Category Archives: BBG Kajian

Iman Dan Amal…

Imam Az Zuhri rohimahullah berkata,
Kami dahulu berkata, “Islam itu harus dengan iqrar (penetapan), dan iman harus dengan amal. Iman adalah perkataan dan perbuatan yang beriringan, tidak bermanfaat salah satunya tanpa yang lainnya.

Semua orang pasti akan ditimbang perkataan dan amalnya; bila amalnya lebih berat dari perkataannya maka ia akan naik kepada Allah.. Dan jika perkataannya lebih berat dari amalnya, maka ia tidak naik kepada Allah.” (Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 7/295).

Kita terkadang lebih pandai berbicara..
Tapi tidak pandai beramal..
Padahal salaf terdahulu..
Lebih memperhatikan amal dari berkata..

Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

da120913-2255

Tentang Tahun Hijriyah…

1. Umar bin Khattab rodhiallohu menentukan awal tahun dengan waktu HIJRAH-nya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan dengan KELAHIRAN Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dilakukan kaum Ahli Kitab. Untuk memberikan pengajaran kepada manusia bahwa kita adalah umat yang mementingkan amal, bukan umat yang mementingkan waktu atau kejadian bersejarah.

2. Penentuan awal tahun hijriyah diambil dari firman Allah ta’ala (yang artinya): “Sungguh masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan dari HARI PERTAMANYA…” [At-Taubah:108]

Allah menyebutnya hari pertama, dan hari itu adalah hari pertama tahun hijriyah sebagaimana disebutkan oleh Assuhaili dari para sahabat.

3. Tahun hijriyah adalah roda waktu yang berjalan, sama halnya dengan hari, pekan, bulan, dan abad. Tidak diketahui ada satupun dalil tentang ucapan selamat untuknya.

Kalau hanya berupa do’a dan kata pengingat, maka itu sesuatu yang baik.

4. Tidak ada hukum syariat yang berkaitan KHUSUS dengan akhir tahun dan awal tahun hijriyah, baik berupa ucapan (bacaan), atau amalan, atau keutamaan.

Dan tahun hijriyah ini belumlah diatur, kecuali ketika kekhalifahan Umar bin Khattab.

5. Setiap orang mempunyai tahun khusus sendiri, itu dimulai dari hari lahirnya, dan itulah umur hakikinya.

Adapun tahun hijriyah yang dimulai dari bulan Muharram; itu untuk menjadikan tahun hijriyah teratur saja.

Dan engkau akan ditanya tentang tahun khususmu, bukan tahun zaman (yang umum bagi manusia).

Diterjemahkan oleh Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Nasehat Untuk Berbakti Kepada Kedua Orangtua – Birrul Walidain

Apabila Anda ingin berhasil di dunia dan di akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan berikut ini:

1. Berbicaralah kepada kedua orang tua Anda dengan sopan santun. Jangan pernah berkata: “Ah!” kepada keduanya, jangan pernah menghardik mereka serta berkatalah kepadanya dengan ucapan yang baik.

2. Taatilah selalu kedua orang tua Anda selama tidak dalam kemaksiatan. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

3. Berlemah-lembutlah kepada kedua orang tua Anda. Jangan pernah bermuka masam di hadapannya, dan jangan memelototi mereka dengan marah.

4. Jagalah nama baik, kehormatan, beserta harta benda kedua orang tua. Janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin mereka.

5. Lakukanlah hal-hal yang bisa meringankan pekerjaan orang tua, walaupun ini tanpa diminta oleh mereka. Belikan keperluan mereka dan sungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada mereka.

6. Musyawarahkanlah segala urusanmu dengan orang tua, dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa berselisih pendapat.

7. Bersegeralah memenuhi panggilan orang tua dengan senang dan berseri-seri.

8. Hormatilah sanak kerabat serta teman-teman orang tua, saat masih hidup maupun setelah meninggal.

9. Jangan pernah membantah orang tua, dan janganlah menyalahkan mereka. Jelaskanlah kebenaran dengan cara yang sopan lagi santun.

10. Janganlah pernah membantah perintah mereka dan jangan meninggikan suara Anda di hadapan mereka.
Dengarkanlah ucapan mereka, bersikap santun, dan hormatilah mereka.

11. Bangkitlah jika orang tua menemui Anda, salamilah dan sambutlah mereka dengan sebaik-baiknya.

12. Bantu ibu di rumah dan jangan terlambat membantu pekerjaan ayah.

13. Jangan meninggalkan orang tua jika mereka belum mengizinkan, meskipun untuk urusan penting. Jika terpaksa harus pergi, mintalah maaf kepada mereka dan jagalah hubungan dengan mereka.

14. Janganlah masuk ke kediaman atau kamar orang tua sebelum mendapatkan izin dari keduanya, terutama di waktu istirahat dan sewaktu tidur.

15. Jangan makan sebelum orang tua dan jangan mencela mereka jika berbuat sesuatu yang tidak Anda sukai.

16. Jangan mengutamakan istri dan anak-anak Anda atas orang tua. Selalu meminta restu serta ridha mereka sebelum mengerjakan sesuatu; karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

17. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari tempat duduk orang tua dan janganlah bersikap congkak di hadapan mereka.

18. Jangan bersikap sombong kepada orang tua meski Anda seorang pejabat tinggi. Jangan ingkari kebaikan mereka dan jangan menyakiti perasaan mereka.

19. Jangan bersikap kikir/bakhil/pelit kepada orang tua. Jangan sampai mereka mengemis kepada Anda, sebab itu kehinaan bagi Anda. Dan Anda akan memperoleh balasan dari anak-anak Anda kelak. Sungguh apa saja yang Anda perbuat kini, maka Anda akan mendapat balasannya di dunia dan akhirat.

20. Seringlah mengunjungi orang tua dan berilah hadiah. Sampaikan rasa terima kasih Anda atas didikan serta jerih payah mereka. Lihat dan ambillah pelajaran dari anak-anak Anda, yaitu beratnya mendidik mereka.

21. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan dari Anda adalah ibu, baru selanjutnya adalah ayah. Ketahuilah, Surga berada di bawah telapak kaki ibu.

22. Jangan menyakiti orang tua dan membuat orang tua marah, yang dengan itu akan menjadikan diri Anda sengsara di dunia dan akhirat. Dan kelak, anak-anak Anda pun akan memperlakukan Anda sebagaimana Anda memperlakukan kedua orang tua Anda.

23. Apabila Anda hendak meminta sesuatu kepada orang tua, maka bersikaplah dengan lemah lembut, serta jangan lupa untuk berterima kasih kepada mereka. Maafkan dan berlapang dada jika permintaan Anda belum bisa mereka penuhi. Jangan terlalu banyak meminta sesuatu yang hal itu bisa merepotkan dan mengganggu mereka.

24. Apabila Anda mampu, maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tua Anda.

25. Orang tua memiliki hak atas Anda, dan istri Anda juga mempunyai hak atas Anda, maka tunaikanlah masing-masing hak mereka. Jika ada perselisihan, selesaikanlah segera dengan solusi yang terbaik.

26. Jika orang tua dan istri Anda berselisih, bertindaklah bijaksana, berilah masing-masing hadiah istimewa, dan damaikan kedua belah pihak.

27. Kalau terjadi perselisihan tentang urusan perkawinan atau thalaq (talak), maka selesaikanlah ia menurut hukum Islam, karena itu adalah sebaik-baik hukum.

28. Doa orang tua itu, baik atau buruk, dikabulkan oleh Allah. Maka itu berhati-hatilah terhadap doa mereka untuk keburukan.

29. Bersikap sopan-santun kepada orang tua orang lain. Jangan mencaci mereka, sehingga mereka mencaci orang tua Anda. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ . قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Di antara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya.” Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencaci kedua orang tuanya ?” Beliau menjelaskan: “Benar. Ia mencaci ayah orang lain, maka orang itu akan mencaci ayahnya. Apabila ia mencaci ibu orang lain, maka orang itu akan mencaci ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

30. Kunjungilah kedua orang tua Anda, selama mereka masih hidup; dan ziarahilah kubur mereka setelah mereka wafat. Bersedekahlah atas nama mereka, serta berdoalah untuk kebaikan mereka.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Ya Robbku, ampunilah aku dan juga kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”

Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah, dan mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya serta berbakti kepada kedua orang tua.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“…Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqân 74)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Robb kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“…Ya Robbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat men-syukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada-ku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al-Ahqâf : 15)

Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, keluarga, para pembaca dan kaum muslimin.

Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, keluarga, para Sahabatnya, dan para pengikut beliau yang baik sampai hari Kiamat.

Ditulis oleh,
Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawaz,  حفظه الله تعالى

Sumber:
BIRRUL WALIDAIN (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)
Hlm. 100 – 106
Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii – Jakarta
http://pustakaimamsyafii.com/birrul-walidain.html

Puasa Pada Akhir Bulan Dzulhijjah..?

Apakah benar disunnahkan berpuasa sehari pada akhir bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal bulan Muharrom ? 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺁﺧِﺮَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦْ ﺫِﻱ ﺍﻟﺤِﺠَّﺔِ ، ﻭَﺃَﻭَّﻝِ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻤُﺤَﺮَّﻡِ
ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺘَﻢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟﻤَﺎﺿِﻴَﺔَ ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﻭَﺍﻓْﺘَﺘَﺢَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻘْﺒِﻠَﺔُ
ﺑِﺼَﻮْﻡٍ ، ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻛَﻔَﺎﺭَﺓٌ ﺧَﻤْﺴِﻴْﻦَ سنة

“Barang siapa yang berpuasa (sehari) di akhir bulan Dzuhijjah dan (sehari) di awal bulan Muharrom, maka sungguh ia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Allah akan menjadikan baginya kafarat (terhapusnya dosa) selama 50 tahun” (HR. Ibnu Majah, hadits dari Ibnu Abbas, lihat juga al-Maudhuu’aat II /566 oleh Ibnul Jauzi dan al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no.31 oleh asy-Syaukani).

Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’)

Di dalam sanadnya terdapat dua perowi pendusta dan pemalsu hadits, yaitu al-Harwi al-Juwaibari dan Wahb.

Ibnul Jauzi berkata tentang keduanya, yaitu al – Harwi atau dikenal juga dengan al-Juwaibari dan Wahb bahwa keduanya adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits (lihat al-Maudhuu’ aat II / 566)

Asy-Syaukani berkata tentang hadits ini : “Di dalam hadits ini ada dua perawi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini” (lihat al-Fawaa-id al-Majmuu’ah hal 91 no. 31)

Adz-Dzahabi dalam Tartib al-Maudhuu’aat 181 berkata bahwa al-Juwaibari dan gurunya Wahb bin Wahb yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

Hadits ini juga dianggap palsu oleh As-Suyuthi dalam Kitab al-Aala’i al-Mashnu’ah II/108, Ibnu ar-Raq dalam Tanziihusy Syari’ah II/148 dan ulama lainnya.

Maka tidak boleh bagi siapapun dari umat Islam yang “MENGKHUSUSKAN” puasa dan amalan- amalan ibadah lainnya seperti doa menyambut tahun baru hijriyah, dzikir berjama’ah, menghidupkan malamnya dengan qiyamul lail, bersedekah, membaca al-Qur’an, mengadakan pengajian dan selainnya pada awal dan akhir tahun Hijriyah, karena perkara itu bukanlah hal yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Cara Ber-Ibadah Dengan Nama Allah – AL HAKIIM

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Untuk menyimak penjelasan bagaimana cara beribadah dengan Nama dan Sifat Allah lainnya, silahkan KLIK yang berikut :

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Ber-Ibadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL MUQIIT

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Cara Beribadah Dengan Nama Allah – AL HAFIIZH

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH

Untuk Apa Umurmu Engkau Habiskan…?

Ketahuilah…

Setiap tarikan dan desahan nafas, saat menjalani waktu demi waktu, adalah langkah menuju kubur…

Manusia akan merugi apabila harinya berlalu begitu saja, tidak bertambah iman, ilmu dan amalnya…

Waktu itu lebih berharga dari pada harta. Seandainya seseorang yang sedang menghadapi kematian, lalu dia letakkan semua hartanya untuk memperpanjang usianya satu hari saja, apakah dia akan mendapatkan penundaan dan perpanjangan waktu tersebut…?

Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan sepanjang perjalanan hidup akan ditanya, dan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Allah Ta’ala…

Allah Ta’ala berfirman :

“Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Ternyata amal tak seberapa…
Sedekah dan infaq cuma sekedarnya…
Mengajarkan ilmu tak pernah ada…
Silaturrahim pun rusak semua…

Jika sudah demikian, apakah ruh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah dari tubuh waktu sakaratul maut…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‏ لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ‏

(1). “Kedua kaki setiap hamba pada hari Kiamat tidak akan beranjak hingga ia ditanya tentang usianya, untuk apa ia habiskan ? Tentang ilmunya, sudahkah ia amalkan ? Tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan ? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan ?” (HR. At-Tirmidzi no. 2417, ad-Daarimi no. 537 dan Abu Ya’la no. 7434, hadits dari Abu Barzah al-Aslamy, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 946)

(2). “Diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuknya” (HR. At-Tirmidzi no. 2318 dan Ahmad no. 1737, hadits dari al-Husain bin Ali, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5911)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat dari pada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya (Al-Fawaaid hal 64)

Waktu manusia adalah umurnya…
Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih…

Berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan. Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah kepada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya…

Selain itu maka tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun ia hanya teranggap seperti KEHIDUPAN BINATANG TERNAK…

Jika waktu itu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuatnya lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat, untuk berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh KEMATIAN LEBIH LAYAK BAGI DIRINYA…” (Al-Jawabul Kaafi hal 109)

Muhammad bin Abdil Baqi rahimahullah berkata :

ما اعلم اني ضيعت ساعة من عمري في لهو او لعب

“Tidaklah aku mengetahui, jika aku pernah melalaikan sesaat saja dari umurku hanya untuk bermain-main dan senda gurau” (Siyar A’laamin Nubalaa’ XX/26 oleh Imam adz-Dzahabi)

Ibnu Aqil al-Hanbali rahimahullah berkata :

اني لا يحل لي ان اضيع ساعة من عمري حتى اذا تعطل لساني عن مذاكرة و مناظرة و بصري عن مطالعة اعملت فكري في حال راحتي و انا مستطرح

“Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk melalaikan sesaat dari umurku, sehingga jika lisan ini telah berhenti dari berdzikir dan berdiskusi, dan mata ini berhenti dari mencari pembahasan, maka aku memikirkan ilmu di saat santaiku” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah 1/146 oleh Imam Ibnu Rajab)

Saudaraku, bagaimana dengan dirimu…?

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى