Category Archives: BBG Kajian

Prinsip Seorang MUSLIM…

Prinsip seorang MUSLIM = Untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, maka tempuhlah dengan jalan KESALEHAN.

=======

Seringkali kita lihat, orang ingin mendapatkan kedudukan atau kekuasaan menggunakan jalan pintas dan cara-cara kotor.

Memang, cara itu BISA JADI menyampaikan mereka kepada tujuannya… namun setelah itu, dia akan terseret dan tersandera untuk melakukan cara-cara kotor lainnya, sehingga kekuasaannya tidak membawa kebaikan dan keberkahan, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakatnya.

Sungguh sangat merugi, bila kekuasaan itu malah mencemarkan nama kita, merendahkan kedudukan kita, bahkan mendatangkan doa buruk masyarakat kepada kita.

Oleh karenanya, jangan hanya berpikir bagaimana sampai ke tampuk kekuasaan, tapi berpikirlah bagaimana sampai ke tampuk pimpinan dengan cara yang baik dan mendatangkan kebaikan dan keberkahan.

Jadilah diri yang saleh, niscaya Allah memudahkan jalanmu menuju tampuk pimpinan. Camkanlah ayat-ayat berikut ini:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Telah Kami tetapkan di dalam Kitab Zabur setelah (tertulis) di dalam Adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh para hamba-Ku yang SALEH. [QS. Al-Anbiya’: 105].

إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Sungguh bumi itu milik Allah, Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang dikehendaki dari para hambanya, dan kesudahan yang baik adalah bagi mereka yang BERTAKWA. [QS. Al-A’rof: 128].

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan beramal SALEH, bahwa Dia pasti benar-benar akan menjadikan mereka BERKUASA di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. [QS. Annur: 55].

Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da280715-0606

Kenapa Berbuat Maksiat Setelah Bermaksiat..?

Hati yang sarat galau…
Jiwa berteman gelisah…
Sanubari yang dipenuhi kehampaan serta berbagai rasa yang tidak mengenakkan…

Itulah tanda hati sedang sakit dan dapat membutakan pandangannya, dan bisa jadi semuanya disebabkan oleh kemaksiatan atau dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Kemaksiatan dan dosa membuat hati gelisah, resah dan rasa tidak aman yang tidak jelas ujung pangkalnya, dan harta sebesar apa pun tidak akan dapat mengobatinya…

Kemaksiatan adalah kegelapan…
Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan…

Kemaksiatan akan melemahkan keinginan pelakunya untuk taat dan berbuat baik, dan menjadikan keinginan untuk berbuat maksiat semakin kuat, sehingga keinginan bertaubat pun akan luntur…

Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan lainnya, dan pada saat itu keburukan menjadi watak, karakter dan sifat yang melekat di dalam diri seseorang…

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan (maksiat dan dosa)…” (QS. An-Nisaa’ [4]: 123)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan balasan suatu kejahatan (dosa) adalah kejahatan (dosa) yang serupa…” (QS. Asy-Syuura’ [42]: 40)

Maksiat mengantarkan pada maksiat lainnya…

Demikianlah keadaan seorang hamba, ketika ia melihat suatu yang haram, lantas tidak terbetik dalam dirinya untuk “BERTAUBAT”, maka dosa berikutnya akan tumbuh. Dalam hatinya pun ingin terus melakukan maksiat atau dosa besar selanjutnya…

Kemaksiatan akan menutup hati pelakunya hingga berkarat. Dan jika karat hati itu bertambah maka ia akan menutupi hati hingga terkunci dan di saat itu hati tak lagi sanggup melihat kebenaran sebagai kebenaran…

Akhirnya…

Kemaksiatan menyebabkan pelakunya dilupakan oleh Allah, dan bahkan seorang hamba pun lupa akan dirinya sendiri…

Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu susah untuk taat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu saja bermaksiat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu tidak bersemangat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini mau saja mengikuti langkah-langkah syaithan yang jahat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini petunjuk dan hidayah tidak didapat…

Wahai Saudaraku…

Jika seluruh kenikmatan di dunia ini disatukan, maka itu tidak akan sepadan dengan kemurungan dan penyesalan pelaku maksiat di hadapan Allah…

Segeralah bertaubat…
Sebelum ajal dicabut Malaikat…
Sehingga tidak menyesal di akhirat…

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka” (QS. At-Taubah [9]: 67)

Hidup di dunia ini hanya 3 hari…

Hari kemarin, sudah dilalui dan tidak akan kembali…
Hari ini, dijalani dan tidak akan abadi…
Hari esok, tidak pernah tahu apa yang terjadi, bisa jadi sudah mati…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

TIPUAN YANG PALING BESAR adalah bersikap tenang dalam berbuat dosa dengan mengharap ampunan tanpa adanya PENYESALAN…

Dan mengira telah mendekatkan diri kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, menunggu hasil dari SURGA dengan menanam benih API NERAKA…

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah [5]: 74)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Lupa Penyakit Sendiri…

Begitu perhatiannya kita untuk berkeliling mencari obat tatkala tubuh kita sakit…

Namun pernahkah kita serius untuk mengobati penyakit yang jauh lebih berbahaya? Yaitu penyakit-penyakit hati…??

Bagaimana kita serius…,
sementara kita tidak merasa berpenyakit hati…!!!,
kita merasa hati kita bersih…!!??

Seorang berpenyakit hati berkata kepada seorang dokter :

سـقامي من مُقـارفةِ الخَطـايا..
وليـس مِنَ الزُّكامِ ولا السُّـعالِ..

Penyakitku disebabkan dosa-dosa yang kulakukan
Bukan karena pilek ataupun pening

فإن كنـتَ الطَّبيبَ فما عـلاجٌ..
لذنـبٍ فَوْق رأسـي كالجبـالِ؟؟

Jika engkau adalah benar-benar seorang dokter maka apakah obat penyakitku ?

نُسـائلُ مـا الدَّواءُ إذا مَرِضـنا..
وداءُ القَـلْبِ أولـى بالسُّـؤالِ..

Kita selalu bertanya tentang obat jika kita sakit
Padahal penyakit hati kita lebih utama untuk kita tanyakan akan obatnya…

Ya Allah sembuhkan dan bersihkan hati kami dari penyakit-penyakitnya baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari…

Ustadz DR Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da071013-1804

Untuk Siapa..?

Allah Ta’la berfirman:

ﺇﻥ ﺃﺣﺴﻨﺘﻢ ﺃﺣﺴﻨﺘﻢ ﻷﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺇﻥ ﺃﺳﺄﺗﻢ ﻓﻠﻬﺎ

“Jika kalian berbuat ihsan, maka itu untuk kalian.
Dan jika kalian berbuat buruk, itupun untuk kalian juga.” (Al Israa: 7).

Amal sholeh tidak menguntungkan Allah..
Maksiat hamba pun tidak merugikan Allah..
Disana ada manusia yang sengaja memaksiati Allah..
Ia tak mau shalat..
Tidak berpuasa ramadlan..
Ia menyangka telah merugikan Rabbnya..
Padahal..
Kemaksiatan itu merugikan dirinya sendiri..
Sebaliknya..
Disana ada orang yang bangga dengan ketaatannya..
Ia merasa mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi
Allah..
Ia memandang telah berjasa kepada Allah..
Dengan membela agamaNya..
Dengan ketaatan dan amalan shalih..
Ia pun menjadi angkuh karenanya..
Padahal..
Kalau bukan karena Allah yang memberinya
kekuatan..
Tentu ia akan tersesat jalan..

Saudaraku..
ketaatan yang menimbulkan keangkuhan..
Lebih buruk dari pada maksiat yang menimbulkan
taubat dan ketundukan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da130314-1319

Bagaimana Para ‘Ulama Mengatur Waktu Mereka..?

Bagaimana para ulama mengatur waktu mereka antara mempelajari ilmu, mencari nafkah, isteri, anak, orangtua dll ? 

Az-Zubair bin Bakkar berkata : “Anak saudara perempuanku berkata kepada istriku : “Pamanku adalah sebaik-baik suami terhadap istrinya. Dia tidak mengambil istri lagi dan tidak membeli budak perempuan”. Istriku pun berkata : “Sungguh kitab-kitab ini lebih berat dan lebih sulit bagiku dari pada 3 orang madu”.

Suatu hari anak Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) meninggal dunia, lalu Abu Yusuf mewakilkan kepada tetangganya untuk memandikan dan menguburkan anak itu agar ia tidak ketinggalan pelajaran dari gurunya Abu Hanifah.

Masya Allah, lihatlah contoh dari 2 kisah diatas bagaimana semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu.

Yang satu istrinya lebih cemburu kepada kitab-kitab suaminya daripada 3 istri yang lain seandainya suaminya mau menikah lagi.

Yang satunya lagi Abu Yusuf tidak mau ketinggalan pelajaran yang disampaikan gurunya meskipun anaknya meninggal dunia, karena itu ia tetap hadir di majelis taklim.

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah berkata :

“Ayahku mengajariku al-Qur’an seluruhnya dengan usahanya sendiri” (Manaqib al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi hal 496)

Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Dahulu para salaf mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajari mereka al-Qur’an” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah hal 1240 no. 2325)

Para ulama itu tetap mencari nafkah yang halal, menyediakan waktu untuk istri, anak, orang tuanya dll. Tetapi memang kebanyakan waktunya habis untuk belajar dan belajar, menulis, beribadah serta berdakwah, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemuliaan dan ketinggian dalam ilmu dan amal.

Dan untuk mencapainya tentu harus bersungguh-sungguh dalam mujahadah, pengorbanan, berdoa, mengikhlaskan niat dll sehingga menjadi barokah untuk dirinya dan manusia secara umum.

Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu peran istri yang shalihah dan qona’ah, yang ikhlas, zuhud dan sabar dalam pengorbanan, yang rela menyerahkan sebagian haknya dari sisi waktu yang terambil, dan terkadang dari sisi nafkah yang agak berkurang, karena banyaknya waktu yang dihabiskan oleh suaminya untuk menuntut ilmu.

Lihatlah contoh Imam al-Albani rahimahullah yang dalam sehari belajarnya sampai 12 jam. Sisa waktunya beliau gunakan untuk mencari nafkah, tidur, melakukan ibadah dll.

Seorang guru berkata : “Setiap penuntut ilmu hendaknya menyediakan waktu dalam sehari untuk belajarnya minimal 4 jam”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat dalam belajar dan mengoptimalkan waktunya, baik siang maupun malam, saat muqim maupun safar. Waktunya tidak boleh berlalu tanpa ilmu, kecuali untuk keperluan yang mendesak, seperti makan dan tidur yang sekedarnya atau yang semisal dengan itu. Istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak lainnya”

Saudaraku, lalu bagaimana dengan dirimu ?

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Dampak Maksiat Yang Engkau Lakukan…

Jika dampak maksiat yang kalau lakukan hanya menimpa dirimu maka perkaranya lebih ringan, namun masalahnya dampaknya bisa saja mengenai orang-orang dekat yang kau cintai, bisa berdampak pada keluargamu.

Maka jika engkau tidak perduli dengan dirimu terkena dampak maksiat, maka sayangilah orang-orang dekatmu, jangan sampai dampak maksiatmu mengenai mereka.

Dan pada hakikatnya keburukan maksiatmu yang mengenai keluargamu adalah musibah yang sedang menimpa dirimu.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Apakah Yang Dilakukan Seorang Wanita Jika Suaminya Wafat..?

(1). ia memasuki masa iddah 4 bulan 10 hari (Qs.2:234) dan bagi yang sedang hamil iddahnya sampai melahirkan (Qs.65:4)

(2). ia menetap di rumah, tidak ditempat orang tua atau lainnya, kecuali jika ada keperluan atau kebutuhan seperti ke rumah sakit, ke pasar membeli makanan dll yang mana tidak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk mengerjakan hal itu atau boleh keluar rumah jika ia takut atas keselamatan dirinya atau khawatir rumahnya runtuh dll.

(3). tidak boleh safar seperti haji dll.

(4). tidak mengenakan pakaian-pakaian yang indah atau dengan warna-warna yang mencolok.

(5). tidak memakai celak atau pacar (cat kuku) atau sesuatu untuk mempercantik wajah dan tubuh.

(6). tidak boleh memakai wangi-wangian atau parfum.

(7). tidak memakai segala macam perhiasan di kalung, gelang, cincin dll.

(8). tidak dilamar secara terang-terangan, kecuali sekedar sindiran saja (Qs.2:235)

ANGGAPAN YANG SALAH SELAMA MASA IDDAH ◾

(1). seorang istri itu tidak boleh berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram secara langsung atau via telpon meskipun ia ada kebutuhan.

(2). pakaiannya harus dengan warna hitam.

(3). mandi hanya seminggu sekali.

(4). tidak boleh jalan di rumah tanpa menggunakan alas kaki.

(5). tidak boleh berjalan di bawah cahaya rembulan.

(6). tidak boleh menuntut ilmu ke masjid, kampus dll.

(7). harus keluar dari 1 pintu dan masuk dari pintu yang lain ketika masa iddah selesai.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Takut Mati, Tapi Tidak Pernah Takut Hidup…

Sobat!
Kemaren sebelum anda terlahir, pernahkah anda merasa kawatir atau takut akan kehidupan? Mengapa setelah hidup, kini anda takut akan kematian? Padahal keduanya pasti anda jalani tanpa ada kesempatan menunda atau menghindar.

Barang kali anda berkata: karena dosa dosa saya banyak, sedang amal ibadah saya sedikit.

Betul, tapi apakah itu semua bsa menunda kematian atau menghalanginya ? Tentu saja tidak, mati pasti menghampiri, jadi tidak ada pilihan bagi anda kecuali menghadapinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi.ya.

Kalau anda sadar bahwa dosa andalah yang menyebabkan anda takut mati, maka lawanlah dosa anda, hapuslah dosa anda, niscaya kondisinya berubah.

Segera ucapkan istighfar, bulatkan penyesalan dan ketuklah pintu rahmat Allah Taala, niscaya Allah mengampuni semuanya.

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, niscaya kalian mendapatkan kesuksesan. [Surat An-Nur 31]

Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Siapakah Aku..?

Dahulu..
Imam Yahya bin Ma’in rohimahullah pernah Dihina oleh tetangganya..
Maka beliau menangis sambil berkata, “dia benar.. siapalah aku.. aku tidak ada apa apanya..”
(Siyar a’laaminubala 6/450)..

Itulah ketawadlu’an ulama..
Syaikhul Islam rohimahullah pernah dipuji dihadapannya..
Beliau berkata, “aku sendiri sampai sekarang masih berusaha memperbaiki keimananku..
Keislamanku belum bagus..”
(Madarijussalikin 1/524)..

Bandingkanlah dengan diri kita yang sedikit saja punya kelebihan..
Kita berkata, “inilah aku..”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

da290514-0609