Category Archives: Mutiara Salaf

Semestinya…

Sebagian orang bijak mengatakan,

“Semestinya bagi orang yang berakal untuk
senantiasa memperhatikan wajahnya di
depan cermin.

Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia
perburuk dengan perbuatan jelek.

Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia 
mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”

(Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq
Hal. 105)

 

Orang Yang Beristighfar Namun Dimurkai Allah…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Betapa banyak orang yang beristighfar namun
dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam
namun dirahmati.”

Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini
beristighfar akan tetapi hatinya diliputi
kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam,
namun hatinya senantiasa berdzikir.”

[Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq,
karya al-Khothib al-Baghdadi, Hal. 69]

Bagi Para Penuntut Ilmu…

Abu Abdillah ar-Rudzabari rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu,
maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

Dan yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.

[Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, Hal. 71]

Wahai Manusia…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Wahai manusia… engkau mencari dunia dalam
keadaan engkau bersungguh-sungguh untuk
mendapatkannya dan engkau mencari akhirat dalam keadaan seperti orang yang tidak membutuhkannya (malas-malasan).

Padahal dunia sudah mencukupimu walaupun engkau tidak mencarinya. Sedangkan akhirat hanya didapatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya. Maka pahamilah keadaanmu”

[ad-Dunya Zhillun Zail, hlm.31]

Nasihat al Imam Hasan al Bashri Rohimahullah…

Nasihat al-Imam Hasan al-Bashri rohimahullah

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat.

Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan ALLAH ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk mentaati-Nya, tidak pula melarang dari bermaksiat kepada-Nya.

Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta rasa aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka terus meneruslah–semoga ALLAH mengampuni kalian–engkau berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), bisa jadi satu kata yang terdengar merendahkan diri kita sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

(Mawai’zh lilImam al-Hasan al-Bashri, hlm. 185)

Bagaimana Mengatur Rasa Takut Dan Rasa Harap Kepada Allah

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhonnya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhon ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga..”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah

Kumpulan artikel dari pembahasan Kitab “Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola” – Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan- karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

  1. Yang Di Rahasiakan Dari Manusia Harus Lebih Baik Daripada Yang Di Tampakkan Kepada Manusia
  2. Bila Anda Sedang Bersendirian
  3. Bila Anda Sedang FUTUR
  4. Perhatikan Apa Yang Membuat Hati Bahagia dan Sedih
  5. Senantiasa Memperhatikan Apa Yang Masuk dan Keluar Dari Hatinya
  6. Senantiasa Menjaga Hati
  7. Allah Akan Tampakkan Kelak Di Akhirat Apa Yang Tersembunyi Di Hati
  8. Senantiasa Menjaga Niat Karena dan Untuk Allah Semata
  9. Tentang Ikhlas Dalam Ibadah
  10. Orang Yang Bertakwa Akan Selaras Antara Ucapan dan Perbuatannya
  11. Senantiasa Memperhatikan Keadaan Dengan Penuh Waro’
  12. Hati Yang Bertakwa
  13. Jika Berhadapan Dengan Pilihan
  14. Senantiasa Bertakwa Di Mana Pun Engkau Berada
  15. Wajib Mempelajari Ilmu Yang Utama
  16. Jangan Pelit Dengan Ilmu Yang Dimiliki
  17. Jangan Malas Menuntut Ilmu
  18. Perbaiki Hati Sebelum Menuntut Ilmu
  19. Menuntut Ilmu Itu Ada Tingkatannya
  20. Ilmu Sebagai Hiasan Dan Penyelamat
  21. Tujuan Menuntut Ilmu Adalah Untuk Mengambil Manfa’atnya
  22. Tujuan Menuntut Ilmu Untuk Mengamalkannya
  23. Menuntut Ilmu Yang Bermanfaat Untuk Dunia dan Akhirat Di Setiap Hari
  24. Senantiasa Menjaga Lisan
  25. Senantiasa Berkata Jujur
  26. Senantiasa Tawadhu Dan Menjauhi Kesombongan
  27. Senantiasa Menjaga Akhlak Dalam Bergaul
  28. Anjuran Untuk Berteman Dengan Orang-Orang Sholeh Dan Larangan Untuk Berteman Dengan Orang-Orang Buruk
  29. Anjuran Untuk Menjauhi Sifat Rakus
  30. Larangan Tajassus  Dan Buruk Sangka
  31. Larangan Dengki Dan Membenci
  32. Anjuran Menjauhi Marah Dan Tidak Tergesa-Gesa
  33. Larangan Berharap Bantuan Dari Manusia
  34. Anjuran Untuk Menjauhi Meminta-Minta Kepada Manusia
  35. Anjuran Untuk Senantiasa Bertawakal Kepada Allah
  36. Anjuran Untuk Senantiasa Ridho dan Sabar
  37. Anjuran Untuk Mema’afkan Orang Yang Berbuat Buruk
  38. Larangan Menerima Perkataan Orang Yang Mengadu Domba
  39. Sifat Orang Mulia dan Hina
  40. Bermusyawarah Di Saat-Saat Penting
  41. Anjuran Untuk Senantiasa Menasehati Kaum Muslimin

MUTIARA SALAF : Tips Menghadapi Orang Yang Marah

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

متى رأيت صاحبك قد غضب وأخذ يتكلم بما لا يصلح، فلا ينبغي أن تعقد على ما يقوله خنصراً، ولا أن تؤاخذه به. فإن حاله حال السكران، لا يدري ما يجري. بل اصبر لفورته، ولا تعول عليها، فإن الشيطان قد غلبه، والطبع قد هاج، والعقل قد استتر. ومتى أخذت في نفسك عليه، أو أجبته بمقتضى فعله كنت كعاقل واجه مجنوناً، أو كمفيق عاتب مغمى عليه. فالذنب لك. بل انظر بعين الرحمة، وتلمح تصريف القدر له، وتفرج في لعب الطبع به. واعلم أنه إذا انتبه ندم على ما جرى، وعرف لك فضل الصبر. وأقل الأقسام أن تسلمه فيما يفعل في غضبه إلى ما يستريح به. وهذه الحالة ينبغي أن يتلمحها الولد عند غضب الوالد، والزوجة عند غضب الزوج، فتتركه يشتفي بما يقول، ولا تعول على ذلك، فسيعود نادماً معتذراً. ومتى قوبل على حالته ومقالته صارت العداوة متمكنة، وجازى في الإفاقة على ما فعل في حقه وقت السكر.

“Saat engkau melihat temanmu marah dan mulai berkata yang tidak pantas, maka seyogianya engkau tidak menganggap ucapannya dan tidak menghukumnya karena itu..

Sebab, kondisinya seperti kondisi orang yang mabuk, tidak tahu apa yang terjadi..

Justru, hendaknya engkau sabar atas gejolak kemarahannya dan tidak usah menganggapnya. Karena, setan menguasainya, kemarahan menyeretnya, dan akal tertutup..

Saat engkau menganggapnya atau membalas perbuatannya, engkau seperti orang berakal menghadapi orang gila atau seperti orang sadar yang mencela orang pingsan. Maka dosa untukmu..

Justru, lihatlah dengan kasih sayang, engkau menyarankannya untuk berhenti semampunya, dan engkau melepaskannya dari permainan kemarahannya. Ketahuilah, jika dia sadar, dia akan menyesal atas apa yang terjadi dan mengetahui keutamaan kesabaranmu..

Minimalnya, engkau pasrah pada apa yang dia lakukan saat marahnya hingga dia selesai..

Kondisi ini sepantasnya untuk diperhatikan oleh seorang anak saat ayahnya marah dan istri saat suaminya marah. Biarkan dia puas bicaranya dan tidak usah engkau anggap. Dia akan rujuk, menyesal dan meminta maaf..

Saat orang yang marah dihadapi sesuai dengan kondisi dan ucapannya itu (seperti orang yang sadar), permusuhan tak akan terelakkan. Dia akan membalas dengan sadar terhadap perbuatan yang dilakukan kepadanya ketika akalnya tertutup..”

[ Shoidul Khothir, Ibnul Jauzi hlm. 94-95 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kapan Sholat Gerhana..?

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

“Apabila telah bersepakat para ahli hisab tentang itu maka biasanya hampir tidak salah. Akan tetapi berita mereka itu tidak menimbulkan hukum syari’at apapun, karena sholat gerhana bulan dan matahari tidak kita lakukan kecuali bila kita menyaksikannya..”

(Majmu Fatawa 24/258)

Syaikh bin Baz rohimahullah berkata:

“Telah shahih hadits hadits yang memerintahkan sholat gerhana, berdzikir dan berdoa ketika kaum muslimin melihat gerhana. Diantaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ، ولكن الله يرسلهما يخوف بهما عباده ، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah mengirimnya untuk menakut-nakuti para hambaNya. Maka apabila kalian MELIHAT itu, hendaklah sholat dan berdo’a hingga selesai gerhana.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut Nabi mengaitkan sholat gerhana, berdzikir, berdo’a dan istighfar dengan melihat gerhana bukan berdasarkan berita ahli hisab.

Maka orang yang sholat gerhana sebataskan berita para ahli falak telah jatuh dalam kesalahan dan menyelisihi sunnah..”

(Majmu Fatawa Syaikh bin Baz 13/30)