan puasa Tasu’a (hari ke 9 muharram)” (lihat al-Majmu’ VI/383).

Adapun untuk hadits “Berpuasalah sehari sebelumnya (tanggal 9) dan sehari sesudahnya (tanggal 11)” ADALAH HADITS YANG DHO’IIF karena ada rawi yang bernama Dawud bin Ali.

Ibnu Hibban berkata : “Dia sering keliru”.

At-Tirmidzi meriwayatkan 1 hadits darinya dan ia menjadikan haditsnya hadits yang gharib.

Imam adz-Dzahabi berkata : “Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah” dan cacat yang lain yaitu adanya rawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Ali Ya’la.

Imam Ahmad berkata : “Dia perawi yang buruk hafalannya dan haditsnya muththarib (tidak menentu pada matannya), begitu pula perkataan Syu’bah, Ibnu Hibban dll.

Hadits ini telah dianggap dho’iif oleh Imam al-Albani di dalam kitabnya Dha’iiful Jaami’ ash-Shaghiir no.3506, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Imam Ahmad IV/52, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid III/191, asy-Syaukani dalam Nailul Authar IV/330, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaani dll.

Karena haditsnya dho’if maka tiada pengkhususan puasa di tanggal 11 muharram, tetapi cukup hanya tanggal 9 dan 10 Muharram saja sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى